Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Berbahaya
Hari Sabtu pagi. Cuaca cerah menyinari kota. Aku sedang bersiap-siap menjalani misi yang terasa paling gila dalam hidupku.
“Dekatilah Andre. Buat dia percaya padamu.”
Perintah Rasya itu terus berputar di kepalaku, tak kunjung hilang seperti lagu yang terlanjur melekat di ingatan. Sayangnya, lagu ini bukan lagu ceria—melainkan lagu horor yang membuatku merinding.
“Nayla, kamu yakin mau bertemu dengan Andre itu?” tanya Sasha dari pengeras suara ponselku. Aku sedang sibuk memilih pakaian—proses yang memakan waktu lebih lama dari biasanya, karena aku harus tampil ramah dan mudah didekati, tapi tidak terlihat berlebihan.
“Tidak terlalu yakin. Tapi ini permintaan Rasya.”
“Rasya menyuruhmu mendekati cowok lain? Dia tidak cemburu?”
“Katanya dia percaya padaku.”
“Percaya tingkat tinggi, itu namanya.” Sasha bersiul pelan. “Cowok idaman, Nay. Langka sekali.”
Aku tersenyum sendiri. “Iya, aku tahu.”
Akhirnya aku memilih kemeja putih polos dipadukan dengan celana jeans biru muda. Tampilan yang santai, manis, dan tidak berlebihan. Lalu aku mengikat separuh rambutku ke belakang—terlihat rapi namun tetap terasa santai.
Ponselku bergetar.
Rasya (09.15): “Sudah siap?”
Nayla (09.15): “Hampir. Kamu di mana?”
Rasya (09.16): “Di depan rumahmu.”
Mataku terbelalak kaget. Buru-buru aku berlari menuju jendela kamar, dan benar saja—Rasya berdiri di seberang jalan, bersandar pada tiang listrik. Ia mengenakan kaos hitam polos dan jaket denim biru tua. Rambutnya yang agak panjang dibiarkan tergerai, terlihat sedikit basah sehabis keramas.
Ia menoleh ke arah jendelaku dan melambai pelan.
Aku memegang dadaku sendiri.
Ya Tuhan, kenapa dia terlihat begitu tampan hari ini? Rasanya tidak adil.
“Nayla? Kamu masih di telepon?” Suara Sasha mengejutkanku.
“Iya—iya, maaf. Aku harus pergi dulu. Rasya sudah menunggu.”
“Oh, jadi dia yang mengantarmu? Manis sekali. Tidak cemburu tapi tetap mengawasi. Aku suka.”
“Sasha, aku kabari nanti ya. Sampai jumpa!”
Aku mematikan panggilan, mengambil tas kecil, lalu bergegas turun ke lantai bawah.
---
Di Depan Rumah
“Nak, kamu mau pergi ke mana?” tanya Bunda yang sedang menyiram tanaman di teras.
“Ke mal bersama teman, Bun.”
“Teman yang mana? Yang tampan itu atau yang kemarin?”
“Bunda, fokuslah menyiram tanamannya.”
“Ya sudah, anak Bunda sudah mulai besar rupanya.” Bunda tersenyum jahil. “Bawa pengaman, Nak.”
“BUNDA!”
“Hati-hati saja, kalau sampai hamil di luar nikah, Bunda usir kamu dari rumah!”
Aku menggelengkan kepala, pipiku terasa sangat panas. Aku segera melangkah keluar pagar dan menghampiri Rasya yang sudah berdiri di samping sepeda motor matic berwarna hitam.
“Kamu mendengarnya?” tanyaku.
“Mendengar apa?” Rasya mengerjap dengan wajah polos.
“Syukurlah kalau begitu.”
Namun dari sudut pandangku, aku melihat sudut bibirnya terangkat sedikit, seolah menahan tawa.
“Naiklah,” katanya sambil menyerahkan helm kepadaku.
“Motor ini milik siapa?”
“Milik Ayahku. Aku meminjamnya sebentar.”
“Kamu bisa mengendarai motor?”
“Bisa. Di kehidupan sebelumnya aku adalah sopir, ingat?”
Aku tertawa kecil. “Oh iya, benar juga.”
Aku duduk di jok belakang. Meskipun helm sudah terpasang, aroma sabunnya yang segar—perpaduan mint dan sedikit kayu manis—masih tercium jelas.
