NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sekilas Bayang

...

Jalanan aspal menuju kawasan luar kota terasa begitu panjang dan menjemukan bagi Zidan. Di kursi belakang mobil sportnya, Ryan dan Riana tertidur pulas dengan sisa air mata yang mengering di pipi mereka, setelah menghabiskan sebungkus roti lapis yang dibeli terburu-buru di pom bensin tadi.

Pikiran Zidan sama sekali tidak fokus pada jalanan di depannya. Kepalanya dipenuhi oleh urusan kantor yang terbengkalai, ancaman somasi dari pengacara Pamela, hingga kondisi ayahnya yang masih tertahan di ruang ICU. Ditambah lagi, kepergian Karina yang egois tadi malam menyisakan hantaman telak pada harga dirinya yang narsis. Pria itu merasa dunianya benar-benar sedang dipaksa melambat, diseret masuk ke dalam pusaran masalah yang tidak ada habisnya.

Karena pikiran yang berkecamuk, Zidan salah mengambil jalur keluar tol utama. Alih-alih menuju arah rumah sakit pusat kota, mobilnya justru melaju menjauh, memasuki jalur alternatif antar-kota yang membentang di sepanjang pesisir pantai.

Zidan mengumpat pelan di balik kemudinya, melirik jam digital di dasbor mobil yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sifat dingin dan emosinya yang labil membuatnya ingin segera memutar balik kendaraan mewah itu dengan kasar. Namun, laju lalu lintas lokal yang agak padat oleh kendaraan umum membuat mobil sportnya terpaksa merayap pelan di samping trotoar jalan utama kota pinggir pantai tersebut.

Matanya yang lelah menatap kosong ke luar jendela kaca mobil yang berembun karena AC. Di seberang jalan, berjajar kedai-kedai lokal dengan latar belakang pemandangan laut yang biru dan tenang. Hawa kedamaian dari tempat itu terasa sangat kontras dengan badai batin yang sedang mencekik seluruh isi dada Zidan.

Hingga akhirnya, pandangan mata Zidan terpaku pada sebuah kedai kopi semi-tradisional dengan papan nama kayu bertuliskan "Selasih".

Di teras depan kedai yang terbuka itu, seorang wanita sedang berdiri di balik konter anyaman bambu, sibuk menata beberapa piring tanah liat berisi camilan tradisional yang mengepulkan uap hangat. Wanita itu mengenakan kemeja katun bergaris biru muda yang sederhana, dengan rambut panjang yang diikat rapi ke belakang bergaya ekor kuda. Sebuah celemek kain motif bunga matahari terikat pas di pinggangnya yang ramping.

Jantung Zidan mendadak berdegup kencang secara tidak beraturan. Seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya seolah tersedot habis dalam satu detik.

"Pamela...?" bisik Zidan dengan suara bergetar, matanya membelalak lebar menatap lurus ke arah teras kedai tersebut.

Meskipun jarak mereka terpisah oleh dua lajur jalan, Zidan sangat mengenali siluet tubuh itu. Itu adalah wanita yang selama tujuh tahun ini melayaninya di rumah mewah mereka. Namun, ada sesuatu yang berbeda yang membuat Zidan merasa asing sekaligus terpukul.

Pamela di teras kedai itu tidak lagi menunjukkan wajah kaku, pucat, dan ketakutan yang biasa dia perlihatkan di rumah kota. Di sana, di bawah siraman cahaya matahari pantai yang hangat, Pamela tampak sedang tertawa lepas bersama seorang wanita paruh baya pemilik kedai. Senyumannya begitu manis, lepas, dan memancarkan binar kebahagiaan yang sangat tulus sebuah pemandangan indah yang belum pernah Zidan lihat seumur hidupnya selama menikahi wanita itu.

Rasa kepemilikan yang egois dan narsisistik di dalam diri Zidan seketika bergejolak hebat. Di saat dia dan seluruh keluarganya sedang hancur lebur menahan penyesalan di kota, bagaimana bisa wanita yang dia buang ini hidup dengan begitu tenang, mandiri, dan tampak sangat bahagia tanpa dirinya?

Zidan refleks menginjak rem mobilnya dengan agak mendadak, berniat untuk menepikan kendaraan dan turun menyeberangi jalan demi mencengkeram lengan Pamela, menuntut penjelasan atas kepergiannya yang egois. Kekerasan emosional yang biasa dia lakukan kembali membakar otaknya.

Tin! Tiiiiiin!

Suara klakson keras dari sebuah bus antar-kota di belakang mobilnya berbunyi bertubi-tubi, memecah keheningan kabin dan mengejutkan Ryan serta Riana yang langsung terbangun di kursi belakang dengan wajah bingung.

"Papa? Kenapa berhenti di tengah jalan? Ryan takut..." cicit Riana sambil mengucek matanya yang sembap.

