Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Yang Tersegel
Ruangan Putra Mahkota masih dipenuhi kabut hitam. Pecahan marmer berserakan di lantai. Beberapa kesatria kerajaan tergeletak tidak sadarkan diri akibat racun.
Namun perhatian Arcelia Vareinne langsung tertuju pada kata-kata Auriel.
“Mereka sedang membuka istana tua Arkanel di bawah kerajaan.”
Keheningan menyesakkan memenuhi ruangan. Bahkan Putra Mahkota Elias Astrael langsung melepaskan genggamannya dari tangan Arcelia.
Tatapan emasnya berubah tajam. “Seberapa serius masalah yang akan di timbulkan jika segel itu terbuka?” tanya Putra Mahkota.
Auriel terlihat sangat tegang, bahkan ketiga ekor cahayanya bergetar pelan karena merasa sangat ngeri membayangkan masalah apa yang akan terjadi.
“Kalau gerbang itu benar-benar terbuka… Maka segel yang sudah bertahan ratusan tahun akan hancur.” kata Auriel.
“Apa sebenarnya yang ada di balik gerbang itu?” tanya Putra Mahkota Elias.
Auriel terdiam beberapa saat seolah sedang berfikir, “Warisan keluarga Arkanel.” jawab Auriel akhirnya.
“Apa warisan itu yang tadi disebut sebagai artefak?” tanya Arcelia.
“Warisan keluarga Arkanel lebih dari itu.” Mata birunya perlahan berubah suram. “Disana ada sumber kekuatan keluarga Arkanel.” kata Auriel serius.
Degg..!!!
Ruangan kembali sunyi karena keterkejutan mereka, dan Arcelia langsung mengingat perkataan pembunuh tadi.
"Darah Arkanel adalah kuncinya."
Berarti sejak awal mereka membutuhkan dirinya hidup-hidup, setidaknya sampai gerbang itu terbuka.
“Tuan Rumah.” Auriel menoleh pada Arcelia. “Aku mulai mengingat sesuatu.” ujar Auriel didalam pikiran Arceli.
Mata Arcelia menyipit. “Apa?” tanyanya.
Dan jika Auriel berbicara lewat pikirannya maka ini adalah rahasia dan masalah ini sangat serius.
“Saat kamu mati dalam alur asli gerbang itu akhirnya berhasil dibuka.” ujar Auriel.
Jantung Arcelia berdetak lebih keras saat mendengar ucapan Auriel. Karena itu berarti kematiannya bukan tujuan akhir mereka melainkan bagian dari rencana.
“Auriel, setelah segel itu terbuka apa yang akan terjadi?” tanya Arcelia pelan.
Auriel terlihat ragu dan untuk sesaat Auriel melirik ke arah Putra Mahkota Elias.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu rubah kecil itu tampak ketakutan.
“Aku tidak ingat semuanya tentang warisan Arkanel. Tapi jika itu benar-benar terbuka seluruh kerajaan bisa jatuh ke dalam perang.”
Wajah Putra Mahkota Elias langsung mengeras.
Sementara Marcus yang baru bangkit dari lantai ikut menyipit. “Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.” katanya sambil memegangi dadanya yang masih terasa sesak.
Putra Mahkota Elias langsung mengambil keputusan. “Kita akan turun sekarang.” katanya tegas.
“Yang Mulia?” kata Marcus mencoba menenangkan Putra Mahkota supaya tidak bertindak gegabah.
Karena jika mereka salah mengambil langkah maka bukan solusi yang mereka dapatkan melainkan kematian yang telah mereka rencanakan sejak lama dan akhirnya mereka akan menang.
“Kalau Kael benar-benar menuju ruang bawah tanah…” Tatapan emasnya berubah dingin. “…maka aku akan menghentikannya sendiri.” katanya tegas.
Auriel mengangguk cepat. “Benar. Karena semakin lama kita menunggu, semakin kuat reaksi segelnya.” kata Auriel membenarkan keputusan Putra Mahkota.
Tiba-tiba—
[Misi Utama Diperbarui.]
