Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-puing Takdir dan Fajar yang Berdarah
*"Jika kau mengira bahwa dengan menghancurkan segalanya, kau bisa memaksa takdir untuk bertekuk lutut di hadapanmu, maka selamat datang di neraka yang kau ciptakan sendiri, Marie; di mana bahkan abu pun memiliki ingatan tentang siapa kita sebelum kita kehilangan arah."*
Suara itu berat, bergetar, dan merambat masuk ke dalam pori-pori kesadaranku seperti racun yang manis. Aku membuka mata, namun yang kulihat bukanlah langit, melainkan hamparan kabut abu-abu yang pekat, menekan indra penglihatanku dengan beban yang menyesakkan. Aku terbaring di atas permukaan yang terasa hangat, namun teksturnya kasar seperti batu yang baru saja ditempa dengan api. Di mana Julius? Ingatan terakhirku adalah ledakan emas yang merobek realitas, sebuah taruhan nekat untuk menghancurkan entitas ketakutan yang diciptakan Kronos.
Aku mencoba menggerakkan jari-jariku, dan syukurlah, jemariku masih utuh. Namun, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku bukan main-main—itu adalah rasa sakit dari seseorang yang telah mencoba menampung kekuatan semesta di dalam wadah yang rapuh.
*"Julius?"* panggilku, suaraku terdengar aneh, serak, seolah pita suaraku telah terbakar.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang absolut, sebuah keheningan yang lebih menakutkan daripada suara jeritan bayangan mana pun. Aku bangkit dengan susah payah, memaksakan tubuhku untuk duduk. Di sekelilingku, dunia tampak seperti kanvas yang baru saja disapu bersih dengan warna abu-abu. Menara tempat kami bertempur tadi telah lenyap; yang tersisa hanyalah puing-puing batu yang berserakan sejauh mata memandang, membentuk pola yang aneh, seolah-olah reruntuhan itu diletakkan dengan sengaja oleh tangan raksasa.
Aku menatap tanganku. Tidak ada lagi bekas luka rasi bintang, tidak ada sisa-sisa sihir murni yang berdenyut di bawah kulit. Aku benar-benar terasa... kosong. Apakah aku telah kehilangan sihirku selamanya? Apakah ini harga yang harus kubayar untuk menghentikan Kronos?
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya biru pucat muncul di tengah reruntuhan, beberapa meter di depanku. Cahaya itu berdenyut dengan ritme yang familiar—seperti detak jantung yang lambat dan berat. Aku berdiri, kakiku gemetar, dan berjalan mendekatinya dengan hati-hati. Di balik cahaya itu, sesosok tubuh tergeletak tak berdaya.
*"Julius!"* aku berlari, mengabaikan rasa sakit di kakiku.
Dia terbaring di sana, wajahnya pucat pasi, baju kulitnya sudah koyak menjadi kain tak berbentuk. Matanya tertutup, dan ada retakan halus yang memancar dari dadanya, seolah-olah dia adalah patung porselen yang baru saja pecah namun disatukan kembali dengan paksa. Aku memeluknya, kepalanya bersandar di bahuku. Dia sangat dingin.
*"Julius, jangan lakukan ini. Kau tidak boleh menyerah sekarang. Kita sudah sampai sejauh ini, kita sudah menghancurkan menara itu, kita..."* suaraku pecah, air mata yang selama ini kutahan akhirnya jatuh, mengenai wajahnya yang sedingin es.
Dia tidak bergerak. Keheningan ini benar-benar mencekik. Aku mulai mengalirkan energi dari dalam diriku, mencoba mencari sisa-sisa sihir—sesuatu, apa pun—untuk memicu detak jantungnya. Aku memusatkan kehendakku, mencoba memanggil sihir yang seharusnya ada di dunia ini. *Tolong, tunjukkan padaku bahwa dia masih di sini.*
Tiba-tiba, dadanya bergetar. Sebuah napas panjang dan kasar lolos dari bibirnya. Dia tersedak, matanya terbuka perlahan, menatap langit abu-abu dengan pandangan yang kosong sebelum akhirnya fokus pada wajahku.
