Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: REKAHAN DI BALIK DINDING KACA
Mobil limusin hitam itu melaju membelah kabut pegunungan dengan kecepatan stabil. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana yang tadinya tegang dan konyol perlahan berubah menjadi keheningan yang canggung. Rhea sudah tidak lagi berpura-pura pingsan; ia duduk bersandar di kursi kulit, sesekali mengusap kulit kepalanya yang masih terasa perih akibat aksi "penyelamatan" ekstrem Yusuf dan Mbok Yem.
Ian duduk di sampingnya, masih dengan rahang yang mengeras. Ia melepaskan dasinya dengan satu tangan, sebuah gestur yang menunjukkan betapa terkurasnya emosinya hari ini.
"Lain kali," suara Ian memecah kesunyian, rendah dan penuh penekanan, "jangan pernah berpikir untuk menjadi pahlawan dengan mendatangi kediaman utama sendirian. Kamu bukan tandingan Cansu, Rhea. Dia tidak bermain dengan logika, dia bermain dengan luka."
Rhea menoleh, menatap profil samping wajah Ian yang tampak seperti pahatan marmer di bawah lampu jalan yang temaram. "Aku hanya ingin jawaban, Ian. Aku lelah menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa di tengah permainan kalian. Kamu bilang aku tunanganmu, tapi kamu memperlakukanku seperti barang berharga yang harus dikunci di brankas."
Ian terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang tadi menggendong Rhea dengan rasa protektif yang melampaui logika kontrak mereka. "Brankas adalah tempat paling aman untuk berlian, Rhea. Karena jika berlian itu retak, ia tidak akan pernah bisa kembali utuh."
Sesampainya di mansion, dokter pribadi Ian sudah menunggu sesuai instruksi "darurat" tadi. Meskipun Rhea bersikeras bahwa ia baik-baik saja, Ian memaksanya untuk menjalani pemeriksaan singkat. Hal itu dilakukan hanya untuk memastikan sandiwara mereka tetap terlihat nyata di mata mata-mata Cansu yang mungkin membuntuti.
Setelah dokter pergi, Ian mengajak Rhea ke balkon lantai dua yang menghadap langsung ke lembah. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan helai rambut Rhea yang berantakan.
"Ada sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang kejadian di air mancur tadi," ucap Ian tiba-tiba. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon. "Cansu tidak memanggilmu ke sana hanya untuk mengintimidasi. Dia ingin melihat apakah aku masih memiliki kelemahan yang bisa dia manfaatkan untuk menekan ayahku."
"Maksudmu?"
"Dia ingin tahu apakah aku mencintaimu," lanjut Ian, suaranya nyaris berbisik. "Jika dia yakin aku mencintaimu, dia akan menggunakanmu sebagai alat tawar menawar dengan Pradikta. Tapi dengan aksi konyol Yusuf tadi, kita memberikan kesan bahwa hubungan kita adalah hubungan yang... tidak stabil. Itu melindungimu, meski harus dengan cara menjambak rambutmu."
Rhea tertawa kecil, sebuah tawa getir. "Jadi, di dunia kalian, bahkan rasa peduli harus disembunyikan di balik komedi tragis?"
Ian menoleh ke arah Rhea. Untuk pertama kalinya, ia tidak menatapnya sebagai seorang CEO atau putra presiden. Matanya menunjukkan sedikit kerapuhan. "Di istana itu, Rhea, setiap emosi yang terlihat adalah senjata yang bisa digunakan musuh untuk membunuhmu."
Sementara itu, di kediaman utama, keheningan malam terasa begitu mencekam. Cansu duduk di depan meja riasnya yang megah. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra berwarna hitam, namun riasan matanya masih sedikit berantakan.
Nyonya Maya mengetuk pintu perlahan. "Nyonya, Tuan Perdana Menteri ingin bicara melalui sambungan telepon pribadi."
"Katakan padanya aku sudah tidur," jawab Cansu dingin.
"Tapi Nyonya, beliau bilang ini soal ibunda Anda di Milan."
Cansu memejamkan mata erat-erat. Genggamannya pada botol parfum kristal mengencang hingga buku jarinya memutih. "Sambungkan."
