NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: REAKSI BUNDA YANG DI LUAR PREDIKSI

Malam semakin larut ketika derit pagar besi rumah keluarga Pak Dadang terdengar memecah keheningan gang. Aldi berjalan paling belakang, mengekor di setelah langkah ibunya, Bu Baren, sementara Pak Dadang sudah melenggang masuk duluan ke dalam rumah untuk mematikan lampu teras depan.

Aldi bersiul kecil sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya. Pikirannya masih melayang-layang, membayangkan kelembutan telapak tangan Jasmine saat mereka bersalaman sebagai simbolis peresmian Ketua Karang Taruna tadi. Senyum konyol masih terpatri jelas di sudut bibirnya.

Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, suasana rumah sudah sepi. Di atas sofa ruang tamu, tampak Mikha, adik perempuan Aldi yang baru duduk di bangku SMA, sedang selonjoran sambil asyik memelototi layar ponselnya yang menampilkan video joget-joget di aplikasi TikTok. Rambutnya yang dikuncir dua tampak bergoyang mengikuti irama musik yang sengaja dikecilkan volumenya.

"Baru pulang lu, Kak? Lama amat rapatnya. Pilih ketua karang taruna atau pilkada sih?" cibir Mikha tanpa mengalihkan pandangan dari HP-nya.

"Berisik lu, Bocil. Tugas sekolah udah kelar belum? Main HP mulu," balas Aldi sambil melemparkan bantal sofa kecil tepat ke arah muka adiknya, yang langsung disambut pekikan kesal dari Mikha.

"Mas Aldi, ke dapur sebentar. Tolong bantu Bunda bawa galon air," panggil Bu Baren dari arah dapur belakang.

Sebagai anak pertama yang menyandang status abang di rumah itu, Aldi tentu tidak bisa menolak. Ia melangkah santai menuju dapur yang hanya dibatasi oleh sekat lemari pajangan kayu. Di sana, Bu Baren sedang berdiri di dekat meja makan, mencuci beberapa gelas kaca bekas tadi sore. Namun, anehnya, di dekat dispenser sama sekali tidak ada galon kosong yang perlu diganti. Galon yang terpasang masih penuh berisi air.

Aldi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lho, Bun? Galonnya kan masih penuh. Mana yang mau diganti?"

Bu Baren mematikan kran air, mengelap kedua tangannya pada kain serbet yang tergantung di dinding, lalu membalikkan badan menghadap anak bujangnya. Tatapan matanya mendadak berubah serius, tipe tatapan menyelidik yang biasanya membuat Aldi langsung keringat dingin karena mengira dompetnya ketahuan kosong atau motornya belum dicuci.

Bu Baren melangkah mendekat, lalu dengan suara yang sengaja dipelankan agar tidak terdengar sampai ke ruang tengah tempat Mikha berada, wanita itu langsung menembakkan pertanyaan maut.

"Mas... kamu suka ya sama Bu Jasmine?"

Deg!

Jantung Aldi rasanya seperti melompat copot dari tempatnya lalu merosot turun sampai ke dengkul. Kunci motor yang sejak tadi diputar-putarnya di jari langsung terlepas dan jatuh berdenting di atas lantai keramik dapur. Aldi melotot sempurna. Ia bener-bener tidak menyangka kalau ibunya bakal langsung menanyakan hal sefrontal itu sesampainya mereka di rumah. Pikiran Aldi langsung melayang ke bayangan adegan labrak-labrakan di sinetron, atau skenario terburuk di mana namanya bakal dicoret dari Kartu Keluarga malam ini juga karena naksir janda.

Dengan gerakan kikuk, Aldi membungkuk untuk memungut kuncinya, mencoba mengulur waktu demi menyusun kebohongan pertahanan tingkat dewa di kepalanya.

"E-eh... Enggak kok, Bun! Suka apaan sih? Bun, itu tadi di rapat cuma buat seru-seruan aja, biar suasananya gak kaku. Kan anak-anak Karang Taruna emang suka bercanda begitu," jawab Aldi secepat kilat dengan nada suara yang sengaja dibuat setenang mungkin, meskipun dalam hati dia sudah megap-megap menahan salting.