Suara tangisan anaknya memaksa Zidan kembali ke realitas. Dia menoleh sekilas ke belakang dengan napas memburu, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah teras Kedai "Selasih".

Namun, dalam hitungan detik yang singkat itu, sosok Pamela sudah tidak ada lagi di sana. Dia telah melangkah masuk ke dalam area dapur dalam untuk mengambil adonan baru, meninggalkan teras kedai yang kembali sepi. Sekilas bayang itu lenyap begitu saja, menyisakan kekosongan yang teramat perih di pelupuk mata Zidan.

Dengan tangan yang gemetar hebat di atas setir, Zidan terpaksa menginjak kembali pedal gasnya, membawa mobil sport itu melaju menjauh menyusuri jalanan pantai. Penyesalan yang lambat kini benar-benar terasa seperti racun yang menjalar di setiap aliran darahnya, menyadarkannya bahwa Pamela telah melangkah sangat jauh ke depan, meninggalkan dirinya yang terjebak di dalam runtuhan takhta kesombongannya sendiri.

...

Di dalam dapur Kedai "Selasih", Pamela baru saja meletakkan wadah anyaman berisi adonan serabi baru di atas meja konter besi bersih. Dia sempat menghentikan gerakannya sejenak, lalu menoleh ke arah jendela kaca depan yang menghadap ke jalan raya.

"Ada apa, Pamela? Kok melamun?" tanya Ibu Sarah yang sedang mengelap beberapa cangkir kopi kosong di dekatnya.

Pamela mengerjukan keningnya pelan, meraba dadanya yang tiba-tiba sempat terasa sedikit berdesir aneh saat dia berdiri di teras tadi. "Gak tahu, Bu. Tadi sepertinya saya mendengar suara deru mesin mobil yang mirip sekali dengan... ah, sudahlah. Perasaan saya saja mungkin."

Pamela menggelengkan kepalanya pelan, mengusir jauh-asumsi buruk yang sempat melintas di benaknya. Jiwanya yang kini sedingin es untuk urusan masa lalu menolak untuk goyah hanya karena sebuah firasat samar. Bagi Pamela, kehidupan di kota sana sudah dia kubur dalam-dalam di bawah tanah yang paling dalam.

"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ini pesanan serabi kuah kencana untuk meja nomor tiga sudah ditunggu sama pelanggan wisata dari luar kota," ucap Ibu Sarah sambil tersenyum menyemangati.

"Baik, Bu. Siap," jawab Pamela dengan senyuman percaya dirinya yang kembali merekah.

Dia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada wajan tanah liat di hadapannya. Mengolah bahan makanan dan melayani para pelanggan dengan ramah kini menjadi sumber kekuatan barunya. kehidupannya yang damai di tepi pantai ini tidak akan pernah dia biarkan terusik oleh bayang-bayang hitam dari masa lalu yang penuh kekerasan emosional tersebut.

...

Malam harinya di rumah sakit pusat kota, Zidan duduk termenung di sudut ruang tunggu VIP, mengabaikan makan malamnya yang sudah mendingin di atas meja. Bayangan sekilas wajah Pamela yang sedang tersenyum lepas di kedai pinggir pantai itu terus berputar di kepalanya tanpa bisa dihentikan, meremukkan seluruh keangkuhan pria narsis itu hingga tidak tersisa.

Mama berjalan keluar dari kamar rawat Papa dengan langkah lesu, wajahnya tampak sangat kuyu setelah seharian penuh menghadapi sikap dingin suaminya yang menolak diajak bicara.

"Zidan... Papa kamu sudah tidur setelah minum obat dari dokter," ucap ibunya pelan, duduk di seberang Zidan sambil memijat lengannya yang kaku. "Tadi... tadi sore pengacara kita telepon lagi. Dia bilang, pihak Pamela menolak keras segala bentuk mediasi atau pertemuan keluarga. Mereka mau proses cerai ini berjalan cepat lewat persidangan minggu depan."

Mama menatap anak laki-lakinya dengan mata berkaca-kaca, penuh penyesalan yang terlambat. "Zid... apa kita bener-bener gak bisa minta dia pulang? Mama... Mama capek, Zid. Rumah rasanya dingin sekali semenjak dia gak ada. Keysha dari tadi sore mengunci diri di kamar karena gak tahu cara cuci baju suteranya yang kelunturan di mesin cuci."

Zidan tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang teramat kosong dan dingin.

Dia tahu di mana Pamela sekarang. Dia tahu wanita itu berada di sebuah kedai kecil di pinggir pantai, hidup merdeka dan tersenyum bahagia tanpa beban. Namun, harga dirinya yang narsis dan ketakutan akan hukum membuatnya sadar bahwa dia tidak lagi memiliki hak atau kekuatan apa pun untuk menarik wanita itu kembali ke dalam sangkar neraka yang diciptakan oleh keluarganya.

....

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!