NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Ketika Dapur Menjadi Ruang Sidang Hana

Ketika dapur menjadi ruang sidang Hana, seisi ruangan besar itu mendadak menjelma sebuah tempat pengasingan yang amat dingin. Gema suara Umi Kalsum yang menjatuhkan putusan sepihak masih terngiang jelas, meremukkan sisa kekuatan di dalam dada Hana. Mbok Siti bersama dua santri senior yang semula mengurus pasokan makanan kini berdiri bersedekap dengan pandangan mata penuh selidik. Di atas meja kayu panjang yang kokoh, tumpukan karung beras serta berkeranjang sayur mayur seolah siap menjadi saksi bisu atas ketidakberdayaan sang menantu baru.

"Apakah kamu sudah paham mengenai seluruh rincian tugas yang baru saja saya sampaikan?" tanya Umi Kalsum dengan nada mengintimidasi.

Hana mengeratkan pegangan jemarinya pada tepian kain penutup kepala, mencoba mengusir rasa gamang. "Saya paham, Umi, namun apakah saya boleh meminta bimbingan Mbok Siti untuk beberapa hari pertama ini?"

"Tidak ada waktu untuk bimbingan khusus bagi wanita dewasa yang sudah memutuskan mengikat janji di tempat suci ini," potong Umi Kalsum tanpa kompromi.

Sikap keras sang mertua membuat atmosfer di sekitar tungku memasak terasa semakin menghimpit rongga pernapasan Hana. Mbok Siti yang berada di sudut ruangan hanya melemparkan senyum tipis yang menyimpan arti kepuasan terselubung atas kesulitan sang pengantin baru. Hana memandangi deretan kuali raksasa, membayangkan beban fisik yang harus ditanggung oleh kedua lengannya yang belum terbiasa dengan pekerjaan berat. Rasa sesak kembali datang merayapi batinnya, menyadari bahwa ia benar benar sedang diuji kelayakannya di bawah pengawasan ketat.

"Jika hidangan untuk para santri terlambat semenit saja, marwah kedisiplinan keluarga ini akan tercoreng," lanjut Umi Kalsum memperingatkan.

Hana menarik napas dalam dalam, berusaha menegakkan punggungnya yang mulai terasa letih sejak fajar. "Saya akan berusaha sebaik mungkin agar seluruh kebutuhan asrama terpenuhi tepat waktu, Umi."

"Buktikan semua ucapanmu itu dengan tindakan nyata, bukan sekadar janji manis kosmetik kota," pungkas wanita tua itu seraya membalikkan badan.

Langkah kaki Umi Kalsum yang menjauh meninggalkan area memasak digantikan oleh keheningan canggung yang kembali menyelimuti ruangan. Mbok Siti segera melangkah mendekati meja bumbu, lalu meletakkan sebuah pisau besar di hadapan Hana dengan entakan kasar. Dua santri putri yang bertugas membantu urusan air bersih langsung membuang muka, enggan memberikan sedikit pun simpati atau bantuan tenaga. Hana menyadari bahwa konspirasi penolakan ini telah menjalar rapi ke setiap sudut elemen dapur utama pesantren terpandang tersebut.

Azzam melangkah masuk dari pintu selasar samping dengan membawa sebuah buku catatan bersampul kulit hitam. Lelaki itu menghentikan langkah sejenak, memandangi sang istri yang berdiri mematung di depan tumpukan bahan makanan mentah. Gurat kelelahan yang terpahat jelas di wajah Hana sempat memercikkan rasa iba di dalam lubuk hati terdalam sang suami. Namun, posisi dirinya sebagai putra mahkota surau yang harus menjaga kepatuhan total membuat langkah kakinya kembali terasa kaku.

"Hana, apakah semua persiapan untuk makan siang para santri sudah mulai berjalan?" tanya Azzam dengan intonasi datar.

Hana menatap sepasang mata suaminya, mencari secercah kehangatan yang amat dirindukannya sejak malam pertama pernikahan. "Semua baru akan dimulai, Mas, tugas ini terasa sangat mendadak dan teramat besar untuk saya selesaikan sendiri."

"Umi melakukan ini pasti demi kebaikan dirimu agar segera memahami ritme kehidupan di lingkungan asrama," balas Azzam mencoba menenangkan.

"Namun, apakah harus dengan cara mengisolasi saya dari segala bentuk bantuan seperti ini?" lirih Hana dengan suara yang mulai serak.

Azzam mengalihkan pandangannya menuju langit langit ruangan, menghindari tatapan menuntut dari wanita yang telah sah menjadi tanggung jawabnya itu. "Belajarlah untuk patuh tanpa banyak mengeluh, Hana, karena itu adalah kunci utama kedamaian di bawah atap rumah ini."

Pernyataan dingin dari bibir Azzam laksana embusan angin malam yang seketika membekukan harapan terkecil di dalam dada Hana. Keberadaan sang suami yang semula dianggap sebagai tempat berlindung kini terbukti tidak lebih dari sekadar perpanjangan tangan kekuasaan Umi Kalsum. Hana membalikkan tubuhnya membelakangi Azzam, memilih untuk segera meraih pisau besar yang terletak di atas meja kayu dengan gerakan tegas. Ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya lagi di depan lelaki yang tidak mampu berdiri kokoh sebagai pelindung jiwanya.