“Pegang.”
“Apa?”
“Pegang pinggangku agar tidak jatuh.” Ia mengatakannya tanpa menoleh, tapi aku bisa melihat telinganya yang memerah.
Aku tersenyum penuh makna. Lalu perlahan melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, sedikit lebih erat dari yang seharusnya.
Tubuhnya menegang sejenak, sebelum akhirnya kembali rileks.
Motor pun melaju pelan meninggalkan halaman rumah.
---
Di Mal — Menunggu Andre
Kami tiba lebih awal dari waktu yang telah disepakati. Andre berjanji akan datang pukul sebelas siang, sedangkan sekarang jarum jam baru menunjukkan pukul setengah sebelas.
Rasya memilih duduk di sebuah kafe yang berada tepat di seberang area makanan—tempat yang strategis untuk mengawasi tanpa menarik perhatian.
“Kamu yakin tidak mau ikut?” tanyaku sekali lagi.
“Kalau aku ikut, Andre tidak akan merasa nyaman. Dan kamu akan sulit mendapatkan informasi darinya.”
“Tapi…”
“Pergilah.” Ia mendorong bahuku pelan. “Aku ada di sini. Kalau ada apa-apa, aku hanya berjarak dua puluh meter darimu.”
Aku menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi pastikan dia tidak melihatmu.”
“Pasti.”
Aku berjalan menuju area makanan dan memilih meja di dekat jendela. Tak lama kemudian, Andre datang dengan senyum lebar yang tampak ramah, mengenakan kaos putih yang membuatnya terlihat bersih dan menawan.
Persis seperti di kehidupan sebelumnya. Senyum yang sama. Dan di baliknya, pengkhianatan yang sama.
“Nayla! Maaf aku terlambat lima menit!” Andre duduk tepat di hadapanku. “Tadi jalanan agak macet.”
“Tidak apa-apa. Aku juga baru saja tiba.”
“Kamu sudah memesan makanan? Biar aku yang traktir ya.”
“Tidak perlu—”
“Tidak apa-apa, aku mau membelikanmu.” Andre memanggil pelayan. “Satu es cokelat, satu es teh manis, dan dua porsi ayam geprek.”
Ia mengingatnya. Di kehidupan sebelumnya, es cokelat dan ayam geprek adalah menu favoritku.
Apakah ini berarti ia juga terlahir kembali, atau hanya sebuah kebetulan belaka?
“Terima kasih, Andre,” ucapku dengan nada ramah. “Kamu sangat baik sekali.”
“Ah, tidak juga.” Ia menggaruk tengkuknya—kebiasaan lama yang dulu membuatku terpesona, namun sekarang hanya menimbulkan rasa muak. “Aku hanya… belum memiliki banyak teman di sini. Jadi aku sangat senang kamu mau menemaniku.”
“Kamu pindahan dari Bandung ya? Tinggal di sini sendirian?”
“Iya. Ayahku dipindah tugas ke Jakarta. Ibu akan menyusul belakangan.”
“Wah, pasti terasa berat ya harus beradaptasi di tempat yang baru.”
Andre mengangguk pelan. Matanya tiba-tiba terlihat lebih lembut. “Benar sekali. Apalagi aku tidak mengenal siapa pun. Tapi saat pertama kali melihat fotomu di koran sekolah—eh, maksudnya di brosur sekolah—aku langsung merasa… seolah ada dorongan untuk bisa mengenalmu lebih dekat.”
Koran sekolah. Ia hampir salah bicara lagi.
“Koran sekolah?” Aku berpura-pura bingung. “Kita punya koran sekolah ya?”
“Eh, bukan maksudku—” Andre tampak gugup sejenak. “Maksudku di papan pengumuman. Ada fotomu terpajang di sana.”
“Oh begitu.” Aku tersenyum tipis. “Aku tidak pernah tahu kalau fotomu dipajang di sana.”
“Iya. Dan menurutku fotomu terlihat sangat bagus.”
Gombalan yang sudah usang, Andre. Dulu aku mungkin terbuai dengan kata-kata seperti ini, tapi sekarang aku bisa membalasnya dengan tenang.
“Kamu juga terlihat sangat tampan kok,” kataku dengan nada manis.
Andre tersenyum lega. “Benarkah?”
