NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja Monokrom dan Getaran Sunyi

Semburat cahaya jingga sisa matahari sore perlahan memudar, berganti dengan selimut malam yang mulai turun di atas atap kediaman Mwohan. Lampu-lampu pintar bernuansa *warm white* di langit-langit beraksen emas otomatis menyala redup, menciptakan atmosfer yang luar biasa tenang namun sarat akan ketegangan yang tak kasat mata.

Gus Zayyad baru saja menyelesaikan koordinasi taktisnya dengan Bapak Handoko di teras depan. Setelah memastikan seluruh rombongan Jombang aman di hotel transit, sang CEO melangkah kembali ke dalam rumah. Langkah kakinya yang lebar dan konstan terasa sedikit lebih lambat dari biasanya saat ia melewati selasar marmer menuju koridor barat.

Zayyad berdiri di depan pintu kayu jati kamar utama. Di balik kemeja kokonya, jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan sebuah sensasi asing yang bahkan tidak ia rasakan saat dihadang komplotan bersenjata di pelabuhan semalam. Setelah menata napas baritonnya, ia memutar kenop pintu perlahan.

*Klek.*

Kamar tidur bernuansa *Modern Luxury* itu tampak begitu elegan. Di atas ranjang *king-size* berseprai slate gelap, Nara sedang duduk bersandar pada *headboard* beludru. Ia telah menanggalkan khimar brokatnya, menyisakan rambut hitam panjangnya yang terurai indah di atas bahu sebuah pemandangan privat yang seketika membuat napas Zayyad tertahan di tenggorokan.

Nara mendongak, matanya yang bulat jernih menatap kedatangan suaminya dengan binar penuh kepasrahan dan rasa penasaran tingkat tinggi yang tersembunyi. "Gus... sudah selesai urusan di depan?"

"Sudah, Nara," sahut Zayyad rendah. Ia menutup pintu kamar rapat-rapat, menguncinya dengan bunyi *klik* yang bersih—seolah menyegel seluruh dunia luar, termasuk potensi gangguan dari adik iparnya yang super degil.

Zayyad melangkah mendekati ranjang, menanggalkan peci hitamnya dan meletakkannya di atas meja nakas. Postur tubuh kekarnya yang menjulang tinggi menciptakan bayangan protektif yang intim di atas tempat tidur. Saat ia duduk di tepi ranjang, keempukan kasur membuat jarak di antara mereka terkikis seutuhnya.

Atmosfer di dalam kamar mendadak berubah pekat oleh debaran maskulin yang sangat kuat. Zayyad mengulurkan tangan besarnya, perlahan menyentuh dagu Nara, menaikkan wajah polos istrinya agar menatap langsung ke dalam manik mata hitam kelam miliknya. Kedekatan ini begitu masif, hingga Nara bisa merasakan kehangatan napas Zayyad yang beraroma maskulin menembus kulit wajahnya.

Tepat saat Zayyad mendekatkan wajahnya dan jemari taktisnya mulai bergerak meraba kancing teratas kemeja kokonya untuk memulai "manuver darurat" yang sesungguhnya—

*Drrrt... Drrrt...*

Ponsel pintar milik Zayyad yang tergeletak di atas nakas bergetar agresif di atas permukaan kaca. Sebuah pesan teks masuk melalui jalur privat teks pendek.

Zayyad refleks menghentikan gerakannya, rahang tegasnya mengetat kaku. Dengan helaan napas berat, ia meraih ponsel tersebut. Layarnya menampilkan sebuah pesan dari kontak bertanda: **"Jerry / Pengamat Taktis"**.

..."Gus kaku! Davik cuma mau ngingetin, berdasarkan perhitungan draf algoritma jam biologis, jam segini adalah waktu paling efisien buat pencet tombol 'start'. Jangan lupa pakai taktik gas pol tingkat dewa ya! Davik mantau grafik dari lantai atas lewat getaran lantai beton. Semangaaat ngerakit bayinya! 🏍️👶"*...

Zayyad seketika memejamkan matanya rapat-rapat, memijat pangkal hidungnya yang mancung dengan rasa frustrasi yang luar biasa kocak. Wajah tampannya kembali memerah sempurna hingga ke ujung telinga.

Nara yang melihat perubahan ekspresi suaminya langsung melirik ke arah layar ponsel. Begitu membaca deretan kalimat *random* bin ajaib dari adiknya, Nara langsung menarik selimut slate gelap itu hingga menutupi seluruh wajahnya, memekik tertahan karena malu setengah mati ke tingkat antariksa.

"Davikaaaaa... benar-benar anak itu..." gumam Nara pasrah dari balik selimut.

