Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Permintaan Seorang Guru
Diaken memandang murid-murid yang akan bertanding besok. Tatapannya menyapu enam sosok yang masih berdiri di arena batu.
"Pertarungan besok hanya dilakukan sekali. Siapa pun yang kalah akan gugur. Hanya tersisa tiga orang."
Kerumunan murid langsung menjadi ribut. Banyak yang menahan napas karena aturan tahun ini jauh lebih kejam dibanding biasanya. Tidak ada kesempatan kedua, ataupun jalan mundur. Sekali kalah, semuanya berakhir.
Diaken melanjutkan dengan suara keras.
"Tiga murid yang lolos akan memperebutkan posisi satu, dua, dan tiga. Karena hanya tersisa tiga orang, pertarungan terakhir akan dilakukan sekaligus. Tidak ada kawan maupun lawan. Siapa yang bertahan hingga akhir... dialah pemenangnya."
Sorakan langsung meledak di seluruh pelataran. Banyak murid luar berteriak penuh semangat, sedangkan para murid dalam menyipitkan mata tertarik. Pertarungan seperti itu selalu menjadi tontonan paling berdarah dalam kompetisi sekte.
Namun di antara keramaian itu, wajah Dhu Yan justru muram. Tatapannya dingin menatap Huang dari kejauhan. Orang-orang yang sebelumnya dia arahkan untuk menekan Huang sudah gugur satu demi satu. Bahkan Zheng Ku yang menggunakan pil kabut tidur juga gagal total. Kini hanya Lan Dong yang masih tersisa.
Diaken menggulung kembali daftar pertandingan di tangannya.
"Kalian berenam pergilah beristirahat. Pulihkan tubuh dan energi spiritual kalian untuk besok pagi."
Huang bersama lima murid lainnya menangkupkan tangan lalu meninggalkan arena. Kerumunan murid perlahan bubar sambil terus membicarakan pertarungan hari ini. Sebagian memuji Huang, sebagian lagi tetap meremehkannya karena belum mengeluarkan teknik kuat.
Lei Shan berdiri di kejauhan sambil mengacungkan jempol besar ke arah Huang.
"Bagus! Kau tidak mempermalukan diri sendiri."
Luo Mei tetap dengan wajah dinginnya, namun dia mengangguk pelan. "Jangan mati besok."
Huang segera menangkupkan kedua tangan dengan sopan. "Terima kasih, Kakak Senior."
Tidak lama kemudian Tetua Mo berjalan mendekat sambil membawa kendi araknya. Langkahnya masih terlihat malas seperti biasa.
"Ikut ke kediamanku."
Huang segera mengangguk.
"Baik, Guru."
Mereka pun pergi bersama meninggalkan pelataran sekte. Tidak ada banyak percakapan di sepanjang jalan. Tetua Mo hanya sesekali meneguk araknya sambil memandang langit senja dengan mata redup yang sulit ditebak.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di kediaman sunyi milik Tetua Mo. Tetua Mo langsung merebahkan tubuhnya di kursi rotan tua.
Krek...
Kursi itu berbunyi pelan.
Huang berdiri di samping dengan tenang sebelum akhirnya berbicara pelan. "Apakah Guru kecewa dengan penampilan murid hari ini?"
Tetua Mo memejamkan mata sejenak.
"Kecewa... itu benar."
Huang sedikit menundukkan kepala.
Namun Tetua Mo kembali berbicara, "Tapi bukan kecewa padamu. Aku kecewa karena tidak ada satu pun bocah itu yang mampu memaksamu mengeluarkan Teknik Pedang Gravitasi. Padahal aku ingin pamer sebenarnya."
Huang langsung tersedak ludahnya sendiri. Dia tidak menyangka gurunya akan berkata seterus-terang itu.
"Guru sangat jujur..."
Tetua Mo terkekeh pelan. "Kejujuran terkadang lebih menyenangkan daripada kepalsuan."
Huang terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan hati-hati.
"Guru... jika nanti murid mendapatkan posisi ketiga... lalu..."
Tetua Mo langsung memotong ucapannya.
"Lalu Tetua Xu ingin menjadikanmu muridnya?"
Huang membelalakkan mata. "Bagaimana Guru bisa tahu?"
Tetua Mo tertawa kecil sambil menggoyangkan kendi araknya.
"Si Xu itu tadi malam datang menemuiku. Dia membicarakan tentang dirimu."
Huang terdiam sesaat, lalu bertanya.
"Lalu... tanggapan Guru bagaimana?"
Tetua Mo tidak langsung menjawab. Dia bangkit perlahan dari kursi rotan, lalu berjalan menuju tebing kecil di belakang kediamannya. Angin sore meniup rambutnya yang berantakan. Untuk sesaat punggung tua itu terlihat sangat lemah.
"Kau jangan terlalu emosional, Huang." Suara Tetua Mo terdengar pelan. "Dalam dunia kultivasi, seorang praktisi sering berganti guru. Saat seseorang naik menuju tingkatan yang lebih tinggi, dia membutuhkan jalan baru, teknik baru, pemahaman baru."
