Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Sekte Yunwu
Huang menghela nafas, lalu menjawab dengan tenang. "Itu permintaan saya sebelumnya."
Lei Shan memandang Huang beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepala kecil.
"Tentang negosiasi kita sebelumnya... sebenarnya kami hanya berencana menempatkanmu sebagai murid magang."
Dia menyandarkan tubuhnya di sisi perahu sambil melipat tangan.
"Setidaknya kau punya tempat tinggal dan bisa meningkatkan kekuatan sedikit demi sedikit."
Huang mendengarkan dengan tenang. Dia tidak merasa kecewa. Justru itu sudah jauh lebih baik dibanding hidup sendirian tanpa arah.
Namun kemudian Lei Shan tersenyum lebar.
"Tapi setelah kejadian tadi, semua berubah. Bocah sepertimu berani menyelamatkan murid Sekte Yunwu dari beruang langkah... dan berada di Ranah Fana... itu bukan keberanian biasa."
Tatapan Lei Shan menjadi lebih serius.
"Aku pastikan kau masuk. Dan mendapatkan posisi murid luar yang setara dengan murid lainnya. Jadi kau tidak akan ditindas berlebihan."
Mendengar itu, Huang benar-benar merasa lega. Selama ini dia selalu hidup di bawah hinaan dan ancaman. Desa kecilnya mengajarkan satu hal padanya... orang lemah mudah diinjak. Kalau di sekte nanti dia masih menjadi sasaran penindasan tanpa perlindungan sedikit pun, hidupnya pasti tidak akan mudah.
Huang segera menangkupkan kedua tangan.
"Saya memang membutuhkan hal seperti itu. Ini membuat saya lega."
Lei Shan langsung terkekeh. "Kau cukup jujur."
Huang tersenyum kecil. "Saya hanya mengatakan apa yang saya pikirkan, Tuan."
Luo Mei akhirnya ikut berbicara. Suaranya lembut tertiup angin malam.
"Kami akan menceritakan bagaimana kau membantu kami pada para tetua. Dengan begitu kau tidak akan dipersulit nanti."
Huang kembali membungkuk hormat.
"Terima kasih banyak, Nona Luo. Terima kasih, Tuan Lei."
Keduanya hanya mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, Luo Mei membentuk segel tangan kecil. Cahaya spiritual di bawah perahu langsung menjadi lebih terang.
WHUSSH!
Kecepatan perahu spiritual meningkat drastis. Angin malam menjadi jauh lebih kuat hingga pakaian Huang berkibar keras.
"Kita lewati saja Kota Bifan," ucap Luo Mei. "Langsung menuju sekte."
Lei Shan mengangguk setuju.
"Semakin cepat semakin baik."
Perjalanan terus berlangsung hingga malam semakin larut. Selama itu Huang diam memperhatikan langit luas di atas kepalanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berada begitu tinggi di udara. Kadang dia melihat cahaya samar melintas jauh di kejauhan. Kadang terlihat siluet burung spiritual raksasa terbang di antara awan gelap.
Dunia ini terasa jauh lebih besar dibanding yang pernah dia bayangkan saat masih tinggal di desa kecil tanpa nama itu.
Setelah waktu yang cukup lama, Luo Mei akhirnya berbicara.
"Kita sudah sampai."
Huang segera melihat sesuatu.
Di kejauhan, di atas pegunungan tinggi yang diselimuti kabut malam, berdiri bangunan-bangunan besar bercahaya samar. Tangga batu panjang membentang hingga ke puncak gunung. Pilar-pilar raksasa berdiri kokoh seperti tombak langit. Air terjun turun dari tebing tinggi sambil memantulkan cahaya bulan. Beberapa bangunan bahkan melayang samar di atas kabut.
Mata Huang sedikit membesar.
Sekte Yunwu.
Ini pertama kalinya dia melihat tempat sebesar dan semegah ini.
Perahu spiritual perlahan turun menuju pelataran batu besar di depan gerbang sekte. Begitu mereka mendarat, dua murid penjaga segera menangkupkan tangan hormat.
"Kakak Senior Lei."
"Kakak Senior Luo."
Namun sebelum percakapan berlanjut, sebuah tekanan berat tiba-tiba muncul dari udara.
WHUSSH!
Seorang pria tua berjubah abu-abu muncul begitu saja di depan mereka. Rambutnya putih panjang hingga pinggang. Tatapannya tajam seperti elang tua. Aura spiritual di tubuhnya jauh lebih berat dibanding Lei Shan maupun Luo Mei.
Huang langsung merasa napasnya sedikit sesak. Ini pertama kalinya dia bertemu seseorang sekuat ini.
Lei Shan dan Luo Mei segera membungkuk hormat.
"Hormat kepada guru Xu. "
Tetua Xu mengangguk tipis lalu memandang keduanya. "Kalian kembali cukup cepat."
Tatapannya kemudian berhenti pada cincin ruang Lei Shan. "Aku mencium aura binatang spiritual kuat."
Lei Shan langsung tertawa puas. "Kami berhasil menemukan Beruang Langkah tua."
Mata Tetua Xu langsung sedikit membesar.
"Beruang Langkah?"
Bahkan dua murid penjaga di gerbang ikut terkejut.
