NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 Ditinggal Sendiri

Area parkir mulai sepi. Lampu gedung masih terang, tapi suasananya tidak seramai tadi. Angin malam berembus pelan, membawa hawa dingin yang entah kenapa terasa lebih menusuk di dada Anjani.

Satriya masih menatap Anjani. Tatapan yang dulu pernah penuh bangga itu sekarang terasa seperti tatapan seseorang yang sedang menyesali pilihan hidupnya. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.

“Aku nggak ngerti sama kamu akhir-akhir ini.” Suara Satriya terdengar geram tertahan.

Anjani malas menanggapi panjang. “Karena aku bantu orang?”

“Karena kamu nggak tahu diri.”

Untaian kalimat tajam terus saja menusuk dada Anjani malam ini, hanya karena dia membantu. Bukan, bukan karena dia membantu, tapi karena mulut Cintya yang manis tapi berbisa itu.

Cintya buru-buru berusaha menenangkan, “Satriya, jangan dibesar-besarkan…”

“Tadi semua orang pasti lihat.” Satriya memotong tajam. “Kamu pikir aku nyaman lihat istri aku mondar-mandir di backstage kayak orang haus perhatian?”

Anjani menatapnya tanpa ekspresi. Padahal di dalam dadanya sesuatu mulai remuk perlahan. “Aku nggak minta dilihat siapa-siapa,” sanggahnya dengan tenang, meski suaranya mulai sedikit bergetar.

“Tapi kamu senang waktu diperhatiin Ren ‘kan? Pasti langsung besar kepala kamu.” Satriya berhenti sejenak, berdecak sinis. "Jangan kepedean."

Sunyi menghantam. Semua ucapan Satriya kotor, murahan, dan sangat menghina.

Anjani perlahan mengangkat wajah. “Kalau ada orang yang akhirnya sadar aku masih punya kemampuan…itu bukan salahku," balasnya masih tetap tenang sembari menahan nyeri luka yang kian menganga.

Satriya langsung tersentak. Harga dirinya seperti ditampar. “Jadi sekarang kamu nyindir aku?”

“Aku nggak nyindir.” Tatapan Anjani dingin. “Aku cuma ngomong kenyataan.”

Dan justru karena Anjani terlalu tenang, Satriya makin terbakar. Percayalah lelaki egois paling benci dipantulkan cerminnya sendiri.

Tatapan Satriya turun mengamati Anjani dari atas sampai bawah. Blouse polos, rok krem, tas lama, sepatu sederhana. Tidak ada satu pun yang terlihat pantas berdiri di antara para tamu penting malam ini.

Dan tiba-tiba saja rasa malu itu muncul begitu besar dalam diri Satriya. Mungkin karena tadi ia melihat perempuan-perempuan lain begitu bersinar. Mungkin karena tadi Ren Aksara memandangi Anjani terlalu lama. Atau mungkin...karena diam-diam Satriya sadar istrinya memang pernah punya dunia yang lebih besar daripada dapur rumah mereka. Dan kesadaran itu mengganggunya.

“Kamu tahu nggak sih gimana kamu kelihatan tadi?”

Anjani diam.

“Biasa banget. Malu aku kalau sampai orang-orang tahu kalau kamu istriku.” Kalimat tajam dan kejam Satriya meluncur begitu saja tanpa berperasaan. Dan langsung membuat suasana membeku.

“Semua perempuan di sana tampil proper.” Satriya tertawa sinis pendek. “Sementara kamu datang kayak ibu-ibu random yang nyasar ke acara mahal.”

Bella menunduk kecil. Anjani sendiri tidak langsung bicara. Karena anehnya yang menyakitkan bukan hinaannya, melainkan fakta bahwa dulu Satriya pernah memandang dirinya seperti perempuan paling indah di dunia bahkan saat mereka makan di warung pinggir jalan. Sekarang lelaki yang sama memandangnya seperti sesuatu yang memalukan.

Anjani menarik napas kecil. “Kalau penampilanku bikin malu…” Tatapannya lurus pada Satriya. “Harusnya tadi kamu nggak usah ajak aku.”

Satriya langsung mendekat satu langkah. “Kamu pikir aku nggak nyesel?”

Deg.

Cintya refleks menutup bibir pelan seolah kaget. Padahal matanya diam-diam menikmati semuanya. Dan saat itulah Bella tiba-tiba memeluk kaki Cintya.

“Aku nggak suka Papa marah…” Suara kecilnya membuat semua orang diam.

