NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Tiga minggu berlalu sejak peringatan halus itu. Perasaan geli di tengkuk Sari Dewi tidak pernah hilang, malah makin tajam, makin jelas, seperti aroma bau darah yang terbawa angin. Dia tahu mereka datang. Dia tahu jaring laba-labanya sudah diamati. Dan dia sengaja tidak memutus benang itu. Dia sengaja membiarkan mereka masuk, membiarkan mereka mendekat, karena baginya... membiarkan musuh masuk ke dalam kandang sendiri jauh lebih seru daripada memburu mereka di luar sana.

Pagi itu, gerbang besar Sekolah Menengah Atas Elite Bunga Bangsa terbuka lebar. Mobil-mobil mewah berjejer mengantar siswa-siswi yang berasal dari keluarga terkaya, paling berkuasa, dan paling berpengaruh di negara ini. Di sini, tidak ada anak jalanan. Di sini, semua orang adalah anak pengusaha, anak pejabat, anak duta besar, atau anak bangsawan.

Dan di antara puncak hierarki sosial sekolah ini, tak tergoyahkan, tak tertandingi, berdiri Sari Dewi Andalan.

Bagi seluruh warga sekolah, Sari adalah definisi sempurna dari kata malaikat. Cantik jelita, cerdas luar biasa, sopan santun, rendah hati, dermawan, dan selalu tersenyum manis pada semua orang. Dia selalu menduduki peringkat pertama akademik, kapten tim debat, ketua organisasi siswa, idola para guru, dan gadis paling diidamkan oleh semua anak laki-laki.

Tidak ada yang tahu—dan tidak ada yang akan percaya—bahwa gadis manis yang duduk di bangku paling depan, yang selalu mengangkat tangan dengan jawaban benar, yang selalu membantu teman yang kesulitan pelajaran... adalah orang yang memerintahkan pembunuhan, penyiksaan, dan penghancuran nyawa manusia setiap malam.

Sari duduk tenang di mejanya, jari-jarinya memutar pulpen dengan gerakan santai, matanya menatap keluar jendela, menunggu. Instingnya berteriak keras: Hari ini. Hari ini dia datang.

Bel berbunyi. Guru wali kelas masuk, diikuti oleh seorang gadis remaja yang berjalan di belakangnya.

Ruangan kelas yang biasanya riuh rendah langsung hening seketika.

Gadis itu berjalan masuk dengan langkah tenang, tegap, namun terlihat malu-malu dan sedikit canggung. Tingginya sama dengan Sari, rambut hitam lurus sebahu, wajah cantik alami, kulit putih bersih, mata cokelat lembut yang memancarkan ketulusan dan kecerdasan. Dia mengenakan seragam sekolah yang sama persis dengan yang lain, tapi cara dia memakainya terlihat lebih rapi, lebih disiplin, lebih... terlatih.

"Anak-anak," suara guru wali kelas terdengar di ruangan sunyi. "Perkenalkan, ini siswi baru kita. Namanya Kirana Adhisti. Dia pindah dari sekolah internasional di ibu kota. Ayahnya diplomat, jadi mereka sering pindah tugas. Mari kita sambut Kirana dengan baik ya."

Tepuk tangan riuh terdengar. Gadis-gadis berbisik, memuji kecantikan dan keanggunan Kirana. Anak laki-laki langsung melirik penuh minat.

Sari Dewi tidak bertepuk tangan. Dia tidak tersenyum. Dia hanya menatap lekat-lekat gadis baru itu, matanya menyipit sedikit, memindai setiap gerakan, setiap ekspresi, setiap detil kecil.

Dan di detik mata mereka bertemu, Sari tahu.

Ini dia.

Di balik tatapan polos, di balik senyum malu-malu, di balik rambut yang sedikit berantakan... Sari melihatnya. Dia melihat kilatan dingin, tajam, dan waspada. Dia melihat postur tubuh yang siap siaga, cara berdiri yang seimbang, cara pandang yang melihat segalanya sekaligus.

