Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBAHAGIAAN YANG SEMPURNA
Hari-hari berlalu berganti, dan kini semuanya terasa jauh lebih indah dari sebelumnya. Angkasa dan Arum menjalani keseharian mereka seperti biasa, beraktivitas, bekerja, dan menekuni hobi masing-masing.
Namun ada satu hal yang berubah dan membuat segalanya terasa lebih berwarna: hubungan mereka yang kini sudah resmi terikat sebagai sepasang kekasih.
Angkasa semakin sering datang ke rumah Arum, bahkan hampir setiap hari. Kadang ia datang hanya untuk sekadar menyapa, membantu Pak Bimo mengurus kebun, atau sekadar duduk diam melihat Arum yang sedang sibuk menulis di beranda rumah.
Sikap Angkasa pun makin terang-terangan menunjukkan rasa sayangnya. Tatapannya yang lembut, perhatian kecil yang selalu ia berikan, sampai nada bicaranya yang makin manja dan penuh kasih sayang, semuanya membuat hubungan mereka terasa begitu romantis dan hangat.
Arum pun tak lagi menyembunyikan perasaannya. Ia kini dengan senang hati menyambut kehadiran Angkasa, tertawa lepas di dekat laki-laki itu, dan dengan bangga memperkenalkan Angkasa sebagai kekasihnya. Setiap kali mereka berjalan berdua entah sekadar keliling desa, belanja keperluan, atau duduk berdua di tepi sawah menikmati angin sore,berasa dunia milik berdua saja.
Kebahagiaan Angkasa ini tentu tak luput dari perhatian sahabat baiknya, Dewa. Sejak dulu Dewa tahu betul bagaimana perasaan Angkasa pada Arum. Ia tahu betul bahwa Arum adalah satu-satunya wanita yang ada di hati sahabatnya itu, dan ia pun tahu betapa lamanya Angkasa menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan perasaannya.
Siang itu, Dewa berkunjung ke rumah Angkasa. Ia duduk di teras sambil menyeruput kopi panas, menatap sahabatnya yang sedang duduk santai sambil tersenyum sendiri menatap layar ponselnya. Sudah beberapa menit Angkasa diam saja, sesekali tertawa kecil atau mengetik pesan dengan wajah yang sangat cerah.
Dewa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Ia memukul pelan bahu Angkasa sampai laki-laki itu tersentak kaget.
"Lihat tuh mukanya... berseri-seri banget tau nggak? Dari tadi senyum-senyum sendiri, ngetik pesan aja sambil senyum senyum. siapa lagi kalau bukan Mbak Arum yang bisa bikin seorang Angkasa senyum senyum terus dari tadi?" goda Dewa dengan alis yang naik turun.
Angkasa tidak tersinggung sama sekali. Ia malah tersenyum makin lebar, menyimpan ponselnya ke saku dengan perasaan yang meluap bahagia.
"Kelihatan banget ya, Wa?" tanya Angkasa santai, nada bicaranya penuh kepuasan.
"Jelas kelihatan banget. Dari dulu aku udah tau kalau hidup kamu bakal cerah kalau udah sama dia. Dan sekarang... lihat deh, kamu jadi orang paling bahagia sedunia," jawab Dewa tulus. Wajahnya berubah lebih serius namun tetap hangat.
"Aku seneng banget, Sa.Akhirnya setelah lama nunggu, setelah sempat salah paham dan bikin kamu murung kemarin-kemarin, akhirnya kamu dapetin dia juga. Arum orang baik, dan kalian emang pasangan paling pas. Semoga langgeng terus ya."
Angkasa menatap sahabatnya itu dengan rasa terima kasih. Ia mengangguk pelan. "Makasih ya, Wa. Bener kata kamu, rasanya emang lengkap banget sekarang. Arum segalanya buat aku."
Di tempat lain, kebahagiaan yang sama juga sedang dirasakan oleh sahabat baik Arum, Intan.
