Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Detak Jantung di Ujung Sinyal
Suasana di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma mendadak senyap, menyisakan deru pelan mesin jet pribadi Arkananta Group yang baru saja mendarat. Sorot lampu sorot hanggar yang benderang memantulkan ketegangan yang teramat pekat di atas permukaan aspal yang basah. Sosok pria paruh baya berjubah hitam formal yang melangkah keluar dari kegelapan hanggar membawa atmosfer kematian yang nyata. Di tangannya, sebuah detonator digital berlampu indikator hijau berkedip konstan sebuah perangkat pemicu nirkabel yang terhubung langsung dengan sirkuit mikro-bom yang ditanam di dalam dada Tuan Bramasta di rumah sakit pusat.
Haena menghentikan langkah kakinya tepat di undakan terakhir tangga jet. Tubuh tingginya dengan proporsi hourglass figure yang dibungkus blazer hitam formal berdiri sangat tegap, menolak untuk menunjukkan satu milimeter pun kelemahan psikologis di hadapan musuh. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, mata jernih Haena menatap tajam ke arah detonator tersebut. Jari telunjuk tangan kirinya perlahan naik, mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat lambat namun konstan. Sirkuit otaknya langsung bekerja dalam kecepatan penuh, melakukan dekonstruksi arsitektur sinyal nirkabel jarak jauh yang digunakan oleh faksi The Second Elder.
"Menggunakan nyawa seorang pria yang sedang sekarat di ruang perawatan sebagai sandera finansial," suara Haena yang teramat jernih dan dingin membelah keheningan landasan pacu, memancarkan otoritas mutlak yang tidak tergetar oleh gertakan.
"Itu adalah bukti bahwa faksi The Second Elder telah kehabisan instrumen legalitas untuk merebut kembali hak veto Dirgantara Corp setelah kekalahan telak kalian di Singapura."
Kaelen Arkananta yang berdiri selangkah di samping Haena tidak lagi terkekeh. Sepasang mata elangnya yang tajam berkilat penuh murka yang luar biasa masif. Aura predator puncak yang mematikan terpancar dari seluruh tubuhnya, menekan mental puluhan paramiliter swasta yang mengelilingi mereka hingga moncong senjata laras panjang mereka bergetar tidak stabil. Tangan kekar Kaelen bergerak perlahan, mencengkeram lengan Haena dengan gestur posesif yang sarat akan aura protektif yang teramat kental, siap melakukan tindakan taktis apa pun demi melindungi gadis itu.
"Kamu salah melangkah di wilayah udaraku, Tetua Kedua," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, menggema penuh ancaman pembantaian.
"Satu tekanan jari pada detonator itu, dan seluruh jaringan finansial, keluarga, serta cangkang korporasimu di seluruh dunia akan lenyap dari muka bumi sebelum fajar menyingsing."
Pria berjubah hitam itu—sang utusan The Second Elder hanya tersenyum sinis, mengabaikan ancaman Kaelen.
"Ancaman yang sangat impresif, Tuan Muda Arkananta. Namun, waktu kita sangat terbatas. Nona Haena, tandatangani dokumen pemulihan hak veto mutlak ini sekarang juga, atau detak jantung Bramasta akan berhenti dalam hitungan tiga detik."
Nyonya Rosalind yang berdiri di samping pria berjubah itu langsung melangkah maju dengan wajah yang dipenuhi kegilaan distorsi kebencian yang mendalam. Gaun sutra mewahnya bergoyang ditiup angin malam saat dia menunjuk wajah Haena dengan jari gemetar.
"Tandatangani, jalang kecil berkacamata! Lihat bagaimana takdir membalikkan keadaan! Kamu mengira bisa menginjak-injakku setelah persidangan Singapura? Malam ini, kamu akan berlutut di atas aspal ini dan memohon ampun padaku jika ingin papamu tetap bernapas! Hahaha!"
Vanya yang berdiri di belakang ibunya, merapatkan jaket denim longgarnya yang kusam dengan tubuh yang gemetar hebat akibat syok yang luar biasa masif. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang pucat.
