NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH SASARAN.

"Diah... bisakah kita bicara sebentar saja? Aku mohon," tanya Ferdi dengan suara memelas, mencoba mendekat.

Ardiah melangkah mundur, "Maaf, Ferdi. Aku tidak mau ibu dan istrimu salah paham padaku. Jadi, mulai sekarang, sebaiknya berpura-puralah seolah kita tidak pernah saling mengenal lagi."balas Ardiah tegas lalu ia menarik lengan Haikal dan berjalan cepat menuju mobil mereka di area parkir.

Ferdi yang melihat kepergian Ardiah hendak mengejarnya, namun lengannya langsung ditahan oleh Nurul. "Ferdi! Mau ke mana kamu? Jangan permalukan Mama di depan umum!"

"Lepaskan aku, Mah! Aku mau mengejar Ardiah! Aku ingin kembali pada Ardiah!" bentak Ferdi, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman ibunya dengan wajah frustrasi.

Nurul membelalakkan matanya, mendengar ucapan anaknya. "Kau sudah gila, Ferdi? Kau sekarang sudah punya istri dan sekarang Siska sedang mengandung anakmu! Pikirkan itu!"

Mendengar kata 'anak', langkah Ferdi mendadak terhenti. Ia menatap tajam ke arah Siska yang berdiri ketakutan, lalu beralih menatap ibunya dengan urat-urat leher yang menegang karena amarah yang memuncak.

"Anakku, Mah? Anak yang mana?" tanya Ferdi dengan suara bergetar menahan luapan emosi. "Kapan aku menyentuh perempuan ini, hah? Bahkan selama ini aku tidak sudi untuk tidur sekamar dengannya!"

Siska yang mendengar itu langsung panik dan memotong dengan suara gemetar. "Kamu... kamu sudah lupa, Mas? Waktu acara makan-makan keluarga bulan lalu, kamu mabuk berat lalu Kamu menyangka aku adalah Mbak Ardiah, makanya malam itu..."

"Diam!" bentak Ferdi keras, memotong kalimat Siska hingga wanita itu tersentak mundur. "Aku bukan lelaki bejat yang suka mabuk sampai hilang kesadaran seperti itu! Karena aku masih tahu mana hal yang dilarang oleh Tuhanku!"

Napas Ferdi memburu, matanya memerah menatap ibunya dengan penuh kekecewaan. "Kebodohanku selama ini hanya satu, Mah. Yaitu aku tidak cukup kuat untuk melindungi istri yang sangat aku cintai dari segala kebusukan dan kelicikan keluargaku sendiri!" pungkas Ferdi. Ia langsung berbalik dan berlari kencang, mencoba mengejar mobil yang membawa Ardiah pergi. Namun sayang, mobil mewah berwarna hitam itu sudah menghilang di balik tikungan.

***

Sementara itu, di dalam mobil mewah milik Haikal terasa sangat mencekam. Ardiah duduk menyandar kaku, menatap. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan, saling meremas dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sedang sekuat tenaga menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.

Haikal yang duduk di sampingnya memperhatikannya dengan iba. Ia tahu betul istrinya sedang terluka. Tanpa banyak bicara, Haikal mengulurkan tangan kekarnya, meraih jemari Ardiah yang terasa dingin, lalu menggenggamnya dengan lembut.

"Menangislah, Diah," ucap Haikal dengan suara bariton yang begitu tenang dan rendah.

Haikal menggeser duduknya, lalu mengulurkan tangan bermaksud menarik tubuh Ardiah ke dalam dekapannya. Namun, pertahanan ego Ardiah membuatnya refleks mendorong dada Haikal. Ia menolak untuk terlihat lemah.

Melihat penolakan itu, Haikal tidak menyerah. Ia justru sedikit memaksakan kekuatannya, merengkuh bahu wanita itu agar mendekat. Tindakan posesif itu membuat Ardiah kesal dan mulai memukul dada bidang Haikal dengan kepalan tangannya yang lemah.

