Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas sabar dan perpustakaan yang bising
Hari Senin selalu membawa atmosfer yang sibuk di SMA Pelita Bangsa. Namun bagi Alisha, Senin kali ini terasa berkali-kali lipat lebih melelahkan bukan karena pelajaran fisika, melainkan karena ulah segerombolan cowok di kelasnya.
"Ayo dong, Sha! Pelit banget lo jadi kakak. Masa minta nomor WhatsApp atau nama IG si Aleta aja gak dikasih sih?" cecar Dimas, salah satu cowok paling berisik di kelas, sambil mengetuk-ngetuk meja Alisha dengan pulpen.
Di belakang Dimas, dua cowok lain ikut mengangguk-angguk mendukung. Sejat foto Aleta yang tampak modis dan cantik tersebar di kalangan anak-anak kelas sebelah, Alisha mendadak jadi sasaran empuk. Semua cowok mendadak bersikap sok akrab padanya hanya demi bisa mendekati adiknya.
Alisha tidak bergeming. Ia tetap fokus mencatat rangkuman materi di bukunya. "Gak. Lagian Aleta masih kelas sepuluh, tugas dia itu belajar, bukan ngelayanin cowok-cowok modus kayak kalian. Kata Bapak gue juga, Aleta gak boleh pacaran dulu."
"Halah, alasan lo klasik banget!" potong Rendy, cowok bertubuh jangkung yang duduk di baris belakang. Rendy mendengus remeh, melipat tangan di dada sambil menatap Alisha dengan pandangan yang sangat menyebalkan.
"Bilang aja lo sebenarnya iri, kan?" celetuk Rendy tanpa beban.
Gerakan pulpen Alisha seketika terhenti.
"Iya, lo iri karena semua cowok nyariin Aleta, bukan nyariin lo," lanjut Rendy, kalimatnya mendadak berubah menjadi racun yang tajam. "Secara fisik kan kalian jauh banget. Aleta itu putih, cantik, luwes. Lah lo? Kulit gelap, kuper, kerjaannya cuma nunduk ngitung rumus. Wajar sih lo posesif banget melarang adek lo dideketin cowok, takut kalah saing ya?"
Deg.
Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap sesaat. Beberapa murid perempuan yang mendengar kalimat Rendy langsung menoleh, merasa ucapan cowok itu sudah keterlaluan.
Alisha diam. Jemarinya yang memegang pulpen bergetar samar. Kalimat Rendy benar-benar menghantam ulu hatinya, mengoyak kembali rasa percaya diri yang kemarin sempat dirajut rapi oleh Risa di Bandung. Alisha mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sabar, Sha... jangan nangis di depan mereka, batinnya menguatkan diri.
Alisha tidak membalas. Ia tahu, berdebat dengan tipe cowok bermulut dangkal seperti Rendy tidak akan ada gunanya. Dengan gerakan pelan, Alisha membereskan buku-bukunya, memasukkannya ke dalam tas, lalu berdiri dari kursinya tanpa menatap satu pun cowok di kelas itu. Ia melangkah cepat keluar pintu, berniat mencari tempat yang paling sunyi untuk mengalihkan pikirannya yang mulai kacau: perpustakaan sekolah.
Langkah kaki Alisha membawa dirinya menyusuri koridor menuju gedung perpustakaan yang terletak di lantai dua blok timur. Aroma buku tua dan udara sejuk dari kipas angin langsung menyambutnya begitu ia mendorong pintu kaca. Alisha mengembuskan napas panjang, merasa tempat ini bisa menjadi perlindungan terbaik untuk memulihkan energinya yang terkuras.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari tiga puluh detik.
"Alisha!!! Ya ampun, akhirnya lo ketemu juga!"
Sebuah lengkingan suara nyaring yang sangat familiar memecah keheningan ruang referensi. Alisha refleks memejamkan mata, menepuk jidatnya pasrah. Dari balik rak buku sastra, muncul Amelia—sahabat sebangkunya yang memiliki tingkat kecerewetan di atas rata-rata manusia normal.
Amelia langsung berlari kecil menghampiri Alisha, menjinjing rok abu-abunya dengan heboh tanpa memedulikan tatapan melotot dari Ibu Penjaga Perpus.
"Sha! Lo tahu gak sih? Tadi gue liat Kak Shaka di koridor bawah, terus masa dia—eh, bentar, muka lo kenapa ditekuk gitu? Lo habis berantem sama cowok-cowok kelas kita ya? Ih, tadi gue denger Dimas ngomongin Aleta lagi kan? Trus ya Sha, gue tuh gemes banget sama si Ivanka tadi di kantin..."
Amelia terus mencerocos tanpa jeda, memuntahkan ribuan kata per menit seperti senapan mesin. Sahabatnya itu menggandeng lengan Alisha, menyeretnya duduk di salah satu meja pojok sambil terus bercerita tentang gosip terbaru, tentang warna jepit rambut Ivanka, tentang menu kantin yang asin, hingga tentang kucing liar di parkiran.