“Iya. Makanya banyak sekali siswi yang menyukaimu bukan?”
“Ah, tidak juga…” Andre merendah, namun matanya bersinar terang. “Sejujurnya, aku hanya berharap kamu yang menyukaiku.”
Aku tertawa kecil—tawa yang dibuat-buat, persis seperti akting dalam sinetron. Namun dari sudut pandangku, aku melihat Rasya yang masih duduk di kafe seberang, memegang cangkir kopi dengan tangan yang sedikit gemetar.
Waduh, dia mulai cemburu.
“Eh, Andre,” kataku cepat, “aku mau ke kamar mandi sebentar ya.”
“Baiklah, aku tunggu di sini.”
---
Di Lorong Dekat Kamar Mandi
Belum sempat aku masuk ke kamar mandi, seseorang menarik pergelangan tanganku dan membawaku masuk ke lorong sempit di antara toko sepatu dan toko aksesoris.
“Rasya! Kamu mengejutkanku!”
Ia tidak melepaskan genggamannya. Wajahnya terlihat gelap, matanya menyipit tajam.
“Aku tidak suka.”
“Apa yang tidak kamu sukai?”
“Cara dia menatapmu. Cara dia tersenyum. Cara dia berkata ‘aku hanya berharap kamu yang menyukaiku’.” Rasya menghela napas kasar. “Aku hampir saja ingin memukulnya lagi.”
“Rasya, ini bagian dari rencana kita—”
“Aku tahu itu. Tapi tetap saja aku tidak menyukainya.” Ia menatap mataku lekat-lekat, dan untuk pertama kalinya aku melihat sisi rapuh di wajahnya. Bukan kemarahan semata, bukan pula kecemburuan yang berlebihan. Melainkan… ketakutan.
Ketakutan kehilanganku.
“Rasya… sayang.” Aku mengusap pipinya dengan lembut. “Aku tidak akan pernah kembali padanya. Aku membencinya.”
“Aku tahu itu.”
“Terus kenapa?”
Ia menggigit bibir bawahnya pelan. “Sulit untuk dijelaskan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggerogoti dadaku. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia berusaha menyentuhmu—”
“Dia belum menyentuhku sama sekali.”
“Tapi dia hampir melakukannya.”
Aku tersenyum tipis. “Rasya, kamu ini…”
“Apa?”
“Lucu sekali.”
Ia mengerjap bingung. “Lucu? Aku tidak sedang bercanda.”
“Tetap saja terlihat lucu.” Aku meremas tangannya dengan lembut. “Tapi aku berjanji, aku tidak akan membiarkannya menyentuhku. Setuju?”
Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Setuju.”
“Kembalilah ke kafe, nanti dia curiga.”
Rasya menghela napas panjang. “Baiklah.”
Ia berbalik hendak pergi, namun sebelum melangkah jauh, ia menoleh kembali. “Nayla.”
“Ada apa?”
“Ia bilang ia menyukaimu karena melihat fotomu di papan pengumuman.”
“Lalu?”
“Itu bohong.” Mata Rasya menajam tajam. “Di kehidupan sebelumnya, pertama kali ia melihatmu adalah di pesta ulang tahun temanmu. Saat kamu mengenakan gaun berwarna merah. Bukan di papan pengumuman sekolah.”
Darahku seolah membeku di dalam tubuh.
“Jadi… dia juga terlahir kembali?”
“Aku belum bisa memastikannya. Tapi kemungkinan itu ada.” Rasya berjalan meninggalkanku. “Hati-hati selalu.”
---
Kembali ke Meja
“Aku kembali, Andre. Maaf membuatmu menunggu lama.”
“Tidak apa-apa. Makanannya sudah datang.” Andre mendorong piring berisi ayam geprek ke arahku. “Ayo dimakan selagi hangat.”
Aku mengambil sendok, namun tidak segera menyantapnya.
“Eh, Andre. Kamu suka menghadiri pesta ulang tahun tidak?”
Gerakannya terhenti sejenak—sangat singkat, hampir tidak terlihat. “Pesta? Biasa saja. Kenapa menanyakan hal itu?”
“Sepertinya menyenangkan ya. Aku belum pernah diundang ke pesta ulang tahun siapa pun.”
“Oh begitu.” Andre tersenyum, namun senyumnya terlihat kaku. “Nanti kalau ada kesempatan, aku akan mengajakmu pergi ya.”