Percakapan di telepon itu singkat namun mematikan. Pradikta mempertanyakan kegagalan Cansu untuk menahan Rhea lebih lama di kediaman utama. Ia juga mengingatkan Cansu bahwa posisinya sebagai Ibu Negara hanyalah sebuah fungsionalitas politik yang bisa diganti kapan saja.
Setelah menutup telepon, Cansu melemparkan ponselnya ke arah cermin hingga kaca itu retak seribu. Ia terengah-engah, dadanya sesak oleh amarah dan kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Ia membenci kenyataan bahwa ia terperangkap dalam sangkar emas ini, sementara Ian bebas untuk "bermain rumah-rumahan" dengan gadis kedokteran itu.
"Kamu pikir kamu bisa membohongiku dengan sandiwara pingsan itu, Adrian?" gumam Cansu pada bayangannya yang retak di cermin. "Aku tahu kedipan matamu itu. Aku tahu cara kamu menatapnya saat dia tidak melihat."
Cansu berdiri dan berjalan menuju lemari rahasianya. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil berisi foto lama—foto dirinya dan Ian saat mereka masih mahasiswa di Italia. Di foto itu, Ian tersenyum lebar, sesuatu yang tidak pernah ia lihat lagi sejak kepulangannya ke Indonesia.
"Jika aku tidak bisa bahagia, maka tidak boleh ada satu pun orang di keluarga Diningrat yang boleh merasakan kebahagiaan itu," bisik Cansu. Air matanya akhirnya jatuh, menghapus sisa eyeliner hitam di pipinya.
Kembali ke mansion pegunungan, Ian melihat Rhea yang mulai menggigil kedinginan di balkon. Tanpa sepatah kata pun, ia melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Rhea. Aroma kayu cendana dan mint dari jas Ian seketika menyelimuti Rhea, memberikan rasa hangat yang asing.
"Masuklah. Besok adalah hari yang panjang. Kamu harus kembali ke kampus bersama Vier," ucap Ian.
Rhea memegang ujung jas Ian, menahan pria itu agar tidak pergi. "Ian... kenapa kamu tidak pernah mencoba bicara jujur pada ayahmu? Tentang kelicikan Cansu dan perdana mentri?"
Ian tersenyum pahit. "Ayahku adalah seorang idealis yang buta. Baginya, stabilitas negara adalah segalanya. Jika aku memberitahunya bahwa istrinya adalah mantan kekasihku yang menikahinya demi kekuasaan, istana ini tidak akan hanya retak, Rhea. Ia akan meledak."
Ian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia mengangkat dagu Rhea, menatap mata gadis itu dengan intensitas yang membuat napas Rhea tertahan.
"Aku menjanjikanmu kebebasan dalam lima tahun, Rhea. Tapi semakin lama kamu berada di sini, aku mulai takut... bahwa aku tidak akan pernah benar-benar membiarkanmu pergi."
Kalimat itu menggantung di udara, lebih berat daripada udara pegunungan yang dingin. Rhea tertegun, jantungnya berdegup kencang. Sebelum ia sempat membalas, Ian sudah melepaskan tangannya dan berbalik pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Rhea yang terpaku di bawah sinar rembulan.
Di sudut gelap koridor, Yusuf memperhatikan tuannya dengan helaan napas panjang. Ia tahu Ian mulai jatuh ke dalam lubang yang ia gali sendiri. Sebuah kontrak yang awalnya dibuat sebagai misi balas dendam, kini perlahan-lahan berubah menjadi jerat perasaan yang berbahaya.
"Tuan Muda," gumam Yusuf pelan sambil menatap punggung Ian yang menghilang di balik pintu. "Semoga Anda siap menghadapi badai yang akan dibawa oleh Ibu Negara besok pagi."
Malam itu ditutup dengan sebuah rencana baru yang sedang disusun Cansu di kamarnya yang dingin. Sebuah rencana yang tidak lagi melibatkan kata-kata, melainkan tindakan yang akan memaksa Ian untuk memilih: kekuasaan ayahnya, atau nyawa gadis yang mulai ia cintai itu.
Babak baru dari drama politik ini baru saja akan mencapai titik didihnya, di mana mawar yang indah tidak lagi hanya memiliki duri, melainkan juga racun yang mematikan.