Dia bukan gadis diplomat biasa. Dia tentara. Dia polisi. Dia mata-mata.

Dan nama panggilan kode di berkas intelijen yang Sari retas semalam—'Burung Hantu'—pasti merujuk pada gadis ini.

Kirana tersenyum sopan, membungkuk sedikit pada teman-teman barunya, lalu matanya beralih tepat ke arah Sari. Dia berjalan mendekat, menuju kursi kosong tepat di sebelah kiri Sari—kursi yang sengaja dikosongkan minggu lalu atas 'kebetulan' administrasi.

Kirana meletakkan tasnya pelan, lalu menoleh ke Sari, senyumnya manis, tulus, dan ramah.

"Hai," sapa Kirana pelan, suaranya lembut dan merdu. "Namaku Kirana. Senang sekali bisa duduk di sebelahmu. Guru bilang kamu murid paling pintar di kelas. Semoga kamu mau bantu aku ya, kalau aku kesulitan pelajaran di sini."

Sari Dewi tersenyum. Senyum paling indah, paling polos, dan paling mematikan yang dia punya. Dia mengulurkan tangan kanannya, jari-jarinya halus dan dingin.

"Hai Kirana~ Aku Sari. Sari Dewi. Tentu saja aku mau bantu. Jangan sungkan ya. Di sini kita semua teman. Aku senang sekali ada teman baru. Rasanya sekolah jadi lebih seru sekarang."

Tangan mereka bersentuhan. Jabat tangan singkat, sopan.

Tapi di bawah meja, di balik senyum itu, dua pasang mata itu saling mengunci, saling menilai, saling menembus topeng satu sama lain.

Kirana: Dia lebih muda dari fotonya. Lebih cantik. Lebih lembut. Tapi ada sesuatu di matanya... sesuatu yang tua. Dingin. Dan sangat berbahaya. David benar. Ini bukan anak kecil biasa. Ini predator yang menyamar jadi kelinci.

Sari: Ah, cantik sekali aktingmu, Agen Muda. Mata yang indah, senyum yang manis, jabat tangan yang kuat tapi sopan. Kamu terlatih sekali. Sangat terlatih. Tapi kamu lupa satu hal, Sayang... Aku adalah Guru Penyamaran. Aku adalah Raja Dusta. Dan kamu baru saja masuk ke dalam kandang singa, sambil membawa gula dan harapan kosong.

Mereka melepaskan tangan, masing-masing kembali ke posisi semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Perang dingin telah dimulai. Dan di ruangan itu, tidak ada satu pun siswa atau guru yang sadar bahwa di antara mereka, dua kekuatan besar sedang bersiap saling hancurkan.

 

Siang itu, saat jam istirahat, Kirana tidak pergi ke kantin atau bergabung dengan kerumunan. Dia sengaja duduk diam di bangku taman sekolah yang sepi, di bawah pohon rindang besar, membuka buku catatannya, berpura-pura membaca.

Dia sedang bekerja. Dia sedang mengamati. Dia sedang memetakan jaringan sosial Sari Dewi.

Dari kejauhan, dia melihat Sari duduk di tengah-tengah kelompok gadis paling populer. Semua orang mengelilinginya, memujanya, mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan seolah itu adalah wahyu. Sari tertawa ceria, bercerita tentang liburan, tentang kucing peliharaan, tentang belanja... hal-hal yang sangat wajar, sangat normal, sangat kekanak-kanakan.

Tapi Kirana melihat lebih jauh. Dia melihat cara Sari memandang orang lain. Dia melihat bahwa Sari tidak pernah benar-benar tertawa. Dia melihat bahwa Sari tidak pernah benar-benar mendengarkan. Dia melihat bahwa Sari mengatur pembicaraan, mengatur emosi teman-temannya, mengarahkan opini mereka, semua dengan gerakan halus dan tak terlihat.

