NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 25

Di sebuah toko buku terbesar di tengah kota, Alyra berdiri di antara rak-rak kayu yang menjulang. Perempuan hamil itu berada di barisan buku-buku novel yang berjejer rapi di samping kiri dan kanan.

Raut wajahnya begitu berbinar, tak ada yang bisa mengalihkan, tatapan penuh bangga atas keberhasilannya di ranah kepenulisan — terus memancar, kala memandangi beberapa series novel karyanya terpajang rapi dalam barisan buku-buku best seller.

Ia mengulas senyum tipis. “Terima kasih, ya Allah … sungguh hamba tak pernah menyangka akan berada pada titik terbaik hidup ini,” ucapnya penuh rasa syukur dan bersungguh-sungguh.

Mengingat masa kecilnya yang begitu keras, hidup pas-pasan, memiliki seorang ayah yang gila judi dan gemar bersikap kasar. Dirinya tak pernah luput dari siksaan, tamparan, pukulan keras, sehingga menyebabkan luka batin dan mental — yang ditorehkan oleh seorang Zulkifli Hussein.

Zulkifli sendiri kini tengah mendekam, terkurung di dalam jeruji besi. Bukan sekali, ini adalah hukuman ketiga kalinya, setelah Nirmala sendiri yang memutuskan untuk melaporkan tindak kekerasan yang nyaris merenggut nyawa putri semata wayangnya.

Hukuman pertama dan kedua dilaporkan oleh seseorang yang menindak pidana atas kecurangan, piutang, akibat judi yang sangat digemari oleh Zulkifli.

Suatu mukjizat besar Alyra masih bisa bernapas dan hidup panjang umur hingga saat ini, bahkan dirinya dapat meraih impiannya sebagai seorang penulis. Pasalnya, sebelum Nirmala bertemu Abimanyu, kehidupan keluarga Alyra sendiri terbilang memprihatinkan. Untuk biaya sekolah, Alyra harus membantu mengais penghasilan dengan kerja part time serabutan.

Seorang janda beranak satu, menjadi tulang punggung, juga menanggung hidup sang ibu, Nirmala hanya berprofesi sebagai juru masak di sebuah panti asuhan. Yayasan besar milik keluarga Dewangga.

Ya, di sana-lah Nirmala dan Abimanyu saling bertemu, kemudian saling menaruh rasa dan jatuh cinta.

Di tengah rasa syukur dan benak yang melesat ke masa silam, Alyra dikejutkan oleh dering ponsel yang berada di dalam tas selempang.

Ia segera meraihnya, menatap lekat layar persegi, begitu nama Annika muncul, buru-buru ia menggeser tombol hijau.

“Iya, Ann. Ada apa?” Tanpa mengucap salam, dirinya terbiasa bersikap santai dengan sahabatnya.

“Al. Lo udah liat media sosial?” Suara Annika terdengar penuh cemas dari sambungan.

“Belum, ada berita apa? Oppa-oppa kesayangan Lo keseret skandal?” celetuknya, belum lama ini sang sahabat telah bercerita, bahwa idola tercintanya tersandung berita miring.

“Bukan, Al. Kalau bisa jangan buka sosmed dulu, ya,” ujar Annika dari seberang dengan nada serius. “Lo di mana? Gue samperin sekarang,” lanjutnya.

“Gue … lagi di toko buku,” sahutnya seraya menoleh ke kiri dan kanan, sorot matanya mulai gelisah, suara Annika jelas terdengar khawatir. “Sebenarnya ada apa, sih, Ann?”

“Jangan kemana-mana, tetap di situ. Gue otw,” ucap Annika lalu menutup panggilan.

Jantung Alyra mulai tak tenang, perlahan tangan menyentuh dada yang mulai berdesir, merayap seolah memberi tanda bahwa sesuatu tak baik sedang terjadi.

Larangan Annika semakin membuatnya penasaran, ia tak lagi mengingat pesan sang sahabat, segera membuka aplikasi merah muda di ponselnya.

Tangannya mulai menggulir layar, matanya terlihat fokus, alisnya terangkat sebelah kala mendapati banyak akun asing yang menyebut nama pengguna media sosialnya.

Ia menekannya, kemudian satu berita yang menyeret namanya muncul di layar benda pipih itu.

Tak berhenti di sana, jemari Alyra terus bergerak, membuka kolom komentar.

“Dasar tukang plagiat!”

“Penulis tolol!”

“Nggak mampu nulis jangan plagiat dong!”

“Muak banget sama tukang plagiat kayak gini!”

“Tuntut aja tuh, dasar peniru anj!”

“Bawa ke jalur hukum biar kapok!”

Berbagai cibiran tajam yang jelas ditujukan pada dirinya memenuhi kolom komentar di akun gosip yang cukup besar. Jumlah pengikut sosmednya mencapai jutaan.

Alyra meremas kuat benda persegi itu, pupilnya membesar, sorot matanya berkaca-kaca.

“Apa maksudnya ini?” Ia tak percaya bahwa namanya masuk ke dalam daftar — penulis plagiat.

Alyra meneguk ludah, isi kepalanya mulai kalut, tak bisa berpikir jernih. Ia kemudian berbalik, memasukan ponsel ke dalam tas selempang bermerek terkenal.

Sebelum pergi dari sana, ia telah mengirim pesan singkat kepada Annika.

Alyra – nggak usah ke sini, gue ke kantor sekarang.

.

.

.

Sesampainya di gedung rumah produksi Star Gold, Alyra berjalan dengan terburu-buru. Annika telah menunggu di lobi dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.

“Al, tenang dulu, ya.” Ia meraih lengan sahabatnya begitu Alyra telah melangkah lebih dekat.

“Kok bisa jadi gini, sih, Ann? Kenapa naskah itu bisa bocor padahal kita belum merilisnya?” Alyra tak bicara dengan santai, suaranya sedikit meninggi.

“Gue juga nggak tau, Al. Tiba-tiba berita itu muncul pagi ini,” sahut Annika, ikut cemas. “Lo nggak apa-apa, ‘kan?”

“Gue diserang di sosmed, dimaki habis-habisan. Gimana bisa nggak apa-apa?” jawabnya ketus.

“Iya, gue tau. Mulut dan ketikan netizen ini bikin gemas emang.” Annika meraup kasar wajahnya, membuang napas berat.

“Di mana Bu Sisil? Apa komentarnya?” Alyra menatap penuh tanya ke arah temannya.

“Lagi rapat sama penulis lain, bentar lagi kita juga bakal dipanggil ke ruangannya,” sahut Annika.

Alyra menarik napas panjang, jemarinya masih mengepal erat di sisi tubuh. “Lo tau … siapa penulis yang diberitain bareng gue itu?”

“Setau gue, penulis yang udah punya nama besar di dalam maupun di luar negeri. Nama penanya … Stefani Aurora.”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!