Kesibukan di dalam ruang sidang domestik itu pun dimulai dengan deru api tungku yang mulai memanaskan suasana sekitar. Hana mengiris sayuran dengan ritme yang tergesa, mengabaikan rasa perih yang mendadak muncul saat mata pisau tipis menggores ujung jarinya. Setitik darah segar keluar membasahi talenan kayu, namun ia memilih membasuhnya dengan air mengalir tanpa mengeluarkan sekelumit keluhan lisan. Setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai semen menjadi saksi atas perjuangan keras seorang wanita yang sedang direndahkan martabatnya.

Mbok Siti sesekali lewat di depan Hana sambil melontarkan teguran mengenai cara memotong bumbu yang dianggap tidak rapi. Kritik demi kritik terus mengalir bagai air bah, sengaja diembuskan untuk meruntuhkan fokus serta ketahanan mental sang menantu kota. Hana memilih mengunci rapat mulutnya, meniru sikap suaminya namun dengan tujuan yang berbeda, yaitu untuk menjaga sisa harga diri. Pikiran wanita muda itu melayang jauh pada kehangatan rumah orang tuanya, tempat di mana ia selalu dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Matahari kini telah berada tepat di atas kepala, menandakan waktu makan siang bagi ratusan pengikut pesantren telah tiba. Hana mengangkat kuali berisi sayur sup dengan sisa kekuatan yang ada, meletakkannya di atas meja saji dengan napas yang terengah. Lengannya terasa sangat linu, sementara punggungnya seolah mau patah akibat berdiri berjam jam di depan hawa panas tungku arang. Umi Kalsum kembali hadir di ruangan itu bersama beberapa pengurus inti, bersiap melakukan inspeksi akhir atas hasil kerja keras Hana.

"Mari kita lihat apakah masakan putri kota ini layak masuk ke dalam pencernaan para santri kita," ujar Umi Kalsum penuh sindiran.

Wanita tua itu mengambil sebuah mangkuk kecil, mencicipi kuah sayur hasil olahan Hana dengan gerakan tangan yang sangat lambat. Ekspresi wajah Umi Kalsum mendadak berubah menjadi masam, seolah makanan yang baru saja menyentuh lidahnya adalah racun yang menjijikkan. Ia meletakkan kembali mangkuk tersebut dengan bantingan keras hingga isinya membasahi kain meja yang bersih sewarna putih tulung. Hana menahan napasnya, bersiap menerima gelombang badai makian baru yang tampaknya sudah berada di ujung lidah sang mertua.

"Masakan ini benar benar hambar, sama sekali tidak memiliki cita rasa yang pantas untuk disajikan," vonis Umi Kalsum berapi api.

Hana menatap lurus ke arah mertuanya dengan keberanian yang mendadak muncul dari lubuk penderitaannya. "Saya sudah mengikuti seluruh takaran bumbu yang tertera di dalam buku panduan dapur asrama ini, Umi."

"Kamu berani membantah penilaian saya hanya karena merasa paling benar dengan kepintaran kotamu itu?" tanya Umi Kalsum dengan volume suara yang meningkat.

Azzam yang mendengar keributan itu segera melangkah mendekat, mencoba meredam suasana yang kian berada di ambang batas kewajaran. Lelaki itu memandang masakan Hana lalu beralih menatap ibunya dengan gurat kecemasan yang amat mendalam di pelupuk matanya. Kehadiran para pengurus senior yang menyaksikan perdebatan itu membuat posisi keluarga pengasuh kini berada di bawah sorotan tajam yang memalukan. Azzam tahu jika situasi ini dibiarkan berlarut, maka wibawa ibunya sebagai pemimpin asrama putri bisa goyah di mata bawahan.

"Umi, mohon tenangkan diri, biar saya yang akan mengurus perkara makanan ini bersama Hana di dalam kamar," sela Azzam menengahi.

Umi Kalsum mendengus kasar seraya menunjuk wajah Hana dengan jari telunjuknya yang tampak gemetar akibat amarah. "Bawa istrimu ini pergi dari hadapanku sebelum ruangan suci ini benar benar ternoda oleh keangkuhan sikapnya."

Hana tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia langsung membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang sidang yang penuh kepalsuan itu. Langkah kakinya terasa sangat berat menuruni anak tangga selasar menuju bangunan paviliun tempat tinggal mereka berdua yang terletak di bagian belakang. Rasa kecewa, lelah, dan terhina bercampur aduk menjadi sebuah gumpalan emosi yang siap meledak kapan saja di dalam dadanya. Tujuan utamanya sekarang hanyalah sebuah tempat tidur sepi untuk menyembunyikan seluruh air mata yang sudah tidak bendung lagi.

Pintu kamar pengantin ditutup Hana dengan dorongan kasar, menciptakan dentuman yang menggema di dalam ruangan yang sunyi tersebut. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, membiarkan raga yang lelah itu tenggelam di antara bantal dan selimut yang masih beraroma wangi sisa perayaan kemarin. Kamar yang seharusnya menjadi tempat paling membahagiakan bagi sepasang kekasih kini berubah fungsi menjadi sebuah ruang isolasi yang penuh air mata duka. Hana memeluk gulingnya erat erat, menangis sejadi jadinya meratapi nasib pernikahan yang baru seumur jagung namun sudah terasa amat menyiksa.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki Azzam yang memasuki kamar dengan perlahan lalu mengunci pintu dari dalam. Lelaki itu berjalan mendekati ranjang, memandangi punggung istrinya yang masih berguncang hebat akibat tangis yang belum juga mereda. Keheningan malam mulai membayang lebih awal di dalam ruangan itu, membawa atmosfer kecanggungan yang semakin memperlebar jarak emosional di antara keduanya. Azzam duduk di tepi kasur, mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh pundak Hana namun mendadak mengurungkan niat tersebut karena keraguan yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!