Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pria itu justru menatap meja dengan wajah serius.
Reza tidak suka melihat ekspresi ayahnya.
“Papa percaya omong kosong ini?”
Surya menjawab tanpa menoleh, “Orang takut bisa berbohong. Tapi tubuhnya tidak.”
Reza terdiam.
Surya menatap Bram lagi.
“Saat kau berlutut, apa kau merasa seperti ditekan?”
Bram mengangguk cepat.
“Iya, Pak. Seperti… seperti ada sesuatu di atas bahu saya. Berat sekali. Saya tidak bisa melawan.”
“Dan Raka tidak menyentuhmu?”
“Tidak, Pak.”
Surya mengetuk sandaran kursi dengan jarinya. Pelan. Teratur.
“Menarik.”
Reza semakin tidak sabar.
“Pa, dia cuma anak miskin.”
“Justru itu yang membuatnya menarik,” kata Surya. “Anak miskin tanpa perlindungan tiba-tiba berani melawan orang kita, membongkar urusan tanah, dan membuat Bram berlutut tanpa menyentuhnya.”
Surya mengangkat wajah.
“Ada sesuatu pada anak itu.”
Bram menunduk semakin dalam.
Ia tidak suka mendengar kalimat itu.
Karena jika Surya tertarik pada sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan dibiarkan begitu saja.
Surya mengambil sebuah map dari meja. Di dalamnya terdapat beberapa laporan tanah di sekitar Sungai Kapuas. Ada beberapa area yang diberi tanda merah.
“Beberapa minggu terakhir, ada orang dari luar yang tertarik pada wilayah dekat sungai,” ucap Surya pelan. “Mereka membayar mahal untuk tanah yang bahkan belum kita sentuh. Awalnya kukira hanya proyek biasa. Tapi setelah kejadian malam ini, mungkin ada hal lain.”
Reza mengerutkan kening.
“Orang luar? Maksud Papa investor?”
Surya tidak langsung menjawab.
“Kurang lebih.”
Namun dari nada suaranya, Bram tahu jawaban itu tidak sepenuhnya benar.
Lampu di ruang tengah tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Semua orang menoleh.
Udara di ruangan mendadak menjadi lebih dingin.
Bram merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melihat sudut ruangan yang sebelumnya kosong. Bayangan di sana bergerak pelan, seolah ada sesuatu yang berdiri di balik gelap.
Reza tampak tidak menyadarinya. Tapi Surya menatap sudut itu dengan wajah lebih tenang, seolah ia sudah mengetahui keberadaan sesuatu di sana sejak awal.
Dari kegelapan, terdengar suara rendah.
“Pemuda itu bernama Raka Pratama?”
Bram langsung membeku.
Suara itu bukan suara manusia biasa.
Terlalu halus.
Terlalu dingin.
Seperti bisikan yang keluar dari tanah kuburan.
Reza berdiri cepat. “Siapa itu?”
Surya mengangkat tangan lagi, memberi isyarat agar Reza diam.
Dari sudut ruangan, sosok berjubah hitam melangkah keluar. Wajahnya pucat, matanya gelap, dan senyumnya tipis. Ia tampak seperti manusia, tetapi setiap langkahnya membuat cahaya lampu di sekitarnya meredup.
Bram mundur tanpa sadar.
Dadanya sesak.
Perasaan yang ia rasakan tidak sama seperti saat menatap Raka.
Kalau tekanan Raka terasa agung dan membuat tubuh ingin berlutut, tekanan sosok ini terasa busuk dan dingin, seperti ular yang merayap di tulang belakang.
Surya berdiri.
“Tuan Hei Yan.”
Reza menoleh tajam ke ayahnya. “Papa kenal dia?”
Surya tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada sosok berjubah hitam itu.
Hei Yan tersenyum.
“Jawab pertanyaanku. Pemuda itu bernama Raka Pratama?”
Surya mengangguk pelan.
“Sepertinya begitu.”
Hei Yan memejamkan mata.
Untuk beberapa detik, udara di ruangan terasa sangat berat. Lalu senyumnya melebar sedikit.
“Menarik. Jadi sumber getaran itu benar-benar berada di Pontianak.”