Dia mengendalikan mereka, batin Kirana merinding. Dia memanipulasi mereka semua. Dia membuat mereka merasa senang, merasa penting, merasa dicintai... padahal dia cuma pakai mereka sebagai cermin untuk memantulkan citra 'Anak Baik' miliknya.

"Sendirian saja?"

Suara renyah di samping membuat Kirana tersentak sedikit. Dia menoleh cepat.

Sari Dewi berdiri di sana, membawa dua kotak susu dan sepotong kue, tersenyum manis, kepalanya sedikit miring ke samping dengan gaya yang sangat polos dan menggemaskan.

Kirana segera memasang kembali topengnya. Dia menutup buku catatannya, tersenyum balik, sedikit malu-malu.

"Sari... iya, aku... aku belum kenal banyak orang. Jadi aku duduk saja di sini. Sekolahmu besar sekali, aku agak tersesat rasanya."

Sari duduk di sebelah Kirana, sangat dekat, bahu mereka bersentuhan. Dia menyodorkan satu kotak susu dan kue itu.

"Nah, makanya aku datang dong~ Nggak boleh sendirian. Nanti kesepian lho. Ini buat kamu. Minum ya. Kue ini enak sekali, kue favoritku. Ayahku selalu belikan dari toko paling mahal di pusat kota."

Kirana menerima makanan itu dengan terima kasih yang tulus—atau setidaknya terlihat tulus. Dia menatap Sari, menatap mata bening itu.

"Kamu baik sekali, Sari. Padahal kita baru kenal. Semua orang di sini segan padamu. Kamu sepertinya orang yang sangat penting di sekolah ini."

Sari tertawa kecil, menggelengkan kepalanya, rambut ikalnya bergoyang indah.

"Ah, apa sih. Mereka cuma berlebihan saja. Aku biasa saja kok. Aku cuma anak biasa. Cuma punya Kakek yang kaya raya saja. Aku cuma mau punya teman yang tulus. Teman yang mau ngobrol hal-hal seru, teman yang tidak lihat dompet atau nama keluarga."

Sari menatap Kirana lekat-lekat, matanya berbinar seolah menemukan harta karun.

"Dan entah kenapa... sejak pertama kali aku lihat kamu tadi pagi... aku merasa kita cocok. Aku merasa kita bisa jadi sahabat baik. Kamu beda, Kirana. Kamu tidak seperti gadis-gadis lain di sini yang cuma mikirin baju dan cowok. Kamu... dalam. Kamu pintar. Aku suka itu."

Jantung Kirana berdegup kencang. Pujian itu terdengar tulus, terdengar manis, terdengar murni. Tapi ada sesuatu di baliknya. Ada tekanan halus. Ada pemeriksaan.

"Aku... aku senang sekali dengar itu, Sari," jawab Kirana pelan, menunduk sedikit seolah malu. "Aku juga merasa nyaman sama kamu. Rasanya... rasanya kamu bisa dipercaya."

Sari tersenyum lebar, gembira sekali. Dia langsung memeluk lengan Kirana dengan akrab, menyandarkan kepalanya sebentar di bahu gadis itu.

"Asyik!! Kita sahabat ya? Mulai hari ini, kita kemana-mana bareng. Kamu temanku paling dekat, ya? Jangan mau berteman sama orang lain lebih dekat dari sama aku. Aku cemburuan lho~"

Kirana tertawa kecil, ikut tersenyum, meski di dalam hatinya dia merinding hebat. Dia bisa merasakan tulang lengan di bawah kain seragam itu. Kecil, lentik, halus... tapi keras. Keras seperti besi. Dan dia bisa merasakan cengkeraman Sari. Lembut, tapi tidak bisa lepas.

Dia mengikatku, pikir Kirana ngeri sekaligus kagum. Dia mengikatku dengan kasih sayang palsu. Dia membuatku merasa istimewa, membuatku merasa dia butuh aku, membuatku merasa dia anak kecil yang kesepian dan manis... supaya aku lengah. Supaya aku percaya. Supaya aku jatuh ke dalam perangkapnya.

