NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Berbahaya: "Deketin Andre" (dan Rasya Hampir Meledak)

Hari Sabtu pagi. Cuaca cerah. Aku sedang bersiap-siap untuk misi paling gila dalam hidupku.

"Deketin Andre. Bikin dia percaya sama kamu."

Perintah Rasya itu terus berputar di kepalaku seperti lagu yang nggak bisa dihapus dari otak. Sialnya, lagu ini bukan lagu ceria—tapi lagu horror.

"Nayla, kamu yakin mau ketemuan sama itu Andre?" tanya Sasha dari speaker handphoneku. Aku sedang memilih baju—proses yang memakan waktu lebih lama dari biasanya karena aku harus terlihat approachable tapi nggak terlalu menggoda.

"Nggak yakin. Tapi Rasya yang nyuruh."

"Rasya nyuruh kamu deketin cowok lain? Dia nggak cemburu?"

"Katanya dia percaya aku."

"Percaya banget, itu mah." Sasha bersiul kecil. "Cowok idaman, Nay. Langka."

Aku tersenyum sendiri. "Iya, aku tahu."

Akhirnya aku memilih kemeja putih polos dengan celana jeans biru muda. Casual, manis, nggak norak. Lalu aku mengikat rambutku setengah ke belakang—cukup rapi tapi masih terlihat santai.

Handphoneku bergetar.

Rasya (09.15): "Udah siap?"

Nayla (09.15): "Hampir. Kamu di mana?"

Rasya (09.16): "Di depan rumah kamu."

Aku membelalak. Buru-buru aku menghambur ke jendela kamarku—dan benar saja, Rasya berdiri di seberang jalan, bersandar pada tiang listrik, memakai kaus hitam polos dan jaket denim biru tua. Rambutnya yang agak panjang dibiarkan tergerai, sedikit basah seperti baru keramas.

Dia menatap ke arah jendelaku dan melambai kecil.

Aku menepuk dada sendiri.

Ya Tuhan, kenapa dia tampan banget hari ini? Ini nggak adil.

"Nayla? Kamu masih di line?" suara Sasha mengagetkan.

"Iya—iya, sorry. Aku harus cabut. Rasya udah nunggu."

"Oh, jadi dia anter kamu? Manis banget. Nggak cemburu tapi ngawasin. I love it."

"Sha, nanti aku kabarin lagi, ya. Bye!"

Aku mematikan panggilan, mengambil tas kecil, lalu turun ke lantai bawah.

---

Di Depan Rumah

"Nak, kamu mau ke mana?" tanya Bunda yang sedang menyiram tanaman di teras.

"Ke mall sama temen, Bun."

"Temen yang mana? Yang ganteng kemarin itu?"

"Bunda, fokus nyiram tanamannya."

"Ealah, anak Bunda udah gede sekarang." Bunda menyeringai. "Bawa kondom, Nak."

"BUNDA!"

"Awas aja kalau hamil di luar nikah, Bunda tendang kamu dari rumah!"

Aku menggeleng-gelengkan kepala, pipiku panas bukan main. Aku melesat keluar pagar, menemui Rasya yang sudah berdiri di samping motor matic hitamnya.

"Kamu dengar?" tanyaku.

"Dengar apa?" Rasya mengerjap polos.

"Syukurlah."

Tapi dari sudut mataku, aku melihat sudut bibirnya naik sedikit.

"Naik," katanya, memberikan helm ke aku.

"Ini motor siapa?"

"Punya ayahku. Aku pinjam."

"Kamu bisa bawa motor?"

"Bisa. Di kehidupan sebelumnya aku sopir, ingat?"

Aku terkekeh. "Oh iya."

Aku naik ke boncengan. Wangi sabun Rasya—mint dan sedikit kayu manis—menyengat meskipun helm sudah tertutup.

"Pegang."

"Apa?"

"Pegang aku. Biar nggak jatuh." Dia bilang itu tanpa menoleh, tapi aku bisa melihat telinganya memerah.

Aku tersenyum jahil. Lalu aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya—agak erat.

Badannya kaku sesaat, lalu rileks.

Motor melaju pelan.

---

Di Mall — Menunggu Andre

Kami sampai lebih pagi dari waktu yang dijanjikan. Andre bilang dia akan datang jam 11. Sekarang masih jam 10.30.

Rasya memilih duduk di kafe di seberang food court—tempat yang strategis untuk memantau tanpa terlihat.

"Kamu yakin nggak ikut?" tanyaku.

"Kalau aku ikut, Andre nggak akan nyaman. Dan kamu nggak bisa dapat informasi."

"Tapi..."

"Pergi." Dia mendorong bahuku pelan. "Aku di sini. Kalau ada apa-apa, aku cuma 20 meter dari kamu."

Aku menghela napas. "Oke. Tapi jangan sampai dia lihat kamu."

"Pasti."

