NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XIV

  Di sisi lain, Luna akhirnya sampai di tempat persembunyian rahasia tempat ia, ayah, dan pamannya dulu menyimpan segala harta rampasan. Ia hanya mengambil sebagian saja, cukup untuk membeli makanan, karena perutnya sudah mulai terasa lapar. Ia juga baru saja bangun dari tidur panjangnya dan tubuhnya belum pulih sepenuhnya, sehingga ia sangat membutuhkan nutrisi untuk memulihkan tenaganya.

Ia pun berjalan menyusuri jalanan kota, mencari kedai makanan yang terlihat lumayan. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah kedai yang cukup ramai dan penuh pengunjung. Tanpa ragu ia melangkah masuk, duduk di salah satu meja kosong, lalu memesan makanan. Sambil menunggu pesanannya datang, pandangannya tak sengaja tertuju ke meja sebelahnya.

Di sana, tampak seorang wanita yang berpakaian rapi, terlihat seperti orang yang hidup berkecukupan, sedang duduk bersama anak laki-lakinya yang masih kecil. Tiba-tiba delapan orang pria berwajah kasar dan menakutkan mendekat, meminta uang secara paksa.

“Cepat serahkan semua uang yang kau bawa! Jangan sampai kami bertindak kasar!” bentak salah satu penjahat itu.

Wanita itu menggeleng kuat, memeluk erat dompetnya dan menolak memberikannya. “Tidak! Ini uang kami! Kalian jangan sembarangan!”

“Dasar keras kepala!” Penjahat itu langsung menarik paksa dompet dari tangan wanita itu, terjadilah tarik-menarik yang membuat wanita itu berteriak minta tolong sekuat tenaga.

“Tolong! Tolong aku! Ada yang mau merampok!”

Namun, seluruh orang yang ada di kedai itu hanya menonton dari jauh, tak ada satu pun yang berani bangkit atau menolong. Semua memilih bersikap acuh tak acuh demi keselamatan diri sendiri.

Melihat ibunya dipaksa dan didorong, anak kecil itu pun menangis keras sambil berteriak, “Jangan sakiti Ibu ku! Jangan..!”

Alih-alih mengalah, salah satu penjahat itu dengan kasar mendorong tubuh kecil anak itu hingga ia terjatuh ke lantai. Melihat anaknya yang terluka, wanita itu seketika lemas dan menyerahkan uang itu sambil menangis ketakutan, lalu segera memeluk anaknya erat-erat.

Awalnya Luna hanya menatap datar, berniat tak mau ikut campur urusan orang lain. Namun saat penjahat itu hendak mengayunkan tangan untuk memukul wanita itu lagi, ia tak mampu lagi menahan diri. Tubuhnya bergerak sendiri, tangannya menahan pergelangan tangan penjahat itu dengan kuat.

“Cukup!”

Penjahat itu terkejut, lalu marah. “Hei gadis kurang ajar! Kau mau mati ha?!”

Tanpa bicara panjang lebar, Luna langsung meninju wajah pria itu hingga hidungnya berdarah. Tujuh temannya yang lain seketika memukul dan menyerang bersama. Meski tubuhnya masih lemah dan lukanya belum sembuh, kebiasaan bertarung Luna selama bertahun-tahun membuatnya tetap lincah dan tangguh. Luna mengambil sepasang sumpit besi yang ada di meja, lalu dengan cekatan menusukkan ke tangan, leher, dan wajah mereka agar mundur dan tak mampu lagi melawan. Dalam sekejap, kedai itu penuh dengan teriakan kesakitan.

Namun saat ia lengah sedikit, salah satu penjahat yang masih sanggup berdiri mengayunkan pisau tajam hendak menusuk punggung Luna dari belakang. Belum sempat pisau itu menyentuh kulit Luna, sebuah mangkuk kaca melayang cepat dari arah lain dan menghantam tepat di kepala penjahat itu hingga pecah berserakan dan darah segar langsung mengalir dari kepalanya. Pria itu jatuh tak sadarkan diri, sementara teman-temannya yang lain melihat keadaan makin kacau pun akhirnya memilih lari meninggalkan tempat itu.

Luna segera mengambil uang yang dirampas, lalu mengembalikannya kepada wanita itu.

“Ini uangmu, ambilah,” ucapnya singkat.

Baru saja ia hendak kembali ke mejanya untuk melanjutkan makan, wanita itu segera memanggilnya.

“Nona! Tunggu sebentar! Kau… kau tidak apa-apa kan?”

Luna terlihat sangat pucat, keringat dingin mengucur deras di dahinya. Wanita itu juga melihat noda merah yang mulai melebar di bagian perut dan pakaian Luna.

“Bajumu… berdarah!”

Luna melirik pakaiannya, lalu dengan tangan gemetar mencoba mengusap dan menyembunyikan noda darah itu.

“Aku tidak apa-apa…,” jawabnya datar, lalu kembali duduk di tempat semula seolah tak terjadi apapun.

Namun di sudut ruangan, seorang pria terus mengamati setiap gerak-gerik Luna dengan tatapan tak percaya dan penuh tanya. Ia adalah Mu Chen, pemilik kedai makan ini.

“Bukankah dia wanita berhati batu itu? Wanita yang tak peduli nyawa orang lain? Kenapa tadi dia rela turun tangan menolong orang yang sama sekali tak dikenalnya? Ada apa sebenarnya dengan dia?” batinnya bertanya-tanya.