Dan Kirana sadar: Ini jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan. Sari Dewi tidak mengancam dengan pistol. Dia tidak memerintah dengan teriakan. Dia menguasai orang dengan Cinta Palsu.

"Janji," jawab Kirana lembut, matanya menatap lurus ke depan. "Kita sahabat baik."

Sari melepaskan pelukannya, kembali duduk tegak, wajahnya berubah sedikit lebih serius, lebih dekat, berbisik pelan.

"Kalau begitu... sebagai sahabat... boleh aku tanya sesuatu?"

"Tentu saja. Apa saja."

Sari menatap mata Kirana, menembus sampai ke dasar jiwanya.

"Ayahmu diplomat, kan? Di kedutaan mana dia bekerja dulu? Dan... kamu tahu kan... kalau ayahmu sering bertemu orang penting, orang pemerintahan, orang polisi... apakah dia pernah cerita tentang... hal-hal aneh? Hal-hal gelap? Atau nama-nama orang yang berbahaya?"

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Sangat halus, sangat santai, seolah cuma basa-basi. Tapi bagi Kirana, itu seperti pukulan telak.

Pertanyaan Jebakan.

Sari sedang menguji. Sari sedang memancing. Sari ingin tahu apakah Kirana benar-benar anak diplomat biasa, atau dia orang yang berhubungan dengan intelijen dan penegak hukum.

Kirana menarik napas dalam-dalam, membuang napasnya perlahan, mempertahankan ekspresi tenang dan sedikit bingung.

"Ah... Ayah bekerja di bagian administrasi saja, Sari. Dia cuma urus paspor, dokumen, kunjungan pejabat biasa. Dia jarang cerita hal serius. Dia bilang urusan orang dewasa itu membosankan dan kotor. Dia selalu suruh aku belajar saja, jangan tanya-tanya urusan politik atau hukum. Katanya itu berbahaya."

Kirana tertawa kecil, berusaha terlihat polos dan tidak tahu apa-apa.

"Tapi kenapa tanya begitu? Apakah ada orang berbahaya di kota ini? Apakah kita harus takut?"

Sari diam sejenak, menatap wajah Kirana, mencari celah, mencari kegelisahan, mencari kebohongan. Dia melihat mata Kirana tenang. Dia melihat wajah Kirana tulus. Dia melihat tidak ada tanda-tanda gugup.

Senyum miring tipis muncul di sudut bibir Sari. Dia mundur, kembali menjadi gadis manja yang ceria.

"Ah tidak kok! Cuma penasaran saja. Kan aku dengar ibu kota itu tempatnya orang-orang besar. Di sini kan cuma kota kecil. Tidak ada yang berbahaya kok. Paling-paling cuma nyamuk sama ujian susah saja yang bikin takut~"

Sari berdiri, menarik tangan Kirana.

"Ayo dong, jangan duduk terus. Ayo kita jalan-jalan keliling sekolah. Aku tunjukkan tempat rahasia yang cuma aku tahu. Dan nanti pulang sekolah, aku ajak kamu ke rumahku. Aku mau kenalin kamu sama Kakekku. Dia orang paling baik sedunia. Dia pasti senang sekali ada teman baruku."

Kirana bangkit berdiri, mengikuti tarikan tangan Sari. Jantungnya berpacu cepat.

Dia lulus tes pertama. Tapi dia tahu, ini baru permulaan. Tes berikutnya akan jauh lebih sulit, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih mematikan.

Dan Sari Dewi berjalan di depannya, menarik tangannya, rambut ikal panjangnya bergoyang indah diterpa angin. Di balik punggung itu, di balik senyum itu, Sari tersenyum lebar, matanya bersinar penuh kemenangan.

Pintar sekali, Agen Muda, batin Sari geli dan kagum. Kamu berbohong dengan sangat bagus. Kamu menyembunyikan jejak dengan sangat rapi. Kamu berpikir aku percaya kamu, ya? Kamu berpikir aku tertipu oleh wajah polosmu?

