*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Dari Masa Lalu
Hari ke-35 tanpa kontrak.
Pagi itu Evelyn bangun dengan perasaan aneh. Ringan, tapi ada ganjelan kecil di dada.
Sejak tanda tangan revisi kemarin, hidup rasanya beda. Nggak ada lagi batas waktu 90 hari yang bikin napasnya sesak.
Tapi justru karena nggak ada batas itu, jadi takut. Takut kalau semua ini cuma jeda sebelum Matthias berubah lagi.
Dia turun ke bawah jam 7.
Matthias udah di meja makan, baca laporan. Kopi panas di sampingnya.
Begitu lihat Evelyn, dia geser kursi sebelahnya.
“Duduk. Sarapan.”
Evelyn duduk. Nggak ada canggung. Udah kayak rutinitas.
Nyonya Alina keluar dari dapur bawa roti panggang.
“Na, ada surat buat kamu,” katanya sambil kasih amplop cokelat.
“Surat? Dari siapa?”
“Pengantarnya bilang dari luar negeri. Nggak ada nama pengirim.”
Evelyn ngernyit.
Dia buka amplop itu pelan-pelan.
Di dalamnya ada satu lembar kertas, tulisannya familiar banget.
Tangannya berhenti.
Mata langsung panas.
_“Ev, kalau kamu baca ini berarti aku udah nggak di Jakarta lagi. Maaf ya gue ninggalin kamu gitu aja waktu itu. Gue tahu gue brengsek. Tapi gue nggak mau jadi beban. Kalau kamu udah bahagia sama orang baru, gue ikhlas. Jaga diri ya. — Raka”_
Evelyn nggak langsung ngomong.
Dia lipat surat itu pelan-pelan, masukin lagi ke amplop.
Matthias ngeliat semua.
Dia nggak nanya. Cuma bilang pelan, “Kamu mau cerita?”
Evelyn menggeleng.
“Nggak sekarang.”
Sarapan selesai dalam diam.
Nyonya Alina ngerasa ada yang aneh, tapi nggak berani nanya.
---
Jam 10 pagi, Evelyn ada di balkon lantai 40.
Angin kencang. Jakarta di bawah kelihatan kecil.
Dia pegang amplop itu lagi, bacanya ulang.
Raka.
Mantan pacar yang tiba-tiba hilang 3 tahun lalu tanpa kabar.
Dia kira Raka udah move on, nikah, hidup tenang di Singapura.
Ternyata nggak.
Pintu balkon terbuka.
Matthias keluar bawa dua cangkir cokelat panas.
Dia kasih satu ke Evelyn, duduk di sampingnya.
“Dia kirim surat kenapa sekarang?” tanya Matthias pelan.
Evelyn nghela napas.
“Gue nggak tahu. Mungkin dia dengar berita pernikahan gue. Mungkin dia mau nutup buku.”
“Terus kamu?”
Evelyn menoleh.
“Gue udah nutup buku itu, Matthias. Tiga tahun lalu.”
Matthias diem.
Tapi matanya nggak lepas dari muka Evelyn.
“Aku nggak cemburu sama masa lalu kamu. Aku cuma takut kamu masih nyimpen ruang buat dia.”
Evelyn ketawa kecil.
“Kalau gue masih nyimpen ruang buat dia, gue nggak bakal tanda tangan surat itu kemarin.”
Matthias mengangguk.
Dia nggak nanya lagi.
Cuma genggam tangan Evelyn pelan.
“Kalau dia datang,” kata Matthias, “aku nggak akan halangin kamu ketemu. Tapi aku minta satu hal.”
“Apa?”
“Pulang ke aku.”
Kata itu jatuh sederhana. Tapi berat.
Evelyn menatapnya lama.
“Gue pulang ke rumah, Matthias. Bukan ke kamu. Karena rumah gue sekarang ada di sini.”
Matthias nggak jawab.
Dia cuma tarik Evelyn pelan, sandarin kepala Evelyn ke bahunya.
---
Siangnya, Raka beneran datang.
Dia dateng ke kantor Virel Group tanpa janji.
Security bingung, tapi nggak berani ngusir.
Evelyn dipanggil ke ruang tamu VIP.
Begitu pintu terbuka, dia lihat Raka berdiri di sana.
Lebih kurus. Rambut lebih pendek. Tapi senyumnya masih sama.
“Ev.”
“Raka.”
Mereka diem 5 detik.
Nggak ada pelukan. Nggak ada air mata.
Cuma ada rasa canggung yang nggak bisa dihapus waktu.
“Kok bisa lo tahu alamat kantor gue?” tanya Evelyn pelan.
“Gue tanya ke Om Dimas,” jawab Raka santai.
“Dia masih suka kepo.”
Evelyn ketawa kecil.
“Lo baik-baik aja?”
“Baik. Udah pindah ke Singapura. Kerja di fintech. Lo… kelihatan bahagia.”
Evelyn mengangguk.
“Iya. Gue bahagia.”
Raka menatapnya lama.
“Gue dengar suami lo itu Matthias Virel. Dingin katanya. Tapi kalau dia bisa bikin lo kayak gini, berarti dia nggak seburuk gosip.”
Evelyn senyum.
“Dia nggak dingin. Dia cuma takut nunjukin dia peduli.”
Raka mengangguk pelan.
“Bagus. Jaga dia ya. Orang kayak gitu jarang.”
Mereka ngobrol 10 menit. Nggak ada yang mendalam.
Cuma basa-basi, tanya kabar, ketawa kecil soal masa kuliah.
Sebelum pergi, Raka nyodorin tangan.
“Senang ketemu lagi, Ev. Kali ini beneran terakhir.”
Evelyn jabat tangan itu.
“Jaga diri, Ka.”
Raka pergi.
Evelyn berdiri di sana, napas lega.
Pintu ruang tamu terbuka lagi.
Matthias masuk.
Dia nggak nanya apa-apa. Cuma berdiri di samping Evelyn.
“Kamu udah ngomong?”
“Udah. Selesai.”
Matthias mengangguk.
“Bagus. Sekarang pulang.”
---
Malamnya, mereka makan malam cuma berdua.
Nggak ada Nyonya Alina. Nggak ada Om Dimas.
Cuma mereka, lilin kecil, dan steak yang setengah gosong karena Matthias yang masak.
Evelyn ketawa lihat steak itu.
“Lo serius ini dimakan?”
“Aku ikut kursus cooking online seminggu lalu,” jawab Matthias serius.
Evelyn ketawa lebih keras.
“Gue nggak tahu lo bisa konyol kayak gini.”
Matthias nggak balas.
Dia cuma potong steak itu, suapin ke Evelyn.
Evelyn makan.
Rasanya… enak. Bukan karena rasanya. Tapi karena yang nyuapin.
“Matthias,” panggil Evelyn pelan.
“Hmm?”
“Makasih udah nggak nanya-nanya waktu gue ketemu Raka.”
“Aku percaya kamu.”
Evelyn diem.
Kepercayaan.
Itu yang paling susah dia dapetin dari orang.
Dia tarik tangan Matthias, genggam erat.
“Gue juga percaya lo.”
Malam itu nggak ada ciuman. Nggak ada drama.
Cuma ada dua orang yang akhirnya ngerti…
Masa lalu boleh datang.
Tapi rumah mereka ada di sini. Sekarang.
---
Bersambung