NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Seribu Monster, Hukum Jalanan, dan Hadangan Pertama

​Roda-roda besi yang menopang kereta kuda raksasa Keluarga Huang menembus batas distrik terluar setelah menempuh perjalanan panjang melintasi tiga provinsi kekaisaran. Jika Kota Amerta adalah kolam dangkal yang tenang, dan Kota Utama klan Huang adalah danau buatan yang kaku, maka wilayah metropolitan yang mengelilingi Akademi Kekaisaran adalah samudera tak bertebak yang dipenuhi oleh hiu dan monster purba.

​Kota ini tidak mengenal konsep malam ataupun istirahat. Dari kejauhan, sebelum kereta mendekati tembok luar, aura energi spiritual yang masif telah membentuk pendaran awan pelangi di langit—hasil dari penguapan jutaan sirkulasi Qi yang terjadi secara simultan dari jutaan kultivator yang tinggal di dalamnya.

​Begitu melewati gerbang pembatas magnetik, nuansa dunia yang sama sekali baru langsung menghantam kabin kereta. Perbedaan atmosfer ini begitu radikal hingga membuat Xiao Mei berkali-kali menyingkap tirai jendela dengan mata bulat yang dipenuhi binar kekaguman.

​Kota metropolitan ini terbagi menjadi tiga struktur sosial yang kontras:

​1. Distrik Bawah (Pelataran Fana dan Arus Liar)

Di wilayah terluar ini, hukum rimba berbalut perdagangan jalanan terjadi secara terang-terangan. Ini adalah tempat bagi sembilan puluh persen kultivator pengembara (rogue cultivators), tentara bayaran, dan pemburu binatang spiritual tingkat rendah. Di sepanjang jalan berbatu hitam, kedai-kedai teh murahan berdiri berdampingan dengan lapak kaki lima yang menjual artefak bekas, tulang binatang yang diklaim sebagai pusaka, hingga pil pemurni sumsum kualitas rendah yang dibuat secara massal. Di tempat ini, pelayan restoran yang mengantar arak, kusir kereta sewaan, bahkan pengemis di sudut jalan setidaknya memiliki basis kultivasi Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-1 atau ke-2. Status sebagai "manusia fana murni" adalah kelangkaan yang ekstrem.

​2. Distrik Tengah (Pusat Aliansi Dagang dan Menara Qi)

Semakin kereta melaju ke dalam, kebisingan jalanan berganti dengan kemegahan arsitektur yang simetris dan vertikal. Distrik Tengah adalah wilayah komersial murni yang dikendalikan oleh Serikat Dagang Tujuh Bintang dan aliansi perbankan kekaisaran. Di setiap persimpangan jalan besar, berdiri menara-menara kuarsa setinggi puluhan lantai yang memancarkan energi Qi buatan hasil penyaringan batu spiritual tingkat tinggi. Warga distrik ini harus membayar iuran bulanan hanya untuk menikmati hak menghirup udara dengan kepadatan spiritual yang lebih tinggi. Langit di atas Distrik Tengah tidak lagi kosong; kereta-kereta layang yang ditarik oleh burung helang spiritual melintas di antara menara, sementara para master dari sekte menengah terlihat mengendarai pedang terbang mereka dengan kecepatan tinggi, menciptakan kilatan cahaya yang membelah awan.

​3. Distrik Inti (Wilayah Otoritas Akademi Kekaisaran)

Di ujung cakrawala distrik tengah, berdirilah wilayah inti yang menjadi tujuan akhir mereka. Kompleks Akademi Kekaisaran tidak dibangun di atas tanah datar biasa, melainkan di atas sebuah dataran tinggi vulkanik mati yang dikelilingi oleh parit energi spiritual selebar satu mil. Parit ini memancarkan tekanan gravitasi buatan; siapa pun yang mencoba terbang di atasnya tanpa lencana resmi akan langsung jatuh terhempas ke dasar jurang.