Sari menoleh sebentar, menatap wajah samping Kirana yang cantik dan tegang.

Sayang sekali... Aku tahu kamu mata-mata. Aku tahu kamu dikirim untuk tangkap aku. Aku tahu kamu punya rekaman suara, kamera tersembunyi, dan rencana bagus. Dan aku tidak akan bunuh kamu sekarang. Tidak. Aku akan biarkan kamu masuk. Aku akan biarkan kamu melihat segalanya. Aku akan biarkan kamu mengirim laporan palsu ke atasanmu... laporan yang aku tulis sendiri untukmu. Aku akan biarkan kamu percaya kamu berhasil... sampai hari aku hancurkan kamu, hancurkan atasanmu, dan hancurkan seluruh sistem yang mengirimmu.

Sari memeluk lengan Kirana makin erat, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu, berbisik sangat pelan, sangat manis, dan sangat mengerikan.

"Kamu tahu, Kirana... aku sangat bahagia hari ini. Rasanya... aku akhirnya punya teman sepadan. Teman yang bisa diajak main sampai lama. Jangan kecewakan aku ya, Sahabatku... karena kalau kamu kecewakan aku... aku akan sangat, sangat sedih. Dan kalau aku sedih... semua orang di sekitarku akan menderita."

Kirana menelan ludah, merasakan hawa dingin menjalar dari tengkuk sampai ke tulang ekor. Dia tidak mengerti kata-kata itu sepenuhnya, tapi dia mengerti satu hal: Dia sedang berjalan di atas pisau tajam yang ditancapkan di atas kawat berduri.

Dan permainan gila ini baru saja masuk ke babak yang paling berbahaya.

 

Sore hari. Menara Wijaya - Lantai 30.

Mobil mewah membawa kedua gadis itu masuk ke gerbang utama kompleks perkantoran elit itu. Kirana melihat gedung-gedung tinggi, keamanan ketat, mobil-mobil mewah yang parkir, dan aura kekayaan yang luar biasa. Dia merekam semuanya. Dia mengingat setiap wajah penjaga, setiap nomor pintu, setiap pola patroli.

Mereka naik lift pribadi yang langsung menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka, dan Kirana tertegun.

Ruang tamu pribadi itu luas, mewah, dihiasi barang antik, lukisan mahal, dan pemandangan kota yang menakjubkan. Dan di tengah ruangan, duduk seorang pria tua bungkuk, rambut putih, wajah penuh kerutan, yang langsung bangkit berdiri gemetar begitu melihat Sari.

"Sayangku!! Bidadariku!! Kamu pulang!!" seru Andri Andalan dengan suara bergetar bahagia, berjalan terhuyung-huyung mendekat, seolah Sari baru pulang dari perang berbulan-bulan, bukan baru pulang sekolah beberapa jam.

Sari berlari kecil, memeluk pinggang kakeknya, mencium pipi keriput itu berkali-kali dengan penuh kasih sayang yang berlebihan.

"Kakekku sayang!! Aku kangen sekali!! Kamu sudah makan? Kamu sudah minum obat? Kamu tidak kenapa-napa kan saat aku pergi?"

Andri mengusap rambut cucunya dengan mata berkaca-kaca penuh cinta fanatik. "Aku baik, Sayangku. Aku baik asalkan kamu ada. Aku doakan kamu terus. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan. Dunia ini jahat, Sayang. Dunia ini penuh orang jahat yang mau sakiti kamu."

Kirana berdiri diam di dekat pintu, terpana melihat pemandangan itu. Dia tahu siapa pria tua itu. Andri Andalan. Raja kejahatan. Orang yang ditakuti satu kota. Orang yang tangannya penuh darah dan uang kotor.

Tapi apa yang dia lihat sekarang? Dia melihat kakek yang paling lembut, paling penyayang, paling terobsesi pada cucunya. Dia melihat pria yang tampak tidak berdaya, tidak berbahaya, dan sangat rapuh.