Huang mendengarkan dengan diam.
Tetua Mo melanjutkan, "Banyak manusia fana menganggap pergantian guru sebagai pengkhianatan. Mereka menyebutnya kacang yang lupa kulitnya. Namun dunia kultivasi berbeda. Jika seorang guru menahan muridnya hanya demi harga dirinya sendiri... apakah orang seperti itu masih pantas disebut guru?"
Huang menatap punggung Tetua Mo dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dia merasakan sesuatu yang aneh dari lelaki tua itu. Seolah ada kesedihan tua yang telah lama membusuk di dalam dirinya.
Beberapa saat kemudian Huang bertanya pelan, "Jadi bagaimana pendapat Guru?"
Tetua Mo mendecakkan lidah. "Bodohnya bocah ini."
Dia perlahan berbalik. Matanya yang biasanya malas kini terlihat jauh lebih tajam.
"Aku mengizinkanmu menjadi murid tetua lain. Itu juga demi perkembanganmu sendiri."
Tetua Mo berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Tapi... sebagai guru, aku ingin meminta satu keinginan terakhir."
Huang langsung terkejut. "Guru, Anda berbicara seolah-olah besok akan mati."
Tetua Mo tertawa keras.
"Hahaha!"
Tawanya menggema di sekitar tebing sunyi itu. Namun perlahan tawanya berhenti sendiri. Wajahnya kembali muram seperti langit tua menjelang malam.
"Sebagai upah jerih payahku melatihmu..." Tetua Mo menatap lurus ke arah Huang. "Aku ingin kau melakukan satu hal. Dan kau harus berhasil."
Huang segera menangkupkan kedua tangan.
"Katakan saja, Guru."
Tetua Mo berbicara perlahan, namun setiap katanya terasa berat.
"Besok... aku ingin kau mendapatkan posisi nomor pertama."
Tatapan Huang sedikit berubah.
"Tidak boleh kurang dari itu." Suara Tetua Mo menjadi dingin. "Aku tidak peduli berapa banyak orang yang menghalangi jalanmu. Aku tidak peduli siapa yang mencoba menjatuhkanmu. Besok kau harus menjadi pemenang sesungguhnya."
Huang menatap gurunya lama sekali. Angin sore bergerak pelan di antara mereka. Beberapa napas kemudian Huang mengangguk.
"Baiklah, Guru... murid akan berusaha..."
Namun Huang tiba-tiba menggelengkan kepalanya sendiri.
"Tidak." Tatapannya berubah tajam. "Murid pasti menjadi pemenangnya."
Untuk pertama kalinya senyum puas muncul jelas di wajah Tetua Mo.
"Nah... itu baru muridku."
Dia kembali melambaikan tangannya malas.
"Sekarang pergi dan istirahatlah."
Huang menangkupkan kedua tangan dengan hormat. "Baik, Guru."
Dia segera pergi meninggalkan kediaman itu.
Namun setelah sosok Huang benar-benar menghilang dari pandangan, tubuh Tetua Mo tiba-tiba sedikit gemetar.
"Uuhuk!"
Dia batuk keras. Darah segar menetes dari sudut bibirnya hingga mengenai tanah batu.
Tetua Mo memandang darah itu cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Semoga sempat..."
---
Keesokan harinya, pelataran sekte sudah jauh lebih ramai dibanding hari sebelumnya. Bahkan banyak murid dalam yang sebelumnya tidak tertarik kini ikut datang menonton. Beberapa tetua bagian dalam juga terlihat duduk dengan wajah serius.
Huang berjalan perlahan menuju arena. Empat gelang berat masih melekat di kedua tangan dan kedua kakinya. Setiap langkahnya menghasilkan suara berat yang membuat beberapa murid menoleh.
Duk... duk...
Saat pandangannya bergerak ke arah tempat duduk para tetua, Huang sedikit terkejut. Tetua Mo sedang duduk santai sambil minum arak di samping seorang pria paruh baya berjubah hitam emas. Aura pria itu sangat tenang, namun justru karena terlalu tenang, keberadaannya terasa menekan.
Huang belum pernah melihatnya sebelumnya.
Tidak jauh dari sana, beberapa murid sedang berbisik-bisik.
"Itu Pemimpin Sekte Yun Guicheng."
"Aku dengar beliau hampir tidak pernah datang melihat kompetisi murid luar."
"Mungkin dari enam peserta ada yang membuat beliau tertarik."
Huang sedikit menyipitkan matanya. Dia segera menangkupkan kedua tangan ke arah para tetua dari kejauhan. Tetua Mo hanya melambaikan tangan malas sebagai balasan.
Di sisi lain arena, Lan Dong sudah berdiri sambil memandang Huang dingin. Gu Ren meregangkan kedua tangannya sambil tersenyum ganas. Ji Kuang memegang tombaknya dalam diam. Ning Su dan Qiao Rin berdiri terpisah dengan aura dingin masing-masing.
Enam orang kembali berkumpul. Namun kali ini tekanan di udara jauh lebih berat dibanding kemarin.