Bram merasa perutnya mual.
Reza, yang masih belum memahami situasi, mencoba mempertahankan harga dirinya.
“Hei, kau siapa sebenarnya? Berani-beraninya masuk rumah keluargaku seperti—”
Sebelum Reza selesai bicara, Hei Yan hanya meliriknya.
Tubuh Reza langsung kaku.
Wajahnya pucat.
Suara yang tadi penuh kesombongan terhenti di tenggorokan.
Bram melihat itu dan jantungnya hampir berhenti.
Reza Mahendra, orang yang selalu merasa bisa memerintah siapa pun, kini tidak bisa bicara hanya karena dilirik.
Surya tidak tampak terkejut. Ia hanya berkata pelan, “Dia anak saya. Harap maklum.”
Hei Yan menarik pandangannya dari Reza.
Reza langsung terbatuk dan hampir jatuh ke sofa.
Hei Yan berjalan menuju meja, mengambil laporan yang berisi nama Raka, lalu menatapnya sebentar.
“Jangan bunuh dia.”
Surya menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena tubuhnya mungkin menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya berada di dunia ini.”
Bram merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Ia tiba-tiba teringat bayangan pedang di belakang Raka.
Hei Yan menoleh kepada Bram.
Tatapan gelap itu membuat Bram merasa seolah seluruh isi kepalanya sedang dibuka paksa.
“Kau melihatnya, bukan?”
Bram tidak bisa menjawab.
Hei Yan tersenyum tipis.
“Kau melihat bayangan di belakang pemuda itu.”
Tubuh Bram gemetar.
Reza menatap Bram dengan wajah bingung. Surya pun kini memandangnya lebih tajam.
Bram ingin berbohong.
Tapi mulutnya seperti terkunci.
“A… ada takhta,” bisiknya akhirnya. “Dan pedang.”
Ruangan hening.
Untuk pertama kalinya, senyum Hei Yan menghilang.
Matanya menyipit.
“Pedang?”
Bram menyesal sudah bicara. Tapi kata-kata itu sudah terlanjur keluar.
“Hitam… ada cahaya emas. Saya cuma lihat sebentar.”
Wajah Hei Yan berubah sangat tipis.
Namun cukup bagi Surya untuk menyadarinya.
Sosok asing itu terganggu.
Bahkan mungkin takut.
Hei Yan memandang jendela besar yang menghadap ke arah malam Pontianak.
Di kejauhan, cahaya kota berkilau seperti biasa. Tidak ada tanda langit retak. Tidak ada tanda sungai pernah berhenti. Tidak ada tanda bahwa sesuatu yang tua baru saja terbangun.
Namun Hei Yan tahu.
Malam itu bukan malam biasa.
“Surya Mahendra,” ucap Hei Yan pelan.
Surya menegakkan tubuh. “Ya?”
“Bawa Raka Pratama kepadaku hidup-hidup.”
Surya tidak langsung menjawab.
“Apa yang akan kami dapatkan?”
Hei Yan menoleh, lalu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya terasa lebih gelap.
“Kekuatan untuk membuat keluargamu berdiri di atas seluruh Pontianak.”
Mata Surya berubah.
Ambisi yang selama ini tersembunyi di balik wajah tenangnya mulai bergerak.
Reza masih gemetar di sofa, tetapi ia juga mendengar kalimat itu. Berdiri di atas seluruh Pontianak. Kalimat itu cukup untuk membakar kesombongannya kembali.
Surya menatap Hei Yan.
“Dan jika anak itu berbahaya?”
Hei Yan tertawa kecil.
“Semua harta besar selalu dijaga bahaya.”
Lalu ia mendekati Bram.
Bram ingin mundur, tapi tubuhnya tidak berani bergerak.
Hei Yan mengangkat tangan dan menyentuh dahi Bram dengan satu jari.
Dingin.
Sangat dingin.
Bram merasa ada sesuatu masuk ke kepalanya. Ia hampir berteriak, tetapi suara Hei Yan lebih dulu terdengar.
“Takutlah secukupnya. Tapi jangan lari.”
Sebuah tanda hitam samar muncul sesaat di kulit dahi Bram, lalu menghilang.
