Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Apartemen mewah Kai yang terletak di lantai tiga puluh pusat kota menjadi saksi hiruk-pikuk sore itu. Ruang tengah yang didominasi kaca transparan menampakkan langit Los Angeles yang mulai meredup, menyisakan kerlap-kerlip lampu kota yang mulai bangkit. Di dalam ruangan, musik lo-fi berdentum rendah, bersaing dengan suara tawa dan obrolan lima pria yang biasanya tak pernah bisa duduk tenang dalam satu ruangan.
Sore ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, mereka berkumpul dengan formasi hampir lengkap bersama pasangan masing-masing. Apartemen itu adalah definisi kemewahan modern—minimalis, dingin, namun penuh dengan fasilitas yang membuat siapa pun betah. Aroma piza hangat dan kepulan asap rokok elektrik kini bercampur dengan dentum musik yang mengisi atmosfer.
Kai duduk di sofa panjang sembari merangkul kekasihnya, seorang model pendatang baru yang terus tertawa pada setiap leluconnya. Suarez tak kalah mesra; ia duduk di karpet bulu sementara kekasihnya yang atletis bersandar di antara kedua kakinya.
Lalu ada Jeff dan Elowen. Mereka berbagi sofa tunggal yang cukup luas untuk berdua. Jeff terlihat begitu santai; satu tangannya merangkul bahu Elowen sementara tangan lainnya menggenggam jemari gadis itu. Mereka tampak seperti pasangan ideal—tenang, serasi, dan sama sekali tidak canggung. Jeff sesekali mencium pelipis Elowen, membuat gadis itu terpaksa mengulas senyum tipis yang tampak sempurna dari luar, meski jantungnya sedang memainkan simfoni ketakutan.
Hanya Mike dan Ezzra yang datang tanpa pasangan. Mike, seperti biasa, seolah memiliki dunia sendiri. Ia bergeming di meja makan marmer dengan laptop terbuka dan kacamata bertengger di hidungnya, sibuk mengetik urusan saham.
Dan Ezzra? Pria itu tampak seperti singa kelaparan. Ia mondar-mandir dengan kaus hitam polos yang melekat ketat di tubuh atletisnya. Sejak tiba satu jam lalu, ia sudah menghabiskan empat kaleng soda. Setiap kali suara ctak dari kaleng yang dibuka terdengar, Elowen merasa sarafnya menegang. Wajah Ezzra tampak memerah, entah karena suhu ruangan yang mulai terasa panas atau karena pemandangan di depannya.
"Panas sekali di sini, Kai! Kau pelit sekali tidak menyalakan AC maksimal?" gerutu Ezzra sambil melempar kaleng kosong kelimanya ke tempat sampah dengan akurasi yang menakutkan.
"AC-ku sudah di suhu terendah, Ez. Mungkin darahmu saja yang terlalu mendidih," sahut Kai tanpa menoleh, sibuk menyuapi kekasihnya sepotong piza.
Ezzra mendengus. Ia melangkah ke arah Mike, mulai bertingkah konyol untuk mengalihkan rasa panas di hatinya. "Mikey... ayolah. Saham apa lagi yang kau beli? Apa kau sedang mencoba membeli planet Mars agar bisa kabur dari kenyataan bahwa kau jomblo abadi?" Ezzra menekan-nekan tombol backspace di laptop Mike dengan jarinya.
"Ezzra, menjauh dariku atau aku akan meretas rekening bankmu dan menyumbangkannya ke panti asuhan," ancam Mike tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suaranya datar, namun penuh ancaman nyata.
"Galak sekali." Ezzra tertawa keras, namun tawa itu tidak mencapai matanya. Sesekali, matanya melirik tajam ke arah Elowen. Tatapan itu dingin, posesif, dan penuh peringatan. Setiap kali Jeff menyentuh tangan Elowen, rahang Ezzra akan mengeras dan ia akan membuka kaleng soda baru dengan bunyi yang menghentak.
"Mike! Berhenti jadi robot, bajingan!" seru Ezzra tiba-tiba. Suaranya menggelegar saat ia menghampiri Mike dan menutup paksa layar laptop sahabatnya itu.
"Sialan, Ezzra! Aku sedang menghitung margin, kau menyedihkan!" Mike memaki sembari membetulkan kacamatanya yang miring.
"Margin bisa menunggu, tapi kewarasanmu tidak. Lihat mereka!" Ezzra menunjuk ke arah Kai dan Suarez dengan gerakan dramatis. "Kita sudah lama tidak berkumpul, dan mereka malah membawa kekasih untuk pamer kemesraan? Ini apartemen Kai atau pameran pasangan paling bahagia sedunia?"
Kai tertawa keras. "Bilang saja kau iri karena tidak membawa siapa pun, Ez. Mana deretan model yang biasa kau banggakan?"
