NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - "Iya"

Bab 33 — “Iya”

“Apa kamu mau jadi pacarku?” Kalimat itu menggantung di udara.

Membuat seluruh tubuh Mona membeku. Jantungnya berdetak terlalu keras sampai ia yakin Wira bisa mendengarnya dari jarak sedekat ini.

Mobil terasa sunyi. Lampu jalan di luar memantul samar di kaca jendela. Dan Wira masih menatapnya lurus.

Menunggu. Tidak mendesak. Tapi jelas serius.

“Pak…” Suara Mona bahkan hampir tidak keluar.

Wira tersenyum kecil.

“Kamu masih manggil aku ‘Pak’ di situasi begini?”

Wajah Mona langsung memanas.

“Saya gugup…”

“Aku juga.”

Mata Mona langsung membesar sedikit.

“Hah?”

Wira menghela napas pendek lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Aku tidak pernah melakukan ini.”

“Melakukan apa?”

“Meminta seseorang tinggal.”

Deg

Dada Mona langsung terasa penuh lagi. Karena kalimat itu terdengar jauh lebih dalam daripada sekadar ajakan berpacaran. Dan Mona tahu… Wira benar-benar membuka dirinya malam ini.

 “Aku tahu hubungan kita tidak akan mudah,” lanjut Wira pelan. “Aku tahu orang-orang akan terus bicara.” Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dari Mona. “Tapi aku tidak mau terus berpura-pura kalau kamu cuma sekretarisku.”

Jantung Mona kembali kacau. Karena selama ini… itulah yang sebenarnya mereka lakukan.

Berpura-pura semuanya normal, padahal perhatian Wira terlalu jelas. Tatapan mereka terlalu berbeda. Dan perasaan yang tumbuh di antara mereka sudah terlalu besar untuk disembunyikan.

“Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kamu masih takut,” ujar Wira lagi.

Mona langsung menggeleng cepat.

“Bukan itu…”

“Lalu?”

Mona menunduk pelan. Jemarinya saling menggenggam gugup.

“Saya cuma…” ia tertawa kecil malu. “Nggak nyangka Bapak bakal ngomong langsung begini.”

Wira menahan senyum tipis.

“Aku juga tidak nyangka bisa seserius ini sama seseorang.”

Deg

Lagi! Dan Mona mulai yakin jantungnya memang tidak akan pernah aman kalau bersama pria ini.

 Hening nyaman muncul beberapa detik.

Lalu Wira berkata pelan, “Mona.”

“Iya…”

“Aku tidak sempurna.”

Mona perlahan mengangkat wajah.

“Aku keras kepala,” lanjutnya tenang. “Terlalu sibuk bekerja. Kadang emosiku buruk.”

Mona diam mendengarkan.

“Dan aku mungkin akan membuat hidupmu jauh lebih rumit daripada sebelumnya.”

Tatapan Wira melembut sedikit.

“Tapi kalau kamu tetap mau bersamaku…” Ia berhenti sejenak. “Aku akan serius menjagamu.”

Mata Mona langsung terasa panas lagi. Karena dari semua pengakuan romantis…tidak ada yang pernah terasa setulus ini. Wira tidak menjanjikan hal indah seperti di drama. Ia hanya menjanjikan keseriusan dan justru itu yang membuat hati Mona bergetar.

 Mona menarik napas pelan.

Lalu berkata lirih, “Pak Wira…”

“Hm?”

“Saya juga takut.”

Wira tidak memotong.

“Saya takut nggak bisa mengikuti dunia Bapak.” Mona tersenyum kecil pahit. “Takut jadi beban. Takut nanti malah menyakiti Bapak.”

Tatapan Wira langsung berubah lebih dalam.

“Dan saya paling takut…” suara Mona mengecil, “kalau suatu hari Bapak berubah pikiran.”

Hening. Wira menatapnya lama. Sangat lama, lalu perlahan pria itu mengangkat tangan dan menyentuh pipi Mona dengan lembut. Sentuhan hangat itu membuat napas Mona tertahan.

“Aku bukan anak kecil yang mudah berubah pikiran.”

Deg

“Aku memilihmu dalam keadaan sadar.”

Wajah Mona langsung memanas. Pria ini benar-benar terlalu berbahaya saat bicara serius.

 “Aku tahu kamu belum percaya penuh sama dirimu sendiri,” lanjut Wira pelan.

Mona menunduk malu.

“Tapi aku percaya.” Kalimat itu membuat pertahanan terakhir Mona runtuh perlahan.

Karena selama ini… ia selalu merasa dirinya tidak cukup. Tidak cukup cantik untuk dunia Wira. Tidak cukup hebat. Tidak cukup berkelas, namun pria itu justru melihatnya seperti seseorang yang berharga fan Mona tidak sanggup lagi menyangkal perasaannya sendiri.

Perlahan, gadis itu tersenyum kecil. Senyum malu yang langsung membuat tatapan Wira melembut.

“Kalau saya bilang iya…” bisik Mona pelan, “hidup saya bakal makin ribet ya?”

Wira tertawa kecil.

“Sangat.”

“Orang kantor bakal makin heboh.”