Aku berjalan ke food court, memilih meja dekat jendela. Tidak lama kemudian, Andre datang—dengan senyum lebar dan kaus putih yang membuatnya terlihat bersih dan ramah.

Sama persis seperti dulu. Senyum yang sama. Penghianatan yang sama.

"Nayla! Maaf telat lima menit!" Andre duduk di seberangku. "Tadi macet."

"Nggak apa-apa. Aku juga baru sampai."

"Kamu udah pesan? Aku traktir, ya."

"Nggak usah—"

"Aku mau. Biar aku yang bayar." Andre memanggil pelayan. "Satu es cokelat, satu es teh manis. Ayam geprek dua porsi."

Dia ingat. Di kehidupan sebelumnya, es cokelat dan ayam geprek adalah pesanan favoritku.

Bisa jadi dia memang terlahir kembali, atau bisa jadi ini hanya kebetulan.

"Makasih, Andre," kataku dengan suara ramah. "Kamu baik banget."

"Enggak, enggak." Dia menggaruk tengkuknya—kebiasaan lamanya yang dulu membuatku gemas, sekarang hanya membuatku muak. "Aku cuma... aku nggak punya banyak teman di sini. Jadi seneng banget kamu mau temanin aku."

"Kamu pindahan dari Bandung, ya? Sendirian?"

"Iya. Papaku pindah tugas ke Jakarta. Mamaku nyusul nanti."

"Ooh... pasti berat ya, adaptasi di tempat baru."

Andre mengangguk. Matanya tiba-tiba menjadi lebih lembut. "Iya. Apalagi aku nggak kenal siapa-siapa. Tapi pas pertama kali lihat kamu di koran sekolah—eh, maksudnya di brosur—aku langsung merasa... kayak, 'aku harus kenalan sama dia'."

Koran sekolah. Dia hampir salah ucap lagi.

"Koran sekolah?" Aku pura-pura bingung. "Kita punya koran sekolah?"

"Eh, enggak, maksudku—" Andre tampak gugup. "Mading. Mading sekolah. Ada fotomu di mading."

"Ooh." Aku tersenyum. "Aku nggak pernah tahu kalau fotoku dipajang di mading."

"Iya. Padahal bagus banget."

Gombalan murahan, Andre. Di kehidupan sebelumnya aku jatuh karena gombalan kayak gini. Sekarang? Bisa kuembat balik.

"Kamu juga ganteng, kok," kataku manis.

Andre tersenyum lega. "Beneran?"

"Iya. Makanya banyak yang suka sama kamu, kan?"

"Ah, nggak, nggak..." Andre merendah, tapi matanya berbinar. "Aku cuma pengen kamu yang suka sama aku, sih."

Aku tertawa kecil—tertawa yang dibuat-buat, seperti adegan di sinetron. Tapi dari sudut mataku, aku melihat Rasya yang sedang duduk di kafe seberang, memegang cangkir kopi dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ups. Dia marah.

"Eh, Andre," kataku cepat, "aku mau ke toilet dulu, ya."

"Oke, aku tunggu."

---

Di Lorong Dekat Toilet

Belum sampai aku masuk ke toilet, seseorang menarik tanganku ke dalam lorong sempit di antara toko sepatu dan toko aksesoris.

"Rasya! Kaget, aku!"

Dia tidak melepaskan tanganku. Wajahnya gelap, matanya menyipit.

"Aku nggak suka."

"Apa?"

"Cara dia liat kamu. Cara dia senyum. Cara dia bilang 'aku cuma pengen kamu yang suka sama aku'." Rasya menghela napas kasar. "Aku mau piting dia lagi."

"Rasya, ini rencana kita—"

"Aku tahu. Tapi aku nggak suka." Dia menatap mataku—dan untuk pertama kalinya, aku melihat kerentanan di wajahnya. Bukan kemarahan. Bukan kecemburuan yang toxic. Tapi... ketakutan.

Ketakutan kehilangan aku.

"Rasya... sayang." Aku menyentuh pipinya. "Aku nggak akan balik sama dia. Aku benci dia."

"Aku tahu."

"Terus?"

Dia menggigit bibir bawahnya. "Aku nggak bisa jelasin. Rasanya kayak... ada yang menggerogoti dadaku. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia menyentuhmu—"

"Dia belum nyentuh aku."

"Tapi dia hampir nyentuh."

Aku tersenyum. "Rasya, kamu ini..."

"Apa?"

"Lucu."

Dia mengerjap. "Lucu? Aku nggak lucu."

"Lucu banget." Aku meremas tangannya. "Tapi aku janji, aku nggak akan biarkan dia menyentuhku. Oke?"

Dia diam beberapa saat. Lalu mengangguk pelan.

"Oke."

"Janji?"

"Janji."

"Kembali ke kafe sana. Nanti dia curiga."

Rasya menghela napas. "Iya."

Dia berbalik, tapi sebelum melangkah, dia menoleh sekali lagi. "Nayla."