Bram terjatuh ke lantai dengan napas tersengal.
Hei Yan menatapnya dari atas.
“Besok malam, pancing Raka ke gudang lama.”
Bram mengangkat wajah dengan gemetar.
“Kalau dia tidak mau datang?”
Hei Yan tersenyum.
“Sentuh orang yang ia pedulikan.”
Bram langsung teringat warung kopi Pak Harun.
Dan entah kenapa, ia merasa kalau mereka benar-benar melakukan itu, sesuatu yang jauh lebih mengerikan akan terjadi.
Namun ia tidak berani menolak.
Surya menatap Bram.
“Kau dengar perintahnya.”
Bram menunduk dalam.
“Saya dengar, Pak.”
Malam semakin larut.
Setelah Bram meninggalkan rumah Mahendra, ia berjalan menuju motornya dengan langkah berat. Gerbang besar tertutup di belakangnya. Udara luar terasa lebih hangat daripada ruang tengah tadi, tetapi dadanya masih sesak.
Ia duduk di atas motor tanpa langsung menyalakan mesin.
Tangannya mencengkeram stang.
Di satu sisi, ia takut pada Reza dan Surya.
Di sisi lain, ia takut pada Hei Yan.
Namun ketakutan paling dalam tetap tertuju pada satu nama.
Raka Pratama.
Bram menatap jalanan malam Pontianak yang basah oleh sisa hujan.
Di genangan kecil dekat roda motornya, ia melihat pantulan wajahnya sendiri.
Lalu pantulan itu berubah.
Selama satu kedipan, ia melihat bayangan pedang hitam keemasan tertancap di belakangnya.
Bram tersentak dan langsung menendang genangan itu hingga airnya pecah.
Napasnya memburu.
“Kenapa aku…” suaranya gemetar. “Kenapa aku yang harus berurusan dengan dia?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun jauh di dalam pikirannya, suara Raka malam itu kembali terdengar.
“Sekarang coba bicara.”
Bram menggigil.
Ia menyalakan motor dan pergi dari halaman rumah Mahendra dengan kecepatan tinggi, seolah bisa meninggalkan rasa takutnya di belakang.
Sementara itu, di dalam rumah besar keluarga Mahendra, Surya masih berdiri di depan jendela.
Hei Yan telah menghilang ke dalam bayangan.
Reza duduk diam dengan wajah pucat, masih marah karena tadi dibuat tidak berdaya. Tetapi di balik kemarahannya, ada ketakutan kecil yang mulai tumbuh.
“Pa,” ucap Reza pelan, “orang itu… sebenarnya siapa?”
Surya menatap malam Pontianak.
“Bukan orang biasa.”
“Lalu kenapa Papa bekerja sama dengannya?”
Surya tersenyum tipis.
“Karena dunia berubah, Reza. Dan keluarga yang ingin tetap berdiri di atas harus tahu kapan harus berlutut sementara.”
Reza mengepalkan tangan.
“Aku tidak suka berlutut.”
Surya menoleh kepadanya.
“Kalau begitu pastikan orang lain yang berlutut lebih dulu.”
Reza terdiam.
Surya kembali menatap kota.
Di dalam kepalanya, nama Raka Pratama kini tidak lagi terdengar seperti nama pemuda miskin biasa.
Nama itu terdengar seperti pintu.
Pintu menuju sesuatu yang sangat berbahaya.
Dan sangat menguntungkan.
Di tempat lain, jauh di atas langit yang tidak bisa dilihat manusia, retakan kecil kembali muncul di ruang gelap.
Sepasang mata tua terbuka perlahan.
Suaranya menggema lemah.
“Pedang itu…”
Hening sesaat.
Lalu suara itu berubah menjadi bisikan penuh amarah.
“Jadi benar. Dia mulai kembali.”
Malam Pontianak tetap terlihat tenang.
Namun di balik ketenangan itu, banyak mata mulai mengarah kepada satu pemuda.
Raka Pratama.
Dan tanpa ia sadari, sejak malam itu, bukan hanya manusia yang mulai memburunya.
Makhluk asing pun sudah mencium jejak kebangkitannya.