Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Genderang Perang Rusia
Sinar matahari pagi menembus kaca anti-peluru raksasa, membiaskan cahaya keemasan ke atas lantai pualam di suite utama. Di luar sana, Samudra Hindia yang semalam mengamuk kini tampak tenang, seolah berusaha menyembunyikan bangkai pesawat Aegis One yang telah terkubur selamanya di dasar laut.
Alana membuka matanya perlahan. Kepalanya masih berdenyut ringan, sisa dari guncangan ekstrem semalam. Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya, dan mendapatinya kosong serta dingin.
Gadis itu bangkit, menarik jubah mandi berbahan sutra tebal yang telah disiapkan di ujung ranjang, lalu berjalan tanpa suara. Pandangannya langsung menangkap sosok Xander.
Pria itu berdiri tegap menghadap jendela raksasa, membelakangi Alana. Ia tidak lagi mengenakan kemeja kotor dan jas basah semalam. Xander kini dibalut kaus turtleneck hitam ketat dan celana taktis gelap. Lengan panjang kaus itu ditarik hingga ke siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh serta ukiran tato pedang bersilang—lambang klan Leonidas—yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik setelan jas miliardernya.
Sang dewa perang tampak tidak tidur sedetik pun. Di tangannya terdapat segelas kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul tipis.
Alana melangkah mendekat, melingkarkan kedua lengannya dari belakang, memeluk pinggang suaminya yang keras. Ia menyandarkan pipinya pada punggung lebar Xander.
Xander sedikit terkejut, namun tubuhnya langsung rileks saat mencium aroma vanilla dari rambut istrinya. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja pualam, lalu berbalik dan merengkuh pinggang Alana posesif.
"Kenapa kau bangun, Sayang? Dokter markas menyarankanmu untuk tidur setidaknya dua belas jam," ucap Xander lembut, mengecup kening Alana dalam-dalam.
"Aku mencari suamiku," gumam Alana, menatap lurus ke dalam sepasang mata obsidian yang dihiasi bayangan kelelahan itu. Tangan Alana terulur, mengusap plester luka kecil di rahang Xander. "Kau sama sekali belum tidur, Xander."
"Ada kerajaan yang harus kuamankan agar ratuku bisa tidur nyenyak," balas Xander dengan senyum tipis yang meredam ribuan badai di kepalanya. Pria itu menuntun Alana kembali ke ranjang. "Pelayan akan membawakan sarapan kesukaanmu sebentar lagi. Habiskan semuanya. Aku harus pergi ke Pusat Komando."
Alana mengangguk patuh, meski ada gurat kecemasan di matanya. "Hati-hati, Xander."
Hanya dengan satu kecupan terakhir di bibir Alana, Xander berbalik. Dan detik ketika pria itu melangkah keluar dari pintu suite, kelembutan di matanya menguap tanpa sisa, digantikan oleh aura pembunuh yang membekukan darah.
Empat pengawal elit bersenjata laras panjang langsung mengambil posisi siaga di depan pintu kamar Alana. Xander melangkah menyusuri lorong baja, masuk ke dalam lift khusus dan memindai korneanya. Lift itu meluncur tajam ke kedalaman seratus meter di bawah tanah, menuju jantung pertahanan Pulau Hantu.
Pintu lift terbuka, menampilkan War Room (Ruang Perang) yang sangat luas. Layar holografik raksasa mendominasi bagian tengah ruangan, menampilkan peta radar global.
Dante sudah berada di sana, berdiri di samping meja proyeksi dengan bahu kiri yang dibalut perban putih ketat akibat benturan saat kecelakaan pesawat.
"Bagaimana keadaan Elena dan Sarah?" tanya Xander dingin tanpa basa-basi, melangkah menghampiri meja proyeksi.
"Elena mengalami gegar otak ringan, tapi dia keras kepala dan sudah mulai memantau sistem keamanan sibernetika kita dari ranjang medis," lapor Dante serius. "Sarah masih dalam pengawasan psikiater. Syok berat, tapi stabil."
Xander mengangguk kaku. Pandangannya beralih pada komandan fasilitas yang wajahnya dipenuhi bekas luka parah, Komandan Jace. "Laporan dari perimeter laut, Jace."
"Kapal selam kelas Akula milik Volkov telah mundur dari zona perairan kita begitu kita mengaktifkan sonar penghancur, Tuan Besar," jawab Jace dengan suara berat. "Namun, kami baru saja menangkap anomali."
"Anomali apa?" desis Xander, matanya menyipit tajam.
Dante mengetuk keyboard di depannya. "Sebelas menit yang lalu, satelit komunikasi kita meretas sebuah transmisi gelombang radio berfrekuensi sangat rendah yang ditembakkan secara langsung ke peladen utama pulau ini. Seseorang sengaja membiarkan pesan ini lolos dari enkripsi pertahanan kita."
"Putar pesannya," perintah Xander absolut.
Dante menekan satu tombol. Layar holografik di tengah ruangan berkedip, menampilkan gelombang suara berwarna merah menyala. Detik berikutnya, suara tawa serak, berat, dan dipenuhi logat Rusia yang kental menggema memenuhi seluruh penjuru Ruang Perang.
"Zdrastvuyte (Halo), Xander." Udara di dalam ruangan itu terasa turun sepuluh derajat. Tangan Xander mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Itu adalah suara Ivan Volkov.
"Aku melihat kembang api yang indah semalam di atas lautan. Sayang sekali kau memiliki sembilan nyawa layaknya kucing jalanan," ejek suara itu dari balik transmisi. "Bersembunyi di dalam benteng batumu tidak akan membuatmu aman, Iblis Leonidas. Kau telah mengambil darah dagingku di Makau. Sekarang, aku akan meneteskan racun ke dalam darah dagingmu."
Suara tawa psikopat Volkov kembali terdengar, membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu merinding.
"Hitung jammu, Xander. Badai salju Rusia akan menghancurkan pulaumu, dan aku sendiri yang akan menculik putri kecilmu itu dari ranjangnya. Tik... tok... tik... tok..."
Transmisi terputus menjadi suara desis statis. Keheningan yang mencekik menyelimuti War Room.
Xander menatap layar kosong itu dengan mata semerah darah. "Dante. Siapkan Pasukan Bayangan. Kita tidak akan menunggu diserang. Kita yang akan membawa neraka itu ke Moskow."
(Bersambung...)