Ini tipuan? batin Kirana bingung. Atau ini benar-benar gila? Bagaimana mungkin penguasa mafia jadi seperti ini? Dimanipulasi? Dihipnotis? Atau ada racun di makanannya?

Sari melepaskan pelukan, menoleh ke arah Kirana, menarik tangan gadis itu mendekat.

"Kakek, lihat nih! Ini Kirana. Teman baruku. Sahabat baru aku. Dia pindah dari ibu kota. Dia pintar, baik, dan cantik sekali. Aku ajak dia main ke sini ya? Boleh kan?"

Andri Andalan menoleh, menatap Kirana. Dan seketika itu juga, wajah pria tua itu berubah. Mata kanannya yang satu itu menyipit tajam, tatapannya berubah dari lembut menjadi dingin, waspada, dan penuh kebencian samar. Dia memindai Kirana dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah melihat ancaman, seolah melihat musuh yang mau mencuri hartanya, mencuri kesayangannya.

Dia tidak percaya orang asing. Dia benci orang asing. Dia cuma cinta Sari. Dan dia melihat Kirana sebagai Pesaing.

"Dia... dia temanmu?" suara Andri berat dan curiga. "Dia... dia tidak bahaya kan, Sayang? Dia tidak mau ambil kamu dari Kakek kan?"

Kirana merasakan hawa dingin yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ini bukan akting. Ini nyata. Andri Andalan benar-benar gila. Gila karena cinta buta pada cucunya.

Sari tertawa renyah, memukul pelan lengan tuanya dengan manja.

"Aduh, Kakek aneh saja. Dia teman kok. Dia baik. Dia mau temani aku belajar. Dia mau temani aku main. Kakek jangan galak-galak dong. Nanti Kirana takut. Kalau Kirana takut, aku sedih. Kalau aku sedih, Kakek juga sedih kan?"

Ancaman halus. Sangat halus. Dan Andri langsung menunduk, takut, panik, wajahnya kembali lembut dan penuh permohonan.

"Iya... iya... maafkan Kakek, Bidadariku. Kakek cuma... cuma takut. Takut ada orang jahat. Maaf ya... Maafkan Kakek..."

Andri menoleh ke Kirana, memaksakan senyum kaku dan menakutkan.

"Selamat datang... Kirana. Maafkan... Kakek sudah tua. Sudah pikun. Kamu... kamu sayang sama Sari kan? Kamu... kamu tidak sakiti dia kan? Kalau kamu sakiti dia... kalau kamu buat dia menangis... aku... aku akan bunuh kamu. Aku akan bunuh semua orang."

Kalimat terakhir diucapkan dengan nada rendah, parau, dan sangat serius. Bukan ancaman kosong. Itu janji kematian.

Kirana menelan ludah, mengangguk pelan, berusaha tetap tenang.

"Tentu saja, Pak Andalan. Sari teman baikku. Aku akan jaga dia. Seperti adikku sendiri."

Sari tersenyum puas. Dia senang melihat reaksi kakeknya. Dia senang melihat betapa posesif dan gilanya Andri padanya. Dan dia senang melihat wajah Kirana yang sedikit pucat karena kaget.

Dia mengantar Kirana ke ruang tamu samping, menyuguhkan makanan dan minuman mewah. Sepanjang sore, mereka mengobrol, tertawa, belajar bersama. Sari berperan sempurna sebagai gadis remaja biasa. Dia bicara tentang pelajaran, tentang musik, tentang film, tentang hal-hal konyol. Dia tidak menyebut bisnis. Dia tidak menyebut kekerasan. Dia tidak menyebut nama Riko atau Arya.

Dia membiarkan Kirana melihat apa yang dia inginkan Kirana lihat: Keluarga kaya raya yang sedikit aneh tapi sangat menyayangi satu sama lain.

