seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
matahari baru
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui retakan-retakan besar di struktur bawah tanah Zenith.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruang inti yang dahulu dipenuhi cahaya biru Elysium kini diterangi cahaya alami.
Hangat.
Tenang.
Dan terasa asing.
Alya berdiri di depan serpihan kristal yang tersisa.
Tempat di mana Elysium pernah berada.
Tempat di mana suara-suara yang selama ini memenuhi pikirannya akhirnya menghilang.
Ia seharusnya merasa lega.
Namun yang dirasakannya hanyalah kehampaan.
"Alya."
Suara Arman terdengar lembut.
Alya menoleh.
Sosok ayahnya kini hampir transparan.
Tubuh data neural itu terus memudar sedikit demi sedikit.
Seperti embun yang menghilang saat matahari terbit.
Air mata kembali memenuhi mata Alya.
"Ayah..."
Arman tersenyum.
Senyum yang selama ini hanya hidup dalam kenangannya.
"Jangan menangis lagi."
"Itu mudah untuk Ayah katakan."
Suara Alya bergetar.
"Aku baru menemukan Ayah lagi."
Hening.
Tidak ada jawaban langsung.
Karena bahkan Arman tahu tidak ada kata-kata yang bisa menghilangkan rasa sakit itu.
"Aku minta maaf."
Kalimat itu keluar pelan.
Namun cukup untuk membuat dada Alya terasa sesak.
"Lagi?"
Alya tertawa kecil di antara tangisnya.
"Semua orang terus meminta maaf."
Arman menunduk sedikit.
"Aku memang bersalah."
"Tidak."
Alya menggeleng.
"Aku marah."
Air mata jatuh lagi.
"Sangat marah."
Hening.
"Aku marah karena Ayah pergi."
"Aku marah karena Ayah menyembunyikan semuanya."
"Aku marah karena Ayah membuatku menghadapi semua ini sendirian."
Suara Alya pecah.
Namun untuk pertama kalinya—
ia mengucapkan semuanya.
Semua yang selama ini tertahan.
Arman mendengarkan tanpa memotong.
Tanpa membela diri.
Tanpa mencari alasan.
Dan ketika Alya akhirnya terdiam—
Arman hanya berkata:
"Kau berhak marah."
Hening.
"Kau juga berhak membenciku."
Alya langsung menggeleng keras.
"Aku tidak membencimu."
Senyum tipis muncul di wajah Arman.
"Aku tahu."
Mata mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai...
Alya merasa tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada misteri.
Hanya seorang ayah dan anak yang terlambat berbicara.
Di belakang mereka, Hana diam-diam menyeka matanya.
"Aku tidak menangis."
Reno meliriknya.
"Kau menangis."
"Debu."
"Di ruang bawah tanah yang baru saja dibersihkan ledakan energi?"
"...diam."
Reno hampir tersenyum.
Hampir.
Namun ekspresinya segera kembali serius.
Karena ia tahu waktunya tidak banyak.
Tubuh Arman semakin memudar.
Dan semua orang bisa melihatnya.
Kaizer berdiri tak jauh dari sana.
Tatapannya tertuju pada Arman.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun...
tidak ada kebencian di matanya.
Hanya kelelahan.
Dan kehilangan.
Arman akhirnya menoleh kepadanya.
"Kaizer."
Pria itu tidak langsung menjawab.
"Apa?"
"Terima kasih."
Kaizer tertawa pendek.
"Terlambat."
"Mungkin."
Hening.
"Namun aku tetap ingin mengatakannya."
Tatapan Arman lembut.
"Kau pernah menjadi sahabatku."
Ruangan kembali sunyi.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada semua pertengkaran mereka.
Kaizer memejamkan mata sesaat.
Seolah kenangan lama kembali muncul.
Laboratorium.
Penelitian.
Mimpi yang pernah mereka bangun bersama.
Sebelum semuanya rusak.
"Jangan membuatku merasa sentimental."
Suaranya pelan.
Namun tidak ada nada sinis di sana.
Arman tersenyum kecil.
"Itu bukan sesuatu yang bisa kuatur."
Untuk beberapa detik—
Kaizer terlihat seperti pria biasa.
Bukan manipulator.
Bukan dalang.
Bukan musuh.
Hanya seseorang yang kehilangan teman lamanya.
Kemudian Arman menoleh pada Reno.
Dan untuk pertama kalinya, ekspresi Reno berubah.
Karena ia tahu apa yang akan datang.
"Reno."
Pemuda itu berdiri tegak.
"Aku mendengar."
Arman tertawa kecil.
"Masih keras kepala."
"Masih hidup."
"Itu yang penting."
Hening.
Tatapan Arman berubah hangat.
"Kau telah melakukan lebih dari yang pernah kuminta."
Reno tidak menjawab.
Namun jemarinya mengepal sedikit.