"Ibu... hentikan... ini pembunuhan... jika Papa mati, kita tidak akan pernah bisa lepas dari kutukan ini..."
"Diam kamu, Vanya tidak berguna!" bentak Nyonya Rosalind tanpa memedulikan ketakutan putrinya.
Sementara itu, di dalam ruang perawatan VIP rumah sakit pusat Jakarta, ketegangan tidak kalah mencekam. Seluruh indikator medis pada monitor di samping tempat tidur Tuan Bramasta mendadak berbunyi nyaring, menampilkan grafik frekuensi siber asing yang mencoba menembus sirkuit alat pacu jantungnya.
Pak Baskara berdiri di sisi tempat tidur dengan gawai komunikator militer yang menempel erat di telinganya. Wajah sekretaris senior itu dipenuhi keringat dingin saat mendengarkan analisis data siber dari Clarissa secara langsung. Di atas tempat tidur, Tuan Bramasta memaksakan matanya yang bengkak untuk tetap terbuka. Meskipun pelipisnya yang dibalut kain kasa kembali meremboskan darah segar akibat tekanan darah yang melonjak drastis, ekspresi wajahnya tetap memancarkan ketenangan ekstrem dari seorang mantan penguasa.
Ibu Aminah duduk bersimpuh di lantai medis di samping tempat tidur, kedua tangannya yang keriput menggenggam tasbih dengan sangat erat. Bibirnya tiada henti merapalkan doa keselamatan dengan derai air mata yang membasahi kerudungnya.
"Ya Allah... selamatkan putriku Haena... selamatkan suamiku... hancurkan tipu daya orang-orang kejam itu..."
"Baskara..." bisik Tuan Bramasta dengan suara baritonnya yang lemah namun sarat akan ketegasan mutlak.
"Katakan pada Haena... jangan pernah tunduk... jika hidupku harus berakhir malam ini di tangan para tetua... biarkan itu menjadi martir untuk kemenangan mutlak Dirgantara Corp..."
"Tuan Bramasta, bertahanlah!" seru Pak Baskara, suaranya bergetar menahan emosi yang luar biasa masif.
"Nona Haena sedang meretas jalur sinyal mereka. Kita tidak akan kalah!"
Kembali ke landasan pacu Halim, Clarissa yang berada di dalam kabin jet dengan superkomputer portabelnya mengirimkan transmisi suara tak terlihat melalui earpiece terenkripsi khusus milik Haena.
"Nona Haena, saya sudah mengisolasi frekuensi detonator tersebut!" bisik Clarissa dengan nada patuh yang teramat dalam namun dipenuhi urgensi militer.
"Perangkat itu menggunakan protokol enkripsi kuantum statis yang memantul melalui menara pemancar satelit komersial di Jakarta Barat. Waktu yang saya butuhkan untuk melakukan pembajakan *remote-loop* secara penuh adalah empat puluh lima detik!"
"Tahan posisimu, Clarissa. Aku yang akan mengulur waktu," balas Haena melalui kode ketukan mikro pada jam tangannya.
Haena membetulkan letak kacamata transparannya dengan gerakan yang sangat elegan dan anggun, memancarkan pesona suci seorang dewi perang intelektual yang tak tersentuh oleh kepanikan. Wajah cantiknya yang mengadopsi tren Douyin glass skin tampak berkilau sehat di bawah sorot lampu hanggar, kontras dengan wajah-wajah musuhnya yang dipenuhi ketegangan.
Haena melangkah turun satu undakan lagi, jari telunjuknya tetap mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk memfinalisasi kalkulasi siber.
"Sir, Anda mengklaim bahwa detonator itu terhubung langsung dengan sirkuit mikro-bom di dada Papa. Namun, berdasarkan Pasal 12 Hukum Telekomunikasi Internasional mengenai alokasi spektrum frekuensi militer, tidak ada satu pun perangkat nirkabel sipil yang diizinkan beroperasi pada enkripsi kuantum di ruang udara Jakarta tanpa persetujuan dari Kementerian Pertahanan."
Pria berjubah hitam itu mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya sedikit berubah.
"Apa maksudmu, Nona Dirgantara? Regulasi domestik tidak ada gunanya di hadapan eksekusi mati The Second Elder."