Namun yang benar-benar retak adalah Anjani karena anak itu tidak mendekatinya, memegang tangannya, atau membelanya. Bella justru berlindung pada perempuan lain.

Cintya langsung berjongkok lembut. “Shh… nggak apa-apa sayang.”

Bella memeluk leher Cintya erat. “Mama bikin masalah terus makanya Papa marah-marah…”

Hancur sudah hati seorang ibu. Kalimat polos Bella menghantam jauh lebih keras daripada semua ucapan Satriya tadi. Dan lebih parahnya lagi, Bella mengatakannya sambil memeluk Cintya. Seolah perempuan itulah tempat paling aman untuknya.

Cintya mengusap rambut Bella penuh kelembutan. “Nggak boleh ngomong begitu sama Mama…” Tapi nadanya tidak benar-benar menegur. Justru terdengar seperti pembenaran halus.

Seolah 'Papa marah memang karena Mama salah.'

Lalu perempuan itu menoleh pada Anjani dengan tatapan penuh iba paling palsu sejagat raya. “Kak Anjani pasti lagi capek aja…”

Capek. Menggelikan sekali. Jelas-jelas kata itu terdengar seperti 'Maklum, perempuan gagal memang emosinya berantakan.'

Anjani seketika merasa mual dan terlalu malas untuk bertahan lebih lama di sana. Ia berbalik lalu berjalan menuju mobil. Namun, baru tangannya menyentuh handle pintu—

“Jangan masuk.”

Anjani berhenti, lalu menoleh pelan. Satriya berdiri dengan wajah keras.

“Kamu pulang sendiri.”

Bella langsung mengangkat kepala. “Papa?”

“Aku malas lihat Mama kamu sekarang.” Kalimat itu keluar begitu mudah. Seolah Anjani bukan istrinya. Bukan perempuan yang menemaninya dari nol. Hanya beban yang kebetulan masih tinggal serumah dengannya.

Anjani menatap Satriya beberapa detik, lalu mengangguk kecil tanpa drama menangis ataupun memohon belas kasih. Harga dirinya sudah terlalu lelah untuk itu.

Dan sikap tenang Anjani lagi-lagi membuat Satriya makin kesal. “Jangan pasang muka kayak korban.”

Anjani tertawa kecil. Kecil tapi dingin. “Tenang.” Tatapannya lurus. “Aku juga udah capek jadi korbannya.”

Satriya langsung membuang muka kasar.

Sementara Cintya buru-buru berdiri. “Udah malam banget…” Suaranya lembut penuh simpati palsu. “Kak Anjani kalau mau aku bisa pesenin taksi?”

Anjani tidak menjawab. Ia bahkan tidak lagi melihat perempuan itu karena semakin dilihat semakin terasa menjijikkan.

Beberapa detik kemudian Cintya kembali bicara pelan pada Satriya. “Satriya…”

“Hm?”

“Aku sebenarnya pusing banget.” Ia memijat pelipis kecil. “Kayaknya nggak kuat nyetir sendiri.”

Bella langsung berseru. “Papa anterin Tante Cintya aja!”

Dan seperti biasa, Satriya tidak menolak Bella.

“Oke.”

Sederhana, cepat, tanpa rasa bersalah sedikit pun pada istrinya yang akan ditinggalkan sendirian malam-malam.

Bella langsung masuk mobil dengan semangat. “Tante Cintya duduk depan sama Papa ya!”

Cintya tampak ragu-ragu palsu. “Eh nanti nggak enak sama Kak Anjani…” Tapi tubuhnya tetap masuk ke kursi depan, sembari melirik tipis ke Anjani. Secara halus ia ingin memamerkan sebuah fakta, bahwa dirinya lebih berharga dari pada Anjani di mata anak dan suaminya.

Anjani berdiri diam di bawah lampu parkiran. Sendirian seraya memandangi mobil keluarganya yang kini terasa bukan miliknya lagi. Pintu mobil tertutup. Mesin menyala. Dan kendaraan itu benar-benar pergi meninggalkannya. Seolah keberadaannya memang semudah itu dibuang.

Di dalam mobil, suasana sempat hening. Bella memeluk boneka kecilnya sambil melihat ke belakang. “Papa…”

“Hm?”

“Kenapa Mama nggak ikut pulang?”

Satriya menyetir tanpa ekspresi. “Biar Mama mikir.”

“Mikir apa?”

Cintya tersenyum lembut sambil menoleh ke belakang. “Kadang orang dewasa juga harus diingatkan kalau berbuat salah itu nggak baik, sayang.”

Bella mengerjap bingung. “Mama salah ya?”