"Hm?"

"Dia bilang dia suka sama kamu karena fotomu di mading."

"Iya?"

"Itu bohong." Mata Rasya menajam. "Di kehidupan sebelumnya, Andre pertama kali melihat kamu di pesta ulang tahun temanmu, waktu kamu pakai gaun merah. Bukan di mading."

Darahku membeku.

"Jadi... dia juga terlahir kembali?"

"Aku nggak tahu. Tapi mungkin." Rasya melangkah pergi. "Hati-hati."

---

Kembali ke Meja

"Aku balik, Andre. Maaf lama."

"Nggak apa-apa. Makanannya udah datang." Andre mendorong ayam geprek ke arahku. "Ayo makan."

Aku mengambil sendok, tapi tidak segera menyuap.

"Eh, Andre. Kamu suka pesta ulang tahun, nggak?"

Dia menghentikan gerakannya sesaat—hampir tidak terlihat. "Pesta? Biasa aja. Kenapa?"

"Kayaknya seru, ya. Aku belum pernah diundang ke pesta ulang tahun orang."

"Oh." Andre tersenyum, tapi senyumnya berbeda. Sedikit kaku. "Nanti kalau ada, aku ajak, ya."

"Aku tunggu."

Aku memasukkan ayam ke mulutku, tapi rasanya hambar. Pikiranku sibuk.

Reaksinya aneh. Dia ragu-ragu. Seperti dia tahu ada yang salah dengan pertanyaanku.

Andre, kamu menyembunyikan sesuatu. Dan aku akan mencari tahu.

---

Pukul 14.00 — Pulang

Andre mengantarku ke parkiran bawah tanah, tempat Rasya sudah menunggu dengan motornya. Rasya bersandar pada motor, tidak memakai helm, tangannya di saku jaket.

"Oh, Rasya?" Andre terlihat kaget. "Kamu jemput Nayla?"

"Ya." Rasya menjawab datar. "Aku temannya."

"Iya, Nayla bilang kalian bertetangga." Andre mengulurkan tangan. "Andre. Halo."

Rasya melihat tangan Andre. Lalu menatap wajah Andre. Lalu, setelah jeda yang cukup lama untuk membuat suasana canggung, dia menjabat tangan Andre—dengan genggaman yang sedikit terlalu kuat.

"Rasya."

Andre menahan sakit. "S-salam kenal."

"Ya." Rasya melepaskan tangannya. "Nayla, naik."

"Bye, Andre. Makasih traktirannya!" Aku melambai.

Andre melambai balik, tapi senyumnya sudah berubah menjadi masam.

Aku naik ke boncengan, melingkarkan tangan ke pinggang Rasya.

"Kamu garang banget, sih," bisikku.

"Biar dia tahu," bisik Rasya balik. "Dia nggak punya tempat di hidupmu."

Motor melaju meninggalkan parkiran, meninggalkan Andre yang berdiri di tempatnya, mengepalkan tangan.

---

Malam Itu — Chat Log

Andre (19.30): "Hari ini seru, Nay. Lain kali kita ketemuan lagi, ya."

Nayla (19.31): "Iya, seru banget. Makasih ya."

Andre (19.31): "Tapi Rasya... dia kayaknya nggak suka aku."

Nayla (19.32): "Dia emang orangnya jutek. Nggak usah dipikirin."

Andre (19.32): "Kamu sama dia... pacaran?"

Aku menatap layar. Jantungku berdegup.

Nayla (19.33): "Belum. Kita masih sahabatan."

Belum. Bukan tidak.

Andre (19.33): "Oh. Oke. Aku cuma penasaran."

Andre (19.34): "Kamu tidur yang nyenyak, ya. Mimpi indah."

Nayla (19.34): "Kamu juga."

Aku membuka chat dengan Rasya.

Nayla (19.35): "Andre nanya kita pacaran apa nggak."

Rasya (19.35): "Kamu jawab apa?"

Nayla (19.36): "Aku bilang 'belum'."

Rasya (19.36): "..."

Rasya (19.37): "Kenapa belum? Bukannya dari kemarin kita..."

Nayla (19.37): "Kita apa?"

Rasya (19.38): "..."

Rasya (19.38): "Lupa."

Aku tertawa terbahak-bahak.

Nayla (19.39): "Rasya, besok Minggu. Kamu ada rencana?"

Rasya (19.39): "Tidak."

Nayla (19.40): "Temani aku ke toko buku?"

Rasya (19.40): "Iya."

Nayla (19.40): "Janji?"

Rasya (19.41): "Janji."

Nayla (19.41): "Oke. Good night."

Rasya (19.41): "Good night, Nayla."

Rasya (19.42): "Mimpiin aku."

Aku menggigit bibir.

Nayla (19.42): "Narsis."

Rasya (19.43): "Iya."

Aku matikan handphone, membenamkan wajah di bantal, dan tersenyum sampai pipiku sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!