Ezzra tidak menjawab. Ia justru membuka kaleng sodanya lagi, meneguknya hingga tandas seolah kerongkongannya sedang terbakar. Matanya yang tajam dan gelap meluncur ke arah sofa tempat Jeff dan Elowen berada. Tatapannya dingin, menusuk, dan penuh klaim yang hanya bisa dimengerti oleh Elowen.
"Aku tidak iri," gumam Ezzra sambil menatap intens ke arah leher Elowen yang tertutup kerah tinggi. "Aku hanya merasa suasana di sini... sangat panas. Kalian tidak merasa panas? Aku butuh soda lagi."
Elowen mengalihkan pandangan. Tangannya yang berada dalam genggaman Jeff terasa dingin dan berkeringat.
Setelah piza habis dan tumpukan kaleng memenuhi meja, Kai berdiri dengan seringai licik. Ia meletakkan sebuah botol kaca kosong di tengah meja kopi, mengomando semua orang untuk berkumpul melingkar.
"Sudah saatnya kita bermain. Truth or Dare" ucap Kai. "Aturannya simpel: jujur atau lakukan tantangan gila. Jika menolak, kau harus menenggak satu gelas penuh campuran minuman rahasia buatan Mike."
Permainan dimulai. Botol berputar. Suarez mendapat giliran pertama dan memilih Dare. Kekasihnya tertawa jahat saat menyuruh Suarez melakukan push-up sebanyak 20 kali dengan dirinya duduk di atas punggung pria itu sebagai beban. Teman-temannya bersorak konyol, memberikan semangat yang lebih mirip ejekan.
Lalu, botol berputar lagi. Kali ini, ujung botol menunjuk tepat ke arah Ezzra Velasquez.
Suasana mendadak sunyi. Semua orang tahu bahwa Ezzra adalah target paling menarik malam ini. Pria itu menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada dengan ekspresi menantang.
"Jujur atau tantangan, Ez?" tanya Kai provokatif.
"Jujur. Aku terlalu malas untuk bergerak," jawab Ezzra santai.
Kai memajukan tubuhnya. "Baiklah. Ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu seluruh kampus. Dengan reputasimu yang gila, sering pesta, dan gonta-ganti wanita... aku ingin tahu satu hal." Kai berhenti sejenak, melirik ke teman-teman nya lalu kembali ke Ezzra. "Apa kau masih perjaka, Brengsek?"
Pertanyaan itu membuat Suarez terbahak. Jeff ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Pertanyaan macam apa itu, Kai? Tentu saja dia sudah tidak—"
"Aku sudah tidak perjaka," potong Ezzra tenang.
Hening seketika. Elowen merasa dunianya seolah berhenti berputar. Ia mencengkeram lengan baju Jeff begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Apa?!" Jeff dan Kai berteriak bersamaan, bukan karena marah, melainkan terkejut.
"Siapa kekasihmu yang berhasil 'merusakmu', Bajingan? Kenapa kau tidak pernah cerita? Sejak kapan?" tanya Jeff sembari melempar bantal ke arah Ezzra, menganggap ini hanyalah candaan luar biasa di antara sahabat.
Elowen menegang hebat. Ia menatap Ezzra dengan tatapan memohon agar pria itu tidak menghancurkan segalanya di sini.
"Kami memilih backstreet," jawab Ezzra tenang. Suaranya terdengar sangat jujur hingga tawa di ruangan itu mereda. "Dia cantik... sangat cantik. Tapi dia sedikit keras kepala dan suka berbohong pada dirinya sendiri."
"Wah, wah! Ezzra sedang jatuh cinta!" Kai menepuk-nepuk meja. "Apa kami mengenalnya?" tanya Suarez penasaran.
Ezzra menyesap sodanya perlahan. Matanya kini menatap lurus ke arah Elowen yang sedang berusaha keras agar tidak terlihat gemetar. "Mungkin. Mungkin kalian mengenalnya."
"Kau benar-benar brengsek!" Jeff tertawa lagi, sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang dimaksud Ezzra sedang duduk tepat di sampingnya. "Siapa pun gadis itu, aku kasihan padanya karena harus berurusan dengan setan sepertimu, Ez!"
"Jangan kasihan padanya, Jeff," sahut Ezzra dengan nada suara yang tiba-tiba memberat. "Kasihanilah dirimu sendiri karena kau tidak tahu apa yang kau lewatkan."
Elowen merasa seolah ruangan itu berputar. Keberanian Ezzra benar-benar gila. Ia menoleh ke arah jendela, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan dan rasa bersalah yang memuncak.
Malam itu, tawa mereka terdengar keras memenuhi apartemen. Namun bagi Elowen, setiap tawa Jeff adalah belati, dan setiap tatapan Ezzra adalah api yang siap menghanguskan hidupnya. Permainan Truth or Dare itu mungkin telah berakhir bagi yang lain, namun bagi Elowen, sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya baru saja dimulai.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...