[Hentikan pembukaan Gerbang Arkanel.]
[Tingkat Kesulitan: SSS]
[Hadiah: Evolusi Penjaga Suci Tahap Kedua.]
[Hadiah Tambahan: Pemulihan Memori Tersegel.]
Mata Arcelia langsung menyipit. "Misi tingkat kesulitan SSS."
Ini pertama kalinya sistem memberikan tingkat kesulitan setinggi itu. Dan biasanya itu berarti ancaman yang mereka hadapi jauh melebihi sebelumnya.
“Arcelia.” Suara Putra Mahkota Elias membuatnya menoleh.
Putra Mahkota berdiri tepat di depannya, Putra Mahkota tidak lagi terlihat seperti bangsawan santai yang ditemuinya tadi siang. Sekarang aura seorang pewaris takhta benar-benar terlihat.
“Kamu tidak harus ikut kesana.” kata Putra Mahkota.
"Huh." Auriel langsung mendengus. “Bohong.” kata Auriel.
Marcus langsung menoleh bingung. “Bohong?” katanya pelan.
Auriel mengibaskan ekornya kesal. “Dia jelas berharap kalau Tuan Rumah ikut.” kata Auriel kesal.
Putra Mahkota Elias menghela napas pelan. “Aku mulai mengerti kenapa kamu selalu memarahinya.” kata Putra Mahkota malas.
Arcelia hampir tertawa namun akhirnya ia menggeleng. “Aku tetap akan ikut.” katanya tegas.
“Arcelia.” Putra Mahkota berusaha mencegah.
“Kalau mereka membutuhkan darahku untuk membuka gerbang…” Tatapan merah anggurnya berubah dingin. “…maka aku satu-satunya orang yang bisa menghentikannya.” tangannya mengepal sangat keras.
Semua terdiam, kemudian Putra Mahkota Elias tersenyum tipis, tapi bukan senyum formal melainkan senyum penuh pengakuan.
“Aku sudah menduga jawabanmu.” ujar Putra Mahkota.
Auriel langsung menutupi wajahnya dengan ekor. “Kalian berdua sama-sama keras kepala.” katanya kesal.
Beberapa menit kemudian mereka berjalan melalui lorong rahasia di belakang perpustakaan kerajaan.
Lorong batu itu menurun jauh ke bawah tanah. Semakin dalam mereka berjalan semakin dingin udaranya dan sedikit lembab.
Lambang-lambang kuno mulai muncul di dinding. Sebagian besar telah rusak oleh waktu.
Namun Arcelia merasa simbol-simbol aneh itu terasa sangat familiar.
Seolah dirinya pernah melihat simbol itu atau mungkin pemilik tubuh asli ini pernah melihatnya.
“Tuan Rumah…” Auriel tiba-tiba memperlambat langkah. “Aku merasakan sesuatu.” kata Auriel.
“Apa?” tanyanya.
Rubah kecil itu menatap ke depan lorong yang gelap. Dan untuk pertama kalinya suaranya terdengar benar-benar serius.
“Kita tidak sendirian.” kata Auriel.
Semua langsung menghentikan langkahnya sedangkan Putra Mahkota Elias perlahan mencabut pedangnya.
Marcus juga ikut bersiap, keheningan langsung menyelimuti lorong bawah tanah.
Lalu—
TAP.
TAP.
TAP.
Suara langkah kaki bergema dari kegelapan dan satu sosok perlahan muncul di ujung lorong.
Rambut perak pucat.
Mata biru dingin.
Senyuman tipis yang penuh dengan ejekan.
Dan saat cahaya obor menyinari wajahnya Arcelia langsung mengenalinya dari deskripsi Lunaria.
"Pangeran Kael Astrael." mata Arcelia terbelalak.
Pangeran kedua menepuk tangannya secara perlahan.
Puk..!
Puk..!
Puk..!
“Kalian datang tepat waktu.” Senyumnya semakin lebar.
Lalu tatapannya jatuh langsung pada Arcelia. “Akhirnya aku bertemu denganmu, pewaris terakhir Arkanel.”