"Maksudku sangat sederhana," sahut Haena dengan seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan di bibir cantiknya.
"Karena Anda menggunakan pemancar komersial ilegal, saya baru saja menggunakan otoritas darurat gabungan Dirgantara-Arkananta untuk membeli seluruh saham pengendali dari perusahaan penyedia menara telekomunikasi tersebut lima belas detik yang lalu dengan sisa dana sitaan dari Singapura."
Pria berjubah itu terbelalak, menatap gawai detonatornya yang tiba-tiba berkedip tidak stabil.
"Apa?!"
"Gavin, aktifkan penangkas sinyal sekarang," perintah Haena taktis tanpa ada keraguan sedikit pun.
Gavin yang telah bersiap di balik barikade pintu jet langsung menekan tombol eksekusi pada perangkat portable jammer berdaya tinggi milik unit militer Arkananta. Dalam sekejap, gelombang interferensi elektromagnetik lokal memutus total koneksi antara detonator di tangan pria berjubah tersebut dengan jaringan menara satelit kota. Lampu indikator hijau pada detonator tersebut seketika mati total.
"Clarissa, ambil alih sirkuit medis Papa sekarang!" seru Haena tegas.
"Berhasil, Nona! Sirkuit alat pacu jantung Tuan Bramasta telah diisolasi sepenuhnya ke dalam jaringan privat Arkananta! Mikro-bom tersebut telah dinonaktifkan secara permanen dari jarak jauh!" pekik Clarissa penuh kemenangan dari dalam kabin jet.
Mendengar laporan itu, Kaelen Arkananta tidak lagi menahan diri. Dengan kecepatan predator puncak yang luar biasa kilat, dia melangkah maju menembus barisan paramiliter musuh. Tangan kanannya bergerak mencengkeram pergelangan tangan pria berjubah hitam itu, memutarnya dengan bunyi patahan tulang yang mengerikan hingga detonator tersebut jatuh ke aspal dan hancur terinjak sepatu laras panjang Kaelen.
"AAARRRGGHH!" pria berjubah itu menjerit kesakitan, berlutut di atas aspal landasan pacu di bawah tekanan fisik Kaelen yang luar biasa masif.
Nyonya Rosalind mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat, seluruh keberanian dan kegilaan di matanya lenyap seketika, digantikan oleh rasa syok dan ketakutan yang teramat luar biasa menatap kegagalan total rencananya. Vanya hanya bisa jatuh terduduk di aspal, menangis histeris di balik jaket denim longgarnya yang kusam.
Haena melangkah mendekat dengan langkah kaki yang mantap, anggun, dan beraura kekuasaan mutlak yang tak tergoyahkan. Dari balik kacamata transparannya, dia menatap dingin ke arah Nyonya Rosalind yang kini gemetar ketakutan di hadapannya. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali.
"Permainan catur fisik kalian telah berakhir di landasan pacu ini, Nyonya Rosalind," ucap Haena, suaranya yang jernih terdengar bagaikan vonis mati dari hakim agung.
"Sekarang, kalian berdua tidak akan kembali ke sel isolasi biasa. Gavin, serahkan mereka kepada unit intelijen komando bayangan untuk interogasi tingkat tinggi mengenai keberadaan markas utama The Second Elder."
(Cliffhanger)
"Tepat ketika Gavin dan personel militer Arkananta menyeret Nyonya Rosalind dan pria berjubah hitam itu menuju mobil tahanan taktis, seluruh lampu di Bandara Halim mendadak menyala kembali dengan intensitas dua kali lipat lebih terang. Layar tablet siber Clarissa mendadak menampilkan sebuah pesan video siaran langsung yang merekam kondisi di dalam ruang perawatan VIP rumah sakit Jakarta: sesosok bayangan bertopeng perak? The Second Elder sendiri ternyata sudah berdiri di dalam ruangan tersebut, memegang sebilah pisau bedah tepat di atas leher Tuan Bramasta yang terbaring lemah, sementara Pak Baskara dan Ibu Aminah tampak tak sadarkan diri di lantai dengan darah yang mengalir dari pelipis mereka."