Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9-Membela Dinda
Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang masuk lewat celah jendela kelas seolah tak mampu menyentuh perasaan Elara. Gadis itu duduk diam di bangkunya, menatap kosong ke arah papan tulis, namun pandangannya tak benar-benar melihat apa pun yang ada di depannya. Pikurannya melayang jauh, kembali ke kejadian di dalam mimpi buruk yang menghantuinya semalam.
'Kenapa aku masih terus mikirin hal itu ya?''batin Elara sambil menghela napas pelan, tangannya meremas ujung seragamnya sendiri karena gugup. 'Padahal cuma mimpi, tapi rasanya sama persis kayak kejadian beneran. Dan kata-kata wanita itu... kenapa dia bilang cuma aku yang bisa nyelamatin sekolah ini? Apa maksudnya sebenarnya? Sekolah ini kan baik-baik aja, nggak ada masalah apa-apa. Atau... ada sesuatu yang aku nggak tahu?'
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuatnya semakin bingung dan gelisah. Ia sama sekali tidak menyadari seseorang telah berjalan mendekat, lalu duduk di bangku kosong di sebelahnya.
“El... Elara!”
Suara itu terdengar jelas di telinganya, disertai bunyi kemasan makanan yang berisik. Elara tersentak hebat, tubuhnya sedikit terlonjak kaget. Ia langsung menoleh cepat, dan mendapati Keisha sedang duduk sambil mengunyah camilan dengan santai, menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus curiga.
“Eh—kamu, Kei...” jawab Elara, napasnya sedikit terengah karena kaget. Jantungnya masih berdebar kencang. “Kamu bikin kaget aja tahu.”
Keisha menutup kemasan camilanya sebentar, lalu mencondongkan badan ke arah Elara. “Kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatiin, kamu ngelamun terus dari masuk kelas sampai sekarang. Dipanggil juga nggak denger. Ada apa, El? Ada masalah ya?”
Elara segera menggelengkan kepala berusaha terlihat tenang, meski hatinya masih kalut. “Gak papa beneran, Kei. Aku gak ada masalah apa-apa kok. Cuma... agak kurang tidur dikit aja semalam.”
“Kamu yakin?” tanya Keisha lagi, tidak mudah percaya.
“Yakin, serius deh,” jawab Elara sambil tersenyum tipis berusaha meyakinkan. “Cuma pusing dikit, abis itu ngelamun deh. Udah, jangan dipikirin ya.”
Keisha mengangkat bahu, lalu kembali membuka camilannya. “Oke deh, kalau kamu bilang begitu. Ya udah, nih kamu mau gak? Ada keripik rasa jagung bakar, enak lho, buat ngusir ngantuk.” Ia menyodorkan bungkus itu ke depan wajah Elara.
Elara menggeleng lembut. “Gak dulu deh, makasih ya. Aku lagi gak nafsu makan.”
Belum sempat Keisha menjawab, suara pintu kelas yang terbuka lebar seketika membuat seluruh isi kelas menoleh. Pintu itu terbuka dengan agak keras, dan masuklah Dinda, tangannya penuh menumpuk banyak buku tebal dan berkas-berkas, bahkan sampai menutupi sebagian wajahnya. Ia berjalan pelan, kepalanya tertunduk, seolah berusaha tidak menarik perhatian siapa pun. Namun, baru saja ia melangkah masuk sepenuhnya dan hendak berjalan ke arah bangkunya, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di depan sana, menghalangi jalan lebar-lebar, berdiri Valerie, Selena, dan Calista. Mereka berdiri dengan sikap angkuh, menatap Dinda seolah gadis itu hanyalah debu kecil yang mengotori lantai. Valerie yang berada di paling depan menatap tajam ke arah Dinda, senyum sinis terukir jelas di bibirnya.
“Hei, Babu!” seru Valerie dengan nada suara yang keras dan penuh tekanan. “Mana PR Bahasa Inggris gue sama teman-teman gue? Udah siap belum? Cepet kasih ke sini, mau kami salin sebelum guru datang.”
Dinda yang kaget mendadak gemetar. Ia menurunkan sedikit tumpukan bukunya agar bisa melihat wajah Valerie dengan jelas. Wajahnya memucat, matanya tampak ketakutan. “Ma... maaf, Valerie...” jawabnya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar. “Ta... tadi malam aku gak sempat ngerjain... Aku pusing banget, terus gak sadar ketiduran. Maaf ya... nanti sepulang sekolah aku kerjain ya, terus besok pagi baru aku kasih ke kalian?”