*"Marie?"* suaranya parau, hampir tidak terdengar. *"Apakah kita... apakah kita sudah mati?"*
Aku tertawa, sebuah tawa yang bercampur dengan isak tangis. *"Kalau kita mati, tempat ini pastilah neraka yang sangat membosankan, Julius."*
Dia mencoba tersenyum, meski itu menyakitinya. *"Jika ini neraka, maka setidaknya kau ada di sini. Itu membuatku sedikit lebih tenang."*
Kami diam sejenak, hanya menikmati fakta bahwa kami masih bernapas di tengah dunia yang sepertinya telah berhenti berputar. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Tanah di bawah kami mulai bergetar. Bukan getaran gempa bumi biasa, melainkan getaran mekanis yang ritmik. Aku menoleh ke sekeliling, dan mataku melebar.
Puing-puing batu di sekitar kami mulai bergerak sendiri, menyatu kembali menjadi bentuk yang lebih besar, lebih kokoh. Mereka membentuk dinding, menara, dan jalan setapak. Dunia ini sedang membangun dirinya kembali, namun bukan menjadi dunia yang kita kenal sebelumnya. Bangunan-bangunan ini memiliki bentuk yang jauh lebih tajam, lebih dingin, lebih seperti mesin daripada arsitektur sihir kuno.
*"Dia tidak berhenti,"* desis Julius, mencoba bangkit dengan bantuan bahuku. *"Kronos tidak mati. Dia hanya mengubah permainannya. Dia sedang membangun ulang Oakhaven menurut versinya."*
Aku menatap cakrawala yang kini mulai berubah warna menjadi merah darah yang tajam. Di tengah-tengah reruntuhan yang sedang dibangun kembali itu, sebuah struktur raksasa mulai menjulang tinggi—sebuah menara jam yang jauh lebih besar dari yang ada di kota sebelumnya. Menara itu tidak memiliki jarum jam, melainkan ribuan cermin yang memantulkan setiap sudut dunia ini.
*"Lihat ke sana,"* tunjuk Julius ke arah puncak menara.
Di sana, berdiri sosok yang tidak asing lagi. Bukan Kronos, bukan pula ayahku. Itu adalah diriku sendiri—Marie Vance—namun dengan mata yang memancarkan cahaya putih murni, tanpa emosi, tanpa kemanusiaan. Dia berdiri di sana, memegang sebuah buku catatan yang sangat tebal, dan setiap kali dia membalik halamannya, sebuah bangunan di bawah sana selesai dibangun.
*"Itu adalah manifestasi dari semua keinginanmu yang pernah kau buang,"* bisik Julius. *"Marie, dia adalah versi dirimu yang tidak pernah membuat pilihan. Dia adalah versi dirimu yang selalu mengikuti skenario."*
Aku menatap sosok diriku sendiri dengan rasa ngeri yang luar biasa. Dia bukan aku, tapi dia memilikiku. Dia memiliki setiap memori, setiap rasa sakit, dan setiap kelemahan yang pernah kualami.
Sosok itu menoleh. Dia menatap ke arah kami. Dia tidak tersenyum, tidak marah; dia hanya menatap kami seolah-olah kami adalah kesalahan dalam perhitungan yang harus segera dihapus. Dia mengangkat tangannya, dan seketika itu juga, tanah di sekitar kami mulai terangkat, mencoba menelan kami ke dalam fondasi menara yang sedang dibangun.
*"Lari, Marie!"* teriak Julius.
Kami berlari, melompat di atas bongkahan batu yang melayang, menghindari cakar-cakar batu yang berusaha menyeret kami ke bawah. Kami terjepit. Di depan kami, pasukan yang terbuat dari debu mulai terbentuk—prajurit-prajurit tanpa wajah yang membawa senjata dari cahaya solid.
*"Kita tidak punya senjata, kita tidak punya sihir murni yang stabil!"* teriakku sambil menangkis serangan salah satu prajurit dengan tangan kosong. Tanganku terluka, namun prajurit itu hancur saat bersentuhan dengan darahku. *Darahku.*
Aku teringat sesuatu. Di Episode 18, pria bertopeng itu bilang darahku adalah wadah yang retak. Mungkin itulah kunci untuk melawan sosok ini.
