Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Reza membuka matanya saat layar ponsel pintarnya terus menyala terang.
Dia mengambil benda pipih itu dari atas meja tidurnya.
Banyak sekali pesan dan pemberitahuan berita yang masuk pagi ini.
Video kejadian tiga preman yang terlempar keluar dari kedainya kemarin ternyata viral di internet.
Sebuah stasiun televisi lokal bahkan memasukkan cuplikan video itu ke dalam berita pagi.
Judul beritanya adalah Kedai Sakti di Gang Buntu Menolak Preman.
'Baguslah kalau masuk berita,' batin Reza tersenyum lebar.
'Hendra pasti sedang meledak karena marah melihat kedai ini malah makin terkenal.'
Reza meletakkan ponselnya dan berjalan turun menuju lantai satu.
Dia melihat Bao dan Lyra sudah bersiap di posisi mereka masing-masing.
"Selamat pagi Bos," sapa Lyra merapikan kursi kayu.
"Pagi Bos Reza," tambah Bao yang sedang mengelap meja konter.
"Pagi semuanya, hari ini kita akan kembali ke dimensi kultivasi," kata Reza.
"Sistem, di mana lokasi pintu kita hari ini?"
"Pintu utama terhubung ke Dimensi Kultivasi Timur," jawab Sistem.
"Lokasinya berada di puncak tebing dekat ibu kota Kota Raja."
Reza mengangguk dan berjalan ke arah kulkas besarnya.
Dia membuka pintu kulkas dan melihat bahan-bahan baru yang tersedia.
Matanya langsung tertuju pada seekor ikan berukuran sedang yang memiliki sisik berwarna keemasan.
Ikan itu memancarkan cahaya redup dan terlihat masih sangat segar.
"Bao, coba kau lihat ikan apa ini," panggil Reza menunjuk ke dalam kulkas.
Bao berjalan mendekat dan matanya langsung membelalak lebar.
"Ini adalah ikan mas sisik naga tingkat surga," jawab Bao dengan nada terkejut.
"Ikan ini biasanya hanya hidup di kolam suci milik sekte besar."
"Bagus, kau tolong bersihkan sisik dan isi perutnya," perintah Reza.
"Kita akan menjual hidangan ikan kukus hari ini."
Bao mengambil ikan bercahaya itu dengan sangat hati-hati.
Dia meletakkannya di atas talenan dan mulai menggunakan pisau bajanya.
Sring.
Tangan Bao bergerak sangat lincah membersihkan sisik keras tersebut.
Hanya butuh waktu singkat bagi Bao untuk membersihkan ikan itu sepenuhnya.
"Buka pintunya Lyra," kata Reza sambil memanaskan kukusan bambu.
Lyra memutar kenop pintu utama dan membukanya lebar-lebar.
Angin kencang dari atas tebing langsung berhembus masuk ke dalam kedai.
Pemandangan di luar adalah lautan awan putih yang sangat tebal.
Di kejauhan terlihat atap-atap bangunan megah dari sebuah kota kuno.
Mereka menunggu dengan tenang selama sekitar satu jam.
Tiba-tiba, suara pedang membelah angin terdengar sangat keras dari luar.
Seorang pria tua berjubah putih turun dari atas sebilah pedang terbang.
Pria tua itu memiliki rambut putih panjang yang diikat ke atas dan alis yang sangat tebal.
Wajahnya terlihat sangat garang dan penuh amarah.
Pria itu melangkah masuk melewati ambang pintu kedai dengan langkah berat.
"Aku bisa merasakan sisa aura murid pengkhianat itu di tempat ini," bentak pria tua itu.
"Siapa yang berani menyembunyikan Jian dari kejaran Sekte Pedang Surgawi?"
Namun begitu pria itu selesai berteriak, tubuhnya langsung terhuyung ke depan.
Energi spiritual yang sangat besar di dalam tubuhnya lenyap tak berbekas.
"Apa yang terjadi dengan kekuatan alam dewa milikku?" ucap pria tua itu panik.
Reza berjalan perlahan dari arah dapur dan menatap pria tua tersebut.
"Ini adalah tempat makan, bukan tempat mencari orang," kata Reza dengan suara datar.
"Jika Anda ingin membuat keributan, Anda akan berakhir seperti pengejar Jian sebelumnya."
Pria tua itu mendongak dan menatap Reza dengan pandangan penuh selidik.
Dia menyadari bahwa pemuda di depannya ini terlihat sangat tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku adalah Patriark Wei, pemimpin Sekte Pedang Surgawi," ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Bocah bernama Jian itu telah mencuri gulungan rahasia sekte kami."
"Saya tidak peduli dengan masalah sekte Anda, Patriark Wei," balas Reza menyilangkan tangannya.
"Jian memang datang kemari beberapa hari lalu hanya untuk makan dan menyembuhkan lukanya."
Patriark Wei terkejut mendengar ucapan Reza.
"Kau menyembuhkan luka tusukan pedang penembus jiwa itu?" tanya Patriark Wei tidak percaya.
"Bahkan tabib sekte kami tidak bisa menyembuhkan luka seperti itu dengan mudah."
"Saya hanya memberinya semangkuk sup ayam," jawab Reza santai.
"Sekarang silakan duduk dan pesan makanan, atau silakan pergi dari sini."
Patriark Wei menelan ludahnya dan mulai menyadari posisinya dalam bahaya.
Dia sedang berada di dalam wilayah kekuasaan sosok ahli misterius yang sangat kuat.
Pria tua itu akhirnya menurunkan egonya dan duduk di salah satu kursi kayu.
"Maafkan ketidaksopanan saya, Tuan," ucap Patriark Wei mengubah nada bicaranya.
"Saya sedang sangat stres karena kultivasi saya terjebak di batas alam selama seratus tahun."
"Anda mencari makanan untuk menembus hambatan kultivasi?" tanya Reza menebak.
"Benar Tuan, apakah Anda memiliki hidangan tingkat tinggi untuk masalah saya?" tanya Patriark Wei penuh harap.
"Saya bersedia membayar berapa pun harganya."
"Bao, siapkan piring lonjong besar," perintah Reza menoleh ke dapur.
"Lyra, tuangkan secangkir teh panas untuk tamu kita."
"Baik Bos," jawab Lyra segera mengambil teko keramik.
Lyra menuangkan teh itu dan meletakkannya di depan Patriark Wei.
Pria tua itu mengangguk pelan mengucapkan terima kasih pada Lyra.
Di dapur, Reza memasukkan ikan mas sisik naga itu ke dalam kukusan bambu.
Dia menambahkan irisan jahe, daun bawang, dan menyiramkan sedikit minyak wijen.