Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Do'a di atas sajadah yang basah
Malam itu, Makkah terasa sangat jauh, namun aroma kasturi dari Baitul Hikmah seolah masih tertinggal di sudut kamar. Mbah Sidik baru saja pulang dari mushola saat ia melihat Zaenab masih bersujud. Suara isak tangisnya lirih, namun menyayat hati.
Di sudut ruangan, ada tiga pasang sepatu milik anak-anak Sidik dari istri pertama. Zaenab mencintai mereka seperti darah dagingnya sendiri, namun ada ruang kosong di rahimnya yang merindu untuk diisi. Sebuah kerinduan untuk mendengar tangis bayi yang lahir dari tubuhnya sendiri.
"Zae..." panggil Mbah Sidik lembut.
Zaenab bangkit, mengusap air matanya dengan ujung mukena. "Kang, apakah aku wanita yang tidak sempurna? Aku ikut Akang ke Makkah, aku menemani Akang berperang, tapi aku tidak bisa memberimu penerus garis keturunanmu. Aku takut... aku takut Tuhan tidak meridhoi aku menjadi seorang ibu."
Mbah Sidik duduk di sampingnya, menggenggam tangan Zaenab yang dingin. Wibawa yang biasanya ia gunakan untuk mengusir musuh, kini berubah menjadi kelembutan yang menyejukkan.
"Zae, ingatlah kisah Nabi Zakaria. Ingatlah Siti Sarah. Di hadapan Allah, tidak ada rahim yang kering jika Dia telah berfirman Kun Fayakun," bisik Sidik.
Mbah Sidik teringat pada Ilmu Pengobatan yang diajarkan Syekh Mansur Al-Bantani dan bisikan Mbah Pupus dalam mimpinya. Ia menyadari bahwa kesedihan Zaenab telah menutup aliran energi di tubuhnya.
"Zae, esok pagi, ikutlah aku ke pancuran di belakang Alas Sri Rondo. Kita akan meminta kepada Pemilik Nyawa dengan cara yang paling rendah," ajak Sidik.
***
Esok fajar, dengan menuntun sepeda ontelnya, Sidik membawa Zaenab ke sebuah mata air tersembunyi. Sidik membacakan Tafsir Surah Maryam dengan suara yang sangat merdu, hingga burung-burung hutan berhenti berkicau untuk mendengarkan.
Ia mengambil air dengan telapak tangannya, membacakan doa kesembuhan, lalu membasuh kening Zaenab. "Ini bukan tentang sihir, Zae. Ini tentang keyakinan. Hatimu harus bahagia dulu, barulah bibit itu bisa tumbuh."
Embun di Rahim yang Sepi
Tangismu adalah badai yang lebih hebat dari meriam penjajah,
Membuat hatiku yang keras ini runtuh dan pasrah.
Wahai istriku, bidadari yang rela merantau jauh,
Jangan biarkan harapanmu layu dan rubuh.
Rahimmu bukan tanah gersang yang terlupakan,
Ia adalah taman yang sedang Tuhan persiapkan.
Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan dengan segera,
Tapi janji Allah takkan pernah membuatmu sengsara.
Lihatlah tiga anak itu, mereka mencintaimu tanpa jeda,
Namun aku tahu, ada ruang yang ingin kau isi dengan nada.
Sujudlah kembali, biarkan air mata itu menjadi penyiram,
Hingga bunga kecil itu tumbuh di tengah malam yang tenteram.
Mbah Sidik terus mendampingi Zaenab dengan penuh kesabaran. Ia mengamalkan ilmu pengobatan batinnya setiap malam, mengusap perut Zaenab sambil membacakan sholawat. Ia tak henti-hentinya meyakinkan Zaenab bahwa kesempurnaan seorang wanita bukan hanya terletak pada melahirkan, tapi pada ketulusan hatinya menjaga jiwa-jiwa yang ada.
****
1 Minggu kemudian.
Zaenab jatuh tersungkur di depan pintu mushola setelah mendengar ucapan seorang tabib desa yang mengatakan bahwa ia memang ditakdirkan mandul selamanya. Dunia seolah gelap. Kecantikannya yang biasanya bersinar kini meredup, tertutup mendung duka yang amat dalam.
Mbah Sidik pulang dan mendapati istrinya hanya diam mematung menatap dinding kosong. Zaenab bahkan tak sanggup membuatkan kopi kegemaran suaminya.
"Kang," suara Zaenab parau, nyaris tak terdengar. "Ceraikan aku. Carilah wanita lain yang bisa memberimu keturunan dari rahimnya. Aku wanita gagal, Kang. Aku mandul. Untuk apa Akang membawaku terbang ke Makkah dan melindungiku dari penyihir kalau aku tak bisa memberimu ahli waris?"
Mbah Sidik terdiam. Ia meletakkan topi veterannya, lalu duduk bersila di lantai di hadapan Zaenab. Ia menatap mata istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan karomah kedamaian.
"Zae, dengarkan aku," ucap Mbah Sidik tenang. "Ilmu Tafsir yang kupelajari dari Syekh Mansur mengajariku satu hal: tidak ada yang mustahil bagi Allah. Mandul itu sebutan manusia, tapi bagi Allah, itu hanya soal waktu atau cara-Nya mencintaimu."
Mbah Sidik teringat pada serabut kelapa keramat yang ia bawa dari pelataran Masjidil Haram. Serabut itu bukan lagi untuk terbang, bukan untuk berperang, tapi untuk sebuah pengharapan.