Zayyad mendengus pendek, sebuah senyuman tipis yang sarat akan kekalahan taktis akhirnya terukir di sudut bibir tegapnya. Ia langsung menekan tombol *Power* lama-lama, mematikan ponselnya seutuhnya dari peradaban jaringan benua Asia.

Sambil meletakkan kembali ponsel yang sudah mati itu, Zayyad meraih ujung selimut yang menutupi wajah Nara, menurunkannya perlahan hingga mata jernih istrinya kembali terlihat.

"Nara," suara bariton Zayyad mengalun jauh lebih dalam, sarat akan otoritas seorang suami yang siap mengunci takdir malam ini tanpa gangguan draf simulasi mana pun. "Mari kita lupakan draf tutorial dari Davika... dan memulai taktik kita sendiri."

Nara mengangguk pelan dengan rona merah yang semakin matang di pipinya, menyambut dekapan hangat dari lengan kekar sang putra mahkota yang malam itu resmi memulai babak baru di bawah langit Al-Anwar yang paling sakral.

...----------------...

Di bawah temaram lampu pintar kamar utama yang bernuansa *warm white*, ruang privat itu kini benar-benar menjadi milik mereka berdua. Setelah jaringan komunikasi ke luar diputus total oleh Gus Zayyad, tidak ada lagi celah bagi sinyal *random* dari lantai dua untuk merusak atmosfer.

Nara merasakan telapak tangan besar Zayyad yang hangat dan sedikit kapalan khas pria yang terbiasa memimpin pergerakan logistik menyusup perlahan ke balik tengkuknya. Sentuhan itu begitu lembut, kontras dengan postur tubuh kekar Zayyad yang malam ini tampak begitu mendominasi di atas ranjang *king-size*.

"Gus..." bisik Nara parau, matanya berkedip pelan menahan debaran yang kian masif. Rasa penasaran tingkat tinggi yang semalam sempat disembunyikannya di balik khimar, kini beralih menjadi pasrah seutuhnya.

Zayyad tidak menjawab dengan kata-kata. Baginya, draf taktis di atas kertas sudah berganti menjadi tindakan nyata. Dengan satu gerakan konstan yang maskulin, ia mencondongkan tubuh tegapnya, mengikis sisa jarak satu jengkel di antara mereka hingga aroma wangi melati dari rambut Nara berbaur sempurna dengan wewangian maskulin tubuhnya.

Ketika penyatuan takdir itu akhirnya dimulai dengan ritme yang dalam dan penuh komitmen, ingatan Zayyad tentang semua kegilaan pelarian semalam tentang *cushion*, *liptint*, dan motor balap seketika luruh. Di sini, di balik selimut slate gelap, hanya ada ketulusan sepasang suami istri yang sedang menorehkan babak paling suci dalam hidup mereka.

......................

Sementara itu, di kamar lantai dua yang bernuansa minimalis modern, Davika masih duduk bersila di atas kasurnya. Laptopnya menyala, menampilkan bagan draf kosong yang rencananya akan ia isi dengan "Grafik Efisiensi Regenerasi Keluarga Mwohan-Al Anwar".

Tangan mungilnya yang super kecil memegang ponsel, menatap layar dengan dahi berkerut dalam. Riasan *cat-eye* yang sudah agak luntur di sudut matanya mengerjap kesal.

"Ih! Kok centang satu?!" seru Davika ceriwis, menggoyang-goyang ponselnya seolah bisa memunculkan sinyal yang hilang. "Gus kaku pasti mengaktifkan mode *jammer* taktis darurat nih. Padahal Davik cuma mau kirim draf saran nama bayi fase pertama."

Davika mendengus, melempar ponselnya ke atas tumpukan boneka capybara. Ia kemudian merebahkan tubuh padat berisinya, menempelkan telinganya langsung ke atas lantai marmer kamarnya yang dilapisi karpet bulu abu-abu. Sifat kedegilannya yang tidak kenal menyerah membuatnya mencoba mendeteksi getaran dari lantai bawah secara manual.

"Hening banget... Apa mereka beneran langsung gas pol tingkat dewa ya?" gumam Davika pada diri sendiri, matanya yang berwarna *green-gray* langka menatap langit-langit kamar dengan rasa penasaran tingkat antariksa yang belum tuntas.

Setelah mencoba mendengarkan selama lima menit dan hanya mendapati kesunyian malam Jakarta Selatan yang damai, Davika akhirnya menyerah. Ia menarik selimut merah mudanya hingga ke dagu, memeluk boneka Nailong-nya erat-erat.

"Ya sudahlah, semoga rakitan bayinya sukses tanpa kendala teknis. Besok pagi Davik tinggal tagih laporan hasil operasinya sama Mbak Nara!" pungkas Davika dengan cengiran kocak di wajahnya sebelum akhirnya memejamkan mata, membawa sifat *random*-nya ke dalam alam mimpi.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!