NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pukulan dari kata-kata ibu

"Pergi sejauh mungkin, aku akan melupakan semuanya juga," ucap Kanaya, menutup kalimatnya dengan nada final yang mutlak. Mata sayunya menatap Arman tanpa ada lagi keraguan, mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi ruang untuk negosiasi di antara mereka.

​Kata-kata itu menjadi pukulan terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa harapan Arman. Ia sadar, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di kamar ini. Keberadaannya hanya akan menjadi duri yang terus mengoyak luka Kanaya.

​Dengan tubuh yang terasa luar biasa berat dan hati yang hancur berkeping-keping, Arman akhirnya bangkit berdiri. Ia melangkah mundur perlahan, menatap Kanaya untuk terakhir kalinya, namun perempuan itu sudah kembali memalingkan wajah—menolak memberikan ruang sekecil apa pun untuk perpisahan yang hangat.

​Arman berjalan gontai mendekati pintu kos. Tangannya yang gemetar meraih selot kunci, memutarnya dengan bunyi klek yang terasa begitu memekakkan telinga di dalam keheningan itu.

​Begitu pintu terbuka, angin malam langsung menerpa wajah Arman yang sembap. Ia melangkah keluar, lalu menarik daun pintu itu perlahan hingga tertutup rapat. Mengurung Kanaya di dalam kesendiriannya, dan mengunci dirinya sendiri dalam penyesalan seumur hidup. Arman berjalan menyusuri koridor kos yang sepi, menuruni anak tangga dengan tatapan kosong, siap pulang ke rumah megahnya membawa beban dosa yang tak akan pernah bisa ia basuh sampai kapan pun.

Langkah kaki Arman terasa begitu berat saat ia menyusuri pelataran rumah ibunya. Rumah yang biasanya menjadi tempat pelarian paling aman dari tekanan sang ayah, kini terasa asing dan dingin. Beban dosa yang ia bawa dari kamar kos Kanaya seolah menggelayuti pundaknya, membuat setiap jengkat langkahnya terasa menyiksa.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Arman membuka pintu depan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, begitu daun pintu terbuka, kehangatan ruang tengah dan aroma masakan rumah langsung menyambut indra penciumannya—sebuah kontras yang kejam dengan aroma anyir darah dan dinginnya lantai kos yang baru saja ia tinggalkan.

​"Arman? Kamu sudah pulang, Nak?"

​Suara lembut ibunya terdengar dari arah dapur. Wanita paruh baya itu berjalan keluar dengan senyum hangat yang seketika runtuh begitu melihat penampilan putranya.

​Arman berdiri mematung di dekat pintu. Wajahnya kusut, matanya merah dan sembap, serta jaketnya tampak sedikit kotor. Ia terlihat seperti seorang prajurit yang baru saja kalah perang dan kehilangan seluruh harga dirinya.

​Melihat tatapan khawatir ibunya, dada Arman kembali berdenyut nyeri. Di satu sisi, ia merasa aman bisa kembali ke pelukan ibunya. Namun di sisi lain, rasa bersalahnya justru semakin berlipat ganda. Laki-laki itu sadar, ia baru saja melangkah pergi meninggalkan seorang wanita yang sedang bertaruh nyawa sendirian di atas ranjang kos yang sepi, demi bisa pulang dengan selamat ke rumah ibunya yang nyaman ini.

​"Astaga, Arman... kamu kenapa, Nak? Kenapa menangis lagi?" tanya ibunya panik, langsung melangkah cepat mendekati putra kesayangannya itu.

​"Ibu, apakah benar jika cinta itu tak selamanya harus memiliki?" tanya Arman lirih kepada sang ibu.

Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut putranya, langkah sang ibu seketika terhenti. Ia menatap wajah Arman yang basah oleh air mata, menangkap gumpalan kepedihan yang teramat besar di balik sepasang mata sembap itu. Sebagai seorang ibu, hatinya ikut teriris melihat anak laki-lakinya sehancur ini.

​Dengan lembut, sang ibu meraih kedua bahu Arman, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Ia menggenggam jemari Arman yang dingin, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan.

​"Kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu, Nak?" tanya ibunya, suaranya mengalun lembut penuh kehati-hatian.

​Arman tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong. Air matanya kembali menetes, membasahi punggung tangan ibunya.

​Sang ibu menghela napas panjang, mengusap rambut Arman dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya menjawab, "Rasa cinta itu memang tidak harus memiliki, Arman. Kadang, melepaskan adalah bentuk tertinggi dari mencintai, terutama jika bertahan hanya akan saling menyakiti."

​Wanita paruh baya itu terdiam sejenak, menatap lekat-lekat manik mata putranya yang dipenuhi penyesalan.

​"Tapi ingat, Nak... ada perbedaan besar antara melepaskan karena demi kebahagiaan orang itu, dengan melepaskan karena kita tidak cukup berani untuk memperjuangkannya. Jika kamu melepaskannya karena kamu pengecut, maka yang tertinggal di hatimu bukan lagi rasa cinta, melainkan rasa bersalah yang akan menghantuimu seumur hidup."

​Kata-kata ibunya seketika menghantam ulu hati Arman dengan sangat telak. Kalimat itu bagai cermin yang memperlihatkan dengan jelas betapa menjijikkannya dirinya sore ini. Arman meremas tangan ibunya, menyembunyikan wajahnya di pangkuan wanita itu, dan kembali menangis sejadi-jadinya di dalam keheningan rumah yang hangat namun terasa mencekam bagi jiwanya yang berdosa.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!