NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi Proyek Jakarta Barat

Ponsel Evelyn bergetar jam 6.23 pagi.

Nomor tidak dikenal.

Dia hampir nggak angkat, tapi ada firasat buruk yang bikin tangannya bergerak sendiri.

“Halo?”

“Ny. Evelyn Mahesa? Ini dari RS Medika Jakarta Barat. Suami Anda kecelakaan di proyek.”

Dunia rasanya berhenti.

“Apa?! Matthias?!”

“Beliau sadar, tapi ada benturan di kepala. Sebaiknya Anda segera ke sini.”

Telepon mati.

Evelyn udah berdiri, lari ke kamar, nyambar tas dan jaket.

Di luar, hujan rintik-rintik. Jakarta pagi itu kelabu.

Di mobil, dia nggak bisa diem. Jari-jarinya ngegetok setir nggak karuan.

_Kontrak. 90 hari. Pura-pura._

Semua itu lenyap begitu denger kata “kecelakaan”.

Sampai di IGD, Nyonya Alina udah di sana. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam.

“Di ruang observasi,” katanya singkat. “Dia nolak obat bius. Maunya nunggu kamu.”

Evelyn nggak jawab. Dia langsung lari ke ruang itu.

Matthias duduk di ranjang, dahinya diperban, kemejanya kotor debu proyek.

Matanya ketutup, tapi begitu denger suara langkah Evelyn, dia buka mata.

“Telat,” katanya pelan. Suaranya serak.

Evelyn berhenti di depan ranjang. Napasnya masih ngos-ngosan.

“Lo gila? Kenapa nggak langsung periksa penuh?”

“Karena kalau aku pingsan, proyek itu berhenti,” jawabnya datar.

“Proyek bisa nunggu, Matthias!” suara Evelyn pecah.

“Lo nggak bisa.”

Matthias terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia nggak punya jawaban dingin buat dibalas.

Dokter masuk, ngecek kondisi.

“Pasien aman. Cuma gegar otak ringan. Istirahat 3 hari. Jangan kerja berat.”

“3 hari?” Matthias mengernyit.

“Iya, Pak. Kalau nggak, bisa parah.”

Dokter keluar.

Ruangan jadi hening lagi.

Nyonya Alina masuk pelan, bawa sup ayam di termos.

“Matthias, Mama pulang dulu ya. Kamu istirahat. Evelyn, temenin dia ya, Na.”

Evelyn mengangguk.

Nyonya Alina keluar, tapi sebelum pintu nutup, dia bisik, “Jaga dia baik-baik. Dia keras kepala kalau soal kerja.”

Pintu nutup.

Tinggal mereka berdua.

Evelyn duduk di kursi plastik samping ranjang.

“Kenapa lo ada di proyek jam 5 pagi?”

“Ada crane yang nggak sesuai SOP. Aku cek sendiri,” jawab Matthias pelan.

“Terus crane itu jatuh?”

“Enggak. Aku yang dorong pekerja buat minggir. Batang besinya kena kepala aku.”

Evelyn menatap perban di dahinya.

“Lo gila. Lo bisa mati.”

“Kalau aku nggak dorong, ada 3 orang yang mati.”

Evelyn nggak bisa balas.

Dadanya sesak. Marah, takut, lega—semuanya campur.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue?”

“Buat apa? Kamu kan nggak mau ikut urusan kerja aku.”

“Karena lo suami gue, bodoh!”

Kata itu keluar begitu aja.

Suami.

Bukan “pria kontrak”. Bukan “Matthias”.

Suami.

Matthias menatapnya lama.

“Ulangi.”

“Apa?”

“Sebut lagi.”

Evelyn menunduk. Mukanya panas.

“Gue capek ngomong sama orang batu.”

Matthias senyum tipis. Pertama kali Evelyn lihat senyum itu nggak sinis.

“Sekarang kamu peduli.”

“Gue peduli karena kalau lo mati, gue harus cari suami baru buat nutup utang ibu gue,” balas Evelyn ketus, tapi suaranya gemetar.

“Bohong,” kata Matthias pelan.

“Kalau cuma karena kontrak, kamu nggak bakal lari ke sini jam 6 pagi.”

Evelyn diem.

Karena dia tahu Matthias bener.

Jam 10 siang, Matthias udah ngot mau pulang.

“Dokter bilang 3 hari istirahat.”

“Aku bisa kerja dari rumah.”

“Lo nggak bisa bedain kerja sama istirahat, ya?”

Akhirnya Evelyn nyerah. Dia bantu Matthias jalan ke mobil.

Perban di dahi, langkah pelan, tapi tangannya masih kuat ngegendong map proyek.

Di mobil, Matthias bersandar, mata ketutup.

Evelyn nyetir pelan, takut ngelewatin polisi tidur.

“Evelyn,” panggil Matthias pelan.

“Iya?”

“Terima kasih.”

Evelyn menoleh sekilas.

“Buat apa?”

“Karena kamu datang. Cepat. Tanpa tanya kenapa.”

Evelyn nggak jawab.

Tapi tangannya yang di setir, ngepal pelan.

Sampai di mansion, Nyonya Alina udah nunggu di depan pintu.

Begitu lihat Matthias, dia langsung nangis.

“Anak bodoh! Kenapa nggak jaga diri?!”

Matthias cuma senyum lelah.

“Ibu tenang. Aku aman.”

Malam itu, Evelyn tidur di sofa kamar Matthias.

Bukan karena disuruh.

Tapi karena dia nggak bisa tidur kalau nggak denger napas Matthias teratur.

Jam 2 pagi, Matthias bangun.

“Kamu nggak nyaman di sana.”

Evelyn ngantuk setengah mati. “Diem. Tidur.”

Matthias terdiam.

Lalu dia geser sedikit di ranjang.

“Naik. Kasurnya gede.”

Evelyn menatapnya.

“Ini nggak ada di kontrak.”

“Kontrak udah nggak penting malam ini.”

Evelyn ragu 3 detik.

Lalu dia naik, jaga jarak satu meter seperti malam pertama.

Tapi kali ini, nggak ada AC mati.

Nggak ada pura-pura.

Cuma ada dua orang yang takut kehilangan.

Di luar, hujan turun lagi.

Di dalam, untuk pertama kalinya, Evelyn nggak merasa sendirian.

---

*[Bersambung – ]*

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!