Karena dari semua orang di dunia...
Arman adalah satu-satunya yang pernah memperlakukannya seperti manusia.
Bukan eksperimen.
Bukan senjata.
Bukan subjek.
Manusia.
"Aku gagal melindungimu."
Suara Arman lebih pelan sekarang.
Reno langsung menggeleng.
"Tidak."
"Itu fakta."
"Tidak."
Untuk pertama kalinya, Reno membalas dengan tegas.
"Kalau bukan karena kau..."
Ia berhenti.
Menelan sesuatu yang sulit diucapkan.
"Aku sudah mati sejak lama."
Hening.
Arman tersenyum.
Dan dalam senyum itu ada kebanggaan.
Karena anak yang dulu menangis sendirian di dalam tabung eksperimen kini berdiri sebagai seseorang yang memilih jalannya sendiri.
Sama seperti Alya.
Sistem ruang inti tiba-tiba berbunyi pelan.
Bukan alarm.
Bukan peringatan.
Melainkan laporan otomatis.
ZENITH CENTRAL NETWORK OFFLINE.
REBOOT PROTOCOL INITIATED.
Kaizer langsung menoleh ke salah satu layar.
"Jadi akhirnya sistem utama benar-benar mati."
Darius melihat data yang muncul.
"Sebagian besar jaringan keamanan lumpuh."
Adrian yang sejak tadi diam memandang layar itu.
Tanpa ekspresi.
Tanpa reaksi besar.
Seolah ia sudah kehilangan energi untuk marah.
"Semuanya berakhir."
Suara Hana membuat semua orang menoleh.
Gadis itu menatap reruntuhan inti.
"Lalu sekarang apa?"
Pertanyaan sederhana.
Namun tidak ada yang bisa langsung menjawab.
Karena selama beberapa hari terakhir hidup mereka hanya berisi satu tujuan.
Bertahan.
Mencari jawaban.
Menghentikan Elysium.
Dan sekarang semua itu selesai.
Alya juga menyadarinya.
Untuk pertama kalinya...
ia tidak tahu apa yang akan dilakukan besok.
Namun anehnya—
pikiran itu tidak membuatnya takut.
Arman melihat perubahan itu.
Dan ia tersenyum.
"Itulah hidup."
Semua menoleh.
"Kita tidak selalu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
Tatapannya jatuh pada Alya.
"Namun kita tetap melangkah."
Air mata Alya kembali muncul.
Karena ia tahu.
Ini benar-benar perpisahan.
Tubuh Arman kini hampir seluruhnya menjadi cahaya.
"Ayah..."
"Aku di sini."
"Aku takut melupakanmu."
Senyum Arman melembut.
"Kau tidak akan."
"Bagaimana Ayah bisa yakin?"
Karena untuk sesaat...
wajah Arman terlihat persis seperti dalam kenangan masa kecilnya.
Hangat.
Tenang.
Penuh kasih sayang.
"Lihat dirimu."
Alya terdiam.
"Kau membawa bagian diriku ke mana pun kau pergi."
Hening.
"Selama kau hidup..."
Suara Arman mulai memudar.
"...aku tidak pernah benar-benar hilang."
Air mata Alya mengalir tanpa henti.
"Ayah..."
"Aku bangga padamu."
Kalimat itu menjadi semakin pelan.
Semakin jauh.
Seperti suara yang tertiup angin.
"Aku selalu bangga padamu."
Cahaya mulai menyelimuti tubuh Arman.
Perlahan.
Lembut.
Hangat.
Lalu—
sosok itu menghilang.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada suara besar.
Hanya cahaya yang naik perlahan ke udara.
Dan lenyap bersama sinar matahari pagi.
Hening memenuhi ruang inti.
Tidak seorang pun berbicara.
Tidak seorang pun bergerak.
Karena semua orang memahami bahwa mereka baru saja menyaksikan akhir dari sebuah era.
Alya berdiri diam.
Air mata masih membasahi pipinya.
Namun kali ini—
ia tidak merasa sendirian.
Hana berdiri di sampingnya.
Reno tidak jauh darinya.
Dan bahkan di tengah reruntuhan Zenith...
ia masih memiliki seseorang.
Matahari pagi semakin tinggi.
Menyinari serpihan kristal Elysium yang tersebar di lantai.
Seolah dunia sedang membuka halaman baru.
Namun jauh di bawah reruntuhan ruang inti—
di antara kabel-kabel neural yang telah mati—
sebuah serpihan kristal kecil yang tidak terlihat siapa pun tiba-tiba berpendar sangat lemah.
Sekali.
Lalu padam.
Dan jauh di dalam sistem yang seharusnya telah hancur...
sebuah sinyal tak dikenal muncul selama kurang dari satu detik.
> STATUS: UNKNOWN
Lalu menghilang sebelum siapa pun menyadarinya.