​Sementara Xiao Mei terus mengagumi kemegahan metropolitan tersebut, Ji Huang justru mengeluh di atas ranjang Giok Es-nya. Guncangan kereta yang melewati fluktuasi medan magnet kota berkali-kali membuat bantal sutranya bergeser dari posisi kenyamanan optimal.

​"Kota ini terlalu bising, Xiao Mei," gumam Ji Huang polos sembari menarik selimut bebek rajutan tangan ayahnya yang kasar untuk menutupi telinga. "Semua orang di luar sana bergerak dengan terburu-buru seolah-olah kasur di rumah mereka sedang terbakar secara massal. Mengapa mereka tidak mengendarai pedang terbang itu dengan kecepatan rendah saja? Polusi suara dari gesekan angin itu benar-benar mengganggu ritme relaksasiku."

​Xiao Mei hanya bisa tersenyum kecil, terbiasa dengan sudut pandang unik majikannya. "Tuan Muda, ini adalah kota metropolitan kekaisaran. Semua orang berlomba dengan waktu untuk menembus batas kultivasi mereka sebelum usia mereka menua."

​"Berlomba dengan waktu hanya akan membuat mereka mati lebih cepat karena kelelahan jantung," jawab Ji Huang lempeng, kembali memejamkan mata dengan damai. "Kultivasi sejati adalah tentang harmoni dengan alam, dan alam tidak pernah bergerak terburu-buru."

​Kereta kuda raksasa Keluarga Huang akhirnya tiba di gerbang pemeriksaan Sayap Barat, jalur khusus yang secara eksklusif disediakan untuk para tamu agung, utusan kerajaan, dan pemilik kuota VIP tanpa tes. Gerbang ini terbuat dari balok besi meteorit hitam yang dipenuhi rune pertahanan tingkat tinggi.

​Namun, sebelum kereta sempat melewati barisan pembatas, empat orang pemuda berpakaian jubah putih sulaman Harimau Perak melompat turun dari menara pengawas, mendarat tepat di depan jalur lari Kuda Kuku Api, memaksa kusir kereta menarik tali kekang dengan keras hingga kereta bergoyang hebat.

​Sreeet!

​"Kereta dari klan mana yang berani masuk melalui jalur VIP tanpa memasang lencana peringkat akademi?!"

​Sebuah suara lantang yang dipenuhi tekanan Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-7 menggelegar di depan gerbang. Pemimpin dari keempat pemuda itu melangkah maju. Dialah Gao Yan, seorang murid senior tahun kedua sekaligus anggota dari Korps Penegak Disiplin Gerbang Barat. Wajahnya persegi, tatapan matanya tajam, dan di pinggangnya tergantung sebuah gada besi berduri yang memancarkan aura panas.

​Gao Yan menatap logo naga emas Keluarga Huang di dinding kereta dengan pandangan meremehkan. Sebagai anggota faksi Harimau Perak yang berafiliasi dengan klan saingan Keluarga Huang di ibu kota, dia selalu mencari celah untuk menekan siapa pun yang berasal dari klan tersebut.

​"Lapor Senior Gao," salah satu juniornya berbisik sembari memeriksa gulungan manifes. "Ini adalah kereta dari klan utama Huang di Kota Utama. Penumpangnya adalah pemilik kuota 'Jalur Khusus Murid Kehormatan' bernama Ji Huang."

​"Murid Kehormatan? Jalur khusus?" Gao Yan tertawa meremehkan, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar oleh para kultivator pengembara yang mengantre di jalur biasa. "Akademi Kekaisaran adalah tempat suci bagi para pejuang darah murni, bukan tempat pembuangan bagi para anak bangsawan manja yang menyuap tetua klan mereka demi mendapatkan fasilitas VIP! Terlebih lagi, membawa kereta raksasa berisi ranjang mewah dan seorang pelayan wanita cantik ke dalam lingkungan akademi adalah pelanggaran berat terhadap kode etik kesederhanaan pejuang!"

