Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Tidak ada yang tiba-tiba.” Potong Rendra dengan tegas, matanya tampak sedikit lebih tajam. “Keputusan ini sudah dipertimbangkan.”
Pak Damar membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Di sisi lain, Arven masih diam, Kepalanya sedikit tertunduk, Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, tapi tidak bergerak sedikit pun seolah ia sudah tahu semua ini akan terjadi, seolah ia hanya sedang menunggu momen ini tiba. Pak Damar akhirnya menoleh ke arah Arven, seperti mencari jawaban.
“Arven… apa yang sebenarnya terjadi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara namun Arven tetap tidak menjawab. Ia hanya menarik napas pelan dan itu saja sudah cukup untuk membuat Pak Damar mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Rendra memperhatikan semuanya dengan tenang lalu matanya beralih sebentar ke Kanisha sekilas tapi cukup untuk menunjukkan bahwa keputusan ini bukan sekadar urusan bisnis namun lebih dalam dari itu. Pak Damar akhirnya kembali menatap Rendra.
“Pak Rendra, kami butuh penjelasan yang lebih jelas. Kalau ada masalah dalam kerja sama ini, kita bisa bicarakan baik-baik. Tapi menghentikan seluruh pendanaan seperti ini, ini akan berdampak besar pada perusahaan kami.”
Rendra mengangguk pelan.
“Ya. Saya tahu.”
Jawaban itu membuat Pak Damar semakin bingung.
“Lalu kenapa—”
“Karena saya tidak melihat alasan lagi untuk melanjutkannya.”
Suasana kembali hening. Arven akhirnya sedikit mengangkat kepalanya, matanya menatap Rendra, tapi tidak ada keberanian baginya untuk benar-benar bertanya. Ia hanya berdiri diam, menunggu dan merasakan semuanya runtuh perlahan sementara pak Damar masih berusaha keras memahami situasi ini.
“Pak Rendra tolong jelaskan. Kenapa keputusan ini tiba-tiba diambil?”
Rendra akhirnya menghela napas lalu dengan suara yang jauh lebih dingin dari sebelumnya, ia berkata:
“Winata Group tidak akan lagi memberikan dukungan apa pun kepada Mahendra Corporation.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu. Berat, pasti dan tidak bisa ditarik kembali. Pak Damar langsung terdiam, wajahnya berubah perlahan dari bingung, menjadi tidak percaya, lalu mulai gelisah. Sementara itu, Arven hanya menunduk lebih dalam. Tidak ada pembelaan, tidak ada penyangkalan, karena di dalam dirinya, ia tahu bahwa ini bukan sekadar keputusan bisnis. Ini adalah akhir dari semuanya.
Pak Damar masih berdiri di tempatnya, tapi jelas sekali kalau ketenangannya mulai runtuh sedikit demi sedikit. Dadanya naik turun lebih cepat dari tadi, matanya bergerak dari Rendra ke Kanisha, lalu kembali lagi ke Rendra, seperti orang yang sedang mencoba mencari satu celah logika yang bisa membuat semua ini masuk akal, namun tidak ada. Tidak ada penjelasan yang menenangkan kegelisahannya, tidak ada tanda bahwa ini hanya kesalahpahaman kecil yang bisa diselesaikan dengan satu percakapan. Yang ada justru keputusan besar yang baru saja dijatuhkan tanpa ruang negosiasi.
“Pak Rendra…” suara Pak Damar akhirnya keluar lagi, lebih pelan tapi penuh tekanan. “Ini terlalu mendadak. Kalau ini soal angka atau kontrak, kita bisa duduk bersama, membahas ulang semuanya. Mahendra Corporation sudah bekerja sama dengan Winata Group bertahun-tahun. Kita bukan partner baru.”
Rendra tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tetap tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah tidak lagi melihat kebutuhan untuk menjelaskan terlalu banyak. Di sisi lain, Arven masih berdiri di tempatnya. Diam, Kepalanya sedikit tertunduk, tapi rahangnya mengeras. Ia tahu ayahnya sedang berjuang mencari jalan keluar. Tapi ia juga tahu kalau tidak ada jalan keluar yang tersisa. Pak Damar akhirnya mengalihkan fokusnya. Tatapannya jatuh ke satu sosok yang sejak tadi tidak banyak bicara, Kanisha.