Lei Shan segera mengeluarkan mayat besar Beruang Langkah dari cincin ruangnya.
BUMMM!
Tubuh raksasa beruang itu jatuh di pelataran batu. Aura dingin langsung menyebar ke sekitar. Lapisan es tipis bahkan mulai muncul di lantai batu.
Tetua Xu menatap beberapa saat sebelum mengangguk pelan.
"Benar-benar Beruang Langkah tua..."
Tatapannya berubah lebih serius. "Dengan kekuatan kalian, seharusnya pertarungan tidak mudah."
Lei Shan dan Luo Mei saling pandang sebentar. Lalu Lei Shan tertawa pahit.
"Hampir saja kami mati. Kalau bukan karena bocah ini... mungkin kami tidak kembali."
Tetua Xu akhirnya memperhatikan Huang untuk pertama kalinya secara serius. Tatapan tajamnya menyapu tubuh Huang dari atas sampai bawah.
"Dia?"
Luo Mei mengangguk pelan. "Dia yang menemukan lokasi Beruang Langkah. Dan dia juga menyelamatkan kami."
Tetua Xu sedikit mengernyit. "Dia hanya berada di Ranah Fana Tahap Akhir."
Bahkan dua murid penjaga di dekat gerbang tampak tidak percaya.
Lei Shan tertawa pendek. "Justru itu yang lucu guru. Seorang kultivator Ranah Fana menendang kepala Beruang Langkah untuk menyelamatkan murid Ranah Fondasi."
Tetua Xu benar-benar terdiam sesaat. Tatapannya kepada Huang berubah aneh.
Huang sendiri hanya berdiri tenang sambil menangkupkan kedua tangan dengan sopan.
"Saya hanya membantu sebisa saya, Tetua."
Tetua Xu menyipitkan mata beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Keberanianmu cukup baik."
Luo Mei kemudian berkata pelan. "Kami ingin memasukkannya sebagai murid luar."
Tetua Xu langsung menjawab tanpa banyak berpikir. "Disetujui."
Lei Shan tersenyum puas. "Terima kasih, guru."
Tetua Xu melambaikan tangan. "Bawa Beruang Langkah itu ke Aula Kontribusi secepatnya."
Setelah mengatakan itu, tubuhnya langsung menghilang seperti kabut tertiup angin.
Huang diam-diam menahan keterkejutannya. Orang tua itu benar-benar menghilang begitu saja.
Lei Shan menepuk pundak Huang.
"Ayo. Aku antar kau ke asrama pria."
Huang segera mengikuti. Sedangkan Luo Mei langsung menuju Aula kontribusi.
Mereka berjalan melewati jalan batu panjang di dalam sekte. Di kanan kiri tumbuh bambu hijau tinggi yang bergerak pelan tertiup angin malam. Kadang mereka melewati murid sekte yang sedang berjalan membawa pedang. Kadang terlihat bangunan besar bercahaya lampion merah.
Energi spiritual di tempat ini jauh lebih padat dibanding Kota Bifan. Bahkan Huang bisa merasakan tubuhnya menyerap energi spiritual secara alami tanpa perlu bermeditasi.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di sebuah kompleks bangunan kayu besar.
"Ini asrama murid luar pria," ujar Lei Shan.
Dia membuka salah satu pintu lalu masuk bersama Huang. Ruangan di dalam cukup luas. Ada beberapa kamar kecil terpisah. Dindingnya bersih. Bahkan terdapat dupa penenang dan formasi sederhana pengumpul energi spiritual.
Lei Shan menunjuk salah satu kamar.
"Ini semua milikmu mulai sekarang."
Huang menatap kamar itu cukup lama. Tempat ini bahkan lebih baik dibanding penginapan di Kota Bifan.
Lei Shan kemudian berbicara lagi. "Besok token identitasmu akan selesai dibuat. Pakaian murid luar juga akan diberikan."
Huang mengangguk mengerti.
"Baik, Tuan Lei."
Lei Shan tersenyum tipis. "Istirahatlah. Kau sudah melalui banyak hal."
Setelah itu dia pergi meninggalkan asrama.
Huang berdiri sendirian beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Ruangan itu sederhana tetapi nyaman. Ada dipan kayu bersih, meja kecil, kendi air, dan rak penyimpanan sederhana di sudut ruangan.
Huang meletakkan buntalan kainnya perlahan di dekat dipan. Buntalan itu masih sama seperti dulu. Satu-satunya benda yang menemaninya sejak meninggalkan rumah dan kuburan kedua orang tuanya.
Huang duduk perlahan di atas dipan kayu sambil mengamati ruangan. Sunyi. Tenang. Dan dipenuhi energi spiritual yang lembut.
Dia menarik napas panjang.
Kemudian Huang mengeluarkan lima batu roh rendah dari kantung penyimpanannya. Jumlah batu roh miliknya sebelumnya tersisa empat puluh lima batu roh rendah setelah menggunakan lima batu roh saat berkultivasi di penginapan Kota Bifan. Sekarang, setelah mengeluarkan lima lagi untuk malam ini, sisa batu rohnya menjadi empat puluh batu roh rendah.
Kelima batu roh itu diletakkan di sekeliling tubuhnya. Huang perlahan duduk bersila. Lalu mulai bermeditasi kembali.