Bu Baren tidak langsung merespons. Ia memperhatikan gerak-gerik anak sulungnya itu dari atas sampai bawah. Mulai dari rambut Aldi yang mendadak klimis pakai pomade sebotol, baju kemeja kotak-kotak pilihan terbaik yang jarang dipakai, sampai bau parfum yang menyengat wangi bidadari. Sebagai ibu yang melahirkan Aldi, Bu Baren tentu tidak bisa dibohongi dengan mudah. Insting ibunya tahu ada yang tidak beres dengan detak jantung anaknya sekarang.

Namun, di luar dugaan Aldi, ketegangan di wajah Bu Baren perlahan memudar. Wanita paruh baya itu justru mengangguk-angguk pelan, lalu menarik kursi makan dan duduk santai di sana.

"Kalau suka juga gak apa-apa, Mas. Lagian Bu Jasmine juga kelihatan orangnya baik, sopan, dan pinter," ujar Bu Baren dengan nada santai, seolah-olah sedang membicarakan cuaca esok hari. "Walaupun... ya umur kalian emang terpaut agak jauh ya, sekitar enam tahunan tuaan Bu Jasmine. Tapi zaman sekarang kan hal kayak gitu udah biasa."

Mendengar kalimat yang meluncur mulus dari bibir ibunya, mulut Aldi langsung menganga lebar. Otaknya mendadak stuck dan mengalami buffering parah. Ini bener-bener di luar prediksi semua teori konspirasi yang dia susun di kepala sejak di jalan tadi. Bukankah ibunya tadi sempat pasang muka masam pas di rumah Jasmine? Bukankah ibunya tadi sempat ditarik-tarik sama geng gosip Bu Ratna dan Bu Widuri? Kenapa sekarang reaksinya malah sewisata masa lalu begini?

"Lah? Kok... kok kaget aku, Bun!" celetuk Aldi spontan dengan logat kocaknya, sukses memecah keheningan dapur. "Bunda kesambet apa pas jalan pulang tadi? Kok tiba-tiba restunya langsung turun setinggi langit begini? Cielah, bercanda, Bun, bercandaaa! Jangan ditarik lagi omongannya!" lanjut Aldi buru-buru sambil memamerkan cengiran kudanya, takut ibunya mendadak berubah pikiran lalu melemparkan serbet ke mukanya.

Bu Baren langsung mendengus geli, meraih sebuah toples berisi kerupuk di meja lalu memukulkannya pelan ke lengan Aldi. "Kamu ini ya, diajak ngomong serius malah becanda! Bunda ini ngomong beneran, Mas. Tadi pas jalan pulang, Bunda itu sempet ditarik-tarik sama si Ratna sama si Widuri di bawah tiang listrik."

Mendengar nama dua dedengkot gosip itu disebut, radar kewaspadaan Aldi langsung aktif kembali. "Hah? Duo lambe turah itu ngomongin apa tentang Bu Jasmine ke Bunda? Pasti yang aneh-aneh kan?" tanya Aldi, nadanya mendadak berubah protektif.

"Ya begitulah, namanya juga mulut kompor komplek," jawab Bu Baren sambil mengembuskan napas panjang. "Mereka berdua itu ngejelek-jelekin si Jasmine. Katanya pakaiannya ketat lah, pamer sama bapak-bapak lah, sampai bawa-bawa masalah masa lalunya si Jasmine yang katanya dulu nikah muda karena hamil duluan. Bunda sempet kepancing tuh tadi, emosi juga dengernya."

Tangan Aldi mendadak mengepal di dalam saku celananya. Ada rasa tidak terima yang bergejolak di dadanya mendengar wanita idamannya dihina sedemikian rupa. "Terus? Bunda percaya sama omongan mereka?"

