Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
"Mau ke mana, Sin?"
"Ma. Lusi hilang. Aku harus temukan dia."
Si mama terlihat cukup terkejut akan apa yang baru saja Sinta katakan. "Apa! Lusi hilang? Lah kok bisa? Bukannya tadi kamu sudah antar kan anak itu pulang, Sinta?"
"Iya, Ma. Tapi-- "
Ucapan Sinta tertahan saat ponsel yang ada di tangannya berdering. Panggilan dari mamanya Lusi datang lagi. Sinta menjawabnya dengan cepat.
"Iya, Tante. Apakah sudah ada kabar dari Lusi sekarang?"
"Sinta. Lusi sudah ketemu. Saat ini, dia sedang berada di rumah sakit. Seseorang menemukan Lusi di jalan dekat rumah."
"Apa? Syukurlah. Rumah sakit mana Lusi sekarang, tante?"
Mama Lusi lalu mengatakan di mana mereka membawa Lusi. Sinta pun langsung mengangguk tanda mengerti. Panggilan itupun berakhir.
"Bagaimana, Sin? Lusi sudah ditemukan?"
"Sudah, Ma. Sekarang, dia di bawa ke rumah sakit."
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Lusi?"
"Aku juga gak tau, Ma. Aku akan ke rumah sakit sekarang."
"Mama ikut, Sinta. Ini sudah malam. Mama gak akan tenang jika harus melepaskan kamu pergi sendirian."
"Iya ... iya sudah kalo gitu. Ayok!"
Ibu dan anak itu lalu meninggalkan rumah. Mobil dikendarai oleh sopir keluarga. Mereka menuju ke rumah sakit dengan hati yang cemas.
Beberapa saat berkendara, akhirnya mereka tiba ke tempat yang ingin mereka tuju. Di sana, Liliana sudah pun berada di depan kamar rawat menemani mama Lusi.
"Li, kamu sudah tiba?"
"Hm. Aku langsung ke rumah sakit saat tahu Lusi di sini."
"Bagaimana kabarnya sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Lusi? Kenapa bisa masuk rumah sakit?" Sinta melontarkan banyak pertanyaan. Walau sebenarnya, ia tahu kalau pertanyaan ini sedikit tidak pantas.
Belum pula sempat pertanyaan Sinta di jawab, dokter malah sudah keluar. Perhatian mereka semua seketika teralihkan.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Apa dia baik-baik saja?"
"Pasien hanya mengalami luka luar saja. Tidak ada yang serius. Hanya sedikit benturan ringan di kepala. Dan, sedikit memar di pipi. Hanya itu saja."
Hembusan napas lega terdengar. Sepertinya, kondisi Lusi tidak seserius yang mereka pikirkan.
"Syukurlah," ucap Lili dan Sinta secara bersamaan.
Setelah dokter pergi, merekapun langsung masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Lusi. Memang, gadis itu hanya mengalami luka ringan, tapi batinnya cukup terganggu saat ini.
"Si. Apa yang terjadi?" Lili angkat bicara.
"Iya, Si. Kok bisa begini? Bukannya tadi baik-baik saja." Sinta terlihat cemas.
Lusi akhirnya menceritakan apa yang telah ia alami. Saat pulang, ketika gadis itu ingin masuk rumah, seseorang mendekat. Dia pun seperti diculik.
Anehnya, penculikan itu tidak benar-benar berniat untuk menyakiti dirinya. Melainkan, hanya berniat menakut-nakuti saja. Penculik itu membentur kepala Lusi dengan ringan. Lalu, menampar wajah Lusi beberapa kali. Tapi tidak terlalu keras. Hanya tamparan sedikit ringan. Setelahnya, penculik itu melepaskan Lusi di pinggir jalan dekat rumahnya.
"Ya Tuhan, apa motif penjahat ini?" Lili berucap dengan wajah bingung.
"Aku rasa ... dia ingin memberi peringatan saja. Tapi, untuk apa? Peringan dari apa?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," ucap Lusi sedikit pasrah. "Padahal aku tidak punya musuh perasaan. Tidak pula merasa kalau aku pernah menyakiti orang. Tapi malah, aku yang disakiti begini."