Alisha hanya duduk termenung, menopang dagunya dengan lemah. Di saat otaknya sedang berisik memikirkan kalimat tajam Rendy tentang fisiknya, ia justru harus mendengarkan ocehan Amelia yang tidak ada ujung pangkalnya.
Amelia sebenarnya bermaksud baik ingin menghiburnya, tapi sifatnya yang terlalu ekspresif dan super cerewet justru membuat sisa-sisa energi mental Alisha hari ini kian terkuras habis hingga ke titik nol. Alisha hanya bisa mengangguk-angguk pasrah bagai robot.
Namun tiba-tiba, cerocosan Amelia mendadak terhenti.
Gadis cerewet itu mengamati wajah Alisha dengan lekat. Ia melihat bagaimana mata sahabatnya itu tidak fokus, kosong, dan ada binar luka yang disembunyikan di balik pundaknya yang merosot lesu. Amelia, sekaku dan seberisik apa pun dia, adalah sahabat yang sudah bertahun-tahun menemani Alisha. Dia tahu persis kapan Alisha hanya lelah belajar, dan kapan Alisha sedang benar-benar terluka.
Seketika, ekspresi heboh di wajah Amelia menguap. Ia menurunkan tangannya dari lengan Alisha, lalu menghela napas pelan. Nadanya berubah drastis menjadi sangat lembut.
"Sha... lo lagi gak oke ya?" tanya Amelia pelan.
Alisha mengerjapkan mata, sedikit tersentak dari lamunannya. "Eh? Gak apa-apa kok, Mel. Cuma agak pusing aja."
Amelia menggeleng, tidak percaya. Dia tidak mau mendesak Alisha untuk bercerita sekarang, karena dia tahu Alisha butuh waktu. "Udahlah, gak usah bohong. Muka lo keliatan capek banget. Perpus malah bikin lo makin pusing kayaknya gara-gara dengerin gue ngomong. Yuk, mending kita ke kantin aja. Lo belum makan siang kan? Gue jamin es teh manis sama batagor Mang Udin bisa bikin otak lo agak mendingan."
Tanpa menunggu persetujuan, Amelia langsung menarik tangan Alisha dengan lembut, mengajaknya berdiri dan menuntunnya keluar dari perpustakaan. Alisha hanya pasrah, mengikuti langkah sahabatnya dengan sisa tenaga yang dia miliki.
Mereka berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju tangga bawah. Sepanjang jalan, Alisha hanya menunduk, menatap langkah sepatunya sendiri dengan pikiran yang melayang jauh.
Tepat di belokan koridor dekat laboratorium biologi, dari arah berlawanan, muncul Shaka dan Raihan. Kedua cowok itu tampak baru saja kembali dari ruang OSIS, mengobrol santai hingga langkah mereka melambat saat melihat Alisha dan Amelia berjalan mendekat.
Raihan sudah bersiap mengangkat tangannya untuk menyapa. "Woi, Alisha! Habis dari perpus—"
Namun, kalimat Raihan menggantung di udara.
Biasanya, Alisha akan langsung mendongak, memasang wajah siap perang atau minimal membalas sindiran Shaka dengan kalimat ketusnya yang cerdas. Tapi hari ini, Alisha sama sekali tidak menoleh. Jangankan menyapa, melirik pun tidak.
Gadis sawo matang itu berjalan lurus melewati Shaka dan Raihan begitu saja. Matanya terfokus lurus ke depan dengan tatapan yang sangat kosong, seolah-olah Shaka dan Raihan hanyalah embusan angin lalu yang tidak kasatmata. Langkah kakinya konstan, dingin, dan terasa sangat asing.
Shaka yang tadinya berniat menghentikan langkah Alisha untuk menanyakan draf materi fisika seketika membeku di tempatnya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap punggung Alisha yang kian menjauh menyusuri koridor bersama Amelia.
Kening Shaka berkerut dalam. Sepasang mata tajamnya berkilat penuh keheranan sekaligus rasa tidak nyaman yang mendadak menyerang dadanya. Ada yang salah. Sikap diam dan tatapan kosong Alisha barusan benar-benar terasa ganjil, seolah ada dinding es besar yang mendadak memisahkan mereka.
Raihan ikut menoleh, lalu menyenggol lengan Shaka dengan sikunya. "Shak... si Alisha kenapa tuh? Gak biasanya dia masang muka mayat hidup begitu. Lo ada bikin masalah lagi sama dia?"
Shaka tidak menjawab. Ia tetap menatap ujung koridor tempat Alisha menghilang. Tangannya di dalam saku celana mengepal pelan, dipenuhi rasa penasaran sekaligus kecemasan terselubung yang mulai merayap naik.