"Ya awalnya hampir percaya. Tapi untung tadi ada Mbak Catur lewat," lanjut Bu Baren, membuat Aldi sedikit bernapas lega. "Si Catur langsung nyemprot mereka berdua. Kata Catur, si Jasmine itu gak pernah mengiyakan gosip murahan kayak gitu. Jasmine itu perempuan berpendidikan tinggi, lulusan sarjana akuntansi, makanya kerjanya bener dan transparan selama jadi RT. Malah si Catur ngebalikkin, katanya yang gatal itu bukan Jasmine, tapi si Irene kembang desa sebelah yang tiap sore hobi nangkring nungguin suami orang lewat. Nah, dari situ Bunda mikir, bener juga kata si Catur. Kita ini warga komplek emang kadang terlalu sensitif dan gampang sirik sama kelebihan orang lain."

Aldi mendengarkan setiap rentetan cerita ibunya dengan saksama. Di dalam hati, dia berjanji bakal membelikan Mbak Catur gorengan satu gerobak penuh sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjadi pahlawan penyelamat nama baik Jasmine malam ini.

Bu Baren menatap anak bujangnya lagi, kali ini tatapannya penuh kelembutan seorang ibu. "Makanya Bunda bilang, kalau kamu emang beneran suka sama dia, Bunda gak akan ngelarang atau dengerin omongan si Ratna. Tapi ya kamu harus sadar diri juga, Mas. Jasmine itu single mom, dia punya Nadeo yang harus diurus. Tanggung jawabnya besar. Kamu sendiri masih kuliah, uang jajan masih minta sama Bapakmu, motor aja bensinnya kadang Bunda yang isiin. Masa mau gaya-gayaan jagain anak orang?"

Sindirian halus tapi menohok dari Bu Baren sukses membuat Aldi langsung garuk-garuk kepala yang tidak gatal untuk kedua kalinya. Rasa salting dan malunya kembali membumbung tinggi.

"Aduh, Bunda... bahasanya kejauhan banget sampai ke arah sana. Aldi kan baru jadi Ketua Karang Taruna, fokusnya mau mengabdi dulu buat lingkungan RT 04," kilat Aldi, mencoba mencari alasan aman, walau matanya tidak bisa berbohong kalau dia sedang berbunga-bunga.

"Halah, mengabdi buat lingkungan atau mengabdi buat Bu RT?" tiba-tiba sebuah suara cempreng menyambar dari arah balik lemari pajangan.

Aldi dan Bu Baren serempak menoleh. Ternyata Mikha sudah berdiri di sana sambil memegang gelas kosong, memasang wajah mengejek yang bener-bener minta ditabok. Rupanya anak SMA itu sejak tadi sudah menguping pembicaraan rahasia di dapur dengan tingkat kefokusan melebihi agen FBI.

"Heh, Mikha! Nguping aja lu ya, dasar kuping panci!" omel Aldi, wajahnya merah padam karena rahasia terbesarnya sekarang resmi diketahui oleh musuh bebuyutannya di rumah itu.

"Wah, parah sih! Kak Aldi naksir Bu RT Jasmine yang seksi itu? Hahaha! Gila, berani banget lu, Kak! Saingan lu bapak-bapak sekampung tahu gak!" ledek Mikha sambil tertawa terpingkal-pingkal sampai air di gelasnya hampir tumpah. "Bunda, jangan kasih restu, Bun! Nanti kalau mereka nikah, aku manggil Bu Jasmine apa? Kakak ipar atau Bu RT? Kan aneh banget!"

"Mikha, diem gak lu! Gue gebog lu ya!" ancam Aldi sambil melotot, bersiap mengejar adiknya.

"Bunda!! Kak Aldi mau KDRT nih, belum nikah udah bakat!" teriak Mikha sambil berlari tunggang-langgang kembali ke ruang tengah, menghindari amukan abangnya yang sedang dilanda badai salah tingkah tingkat akut.

Bu Baren hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya yang selalu ribut setiap hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada segaris senyum yang terukir. Malam ini, obrolan dapur itu setidaknya telah membuka sebuah babak baru di rumah mereka. Dan bagi Aldi, lampu hijau tipis yang diberikan ibunya malam ini adalah modal berharga yang membuatnya tidak sabar untuk segera menyusun rencana kerja bakti pertama besok. Perjuangan sang berondong ketua karang taruna tampaknya baru saja dimulai dengan penuh semangat.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!