Sore itu, Arum berkunjung ke rumah Intan seperti biasa. Sudah lama rasanya ia ingin menceritakan semuanya dari awal sampai akhir pada sahabatnya itu. Duduk di ruang tengah rumah Intan, di sela-sela tumpukan barang jualan online yang makin hari makin banyak, Arum akhirnya membuka suara dengan wajah yang bersinar cerah.
"Tan... aku mau cerita sesuatu deh," ucap Arum memulai, pipinya merona merah malu tapi senyumnya tak pernah luntur.
Intan yang sedang melipat kardus, langsung berhenti bergerak. Ia menatap sahabatnya itu dengan mata berbinar penasaran, sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.
"Cerita apa lagi kalau bukan soal Mas Angkasa? Hayo ngaku aja, pasti ada kabar gembira nih lihat mukanya cerah banget gitu," jawab Intan cepat sambil duduk menghadap Arum.
Arum mengangguk semangat, lalu menceritakan semuanya secara rinci. Mulai dari kejadian salah paham di mal, bagaimana ia sempat sakit hati dan menjauh, sampai akhirnya Angkasa datang dan menjelaskan segalanya, sampai pada momen di mana Angkasa menyatakan perasaannya secara resmi dan memintanya menjadi kekasih.
Sepanjang Arum bercerita, mata Intan makin terbelalak karna senang. Sesekali ia berseru kaget, sesekali menepuk-nepuk tangan antusias, sampai akhirnya saat Arum mengakhiri cerita dengan kalimat "Sekarang kita udah jadian, Tan. Kita pacaran," Intan langsung berteriak kegirangan dan memeluk erat sahabatnya itu.
"YA AMPUN! AKHIRNYA! YA TUHAN, AKHIRNYA KALIAN JADI PACARAN!" seru Intan heboh, suaranya nyaris memecah gendang telinga Arum. Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Arum dengan mata berkaca-kaca bahagia.
"Arum... aku seneng banget tau nggak? Dulu pas kamu curhat sedih gara-gara salah paham itu, aku juga ikut sedih. Aku takut kalian malah berantem dan asing cuma gara-gara kesalahpahaman bodoh. Tapi ternyata... ternyata emang jodoh nggak bakal ke mana ya? Mas Angkasa beneran tulus sama kamu kalo aku denger dari cerita kamu, dan kamu juga beneran sayang banget sama dia."
Intan tersenyum lebar, menggenggam tangan sahabatnya itu erat.
"Aku ikut bahagia, Rum. Dan aku seneng banget kamu akhirnya dapetin kebahagiaan itu. Mas Angkasa itu cowok baik, dia sayang banget sama kamu, itu kelihatan banget dari matanya. Jaga hubungan kalian baik-baik ya, jangan ada rahasia lagi, jangan ada curiga-curiga lagi. Kalian udah lewat jalan yang berliku banget buat sampe di titik ini. Sekarang tinggal nikmatin kebahagiaannya aja ya."
Arum mengangguk dengan air mata bahagia menggenang di matanya, senyum terindah merekah di bibirnya. "Makasih ya, Tan... makasih udah selalu dengerin aku, selalu dukung aku. Rasanya sempurna banget sekarang. Punya dia, punya kamu... aku bahagia banget."
Hari itu, kebahagiaan Angkasa dan Arum bukan cuma milik mereka berdua saja. Kebahagiaan itu meluas, dirasakan juga oleh orang-orang terdekat yang tulus mencintai dan mendukung hubungan mereka. Dewa dan Intan, dua sahabat setia itu, sama-sama bersyukur melihat sahabat yang mereka kasihi akhirnya menemukan pasangan sejatinya.
Dan bagi Angkasa dan Arum, hari-hari ke depan kini terlihat cerah dan penuh harapan. Di bawah langit yang sama, mereka berjanji untuk saling menjaga, saling mencintai, dan melangkah berdua melewati sisa hidup mereka bersama-sama.