*"Julius, buat mereka mendekat padaku! Jangan lawan mereka dengan kekuatan, gunakan kelincahanmu!"*
Julius mengerti. Dia menari di antara prajurit-prajurit debu itu, memancing mereka untuk berkumpul di sekitar kami. Saat mereka semua sudah berada dalam jangkauan, aku menggigit pergelangan tanganku dan membiarkan darahku menetes ke tanah.
Darah itu bereaksi seperti asam terhadap debu. Prajurit-prajurit itu mulai meleleh, berteriak tanpa suara sebelum akhirnya lenyap menjadi debu yang tidak berbahaya.
Namun, sosok Marie di atas menara itu tidak terkesan. Dia menutup bukunya, dan menunjuk ke arah langit. Awan-awan abu-abu di atas sana mulai berputar, membentuk pusaran energi yang sangat kuat. Petir-petir hitam menyambar bumi, mencari target.
*"Dia sedang memanggil badai kehancuran,"* kata Julius, wajahnya penuh dengan keputusasaan. *"Dia akan menghapus seluruh wilayah ini agar dia bisa mulai membangun ulang dari awal."*
*"Tidak jika kita menghancurkan menara itu terlebih dahulu,"* kataku, mata tertuju pada menara jam raksasa tersebut. *"Jika dia adalah penulis skenario ini, maka buku itulah sumber kekuatannya. Jika kita bisa mengambil buku itu, atau setidaknya merusaknya..."*
*"Itu bunuh diri, Marie. Kita tidak akan pernah bisa mencapai puncak menara itu sebelum badai menyapu kita."*
*"Maka kita tidak akan menggunakan tangga,"* kataku, menatap ke arah pusaran energi di langit. *"Kita akan menggunakan arus badai itu sendiri."*
Julius menatapku dengan tatapan tak percaya. *"Kau gila. Jika kita masuk ke dalam pusaran itu, kita akan hancur berkeping-keping sebelum sempat mencapai puncak."*
*"Aku lebih suka hancur mencoba daripada diam saja menunggu ajal,"* kataku, menggenggam tangan Julius erat-erat. *"Percayalah padaku, kali ini saja."*
Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. *"Selalu, Marie. Selalu."*
Kami berlari menuju pusat pusaran badai yang mulai turun ke tanah. Anginnya begitu kuat hingga seragam kami terkoyak. Rasanya seperti ditarik oleh ribuan tangan yang tak terlihat. Saat kami hampir terseret oleh angin badai itu, aku memusatkan seluruh sisa energi di dalam diriku—bukan sebagai penyihir, tapi sebagai entitas yang sudah menembus batas dimensi—dan melompat ke tengah pusaran.
Dunia di sekitar kami menjadi blur. Suara jeritan badai begitu memekakkan telinga. Kami berputar, terlempar, dan dihantam oleh petir hitam, namun kami tidak melepaskan tangan satu sama lain. Di tengah badai yang mematikan itu, aku melihat sosok Marie di menara mulai panik. Dia tidak menyangka kami akan nekat melakukan ini.
Saat kami mencapai puncak menara, kami tidak mendarat dengan lembut. Kami menabrak balkon menara dengan kekuatan yang membuat struktur batu itu retak. Kami berguling, terengah-engah, tepat di kaki sosok Marie yang berdiri mematung.
Dia menatap kami dengan wajah yang masih tanpa ekspresi, namun tangannya mulai bergetar saat dia melihat buku catatannya yang terbuka lebar.
*"Kau..."* suaranya terdengar seperti bisikan ribuan orang, *"seharusnya kau mati di Episode 24. Skrip ini sudah final."*
Aku bangkit, menahan rasa sakit di seluruh tubuhku, dan berdiri di depan sosok itu. *"Siapa yang menulis skrip ini? Kau? Atau Kronos?"*
*"Aku adalah skrip itu sendiri,"* jawabnya dingin. *"Dan kau hanyalah tinta yang akan segera kering."*
Dia mengangkat tangannya, dan buku catatan itu mulai bersinar menyilaukan. Halaman-halamannya mulai membalik dengan kecepatan tinggi, menuliskan akhir dari hidup kami dengan tulisan yang muncul dari udara kosong.
*"Marie, hentikan dia!"* teriak Julius dari belakangku.