“Aku tunggu kabarnya.”
Aku memasukkan suapan ayam ke dalam mulut, namun rasanya terasa hambar. Pikiranku sedang sibuk memproses semuanya.
Reaksinya terlalu aneh. Ia tampak ragu dan waspada, seolah mengetahui ada yang salah dengan pertanyaanku.
Andre, kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Dan aku akan mencari tahu apa itu.
---
Pukul 14.00 — Pulang
Andre mengantarku hingga ke area parkir bawah tanah, tempat Rasya sudah menunggu sambil bersandar di motornya, tanpa mengenakan helm, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket.
“Oh, Rasya?” Andre tampak terkejut. “Kamu yang akan menjemput Nayla?”
“Iya.” Rasya menjawab dengan nada datar. “Kami berteman.”
“Benar, Nayla bilang kalian bertetangga.” Andre mengulurkan tangan kanannya. “Saya Andre. Salam kenal.”
Rasya menatap tangan itu, lalu menatap wajah Andre. Setelah jeda yang cukup lama hingga suasana menjadi canggung, ia pun menyambut uluran tangan itu—dengan genggaman yang sedikit terlalu kuat.
“Rasya.”
Andre menahan rasa sakit. “Sa-salam kenal.”
“Iya.” Rasya melepaskan genggamannya. “Nayla, naiklah.”
“Sampai jumpa lagi, Andre. Terima kasih sudah mentraktirku!” Aku melambai kecil.
Andre membalas lambaian itu, namun senyumnya telah berubah menjadi masam.
Aku duduk di jok belakang dan melingkarkan tanganku erat di pinggang Rasya.
“Kamu terlihat sangat garang tadi,” bisikku pelan.
“Supaya dia mengerti,” bisik Rasya membalas. “Ia tidak memiliki tempat dalam hidupmu.”
Motor melaju meninggalkan area parkir, meninggalkan Andre yang masih berdiri di tempatnya sambil mengepalkan tangannya erat.
---
Malam Itu — Riwayat Pesan
Andre (19.30): “Hari ini menyenangkan ya, Nay. Lain kali kita bertemu lagi ya.”
Nayla (19.31): “Iya, menyenangkan sekali. Terima kasih ya.”
Andre (19.31): “Tapi Rasya… sepertinya dia tidak menyukaiku.”
Nayla (19.32): “Dia memang orangnya pendiam dan kaku. Jangan dipikirkan.”
Andre (19.32): “Kamu dan dia… sudah berpacaran?”
Aku menatap layar ponsel, jantungku berdebar kencang.
Nayla (19.33): “Belum. Kami masih berteman baik.”
Belum. Bukan tidak pernah.
Andre (19.33): “Oh begitu. Hanya bertanya saja.”
Andre (19.34): “Istirahat yang cukup ya. Semoga mimpi indah.”
Nayla (19.34): “Kamu juga.”
Aku segera membuka ruang obrolan dengan Rasya.
Nayla (19.35): “Andre bertanya apakah kita sudah berpacaran.”
Rasya (19.35): “Lalu kamu menjawab apa?”
Nayla (19.36): “Aku menjawab ‘belum’.”
Rasya (19.36): “...”
Rasya (19.37): “Kenapa belum? Bukannya sejak kemarin kita sudah…”
Nayla (19.37): “Sudah apa?”
Rasya (19.38): “...”
Rasya (19.38): “Lupa.”
Aku tertawa terbahak-bahak membaca pesannya.
Nayla (19.39): “Rasya, besok hari Minggu. Ada rencana?”
Rasya (19.39): “Tidak ada.”
Nayla (19.40): “Temani aku pergi ke toko buku?”
Rasya (19.40): “Boleh.”
Nayla (19.40): “Janji ya?”
Rasya (19.41): “Janji.”
Nayla (19.41): “Baiklah. Selamat malam.”
Rasya (19.41): “Selamat malam, Nayla.”
Rasya (19.42): “Mimpikan aku ya.”
Aku menggigit bibir sambil tersenyum.
Nayla (19.42): “Sombong sekali.”
Rasya (19.43): “Iya.”
Aku mematikan ponsel, membenamkan wajah di dalam bantal, dan tersenyum lebar hingga pipiku terasa pegal.