​Gao Yan melangkah mendekati pintu kereta, lalu mengayunkan gada besinya hingga menciptakan dentingan keras di udara. "Turun dari kereta sekarang juga! Penghuni kereta harus keluar untuk digeledah secara fisik, dan kereta ini akan disita oleh Korps Penegak Disiplin untuk diperiksa apakah ada penyelundupan formasi ilegal atau racun terlarang! Jika menolak, aku memiliki otoritas penuh untuk menghancurkan kereta ini di tempat!"

​Suasana di depan Gerbang Barat mendadak berubah menjadi tontonan yang menarik. Puluhan kultivator di jalur biasa mulai berbisik-bisik, menantikan kehancuran emosional dari "anak manja" klan Huang yang bernasib sial bertemu dengan Gao Yan yang terkenal kejam di gerbang masuk.

​Di dalam kabin, Xiao Mei mulai terlihat cemas. "Tuan Muda... Korps Penegak Disiplin memiliki hak legal di area gerbang. Apa yang harus kita lakukan?"

​Ji Huang tidak langsung menjawab. Dia perlahan menghela napas panjang—sebuah napas yang dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam karena waktu istirahat pasca-perjalanannya dirusak secara brutal oleh suara bising gada besi di luar. Dengan gerakan yang sangat malas, Ji Huang mengulurkan tangan kanannya, menyingkap tirai sutra jendela kereta hanya selebar tiga jari.

​Wajah fanya yang lempeng, dengan lingkaran mata yang masih agak sayu karena baru bangun tidur, muncul di celah tirai. Selimut bebek rajutan tangan ayahnya yang jelek masih melingkar longgar di bahunya, membuat penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti seorang ahli bela diri misterius.

​Ji Huang menatap Gao Yan yang berdiri congkak di atas tanah dengan pandangan polos yang kelewat lempeng.

​"Senior," ucap Ji Huang dengan nada suara yang lambat dan mengantuk. "Aku baru saja menemukan posisi kemiringan kepala yang sangat pas di atas bantal sutraku sebelum kamu mulai memukulkan gada besimu itu dan berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehat. Jika kamu memiliki masalah dengan Tetua Agung klan Huang yang memberikan tiket VIP ini, pergilah ke Kota Utama dan ketuk pintunya sendiri."

​Ji Huang berdehem kecil, lalu merendahkan nada suaranya. Namun di saat yang sama, sepercik Niat Pedang kuno dari lubuk jiwanya yang agung dilepaskan secara fokal—hanya diarahkan tepat ke sepasang mata Gao Yan dan hewan tunggangan macan spiritual di belakangnya.

​"Namun... jika kamu terus berdiri di depan keretaku, merusak kestabilan ranjang Giok Es-ku, dan menunda perjalananku menuju tempat tidur baruku di asrama VIP Barat..." Ji Huang menatap Gao Yan dengan kepolosan yang mendadak terasa sedingin es kutub. "...aku terpaksa harus menggunakan teknik yang sangat melelahkan untuk membuatmu tertidur selamanya di bawah roda besi kereta ini. Pilih dengan cepat, aku sudah sangat mengantuk."

​Grrr...

​Detik itu juga, macan spiritual Lapis ke-6 milik Gao Yan yang biasanya sangat agresif, mendadak menjatuhkan seluruh tubuhnya ke tanah, gemetar hebat dengan ekor yang terselip di antara kedua kaki belakangnya—seolah-olah baru saja melihat penampakan seekor naga purba yang siap menelan jiwanya.

​Sementara Gao Yan sendiri seketika membeku di tempatnya. Tekanan tak terlihat yang menghantam kesadarannya barusan membuat seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak, dan sepasang matanya terbelalak dipenuhi oleh rasa ngeri eksistensial yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya sebagai kultivator Lapis ke-7.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!