Cintya mengusap kepala anak itu pelan. “Nggak jahat kok…” suaranya lembut sekali. “Tapi Mama tadi bikin Papa malu.”

Bella langsung diam. Anak kecil gampang sekali dibentuk arah pikirannya. Dan Cintya tahu persis itu.

“Kalau kita bikin salah…ya harus belajar dulu supaya nggak ngulangin lagi,” lanjut Cintya dengan halus.

Bella akhirnya mengangguk kecil. “Oh…”

Satriya tetap diam menyetir. Ia tidak membantah satu kata pun. Dan di luar sana…Anjani masih berdiri sendiri di bawah lampu malam yang mulai redup.

Anjani masih berdiri sendirian di trotoar depan gedung. Angin malam terasa dingin di kulitnya yang tipis tertutup blouse sederhana.

Ia menarik napas panjang lalu membuka tas. Ada dompet kecil, tisu, lip balm murah. Tidak ada uang tunai.

Anjani terdiam beberapa detik.

Ah. Benar juga. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Satriya memberinya uang pegangan cukup. Biasanya kalau butuh sesuatu, tinggal bilang. Kalau perlu bayar ini itu tinggal minta transfer. Seakan dirinya bukan istri, melainkan pegawai rumah tangga yang harus mengajukan anggaran.

Anjani mencoba menyalakan ponselnya, ternyata mati. Tadi sore Bella rewel minta dikepang, Satriya terburu-buru, lalu mereka telat berangkat. Ia lupa mengisi daya.

Miris ya. Hidupnya sekarang benar-benar menyedihkan. Ditinggal suami. Tidak punya uang. Ponsel mati.

Dan Cintya yang tadi berkata 'Aku bisa pesenin taksi.' ternyata hanya basa-basi cantik.

Anjani tertawa kecil sendiri. Nyaris terdengar seperti orang mau menangis, tapi sayangnya air matanya terlalu lelah untuk keluar. Mau tidak mau ia mulai berjalan.

Tumitnya terasa nyeri menghantam aspal. Kakinya pegal karena sejak pagi tidak benar-benar berhenti bergerak. Namun malam ini anehnya lebih sakit dari biasanya. Mungkin karena untuk pertama kali, Anjani benar-benar merasa sendirian.

Beberapa menit berlalu. Langkahnya mulai melambat. Lampu kota terlihat kabur terkena matanya yang lelah. Perutnya terasa kosong sejak tadi karena bahkan di acara itu ia tidak sempat makan apa pun.

Anjani berhenti sejenak di dekat persimpangan jalan. Dan di situlah, dadanya kembali dihantam sesuatu.

Di seberang jalan, sebuah restoran cepat saji masih ramai. Lampu terang.

Suara anak-anak. Aroma ayam goreng yang samar terbawa angin malam.

Dan di balik kaca besar itu…Satriya ada di sana bersama Bella dan Cintya.

Mereka tertawa.

Bella duduk di tengah sambil memakan kentang goreng dengan wajah girang. Cintya mengelap saus di sudut bibir anak itu dengan tisu sambil tersenyum lembut. Gerakannya natural sekali. Seolah memang seorang ibu.

Satriya bahkan terlihat santai sekarang. Tidak marah, tidak kesal. Lelaki itu sedang tertawa kecil mendengar Bella berceloteh sesuatu.

Ah. Jadi bukan pulang. Mereka mampir makan dulu. Tanpa peduli bahwa Anjani bahkan belum makan malam.

Bella memang sangat suka makanan cepat saji seperti itu. Dan biasanya Anjani yang paling cerewet membatasi. “Nggak boleh sering-sering, tidak sehat.”

Bella sering ngambek karenanya. Satriya kadang ikut mengeluh, “Sekali-sekali aja nggak apa-apa.”

Begitu juga dengan Cintya. "Kasian Bella, Kak. Dia nanti tertekan kalau apa-apa nggak dibolehin."

Dan malam ini…mereka terlihat sangat menikmati kebebasan itu tanpa dirinya. Seakan Anjani memang cuma penghalang suasana menyenangkan.

Tatapan Anjani perlahan turun. Cintya sedang menyuapi Bella sekarang. Dan anak itu menerimanya tanpa penolakan sedikit pun. Hangat sekali. Indah sekali. Sampai rasanya seperti seseorang sedang memperlihatkan 'Lihat? Bahkan tanpa kamu, kami tetap bahagia.'

Napas Anjani mulai terasa berat.