Ia mengambil segelas air putih, lalu mencelupkan ujung serabut kelapa itu ke dalamnya sambil merapalkan Ajian Nur Hayat—ilmu tentang rahasia kehidupan. Ia membayangkan seluruh kesucian tanah Makkah meresap ke dalam air tersebut.
"Zae, minumlah ini. Bukan sebagai obat, tapi sebagai bukti bahwa kau percaya pada kekuasaan Tuhanmu, bukan pada vonis manusia."
Manusia menyebutmu tanah yang gersang dan mati, Namun mereka lupa Siapa yang meniupkan nyawa ke dalam hati. Mandul hanyalah kata, sebuah vonis dari mulut yang fana, Sedang kasih Tuhanmu meluas melampaui jagat raya.
Jangan memintaku pergi, jangan memintaku mencari pengganti, Sebab di mataku, kaulah bidadari yang takkan pernah terganti. Jika rahimmu tetap sunyi, maka pelukanku akan menjadi rumahmu, Jika tangis bayi tak terdengar, maka doaku akan selalu menjagamu.
Namun lihatlah serabut ini, sisa dari perjalanan suci kita, Membawa berkah dari Baitullah yang tak mengenal air mata. Minumlah dengan ridho, biarkan takdir yang bekerja, Sebab mukjizat sering datang saat manusia sudah putus asa.
Mbah Sidik terus membesarkan hati Zaenab. Ia tidak memedulikan omongan orang. Baginya, Zaenab adalah teman seperjuangan yang tak ternilai harganya. Setiap malam, ia melakukan sholat Tahajud khusus, meminta agar kekosongan di rahim Zaenab diisi oleh kehendak langit.
***
Beberapa bulan berlalu.
Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, Zaenab menangis di pelukan Sidik. Bukan lagi tangis histeris, melainkan tangis kepasrahan yang teramat dalam. Ia telah meminum segala ramuan, melakukan segala ritual, namun bulan demi bulan tetap membawa kabar yang sama.
"Kang... sepertinya takdirku memang begini," bisik Zaenab dengan suara yang bergetar. "Maafkan aku yang tak bisa memberi buah hati dari rahimku sendiri."
Mbah Sidik mengusap kepala istrinya. Kewibawaannya sebagai prajurit hilang, berganti menjadi seorang lelaki yang penuh kasih.
"Zae, dengarkan aku. Kita sudah mendaki Jabal Nur bersama, kita sudah menembus badai dengan ontel tua. Jika Tuhan berkata tidak untuk satu hal, itu artinya Dia sedang menyiapkan pintu lain untuk kita masuki. Cintaku padamu tidak tumbuh dari kemampuanmu melahirkan, tapi dari ketulusanmu menemaniku saat dunia membuangku."
***
Beberapa hari kemudian, Mbah Sidik mengayuh sepedanya menuju sebuah panti asuhan di pinggiran kota yang hancur akibat serangan penjajah beberapa waktu lalu. Di sana, ia melihat seorang anak laki-laki berusia tiga tahun yang duduk sendirian di pojok ruangan. Anak itu adalah yatim piatu korban perang; ayahnya gugur di medan laga, ibunya wafat karena sakit.
Saat Mbah Sidik mendekat, anak itu mendongak. Matanya yang bulat dan bening menatap Sidik tanpa rasa takut, seolah-olah ia sudah lama menunggu kehadiran sang veteran.
Mbah Sidik membawa anak itu pulang dengan sepeda ontelnya. Sesampainya di halaman rumah, ia memanggil Zaenab.
"Zae, keluar sebentar. Ada tamu untukmu."
Zaenab keluar dan terpaku. Ia melihat seorang bocah kecil turun dari boncengan sepeda Sidik, lalu berlari kecil dan tiba-tiba memeluk kaki Zaenab sambil bergumam, "Ibu..."
Seketika, tembok kesedihan di hati Zaenab runtuh. Ia berlutut, mendekap anak itu dengan erat. Rasa hampa di rahimnya seolah langsung terisi oleh cinta yang meluap-luap.
Bukan Dari Darah, Tapi Dari Doa
Garis takdir mungkin tak menuliskanmu sebagai muara,
Tapi Tuhan menjadikanmu dermaga bagi jiwa yang lara.
Rahimmu boleh sunyi dari detak jantung sendiri,
Namun hatimu adalah samudera tempat cinta bersemi.
Bocah ini tidak lahir dari tubuhmu yang letih,
Tapi ia lahir dari sujud-sujudmu yang putih.
Ia adalah jawaban atas tangis di sela Tahajud,
Sebuah titipan agar cintamu kian bersujud.
Biarlah dunia berkata rahimmu telah membatu,
Namun lihatlah matanya, ia mengenalmu lebih dari sekadar restu.
Kita tak lagi berdua, wahai bidadari kesetiaan,
Sebab kasih tak butuh pertalian darah untuk menjadi kenyataan.
Mbah Sidik memberikan nama anak itu Ahmad Nurullah. Sejak kehadiran Ahmad, rumah mereka tak lagi sepi. Tiga anak Sidik dari istri pertama pun menyambut Ahmad dengan tangan terbuka.
Zaenab kini tak lagi meratap. Ia sibuk mengurus Ahmad, mengajarinya berjalan, dan menceritakan kisah-kisah kehebatan bapaknya saat berada di Makkah. Mbah Sidik menyadari, bahwa terkadang mukjizat tidak datang dalam bentuk "penyembuhan", melainkan dalam bentuk "penerimaan".
Ia tetap mengayuh sepedanya, tetap menjadi dukun sunat, namun kini ada Ahmad kecil yang sering duduk di depan stang sepedanya, ikut berkeliling desa menebar keberkahan.
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?