"Lepaskan, Haikal! Aku tidak apa-apa!" seru Ardiah setengah terisak.

"Aku suamimu, Diah," potong Haikal dengan nada tegas namun penuh kelembutan. Ia menangkap kedua tangan Ardiah dan mengurungnya dalam dekapan hangat. "Menangislah sekuatnya, kau tidak perlu merasa malu atau gengsi di depanku. Kita sudah menjadi suami istri."

Ardiah terdiam, dadanya semakin naik turun menahan sesak.

"Ayo tumpahkan semuanya, lepaskan semua beban yang menghimpit dadamu selama ini," bisik Haikal lagi, mengusap punggung Ardiah dengan ritme teratur. "Tapi setelah ini, berjanjilah padaku untuk jangan pernah menangis lagi demi laki-laki itu."

Kata-kata Haikal meruntuhkan dinding pertahanan Ardiah. Air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya tumpah ruah, membasahi jas hitam Haikal di bagian dada. Ardiah menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit, penghinaan, dan sesak yang bertahun-tahun ia pendam sendiri. Selama ini, sejak badai perceraian itu, ia selalu memaksa dirinya tampil sebagai wanita tangguh tanpa cela karena merasa sebatang kara. Namun di pelukan pria yang awalnya ia anggap kekanak-kanakan dan terlalu muda ini, ia akhirnya menemukan tempat aman untuk rapuh.

Waktu berlalu, hingga suara tangisan histeris Ardiah perlahan berubah menjadi isakan-isakan kecil yang mulai mereda. Haikal senantiasa setia memeluknya, membiarkan dadanya menjadi tameng pelindung sang istri.

"Apakah sekarang sudah puas nangisnya, hmm?" tanya Haikal lembut sembari mengusap pelan puncak kepala Ardiah yang tertutup kain hijab.

Ardiah tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.

"Syukurlah kalau sudah lega," ujar Haikal, tersenyum tipis. "Sekarang, ingat janji tadi. Jangan pernah menangisi pria itu dan keluarganya lagi. Mereka sama sekali tidak pantas menerima air mata dari wanita berharga sepertimu."

Ardiah kembali mengangguk kecil. Ia perlahan menarik tubuhnya, menjauh dari dada Haikal dengan wajah yang memerah. Dengan canggung, ia membenarkan posisi hijabnya yang sedikit berantakan, lalu mengambil selembar tisu untuk menghapus sisa air mata di pipinya.

"Terima kasih, Haikal," ucap Ardiah dengan suara lirih yang masih sengau.

Haikal memasang senyum jenaka andalannya. "Sama-sama, Kak. Tapi ingat ya janji kita tadi. Awas saja kalau nanti ketemu mereka lagi dan Kakak menangis, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan hancurkan usaha keluarga mereka yang tak seberapa itu sampai rata."

Ardiah langsung menoleh, memberikan tatapan mata yang tajam dan mengancam. "Jangan aneh-aneh, Haikal. Jangan usik mereka. Aku tidak mau hal menjadi tuntutan di akhirat nanti."

Haikal mengernyitkan dahi, tampak tidak puas. "Lho, mereka kan sudah bertindak zolim dan jahat sekali sama Kakak. Kenapa tidak boleh membalasnya?"

"Bukan tugas kita untuk membalas perbuatan buruk orang lain," jawab Ardiah dengan nada lembut dan tenang. "Biar Allah saja yang membalas semuanya dengan cara-Nya. Kita cukup doakan saja yang terbaik untuk mereka."

Mendengar itu, Haikal langsung memasang ekspresi wajah masam seolah baru saja menelan obat pahit. "Idih! Orang jahat seperti itu kok malah didoakan? Ogah amat! Apalagi ibunya itu, kelakuannya mirip Mak Lampir begitu. Nggak sudi aku mendoakan orang seperti itu, Kak."