Think. Bunyi pesan masuk terdengar di ponsel Sinta. Awalnya, Sinta ingin mengabaikan pesan tersebut. Tapi, rasa penasaran langsung menghampiri hati. Sinta pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Saat ponsel ada di tangan, nama pengirim langsung terlihat. Rama. Bunyi pesan singkat dari Rama adalah ajakan pertemuan pada Sinta.
*Aku tunggu di lantai bawah. Ada yang ingin aku bicarakan.*
Awalnya, Sinta ingin mengabaikan pesan tersebut karena sudah lelah berhadapan dengan Rama. Namun, pesan kedua datang lagi.
*Ini tentang sahabat mu. Tidak ingin tahu tentang Lusi, Sinta?*
Sontak, rasa penasaran dalam hati Sinta langsung bangkit. Gegas, gadis itu melangkah menuju lantai satu tempat di mana Rama katakan.
Setelah keluar dari lift, Sinta harus berjalan sejenak menuju lorong. Di sana, di salah satu pilar lorong rumah sakit tersebut, Rama sudah menunggu.
"Mau bicara apa?" Sinta berucap langsung tanpa basa-basi lagi.
"Sinta. Tolong jaga sahabatmu jika kejadian hari ini tidak ingin terulang lagi."
Deg. Jantung Sinta berdetak sedikit lebih cepat. Matanya membulat seketika. Meskipun dia masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang Rama katakan, tapi batinnya sudah langsung menebak ke mana arah perkataan Rama barusan.
"Apa maksud kata-kata kamu barusan, Rama? Jangan bilang kalau kecelakaan Lusi-- "
"Iya. Itu adalah peringatan kecil buat sahabatmu. Jika dia berani menyakiti Risa lagi, maka dia akan tanggung akibatnya."
"Sinta. Jika kamu sayang pada sahabatmu, jaga mereka jangan sampai menganggu Risa."
"Aku bisa menikah dengan mu, tapi ingat, aku tidak akan pernah membiarkan Risa disakiti oleh kalian hanya gara-gara rasa cemburu yang ada di hatimu."
Sinta terpaku karena ucapan Rama barusan. Sungguh, dia sangat terkejut. Rama benar-benar menyakiti sahabatnya hanya gara-gara ucapan Risa. Padahal, temannya juga teman Rama sebelum Risa datang.
"Ingat, Sinta. Jangan pernah menyakiti Risa." Rama bicara dengan nada yang penuh akan penekanan. Setelahnya, pria itu pergi meninggalkan Sinta tanpa membiarkan Sinta menjawab terlebih dahulu.
Sementara itu, Sinta masih terpaku di sana. Masih tidak bisa mencerna perubahan besar yang Rama perlihatkan. Pria yang dulunya selalu membuat Sinta bahagia, kini seolah menjadi musuh yang sangat menakutkan. Hati manusia ternyata terlalu cepat berubah.
Kaki Sinta terasa lemas saat benaknya memutar ulang apa yang sebelumnya Rama katakan. Rama benar-benar tega. Itulah yang ada dalam pikiran Sinta.
"Kamu sangat keterlaluan, Rama." Sinta bergumam pelan dengan hati terluka.
"Kau tega menyakiti sahabatku hanya karena teman baru mu. Sungguh, aku benar-benar tidak bisa melihat dirimu yang dulu lagi."
Di sisi lain, Risa tersenyum bahagia. Ternyata, usahanya telah membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Dia telah berhasil menciptakan keretakan yang sangat jelas buat hubungan Rama dan Sinta.
"Kenapa jika kamu kenal dia lebih lama, Sinta? Karena tetap saja, akulah yang paling utama dihatinya."
"Nanti, aku akan buat pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi. Karena yang akan jadi nona muda keluarga Hermawan adalah aku. Akulah yang akan menikah dengan Rama. Aku yang akan menggantikan posisi kamu sebagai istri Rama."
Ya. Inilah tujuan Risa yang sesungguhnya. Dia ingin menjadi nona muda dengan menikahi Rama. Dia ingin mengubah status hidupnya dari orang sederhana jadi gadis muda yang kaya.
Sayangnya, niat itu tidak terlihat di mata Rama. Pria itu hanya melihat bahwa Risa adalah gadis muda sederhana yang baik hati. Yang lemah lembut dan gampang ditindas oleh orang lain. Padahal, itu semua hanya kedok saja.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️