NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengais Peluang

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden tipis kontrakan nomor tiga, membentuk garis kekuningan di atas lantai keramik yang masih bersih. Di atas kasur lipat busa, Arsen kecil tertidur pulas dengan posisi menyamping, mendengkur halus setelah kenyang menyusu subuh tadi.

Kayla bergerak pelan, melangkah mundur menjauhi kasur agar tidak menggangu. Dia membuka kardus cokelat kecil yang baru dibelinya dari toko elektronik daring dua hari lalu, lalu mengeluarkan sebuah laptop baru yang masih berbau pabrik. Laptop berspesifikasi standar ini adalah investasi terakhir yang dia tebus menggunakan sisa uang bonusnya.

Kayla duduk bersila di sudut ubin yang dingin, lalu menekan tombol daya laptop barunya. Layar monitor beresolusi tajam itu menyala dalam hitungan detik, menampilkan halaman beranda yang masih bersih tanpa dokumen. Kayla segera menyambungkan jaringan internetnya menggunakan fitur tethering dari ponsel barunya.

Jari-jemari Kayla yang masih terasa sedikit kaku mulai mengetik di atas papan ketik yang masih empuk. Dia membuka tiga situs pencari kerja terbesar di Indonesia sekaligus: Jobstreet Indonesia, Glints, dan KitaLulus.

Fokusnya hari ini sangat spesifik, dia hanya menyisir lowongan dengan filter Remote (Kerja dari Rumah) atau Work From Home (WFH).

Kayla tahu diri dengan kondisinya saat ini sebagai ibu baru. Dia tidak mungkin mengambil pekerjaan kantoran penuh waktu di daerah Sudirman atau Kuningan yang menuntutnya berada dari jam sembilan pagi hingga lima sore.

Siapa yang akan menjaga Arsen di kontrakan petak ini jika dia harus menembus kemacetan Jakarta setiap hari?

Satu per satu lowongan untuk posisi Freelance Auditor, Data Entry Keuangan, hingga Virtual Accounting di seluruh Indonesia dia buka. Kayla memperbarui draf rangkuman riwayat hidupnya (CV), sengaja mengosongkan kolom referensi keluarga Wijaya agar jejaknya tidak terendus oleh Adrian.

Klik. Lamaran pertama terkirim untuk posisi staf akuntansi lepas di sebuah perusahaan retail pakaian di Bandung. Klik. Lamaran kedua meluncur untuk draf laporan keuangan UMKM kuliner di Jakarta Barat. Klik. Klik. Klik.

Hingga jarum jam bergeser ke angka sebelas siang, Kayla sudah mengirimkan lebih dari tiga puluh lamaran kerja ke berbagai perusahaan.

Punggungnya terasa kaku luar biasa, dan bekas jahitan di perut bawahnya mulai memberikan sensasi berdenyut karena posisi duduk bersila yang terlalu lama di atas lantai.

Namun, alih-alih mendapatkan kabar baik, kotak masuk email Kayla justru mulai dibanjiri oleh notifikasi otomatis sistem pencari kerja.

"Terima kasih atas ketertarikan Anda. Namun, saat ini kualifikasi Anda belum sesuai dengan kebutuhan posisi hybrid kami."

Satu penolakan masuk ke akun Jobstreet-nya. Disusul lima penolakan lain dari aplikasi Glints dalam kurun waktu satu jam berikutnya.

Beberapa perusahaan bahkan menolak secara tidak langsung setelah melihat pembaruan status Kayla yang mencantumkan bahwa dia memiliki bayi berusia di bawah satu bulan.

Dunia kerja tetap berjalan dengan kejam, tidak peduli seberapa mendesak kondisi seorang ibu tunggal di dalam gang sempit. Kayla menyandarkan kepalanya pada dinding semen, menatap barisan kata "Ditolak" di layar laptopnya dengan pandangan kosong. Dadanya terasa bergemuruh menahan rasa sesak yang perlahan merayap naik.

Waktu berjalan merayap hingga malam hari tiba memayungi kawasan Gang Haji Umar. Suara sayup-sayup televisi dari kontrakan Mbak Rina di sebelah terdengar samar, menemani Kayla yang sedang duduk bersandar menimang Arsen untuk menyusu malam.

Arsen menyusu dengan tenang, sesekali matanya yang bulat menatap lurus ke arah wajah Kayla sebelum akhirnya kembali terpejam.

Kayla mengusap dahi bayinya yang lembut, mencoba mencari kekuatan dari embusan napas kecil putranya.

Uang di tabungannya memang masih aman, namun rasa tidak berdaya karena terus-menerus ditolak membuat mentalnya perlahan melandai jatuh.

Tring!

Suara notifikasi bernada pendek memecah kesunyian kamar petak itu pada pukul sepuluh malam. Layar ponsel Kayla yang tergeletak di ujung kasur busa mendadak menyala terang, menampilkan sebuah ikon surat elektronik baru dari aplikasi Glints Indonesia.

Kayla mengulurkan tangan kanannya dengan hati-hati, meraih ponsel tersebut tanpa mengubah posisi dekapan Arsen di lengan kirinya. Dia membuka aplikasi email dengan debar jantung yang mendadak berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya.

Pengirim: HRD Delta Global Solusindo Perihal: Undangan Wawancara Kerja - Posisi Freelance Financial Analyst (Remote)

Halo Kayla Putri, Kami telah meninjau CV dan portofolio audit Anda yang dikirimkan melalui Glints. Kami tertarik dengan pengalaman Anda di bidang draf laporan korporasi. Kami mengundang Anda untuk mengikuti proses wawancara daring pada besok jam 10.00 WIB...

Kayla menghentikan bacaannya, napasnya tertahan di tenggorokan. Ini bukan surat penerimaan kerja, ini baru sebuah undangan interview kerja online yang belum memberikan kepastian apa pun tentang gaji atau status kontrak.

Namun, di tengah ruangan kontrakan yang pengap dan deretan penolakan yang dia terima sejak siang tadi, email ini terasa seperti setitik yang sangat berharga. Kayla menatap wajah tidur Arsen, lalu menarik sudut bibirnya tipis-tipis di kegelapan malam.

Harapan itu ternyata masih ada. Dia belum habis, dan dia akan berjuang mati-matian di layar laptopnya besok pagi demi masa depan bayinya.

catatan penulis: jangan lupa baca karya author yang lainnya (aku bisa mendengarkan isi hati suamiku)

author kurang enak badan maaf ya kalo kualitas ceritanya agak turun😷

1
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!