Wajah Valerie seketika berubah merah padam menahan amarah. Ia melangkah satu langkah mendekat ke arah Dinda, membuat gadis itu mundur sedikit karena takut.
“Beraninya lo ya!” bentak Valerie keras, suaranya menggema di seluruh ruangan. “Lo pikir kami punya waktu nunggu-nunggu kerjaan lo? Tiap hari kami minta, lo harus siapin. Giliran kemarin malem lo tidur? Emang lo siapa hah?!”
Tanpa menunggu jawaban, Valerie dengan kasar menyambar tumpukan buku di tangan Dinda hingga berserakan ke lantai, lalu mendorong dada Dinda dengan kekuatan yang cukup besar.
“Ah—!” Dinda terhuyung ke belakang, lalu jatuh terduduk keras di atas lantai yang dingin. Buku-bukunya berserakan ke mana-mana, kertas-kertasnya berhamburan.
Suara tawa dan ejekan pun pecah di seluruh ruangan. Hampir seluruh murid di kelas itu tertawa, kecuali Arkan, Rafael, Elara, dan Keisha. Ada yang bersorak kecil, ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Dinda yang masih duduk di lantai dengan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Di tengah keributan dan ejekan itu, Dinda mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya untuk bangkit, namun tangannya gemetar hebat saat memungut satu per satu bukunya.
Valerie mendekati Dinda, lalu berjongkok tepat di depan Dinda yang masih duduk terguncang di lantai. Ia menatap tajam ke arah gadis itu, dengan senyum sinis yang membuat siapa saja yang melihatnya merinding. Jari telunjuknya ia acungkan tepat di depan wajah Dinda yang pucat pasi.
"Sakit ya? Sakit kan?" ucap Valerie dengan nada merendahkan, suaranya rendah namun menusuk. "Makanya, kalau disuruh apa-apa harus siap. Jangan pernah berani ngelawan gue atau cari alasan macam-macam. Lo itu cuma ada di sini karena kasihan, ingat itu!"
Di belakangnya, Selena dan Calista tertawa kecil sambil bersedekap dada, menatap Dinda dengan pandangan jijik seolah gadis itu hanyalah kotoran yang mengotori ruangan itu.
"Udah, Val, kasih aja dia pelajaran yang lebih berkesan biar dia ingat seumur hidup," sela Selena dengan nada jahat.
"Betul tuh," sambung Calista sambil mendengus. "Biar dia tahu rasa si miskin ini. Siapa tahu nanti dia jadi lebih nurut."
Valerie tersenyum semakin lebar, matanya berkilat penuh kebencian. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, siap untuk mendaratkan tamparan keras ke pipi Dinda yang sudah mulai basah oleh air mata. Dinda memejamkan matanya erat, menunggu rasa perih yang pasti akan segera ia rasakan.
Namun, tepat saat tangan Valerie hendak bergerak turun, tiba-tiba ada sebuah tangan lain yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat dan cepat, menghentikan gerakan itu sepenuhnya.
Valerie tersentak kaget, lalu dengan kasar ia menoleh ke belakang dengan wajah merah padam menahan marah. Ia terbelalak saat melihat siapa orang yang berani menahannya. "Lo?! Elara?! Berani banget ya lo nahan tangan gue?! Lo mau cari masalah sama gue hah?!"
Elara berdiri tegak di sana, napasnya sedikit memburu karena keberanian yang baru saja ia kumpulkan. Wajahnya tidak lagi tampak bingung atau takut seperti tadi. Matanya menatap lurus ke manik mata Valerie dengan tatapan yang dingin, tegas, dan tidak mau kalah. Cengkeramannya di tangan Valerie tidak kendor sedikit pun.
"Udah cukup ya kamu nyakitin dia," ucap Elara dengan suara yang tenang namun tegas, terdengar jelas sampai ke sudut ruangan. "Kamu nggak puas apa udah bikin dia jatuh, udah bikin dia malu di depan semua orang? Apa kamu sama sekali nggak punya rasa kasihan lihat kondisinya kayak gini?"
