Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat 45
Kinan benar-benar tidak menyangka, jika meeting bersama Baskara begitu banyak menguras tenaga.
Lihat, bahkan mereka pergi dari jam 1 siang, dan mulai meeting jam 2 siang. Lalu berakhir di jam 8 malam. Benar-benar sangat luar biasa sekali bukan?
"Kenapa?" tanya Baskara melihat Kinan yang terlihat begitu kelelahan.
"Hah, gak apa-apa, Bos. Cuma-"
"Jika kamu bertahan dengan posisi mu saat ini, maka di bulan ketiga saya akan berikan kenaikan gaji serta bonus untuk mu. Tapi dengan ketentuan saya!" potong Baskara pada ucapan Kinan.
Mendengar kenaikan gaji serta bonus, membuat mata Kinan langsung berubah cerah.
Yang tadinya lemas, kini berubah menjadi cemerlang. Secerah matahari pagi.
"Oke kalau gitu!" jawab Kinan dengan penuh percaya diri membuat Baskara menarik sudut bibirnya membentuk senyuman mengejek.
Dia juga ingin tau, sejauh mana gadis yang di tunjuk Juno menjadi asisten pribadinya ini bisa bertahan.
Perjalanan terasa begitu melelahkan, bahkan rasanya Kinan hampir tertidur jika Baskara tidak bertanya dimana rumahnya.
"Dimana kamu tinggal?" tanya Baskara membuat Kinan gugup.
"Hm...-"
"Baik jika kamu tidak ingin di antar. Berhenti di depan, Pak!" kata Baskara menyuruh supirnya untuk berhenti di depan karena ingin menurunkan Kinan.
"Baik, Bos." jawab supirnya membuat Kinan kembali lemas saat Baskara benar-benar menurunkannya di pinggir jalan begini.
"Bos, saya-"
"Tidak ada kesempatan kedua! Turun!" terpaksa Kinan turun dan tidak bisa membantah Baskara.
Laki-laki ini memang sangat tega. Menurunkan dirinya di pinggir jalan begini di saat hari sudah malam.
"Ampun, gini banget punya Bos kayak gitu. Tapi gak apa-apa, Kinan. Semangat, naik gaji plus bonus. Oke, semangat ayo semangat." Kinan menyemangati dirinya sendiri untuk bertahan.
Karena sudah sudah malam, dia memutuskan memanggil ojek online saja. Dari pada menunggu taksi atau bus itu akan memakan waktu lagi. Lebih baik dia naik ojek agar segera sampai ke rumah dan tidur. Karena besok dia akan kembali bertempur.
"Akhirnyaaaaaaa...."
Brak!
Kinan merebahkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur, bahkan belum mengganti pakaiannya dan membiarkan semuanya begitu saja lalu tertidur.
Malam berlalu begitu saja, dan tiba-tiba sudah pagi membuat Kinan gelagapan.
"Mati gue, mati!" Kinan panik, karena jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Dia bahkan belum sempat berganti pakaian, dan langsung berlari ke kamar mandi. Apa itu dandan? Bahkan rambutnya saja tidak dia keringkan di biarkan begitu saja sampai berantakan ketika dia sampai di kantor.
Saat di dalam lift, dia merasa beruntung karena tidak ada orang disana. Tapi, saat pintu lift hampir di tutup ada seseorang yang masuk dan itu Baskara.
"Pa-pagi, Bos." Kinan gugup setengah mati, dan merasa malu dengan penampilan dirinya saat ini.
Baskara hanya mengangguk saja, tidak menanggapi lebih dengan semua itu karena menurutnya tidak penting sama sekali.
"Meeting jam 9. Katakan pada Rafli untuk menyiapkan berkasnya." ucap Baskara sebelum keluar dari lift meninggalkan Kinan begitu saja.
Kinan sendiri, kedua kakinya lemas seketika saat Baskara kembali bicara soal meeting di pagi buta seperti ini.
"Pagi, kak Tiara, kak Rifki, kak Rafli." sapanya melemah dan duduk di kursi kerjanya.
"Lemes banget sih dek? Pulang jam berapa meeting sama bos kemaren?" tanya Tiara perhatian.
Membantu menyisir rambut Kinan yang berantakan. "Meeting dari jam 2 sampai jam 7 malam kak. Aku heran, bisa begitu ya?"
"Hahahha, baru pulang jam 7. Gue pernah tuh meeting pergi pagi pulang pagi. Makan siang di meja ruangan meeting, makan malam di ruangan meeting, bahkan tidur di ruangan meeting juga pernah gue tuh." jawab Rafli mengingat bagaimana dia dulu sering di buat kerja keras oleh Baskara.
"Tenang oke. Bos sekarang gak bakalan pergi pagi pulang pagi lagi. Soalnya pernah masuk rumah sakit, jadinya Bos Juno gak bolehin lagi dan ngancem bakalan resign dan ya, sekarang lebih manusiawi sih. Walau ya kadang gak masuk akal kalau udah marah." jelas Tiara membuat Kinan tersenyum kecut.
"Eh kak, aku lupa. Kata bos tadi kita meeting jam 9."
"What, KINAN!!! kenapa gak bilang dari tadi!!!" teriak Rafli frustrasi karena Kinan.
"Hehehe, maaf kak. Aku lupa." ucap Kinan penuh sesal.
"Tau deh, ah. Bodo amat!" Rafli berlalu meninggalkan ketiga temannya di sana dengan muka masam, membuat Tiara dan Rifki tertawa saja melihat Rafli panik begitu.
***