Rasa penasaran itu membuat Mu Chen perlahan melangkah mendekati meja Luna. Namun tepat saat ia hendak berbicara, tubuh Luna tiba-tiba miring ke samping, matanya terpejam dan ia jatuh pingsan ke meja. Darah segar mengalir deras dari balik bajunya, jahitan luka tusukan di perutnya ternyata robek kembali akibat gerakan keras saat bertarung tadi.

“Ya Tuhan! Lihat itu! Dia pingsan dan kehilangan banyak darah!” seru wanita yang ditolongnya tadi. Ia segera menghampiri Mu Chen. “Tuan! Tolong bawa dia ke tempat yang aman, dia butuh pertolongan segera!”

Wajah Mu Chen langsung menegang, ia menatap Luna yang terbaring lemas dengan raut tak suka.

“Untuk apa aku menolongnya? Biarkan saja dia…”

“Tuan!” potong wanita itu dengan nada tegas. “Dia baru saja menolong kami! Bagaimana bisa kau bersikap begini? Semua orang di sini sudah melihat kebaikannya! Jadi tolonglah dia..!”

Orang-orang di sekitar pun ikut bersuara mendesak.

“Iya Tuan, bawa dia! Dia sudah berbuat baik!”

“Kasihan, kalau dibiarkan pasti berbahaya!”

Terpaksa mendengar desakan itu, Mu Chen akhirnya mengalah dengan hati yang berat. Ia mengangkat tubuh Luna, lalu membawanya ke ruangan istirahat di bagian dalam kedai. Ia segera menyuruh pelayan memanggil tabib secepat mungkin.

Tak lama kemudian tabib datang, memeriksa keadaan Luna yang sangat kritis, lalu menggelengkan kepala.

“Jahitannya sudah robek. Dia kehilangan banyak darah. Kalau terlambat sedikit saja, pasti sudah tak tertolong lagi. Sekarang aku harus menjahit ulang lukanya dan memberikan obat penenang untuk nya.” Ucap Tabib itu sambil melihat Ke arah Mu Chen.

Mu Chen mendengus kasar, menatap wajah Luna yang pucat pasi.

“Iya, lakukan saja. Tapi ingat, ini bukan karena aku peduli padanya, hanya saja aku tak mau ada mayat di tempat usahaku ini.”

Tabib hanya tersenyum kecil mengerti, lalu segera mulai bekerja mengobati dan merawat luka Luna, sementara Mu Chen berdiri di sudut ruangan dengan pikiran yang makin kacau dan penuh pertanyaan tentang siapa sebenarnya wanita yang terbaring di hadapannya ini.

Sebelum melangkah pergi, tabib sempat berpesan kepada Mu Chen, “Luka di perutnya sudah kujahit kembali dengan hati-hati. Tolong ingatkan dia agar rajin mengoleskan salep ini, supaya lukanya cepat kering.”

Mu Chen hanya mengangguk. Ia menatap wajah Luna yang masih pucat dan terbaring lemas cukup lama, lalu meletakkan salep itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik badan dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Luna yang sedang terbaring disana sendirian.

Sudah setengah hari lamanya Luna terbaring tak sadarkan diri, hingga akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka dan kesadarannya kembali. Dari kejauhan Mu Chen melihat, dan segera bergegas menghampirinya. Namun saat tatapannya jatuh pada wajah Luna yang kembali tampak dingin, datar, dan terkesan menjengkelkan itu, raut wajah Mu Chen seketika berubah tajam, penuh ketidaksukaan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Aku sungguh heran kepadamu, Nona. Apa kau benar-benar tak bisa hidup satu hari saja tanpa menyusahkan orang lain? Lihat saja nasibku ini, setiap kali bertemu denganmu pasti selalu saja ada masalah. Seakan-akan di seluruh dunia ini, hanya kaulah satu-satunya orang yang harus ku tolong,” ucap Mu Chen dengan nada mengejek dan ketus.

Luna hanya diam seribu bahasa, sama sekali tak menanggapi atau menatapnya. Ia perlahan bangkit hendak beranjak pergi dari tempat itu secepat mungkin, namun langkahnya langsung terhenti saat suara Mu Chen kembali terdengar.

“Hei, Nona, jangan salah paham dulu ya!” sergahnya. “Ini bukan karena aku peduli atau ingin menolongmu. Tabib yang tadi datang menyuruhku menyerahkan salep ini kepadamu, supaya lukamu cepat kering dan sembuh. Itu semua pesan tabib, bukan kemauanku.”

Luna menoleh sekilas, lalu menjawab singkat dan dingin, “Aku tidak butuh.”

Ia kembali melangkah, namun Mu Chen tak membiarkannya pergi begitu saja.

“Hei dengar baik-baik! Aku tidak tahu di mana kau tinggal dan di mana kau akan pergi, tapi ingat kata-kataku ini: sebaiknya kau bawa saja obat ini! Kau kira aku senang harus selalu mengurus mu? Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain yang lebih penting?!” bentaknya dengan wajah merah padam karena kesal. “Dan satu hal lagi: aku sama sekali tak mau bertemu atau berurusan denganmu lagi mulai detik ini. Jadi ambil ini, jangan sampai kau datang kembali hanya karena lukamu makin parah!”

Sambil berbicara, Mu Chen dengan kasar meletakkan salep itu tepat di telapak tangan Luna, memaksanya untuk menerima.

Luna menatap benda kecil di tangannya sejenak, tanpa mengucapkan terima kasih atau sepatah kata pun, ia pun segera melangkah pergi, meninggalkan Mu Chen disana yang masih penuh emosi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!