“Kanisha…” suara Pak Damar melunak sedikit, mencoba mencari sisi emosional. “Nak, kamu juga pasti mengerti ini bukan keputusan kecil. Kalau ada masalah di antara kalian, antara kamu dan Arven, kita bisa selesaikan sebagai keluarga.”
Kalimat itu membuat udara di lobby terasa sedikit berubah. Rendra langsung menggeser pandangannya sedikit lebih tajam dan lebih dingin, hingga sebelum Kanisha sempat menjawab, Pak Damar sudah melanjutkan lagi, seolah sedang mencoba memegang satu-satunya tali yang tersisa.
“Kamu kan masih menantu kami. Kamu bagian dari keluarga Mahendra. Kamu pasti tidak akan membiarkan perusahaan ini jatuh begitu saja, kan?”
Suasana terasa hening. Kalimat itu menggantung di udara dan dalam satu detik yang sama, ekspresi Rendra langsung berubah. Bukan sekadar dingin tapi mengeras seperti sesuatu di dalam dirinya baru saja tersentuh.
“Cukup.” Suara Rendra tidak keras tapi tajam. Satu kata itu saja sudah cukup untuk membuat Pak Damar terdiam. Rendra melangkah sedikit ke depan, wajahnya kini benar-benar berubah. Bukan lagi sebagai CEO tapi sebagai seorang ayah. “Jangan sebut putri saya dengan sebutan seperti itu lagi.”
Pak Damar langsung mengerutkan keningnya.
“Apa maksud Bapak?”
Rendra menatapnya lurus. Tatapan yang tidak memberi ruang untuk salah paham.
“Kanisha bukan lagi bagian dari keluarga Mahendra.” Kalimat itu membuat Pak Damar terdiam sesaat. “Dia tidak punya kewajiban apa pun untuk membantu kalian.”
Suasana langsung menegang. Beberapa karyawan yang masih berada di lobby mulai berhenti berjalan. Mereka bisa merasakan ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi, meski tidak memahami sepenuhnya.
Pak Damar menatap Rendra dengan tatapannya yang tidak percaya.
“Pak Rendra, ini tidak masuk akal. Kenapa Bapak bicara seperti itu? Kanisha adalah menantu kami. Dia adalah istri Arven.”
Rendra tertawa kecil tapi tidak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya. Justru terdengar pahit.
“Menantu?” ulang pak Rendra pelan lalu matanya menajam lagi. “Kalau Anda masih ingin menyebut dia seperti itu, Anda seharusnya bertanya pada putra Anda sendiri.”
Pak Damar langsung menoleh, Pandangan itu jatuh ke Arven.
“Apa maksud semua ini, Arven?” Suara Pak Damar mulai naik. “Kenapa Pak Rendra bisa bicara seperti ini? Apa yang kamu lakukan?”
Arven tidak langsung menjawab. Ia tetap diam tapi tangannya yang tadi mengepal kini sedikit bergetar. Matanya tidak berani bertemu dengan siapa pun. Tidak dengan ayahnya, tidak dengan Rendra, tidak juga dengan Kanisha. Dan diamnya itu justru menjadi jawaban yang paling buruk. Pak Damar langsung mendekat setengah langkah.
“Arven, jawab papa!” Suara itu terdengar lebih tegas dan panik, namun Arven tetap diam. Dan di titik itu, Pak Damar mulai kehilangan kesabarannya. “Arven!”
Namun masih tidak ada jawaban, hanya napas berat yang tertahan dan keheningan yang semakin memperburuk keadaan. Rendra menghela napas pelan. Bukan napas lelah tapi napas seseorang yang sudah tidak tahan lagi melihat semua ini ditutupi. Ia melangkah sedikit ke depan lalu berkata dengan suara yang lebih dalam.
“Putra Anda sudah berselingkuh dari putri saya.”
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️