Ia memalingkan wajah cepat. Tidak kuat melihat lebih lama karena kalau bertahan satu menit lagi mungkin benar-benar akan ada sesuatu dalam dirinya yang pecah tak karuan.

Anjani kembali berjalan. Langkahnya lebih cepat sekarang. Seakan sedang kabur dari sesuatu. Namun tubuhnya terlalu lelah, pikirannya terlalu penuh. Matanya bahkan terasa panas sejak tadi menahan sesuatu yang tidak boleh jatuh. Dan—

Bruk!

Seseorang menabraknya cukup keras dari samping.

“Ah—”

Tubuh Anjani oleng sampai tasnya jatuh ke trotoar. Seorang anak laki-laki kecil ikut terjatuh di depannya.

Dia diam. Tidak menangis, tidak heboh, hanya duduk sebentar sambil memandang es krim yang kini terbalik di tanah.

Anjani buru-buru jongkok. “Maaf, kamu nggak apa-apa?”

Anak itu mengangkat wajah pelan. Wajahnya tampan untuk ukuran anak kecil. Kulit putih bersih. Mata tajam. Rambut hitam rapi meski sedikit berantakan karena tadi berlari. Usianya mungkin sekitar enam tahun.

Sebaya Bella.

Namun aura anak itu aneh. Terlalu dingin dan tenang. Bukan seperti anak kecil pada umumnya. Dan entah kenapa, itu membuat Anjani langsung teringat pada seseorang.

Ren Aksara.

Terutama cara anak itu memandang sekitar dengan ekspresi datar seolah dunia terlalu berisik untuk ditanggapi.

Anak kecil itu berdiri lebih dulu. Lalu membungkukkan badan kecilnya sopan.

“Maaf.” Suara kecilnya pendek dan tenang. Tidak terdengar manja sedikit pun.

Anjani sedikit terdiam.

“Harusnya saya nggak lari.” Cara bicaranya terlalu rapi untuk anak seusianya.

Anjani buru-buru ikut berdiri. “Nggak apa-apa, Tante juga nggak lihat jalan.”

Anak itu menggeleng kecil. “Tante jatuh karena saya.” Suaranya dingin, tapi tetap sopan.

Dan herannya kombinasi itu justru membuat hati Anjani sedikit menghangat setelah malam panjang yang menyakitkan. Tatapannya turun pada es krim yang sudah hancur.

“Oh no…” Anjani refleks merasa bersalah. “Es krimnya jadi jatuh.”

“Nggak apa-apa," jawabnya cepat sekali. Seolah benda seperti itu tidak penting.

Bella pasti sudah menangis kalau jadi dia. Anjani menatap anak kecil itu beberapa detik. Anak ini benar-benar mengingatkannya pada Ren. Bukan hanya wajah dinginnya, tapi juga caranya menahan ekspresi, seperti sudah terbiasa tidak banyak meminta.

“Nama kamu siapa?”

“Sae," jawabnya pendek, lalu diam lagi.

Anjani hampir tersenyum kecil. Anak itu hemat kata dan terasa malas bicara panjang, tapi entah kenapa terkesan lucu di matanya.

“Sae lagi sama orang tua?” Sae mengangguk kecil.

Namun sebelum Anjani sempat bicara lagi, anak itu justru memperhatikan wajahnya cukup lama. Tatapannya turun pada mata Anjani yang sedikit sembab karena lelah. Lalu tanpa diduga, ia mengeluarkan sapu tangan kecil dari saku jaketnya. Polos warna hitam dn rapi terlipat.

Sae mengulurkannya pelan. “Untuk Tante.”

Anjani membeku sesaat. “Hm?”

“Mata Tante merah.”

Kalimat Sae terdengar sederhana, bahan diucapkan nyaris tanpa ekspresi. Namun nyatanya itu jauh lebih menenangkan daripada semua simpati palsu yang Anjani dengar malam ini.

Anjani perlahan menerima sapu tangan itu. “Terima kasih…”

Sae hanya mengangguk kecil, lalu berdiri lebih dekat di sampingnya. Tidak menjaga jarak seperti tadi. Ia justru diam tenang di dekat Anjani seolah keberadaan perempuan itu tidak mengganggunya sama sekali.

Bahkan ketika beberapa orang dewasa lewat di trotoar, Sae refleks menarik ujung lengan blouse Anjani kecil. Gerakan kecil, natural. Seolah tanpa sadar memilih berdiri di sisi perempuan itu.

“Sae. Kamu lari ke mana?”

Tiba-tiba suara pria dewasa terdengar dari belakang. Sae yang tenang seketika menegakkan badannya.

Bersambung~~

1
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!