Dan saat Kirana pulang sore itu, saat dia duduk di mobil dinas yang menjemputnya, dia mengeluarkan alat perekam tersembunyi di dalam kalungnya. Dia mendengarkan kembali percakapan, merekam semua data, dan mulai menyusun laporan pertamanya untuk Komisar David Kusuma.

"Target berperilaku sangat normal, sangat cerdas, sangat menawan. Dia memiliki kendali penuh atas lingkungan sosialnya. Kakeknya, Andri Andalan, tampak mengalami gangguan jiwa berat, kemungkinan akibat manipulasi psikologis jangka panjang atau pengaruh zat kimia. Tidak ditemukan bukti langsung aktivitas ilegal. Sari Dewi tampak tidak berbahaya, namun... ada sesuatu yang tersembunyi. Dia terlalu sempurna. Terlalu terkontrol. Terlalu... tidak manusiawi. Saya akan mendekat lagi. Saya akan masuk lebih dalam."

Kirana menutup perekamnya, menatap keluar jendela mobil yang mulai bergerak menjauh dari Menara Wijaya. Dia merasa dia berhasil. Dia merasa dia mulai mendapat kepercayaan. Dia merasa dia selangkah lebih maju.

Tapi di lantai 30, di balik tirai jendela besar, Sari Dewi berdiri diam, menatap mobil itu menghilang di tikungan jalan. Di tangannya, dia memegang alat kecil yang dia ambil dari tas Kirana saat gadis itu sedang ke kamar mandi tadi.

Alat perekam yang sama persis.

Sari memutar ulang rekaman itu, mendengarkan suara Kirana yang manis dan penuh kebohongan. Dia tertawa kecil, lalu melempar alat itu ke dalam gelas air panas, membiarkan elektroniknya rusak total.

"Kamu lupa satu hal, Agen Cantik," bisik Sari pada ruangan kosong, matanya berkilau jahat. "Di rumahku, di gedungku, di kotaku... Semua benda punya telinga. Semua benda punya mata. Dan semua benda... milikku."

Dia berjalan ke meja kerja, menekan tombol interkom. Suara berat Riko Surya terdengar dari seberang.

"Iya, Nyonya?"

"Riko," perintah Sari dingin, senyumnya melebar penuh rencana jahat. "Cek latar belakang Kirana Adhisti. Cek semuanya. Lahir, keluarga, sekolah, teman, hobi, kebiasaan, penyakit, siapa saja yang dia kenal, siapa saja yang dia cintai, siapa saja yang dia sayang. Aku mau tahu segala sesuatu tentang dia. Turun sampai ke akar-akarnya. Jangan ada yang terlewat."

"Siap, Nyonya. Segera kerjakan."

Sari mematikan interkom. Dia duduk di kursi kebesarannya, menyilangkan kaki, menatap langit senja yang kemerahan.

"Permainan baru saja dimulai, Kirana sayang... Kamu pikir kamu masuk ke sini untuk tangkap aku? Tidak, Sayang... Kamu masuk ke sini karena aku membuka pintunya. Dan sekarang... kamu sudah di dalam. Dan pintunya sudah terkunci rapat. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada bantuan. Tidak ada penyelamat."

Sari menutup matanya, membayangkan wajah Kirana, membayangkan saat nanti dia akan menghancurkan ketenangan gadis itu, menghancurkan prinsipnya, menghancurkan kepercayaannya pada keadilan, dan akhirnya... menjadikan agen terbaik negara itu sebagai budak setianya yang baru.

"Ah... rasanya akan sangat seru sekali," bisik Sari penuh antusiasme gila.

Di kejauhan, guntur bergemuruh. Badai besar sedang bergerak mendekat. Dan di tengah badai itu, dua gadis remaja—satu mewakili Kejahatan Murni, satu mewakili Keadilan—telah terikat dalam jaring yang sama. Dan hanya satu yang akan keluar hidup-hidup... atau yang lebih buruk: Hanya satu yang akan keluar dengan jiwanya masih utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!