Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Pulang
Mereka duduk berdua dalam diam, ditemani rintik hujan dan hawa dingin yang merayap perlahan hingga ke tulang. Di atas tanah lembap itu, Althaf masih tenggelam dalam penyesalannya sendiri. Tatapannya lurus ke langit yang mulai menggelap, seolah mencari jawaban dari semua hal yang tak berjalan sesuai rencananya.
Sementara Farin hanya diam, napasnya masih sedikit berat menahan nyeri di kaki, namun jauh di dalam hatinya, ada rasa lain yang justru lebih sulit dia lawan. Rasa takut kehilangan.
Beberapa saat kemudian Farin kembali bersuara. Lembut… namun ada keteguhan di dalam nadanya. “Kalau tadi kita berhenti karena takut… mungkin sampai sekarang kita masih di sana. Kehujanan, kedinginan… dan tetap nggak sampai tujuan.”
Althaf menoleh pelan, lalu tersenyum kecil.
Senyum tipis yang terasa lelah, namun hangat. “Iya…” jawabnya lirih. “Kadang hidup memang harus tetap dilalui, meski jalannya bikin kita gemetar.”
Perlahan Althaf bangkit sambil menahan nyeri di bahunya yang terasa semakin berat. Farin pun mencoba berdiri, namun baru beberapa langkah tubuhnya limbung lalu jatuh lagi ke tanah basah.
“Farin!” Althaf langsung menahannya, tak ada darah ataupun luka terbuka. Namun wajah Farin langsung memucat menahan sakit. Napasnya tercekat kecil, sepertinya benturan tadi membuat cedera di kakinya semakin terasa.
Tanpa banyak bicara lagi, Althaf kembali membungkukkan tubuhnya. “Nggak usah dipaksa,” ucapnya pelan. “Aku gendong.”
Dan seperti sebelumnya, Farin kembali berada di punggung lelaki itu.
Dekat, sangat dekat, sampai dia bisa mendengar detak jantung Althaf yang berpacu bersama langkah-langkah beratnya.
Langit semakin gelap. Kabut turun perlahan di sela pepohonan. Hujan memang telah reda, tapi hawa lembap dan dingin terasa semakin menusuk kulit.
Althaf terus berjalan sambil menahan rasa sakit di bahu kirinya. Sesekali langkahnya goyah karena jalan licin, namun dia tetap menggenggam kuat tongkat di tangannya.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tanah datar di bawah pohon besar yang menjulang tinggi. Althaf menghela napas panjang. “Kita nggak bisa lanjut malam ini…” bisiknya lirih.
Farin yang sejak tadi bersandar lemah di punggungnya hanya mengangguk kecil, tubuh gadis itu mulai menggigil.
Althaf memandang sekeliling. Gelap. Tak ada cahaya sedikit pun. Pemukiman warga masih terlalu jauh untuk dicapai malam ini, hanya suara serangga malam dan desir angin yang terdengar mengisi hutan.
Dengan hati-hati Althaf menurunkan Farin, lalu segera menggelar karpet tipis yang mereka bawa. Dia mengumpulkan ranting-ranting kecil dan dedaunan kering, kemudian merogoh saku jaketnya mencari korek api, syukurlah… masih bisa menyala.
Tak lama kemudian api kecil mulai hidup di tengah gelapnya malam, cahayanya menari pelan di wajah mereka yang sama-sama lelah.
Mereka duduk berdekatan menghangatkan diri. Tubuh mereka letih, namun pikiran justru semakin sulit diajak tenang.
Malam di tengah hutan selalu menyimpan banyak kemungkinan, binatang liar, hujan yang turun tiba-tiba.m, atau dingin yang perlahan melumpuhkan tubuh.
Althaf membuka tas kecilnya, lalu mengeluarkan gelas stainless dan sebotol air minum. Dia mulai memanaskan air di atas api kecil itu, memasukkan potongan jahe dan sereh yang sedari tadi dia simpan.
Sambil menunggu air mendidih, Althaf perlahan memeriksa kaki Farin. “Bagian mana yang sakit?” tanyanya pelan.
Farin menunjuk bagian bawah lututnya.
Dengan hati-hati dia melipat sedikit kain celananya agar Althaf bisa melihat bagian yang terasa nyeri.
Dan saat itulah… Napas Althaf tertahan, di sana tampak lebam kebiruan yang cukup jelas. Seperti luka lama yang dipendam terlalu lama.
Alis Althaf mengernyit. “Farin… ini bukan luka baru.”
Farin terdiam.
“Apa kemarin kamu pernah jatuh waktu aku pergi?”
Beberapa detik Farin tak menjawab, lalu akhirnya dia mengangguk kecil. “Iya… aku sempat jatuh di samping goa. Kena batu.”
Althaf langsung menatapnya. “Kenapa nggak cerita?”
Nada suaranya tak marah, justru terlalu lembut hingga membuat hati Rachel terasa nyeri.
“Aku nggak mau terus-terusan merepotkan kakak…” jawab Farin lirih sambil tersenyum kecil. “Aku pikir cuma luka biasa.”
Senyum itu terlihat begitu rapuh, seolah dia sudah terlalu terbiasa menahan sakit sendirian.
Dan entah kenapa, melihat itu membuat dada Althaf terasa sesak.
Sementara Farin menunduk dalam diam. “Ya Allah…” batinnya lirih. “Kenapa ujian tentang hati ini terasa lebih berat dari rasa sakitku sendiri…” Dia sudah berusaha menjaga dirinya, berusaha menganggap semua ini hanya rasa nyaman karena terbiasa ditemani.