Valerie menyentak tangannya berusaha melepaskan diri, tapi Elara tetap memegang erat. "Kasihan? Buat apa gue kasihan sama dia? Cih! Dia kan orang miskin, anak orang nggak mampu. Jadi memang pantas nasibnya kayak gini—jadi babu, disuruh-suruh, dan disakitin terus. Emang itu tempat dia!"
Suasana kelas mendadak hening seketika. Semua murid menahan napas, tidak ada yang berbicara, semua mata tertuju pada Elara.
Elara perlahan melepaskan cengkeramannya, namun tatapannya semakin tajam menusuk. Ia menatap Valerie tepat di wajahnya, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Benar, Dinda emang anak dari keluarga yang kurang mampu. Dia emang miskin harta," ucap Elara lantang, suaranya bergema di ruangan itu. "Tapi ingat satu hal, Valerie... Dia itu kaya. Dia kaya ilmu, dia kaya ketulusan, dan dia punya hati yang jauh lebih baik dan mulia dibanding kalian semua."
Elara melirik sekilas ke arah Selena dan Calista, lalu kembali menatap Valerie dengan senyum tipis yang penuh sindiran.
"Kalian? Kalian emang kaya harta, orang tua kalian punya uang banyak. Tapi lihat diri kalian sendiri... kalian itu miskin ilmu, miskin akal, dan yang paling parah, kalian itu miskin kelakuan. Uang bisa dibeli, tapi harga diri dan budi pekerti nggak bakal pernah bisa dibeli pakai uang kalian itu."
Hening. Benar-benar hening. Beberapa murid menutup mulutnya takjub, ada yang berbisik-bisik pelan, ada yang menahan tawa melihat wajah Valerie yang berubah merah padam, lalu pucat, lalu merah lagi karena menahan amarah yang meledak-ledak.
"Berani... berani banget lo ngomong begitu sama gue?!" Valerie bergetar hebat, telinganya memerah karena marah. "Lo pikir lo siapa hah?! Berani ngelawan gue dan ngatain gue miskin akal?! Lo udah cari kuburan sendiri ya, Elara!"
Dengan penuh kemarahan, Valerie mengangkat tangannya lagi, kali ini langsung berniat menyerang dan mencakar wajah Elara. "Gue bakal ajarin lo sopan santun sekarang juga!"
Namun, sebelum tangan Valerie sempat menyentuh ujung rambut Elara, sesosok tubuh jangkung tiba-tiba melangkah maju dan berdiri tepat di antara mereka. Sosok itu dengan santai namun tegas menepis tangan Valerie hingga gadis itu mundur beberapa langkah terhuyung.
Itu Arkan.
Pemuda itu berdiri tegak, wajahnya dingin tanpa ekspresi sama sekali, matanya menatap Valerie dengan pandangan yang membuat siapa saja merinding. Suasana kelas makin sunyi senyap.
"Lo duduk di tempat lo," ucap Arkan dengan nada rendah, berat, dan sangat dingin, seolah keluar dari tenggorokan orang yang sudah sangat muak. "Dan berhenti buat bikin keributan lagi di kelas ini."
Valerie tertegun, napasnya memburu menahan amarah. Ia menatap Arkan dengan tak percaya. "Ta... tapi Arkan... dia yang mulai duluan! Dia yang ngelawan gue, dia yang ngatain gue!"
Arkan tidak bergeming. Ia tetap berdiri di sana, seolah menjadi perisai bagi Elara di belakangnya. Tatapannya semakin tajam.
"Gue denger semuanya dari tadi," jawab Arkan datar, tidak peduli dengan alasan Valerie. "Dan gue bilang sekali lagi, kalau lo masih ribut, masih teriak-teriak, dan masih bikin masalah di sini... mending lo keluar aja deh dari kelas ini. Gue bakal laporin ke guru kalau lo nggak berhenti sekarang."
Valerie terdiam. Ia tahu betul karakter Arkan—pemuda itu tidak pernah bercanda, dan dia punya pengaruh besar di sekolah ini. Melawan Arkan sama saja dengan mencari masalah besar. Selena dan Calista yang berdiri di belakangnya langsung menarik lengan baju Valerie, memberi kode untuk mundur saja.
Wajah Valerie terlihat sangat kesal, marah, dan malu bercampur jadi satu. Ia mendengus keras, menatap tajam ke arah Elara dan Arkan bergantian, lalu menatap Dinda yang masih duduk di lantai.