Ardiah tidak bisa menahan senyum tipis melihat tingkah suaminya. "Mendoakan sesama muslim itu kan perbuatan baik, Haikal. Lagipula, kalau kita tulus mendoakan kebaikan untuk orang lain, maka para malaikat juga akan berbalik mendoakan hal yang sama untuk diri kita."

Haikal membelalakkan matanya, lalu membungkuk sedikit memberi hormat "Oh, baiklah, Bu Ustadzah. Terima kasih banyak atas kuliah subuh tiruan dan ilmunya siang ini. Tapi ngomong-ngomong, urusan perut tidak bisa ditunda. Kita mau makan di mana nih sekarang?"

Ardiah terdiam sejenak, lalu melirik kaca spion untuk melihat matanya sendiri. "Boleh tidak kita pulang saja? Aku merasa risih dengan kondisi mata yang sembab seperti ini."

Mendengar perkataan Ardiah yang mulai santai dan terbuka padanya, hati Haikal bersorak gembira. "Baiklah, sesuai dengan perintah Nyonya Akram saja kalau begitu."

Haikal pun memberikan instruksi pada asisten pribadinya. "Ron, putar balik. Kita pulang saja ke mansion."

"Siap, Pak Bos," sahut Roni sigap dari balik kemudi.

Sesampainya di halaman luas mansion keluarga Akram. Astuti yang sedang berada di taman depan,tampak heran melihat mobil anaknya kembali padahal jam kantor belum usai, Astuti langsung melangkah mendekat.

Tak lama pintu mobil terbuka, Ardiah turun dengan langkah gontai serta kondisi mata yang sembab dan hidung memerah, Astuti langsung terkejut bukan main. Wajah ramahnya seketika berubah menjadi kepanikan.

"Ya ampun, Diah! Menantu Mama kenapa? Kok matanya sampai sembab begini?" tanya Astuti panik, langsung memeluk pundak Ardiah dengan protektif.

Detik berikutnya, pandangan mata Astuti beralih tajam ke arah Haikal yang baru saja keluar dari sisi pintu sebelah. Tatapan sang ibu berubah menjadi sangat galak. Tanpa memberi aba-aba, Astuti melangkah cepat dan langsung menjewer telinga kanan Haikal dengan keras.

"Aduh! Aduh, Mah! Sakit, Mah! Lepas!" teriak Haikal histeris, tubuhnya sampai berjinjit miring menahan perih di telinganya.

"Ini pasti kelakuan kamukan? Jujur sama Mama! Kamu apakan anak perempuan Mama sampai dia menangis begini, hah? Dasar anak nakal!" omel Astuti beruntun tanpa mengendurkan jewerannya sedikit pun.

Haikal meringis kesakitan sambil memegangi tangan ibunya. "Bukan Ikal, Mah! Sumpah, demi apa pun bukan Ikal pelakunya! Tanya saja langsung sama menantu kesayangan Mama itu, kenapa malah Ikal yang dijewer sih? Ikal kan tidak bersalah!" Bela Haikal dengan wajah memelas yang mengundang tawa.

Ardiah yang melihat suaminya diperlakukan seperti itu seketika merasa bersalah sekaligus terhibur. Rasa sedih yang menggelayuti hatinya mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat melihat interaksi kocak ibu dan anak di depannya.

Ardiah buru-buru memegang tangan Astuti, mencoba melerai. "Mah. Ini benar-benar bukan karena Haikal. Haikal tidak membuat Diah menangis kok, Mah. Tolong lepaskan kasihan Haikal," bela Ardiah dengan tulus, membenarkan ucapan suaminya.

Astuti menatap Ardiah sejenak untuk memastikan menantunya tidak sedang berbohong membela suaminya. Setelah yakin, barulah ia melepaskan jewerannya dari telinga Haikal yang kini sudah berubah warna menjadi merah padam.

1
Pujiastuti
semangat Haikal semoga kamu bisa meluluhkan hati Ardiah dan kalian cepat bersama lagi
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!