Aku tidak memikirkan lagi soal sihir atau takdir. Aku hanya memikirkan satu hal: aku adalah diriku, bukan skrip. Aku melompat ke arahnya, tidak dengan belati, tidak dengan sihir, tapi dengan tangan kosong. Aku mencengkeram buku catatan itu.
Saat tanganku menyentuh buku itu, aku merasa seolah-olah seluruh sejarah duniaku ditarik ke dalam diriku. Rasa sakitnya luar biasa, seperti memori ribuan tahun yang dipaksa masuk ke dalam satu otak manusia. Aku melihat semuanya—kematian tokoh utama di dunia asal, hari-hari di tubuh Marie Vance, pengkhianatan Julius, hingga janji-janji yang tak pernah terpenuhi.
Sosok Marie itu mulai memudar, wajahnya tampak ketakutan melihat bukunya dicengkeram oleh pemilik aslinya.
*"Lepaskan!"* teriaknya.
*"Tidak,"* kataku, suaraku kini mantap dan tenang. *"Buku ini sudah terlalu penuh dengan air mata. Sudah saatnya kita menulis sesuatu yang baru."*
Aku merobek halaman terakhir dari buku itu—halaman yang tertulis dengan nama kami berdua.
*KRAK!*
Seluruh menara berguncang. Sosok Marie itu menjerit nyaring sebelum akhirnya meledak menjadi ribuan partikel cahaya yang menghilang ke udara. Menara jam itu mulai runtuh, detik demi detik, waktu di dunia ini mulai berantakan. Tidak ada lagi siang atau malam, hanya ada detik yang diam.
Kami terjatuh dari menara yang runtuh, jatuh ke arah dunia di bawah sana yang kini juga mulai luruh. Namun, saat kami hampir menyentuh tanah, dunia di bawah kami tidak lagi terlihat seperti reruntuhan. Ia tampak seperti dunia yang benar-benar baru—dunia yang belum tertulis, belum terjamah, dan sangat luas.
Kami mendarat di atas rerumputan hijau yang segar. Langit di atas sana berwarna biru cerah, tanpa dua bulan, tanpa awan abu-abu. Ini adalah dunia yang murni.
Julius bangkit, dia menatap sekeliling dengan tidak percaya. *"Kita berhasil? Apakah ini dunia nyata?"*
Aku menatap tanganku. Tidak ada bekas luka, tidak ada rasa sakit, tidak ada sihir yang liar. Aku hanya merasa... ringan.
Namun, di depan kami, di atas sebuah bukit kecil, berdiri sesosok pria tua dengan pakaian sederhana. Dia memegang buku catatan yang kini kosong—buku yang baru saja kurampas dari sosok Marie.
Pria itu menatap kami, lalu tersenyum lebar. *"Kalian berhasil merobek halamannya. Tapi, apakah kalian tahu apa yang terjadi pada sebuah cerita yang tidak memiliki akhir?"*
Aku menatapnya dengan waspada. *"Apa maksudmu?"*
*"Cerita yang tidak berakhir,"* dia menutup buku itu, *"adalah cerita yang terus hidup selamanya melalui orang-orang yang memilih untuk terus berjalan. Selamat datang di dunia tanpa skrip. Sekarang, lakukan apa pun yang kalian inginkan."*
Dia melemparkan buku kosong itu ke kakiku, lalu menghilang ke dalam udara begitu saja.
Aku memandang buku kosong itu, lalu memandang Julius. Dia tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah kulihat selama ribuan tahun ini.
*"Apa yang ingin kau lakukan sekarang, Marie?"*
Aku menatap dunia yang luas di depan kami, dunia yang tak memiliki sejarah, tak memiliki kutukan, dan tak memiliki musuh.
*"Mari kita buat sejarah kita sendiri,"* jawabku.
Kami mulai berjalan, meninggalkan tempat di mana menara itu runtuh, melangkah menuju fajar yang baru. Namun, saat kami menuruni bukit, aku merasakan detak jantung yang aneh dari dalam tanah—sesuatu yang menunggu untuk dibangunkan.
Di dunia ini, mungkin tidak ada skrip, tapi sejarah selalu memiliki cara untuk berulang bagi mereka yang lupa akan masa lalunya.
menjadi awal dari petualangan yang benar-benar baru di tanah yang belum memiliki sejarah!*