"Kita belum selesai ya!" desis Valerie penuh ancaman, suaranya bergetar. "Ingat aja ini, Elara. Lo bakal nyesel udah ikut campur urusan gue!"
Setelah melontarkan ancaman itu, Valerie langsung berbalik badan dengan kasar, lalu berjalan cepat menuju bangkunya di bagian depan, diikuti oleh Selena dan Calista yang terus berbisik-bisik sambil melirik ke arah Elara dengan pandangan benci.
Setelah kepergian Valerie dan teman-temannya yang masih menyisakan suasana tegang di dalam kelas, Elara segera bergerak mendekat ke arah Dinda yang masih berdiri kaku di dekat tumpukan bukunya yang berantakan. Ia berjongkok sebentar untuk mengambil beberapa buku yang terlempar jauh, lalu mengulurkan tangannya lembut ke arah gadis itu.
"Ayo, berdiri," ucap Elara pelan, sambil menggenggam tangan Dinda dan membantunya bangkit berdiri tegak kembali. Ia mengibaskan sedikit debu yang menempel di punggung seragam Dinda, menatap gadis itu dengan pandangan khawatir. "Kamu nggak apa-apa kan? Ada yang sakit? Atau ada yang luka?"
Dinda menggeleng pelan, meski bibirnya masih bergetar hebat dan matanya masih tampak berkaca-kaca menahan sisa rasa takut. Ia memegangi lengan kirinya yang sedikit tergores kasar saat jatuh tadi, namun ia berusaha tersenyum tipis agar Elara tidak terlalu cemas.
"Nggak apa-apa kok... cuma kaget aja," jawab Dinda lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah heningnya kelas. Ia menatap Elara dengan tatapan penuh rasa syukur yang mendalam. "Makasih banyak ya... kalau nggak ada kamu tadi, aku nggak tahu bakal jadi apa lagi. Aku... aku beneran takut banget."
Elara mengangguk pelan, lalu menepuk pelan bahu Dinda sebagai tanda penguatan. "Sama-sama. Nggak usah dipikirin lagi ya. Yang penting sekarang kamu aman, dan mereka udah pergi. Jangan takut, nggak bakal ada apa-apa lagi."
Sementara itu, di sudut kelas yang agak jauh, Arkan sudah berjalan tenang kembali menuju bangkunya. Ia sama sekali tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, seolah apa yang baru saja ia lakukan adalah hal biasa yang tak perlu dibesar-besarkan. Wajahnya tetap datar, dingin, tanpa ekspresi apa pun, persis seperti sebelum kejadian itu terjadi. Ia duduk kembali di kursinya, merapikan posisi duduknya, lalu mengambil satu buku tebal dari meja—seolah kejadian tadi hanyalah gangguan kecil yang sudah selesai.
Dinda pun segera berjalan perlahan menuju tempat duduknya di barisan paling belakang, langkahnya masih agak gontai namun sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Elara berjalan di sampingnya sebentar, memastikan gadis itu sampai ke bangkunya dengan selamat, baru kemudian ia berbalik dan kembali menuju tempat duduknya sendiri di sebelah Keisha.
Di bangku belakang, tepat di belakang tempat duduk Arkan, Celio dan Rafael duduk sambil berbisik-bisik, tak melepaskan pandangan mereka dari sosok Arkan yang kini sudah asyik menunduk membaca buku. Celio menyenggol pelan lengan Arkan dengan siku tangannya, sambil menyeringai jahat seolah menemukan rahasia besar.
"Eh, Kan... tadi itu lo sengaja kan, hah?" tanya Celio berbisik namun cukup jelas terdengar. Matanya berkedip-kedip menggoda. "Jangan bilang lo cuma nggak suka keributan. Gue tahu banget, lo itu sebenernya pengen ngelindungin Elara kan? Ciee... perhatian banget lo sekarang."
Arkan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari halaman buku yang sedang dibacanya. Ia membalik satu halaman dengan gerakan lambat dan tenang, lalu menjawab dengan nada suara yang sangat dingin dan datar, tanpa melihat ke arah Celio sedikit pun.
"Gue cuma nggak mau ada keributan nggak jelas di kelas ini. Itu aja," jawabnya singkat dan tegas.
Celio bukannya takut malah makin penasaran, ia mencondongkan badannya makin dekat ke depan agar wajahnya sejajar dengan bahu Arkan.