“Mungkin.”

“Ibu Bapak juga bakal terus memperhatikan saya.”

“Pasti.”

Mona menghela napas panjang pura-pura pasrah.

“Capek juga ternyata suka sama CEO.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Wira benar-benar tertawa. Bukan senyum tipis. Tapi tawa kecil hangat yang jarang sekali muncul dan Mona langsung membeku menatapnya. Karena pria ini terlihat jauh lebih tampan saat tertawa.

“Kenapa lihat aku begitu?” tanya Wira.

“Bapak curang.”

“Apa lagi sekarang?”

“Kalau ketawa begitu saya makin susah nolak.”

Tatapan mereka bertemu dan suasana di dalam mobil perlahan berubah lagi.

Lebih lembut, lebih dekat dan lebih berbahaya untuk hati Mona.

 Wira perlahan menggenggam tangan Mona lagi. Kali ini lebih erat, lebih yakin.

“Mona.”

“Iya…”

“Aku masih menunggu jawaban.”

Deg

Wajah Mona langsung panas lagi. Pria ini benar-benar tidak mau memberinya kesempatan kabur.

Mona menggigit bibir kecil. Lalu setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang—

“Iya.” Suara itu sangat pelan.

Hampir seperti bisikan, namun cukup membuat Wira membeku sesaat.

Mona langsung salah tingkah.

“Saya udah jawab tuh…”

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya— Wira benar-benar terlihat kehilangan ekspresi dinginnya.

Pria itu menatap Mona seolah baru memastikan dirinya tidak salah dengar.

“Iya?” ulangnya pelan.

Mona langsung menutup wajahnya sendiri malu.

“Ih, jangan disuruh ulang…”

Senyum kecil perlahan muncul di wajah Wira. Bukan senyum tipis biasa, tapi senyum yang benar-benar bahagia dan Mona merasa jantungnya hampir meledak melihatnya.

 Tanpa banyak bicara, Wira perlahan menarik tangan Mona lalu mengecup punggung tangannya singkat.

Deg

Mona langsung membeku total.

“P-Pak Wira?!”

Wira tetap tenang.

Padahal telinga pria itu sedikit memerah.

“Aku cuma memastikan ini nyata.”

Wajah Mona sudah seperti tomat sekarang.

“Bapak bikin saya mati malu.”

“Aku senang.”

“Jahat.”

Wira tertawa kecil lagi fan Mona benar-benar tidak pernah melihat pria ini sebahagia sekarang. Namun beberapa saat kemudian, Mona tiba-tiba terdiam. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

Wira langsung menyadarinya.

“Ada apa?”

Mona menatap pria itu pelan.

“Sekarang semuanya benar-benar berubah ya.”

Wira mengangguk kecil.

“Iya.”

“Kita nggak bisa pura-pura biasa lagi.”

“Aku memang tidak mau lagi.”

Mona tersenyum kecil. Meski masih ada rasa takut di dalam dirinya… entah kenapa sekarang rasa hangatnya lebih besar. Karena ia tidak sendiri lagi.

 “Mona.”

“Hm?”

Wira menatapnya cukup lama sebelum berkata, “Ada satu hal yang harus kamu tahu mulai sekarang.”

“Apa?”

“Aku posesif.”

Mona langsung berkedip.

“…Hah?”

Wira terlihat sangat serius.

“Aku tidak suka orang lain terlalu dekat denganmu.”

Mona langsung teringat Reza. Kevin. Dan semua ekspresi dingin Wira sebelumnya.

Lalu ia tertawa kecil. “Baru sadar sekarang saya.”

“Aku serius.”

“Iya, iya.”

Dan anehnya… Mona justru merasa lucu. Karena CEO dingin dan ditakuti banyak orang itu ternyata bisa cemburu seperti anak kecil.

“Berarti saya juga boleh posesif?”

Wira mengangkat sebelah alis.

“Kamu mau?”

Mona mendelik kecil.

“Kalau ada perempuan dekat-dekat Bapak terus gimana?”

“Tidak ada.”

“Sandra?”

“Itu masa lalu.”

“Kalau nanti ada lagi?”

Tatapan Wira langsung lurus padanya.

“Aku sudah punya kamu.”

Deg

Sekali lagi. Selalu begitu. Pria ini benar-benar tahu cara menghancurkan pertahanan hati Mona dengan kalimat sederhana.

 Jam sudah hampir tengah malam ketika Mona akhirnya turun dari mobil. Namun sebelum masuk rumah, ia kembali menoleh. Wira masih duduk di kursi pengemudi sambil menatapnya.

Dan sekarang… status mereka benar-benar berbeda. Mona menggigit bibir kecil menahan malu.

“Pak…”

“Hm?”

“Selamat malam.”

Wira tersenyum kecil.

“Selamat malam, pacarku.”

Deg

Wajah Mona langsung merah total.

“PAK WIRA!”

Tawa rendah Wira terdengar pelan malam itu.

Sementara Mona buru-buru masuk rumah sambil memegangi jantungnya sendiri. Karena mulai hari ini… ia resmi menjadi pacar Wira Aditama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!