Tapi semakin hari… perhatian kecil lelaki itu justru semakin membuat hatinya runtuh perlahan.
Althaf menarik napas panjang, lalu memeras kain hangat dari rebusan jahe dan menempelkannya perlahan di kaki Farin. Gerakannya hati-hati sekali, seolah takut menambah sakit sekecil apa pun.
“Kita bisa merencanakan semuanya sebaik mungkin…” ucap Alrhaf tiba-tiba, matanya menatap api unggun yang menari pelan. “Tapi untuk benar-benar terjadi, semua tetap tergantung izin Allah.”
Dia tersenyum kecil. “Aku kira sore tadi kita sudah sampai kampung. Tapi ternyata Allah mau kita berhenti dulu malam ini.” Althaf menghela napas pelan lalu tertawa kecil. “Mungkin… malam ini Allah ingin mengajarkan pada kita cara bertahan dalam gelap.”
Farin tersenyum tipis mendengarnya, air matanya kembali jatuh tanpa suara.
“Kalau dipikir-pikir…” katanya pelan, “aku malah bersyukur pernah mengalami semua ini.”
Althaf menoleh.
“Hidup jauh dari manusia… makan seadanya… tidur di tengah hutan… semua ini mungkin terdengar berat buat orang lain. Tapi buat aku…” Farin menarik napas pelan. “…ini justru jadi salah satu bagian terindah dalam hidupku.”
Hening, nyala api memantul pelan di mata mereka.
“Terima kasih karena sudah selalu ada buat aku…” lanjut Farin lirih. “Sudah sabar merawat aku, membimbing aku… jadi sahabat terbaik buat aku.” Suaranya mulai bergetar. “Aku nggak tahu nanti gimana caranya aku bisa balas semua kebaikan kakak…”
Althaf tersenyum kecil.
“Farin… dalam kebaikan nggak ada hutang balas jasa.”
Farin terdiam mendengarnya.
“Mungkin hari ini aku dimudahkan Allah buat nolong kamu,” lanjut Althaf pelan, “dan suatu hari nanti… ketika aku dalam kesulitan, Allah akan kirim orang baik buat nolong aku.”
Tatapannya melembut. “Dan mungkin suatu saat nanti, giliran kamu yang jadi jawaban doanya orang lain.”
Farin menunduk, dadanya terasa penuh, bukan hanya karena haru, tapi karena dia sadar… lelaki ini tak pernah sekali pun meminta dirinya menetap, tak pernah memberi harapan. Namun justru itulah yang membuat semuanya terasa semakin menyakitkan.
Air jahe akhirnya mendidih. Aroma hangatnya memenuhi udara malam, tadi Althaf menyisakan setengah untuk di minum, ia lalu menuangkannya ke gelas kecil kemudian menyodorkannya pada Farin. “Minum ya. Biar hangat.”
Farin menerima gelas itu dengan kedua tangan.
Hangat wedang jahe perlahan mengalir ke tubuh mereka yang lelah, mereka memakan sisa roti dalam diam, membagi seadanya tanpa keluhan sedikit pun.
Karena kadang… kebersamaan sederhana justru terasa jauh lebih mewah daripada segala hal yang pernah dimiliki.
Usai makan, mereka mendirikan sholat di bawah langit malam yang gelap, di tengah hutan sunyi itu, hanya suara ayat-ayat Allah yang terdengar pelan, mengalir bersama desir angin. Seolah malam ikut bersujud bersama mereka.
Setelah selesai, mereka bersandar pada batang pohon besar, Farin menunduk, jemarinya saling menggenggam gugup. “Aku nggak tahu bagaimana besok…” gumamnya lirih. “Apa keluargaku masih nunggu aku… atau mereka udah lama nyerah karena aku nggak pernah kembali.”
Althaf menoleh pelan, namun dia tak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya melepas jaket yang dipakainya, lalu menyampirkannya perlahan ke bahu Rachel.
Hangat, sederhana, namun cukup untuk membuat mata Rachel kembali basah.
Tak ada kalimat manis, tak ada janji. Hanya perhatian kecil yang diam-diam terasa jauh lebih menenangkan daripada ribuan kata.
Malam berlalu perlahan, tak ada gangguan selain dingin yang menusuk dan detak jantung yang entah kenapa terasa lebih jelas dari biasanya.
Hingga akhirnya langit mulai berubah warna, gelap perlahan tersapu semburat fajar, embun jatuh dari ujung daun, sementara suara burung mulai bersahutan menyambut pagi.
Althaf bangun lebih dulu, dia membasuh wajahnya dengan sisa air di botol, lalu membentangkan sajadah kecil di atas tanah yang masih lembap.
“Waktunya Subuh,” bisiknya lembut sambil membangunkan Farin.
Farin membuka mata perlahan, kelah masih terasa di tubuhnya, namun entah kenapa pagi itu hatinya terasa jauh lebih tenang.
Mereka berwudhu dengan air seadanya, lalu berdiri menghadap kiblat di tengah sunyinya hutan, tak ada suara selain takbir yang mengalun pelan.
Dalam sujud panjang itu, seolah seluruh gundah mereka luruh bersama air mata yang tak terlihat, di akhir doa Rachel mengangkat kedua tangannya. “Terima kasih ya Allah…” lirihnya pelan. “Di tengah gelap… Engkau tetap beri kami cahaya.”
Pagi mulai benar-benar datang, udara masih dingin, namun aroma tanah basah dan cahaya mentari yang menyusup di sela daun membuat semuanya terasa hidup kembali.
Mereka membereskan sisa peristirahatan malam itu, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Karena jalan pulang… tinggal sedikit lagi.