"Yakin nih? Serius lo ngomong begitu?" celoteh Celio tidak percaya, sambil terkekeh pelan. "Biasanya lo itu paling cuek bebek, Kan. Kalau ada yang berantem, ada yang diganggu, atau ada keributan apa aja, lo pasti cuma liat doang terus pura-pura nggak tahu. Nggak pernah mau ikut campur urusan orang lain. Tapi tadi? Lo malah maju sendiri ngadepin Valerie. Nggak wajar lah itu kalau cuma gara-gara nggak suka ribut."
Arkan menghentikan gerakan jarinya yang sedang memegang buku. Ia mengangkat kepalanya perlahan, lalu menatap tajam ke arah Celio dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Matanya yang tajam itu membuat Celio seketika menelan ludah.
"Lo diam sekarang, atau mau gue pukul pakai buku tebal ini sampai mulut lo nggak bisa ngomong lagi?" ancam Arkan dengan nada rendah yang penuh tekanan, sambil mengangkat sedikit buku pelajaran di tangannya seolah akan benar-benar mewujudkan ucapannya.
Celio langsung mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah, wajahnya berubah jadi takut seketika. Ia mundur kembali ke tempat duduknya sambil tertawa canggung.
"Eh, eh... jangan, jangan dong Kan! Iya, iya gue diem, gue diem deh! Jangan main kasar, bahaya nih buku tebal banget," seru Celio cepat-cepat, takut Arkan benar-benar menepuk kepalanya dengan buku itu.
Di sebelahnya, Rafael hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu, lalu menepuk bahu Celio pelan.
"Makanya," kata Rafael sambil tertawa kecil. "Lo Jangan asal ngomong aja kalau sama Arkan. Lo kan tahu dia gimana, kalau udah ngomong begitu berarti serius. Tapi... jujur aja deh, gue ngakuin sih, Elara tadi bener-bener berani banget lho. Berani ngelawan si Valerie yang terkenal galak dan sombong itu. Padahal biasanya cewek-cewek lain pada lari atau diem aja kalau diganggu."
"Iya bener, sumpah deh," sahut Celio, yang sekarang sudah berhenti menggoda dan malah ikut berkomentar serius. Matanya melirik ke arah bangku tempat Elara duduk. "Gue aja ngeri lho denger omongan Elara tadi. Dia berani banget ngatain mereka miskin akal, miskin kelakuan. Itu omongan pedes banget, tapi bener banget. Sumpah, Elara keren banget deh hari ini. Gue jadi baru sadar, ternyata dia punya nyali gede juga ya."
Rafael mengangguk setuju, matanya pun ikut menatap punggung Elara dari kejauhan. "Iya, gue juga nggak nyangka. Gue kira dia pendiam, kalem, nggak banyak omong. Tapi ternyata kalau udah liat ketidakadilan, dia nggak bakal diam aja. Beda banget sama kita-kita yang cuma bisa liat doang."
Di tengah percakapan kedua temannya itu, Arkan tetap diam seribu bahasa. Ia tidak lagi menyahut atau menanggapi apa pun yang dikatakan Celio maupun Rafael. Ia kembali menundukkan kepalanya, matanya kembali menatap deretan tulisan di dalam buku pelajaran yang dipegangnya.
Di sisi lain kelas, Elara duduk kembali di bangkunya. Keisha langsung merangkul bahu sahabatnya itu dengan antusias, matanya berbinar kagum.
"El! Kamu gila ya? Sumpah, jantung aku tadi mau copot lho liat kamu ngelawan Valerie," bisik Keisha cepat-cepat, suaranya penuh rasa kagum. "Tapi... wah, aku bangga banget sama kamu! Omongan kamu tadi itu... mantap banget! Bener-bener bikin mereka diem dan malu sendiri. Kamu nggak apa-apa kan? Valerie itu keras banget lho kalau ngamuk."
Elara menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sambil mengusap dadanya yang masih terasa sedikit berdebar. "Aman kok, Kei. Aku cuma... nggak tahan aja liat Dinda diperlakukan kayak gitu. Rasanya nggak adil banget. Lagian... aku merasa ada yang bantu aku buat ngomong gitu, entah kenapa."
"Tapi apapun itu aku bangga banget sama kamu," kata Keisha.
"Makasih, Kei," kata Elara.
Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi, semua murid duduk ditempat duduk mereka masing-masing menunggu guru kimia mereka datang.