kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sisa teror di balik akar
## Bab 25: Sisa Teror di Balik Akar
Dengan tubuh sempoyongan dan kaki yang lemas akibat terkurasnya energi batin, Ahmad memaksakan diri melangkah. Setiap pijakannya di atas tanah hutan yang basah terasa berat. Namun, pandangannya tidak lepas dari bayangan pohon beringin besar di sudut halaman rumah panggung.
Beberapa menit kemudian, Ahmad akhirnya sampai di bawah naungan akar-akar gantung yang menjuntai mistis. Ia tertegun sesaat melihat Agus dan Paman Mira terkapar di atas akar yang melintang. Bukannya terpisah, posisi mereka justru sedang berdekapan sangat erat.
Ahmad menarik napas dalam-dalam, mengamati sisa-sisa hawa hitam yang perlahan menguap dari tubuh kedua orang itu. Setelah memastikan napas mereka masih berembus teratur dan hanya pingsan akibat syok gaib, ketegangan di wajah Ahmad seketika luruh.
"Ya salam... Disuruh cari foto malah enak-enak tidur di sini," gumam Ahmad seraya terkekeh pelan di balik helaan napas leganya.
Ahmad berlutut di sebelah Agus, lalu mengguncang pelan bahunya. "Gus... Bangun, Gus. Subuh sebentar lagi. Jangan malah betah tidur di sini."
Namun, saat tangan Ahmad hendak menggeser lengan Agus yang tertekuk, pandangannya mendadak terpaku pada sesuatu yang terselip di celah akar beringin, tepat beberapa sentimeter di dekat jemari tangan Agus yang terbuka.
Sebuah foto Mira yang dibungkus selembar kain putih beserta pakaian dalam perempuan terselip di sana. Ahmad bergerak cepat. Sebelum membangunkan mereka, ia mengambil benda-benda tersebut terlebih dahulu dan mengamankannya di saku jaket. Ia yakin seratus persen, benda itulah media sihir pengikat sukma Mira.
Setelah memastikan barang bukti itu aman, Ahmad kembali memusatkan perhatian pada kedua orang di hadapannya. Ia menggeleng-geleng melihat posisi mereka yang masih melekat erat.
Ahmad mengguncang bahu Agus sedikit lebih keras. "Gus... Bangun. Sudah mau Subuh. Ayo bangun!"
"Eunghhh..."
Agus melenguh pelan. Kelopak matanya bergetar, mencoba terbuka di tengah sisa rasa pening yang menghantam kepala. Hawa dingin malam itu membuat Agus refleks mempererat dekapan, melingkarkan lengannya kuat-kuat ke tubuh di depannya, yang ia sangka guling, lalu mengusapkan wajahnya dengan manja ke bahu tersebut. "Aduh... Mak, dingin banget, Mak... Selimutnya tebelin..." gumam Agus setengah sadar.
Pelukan yang mendadak mengencang itu sontak membuat Paman Mira yang berada di bawahnya megap-megap kekurangan oksigen. Kesadaran Paman Mira langsung tersentak bangun akibat tulang rusuknya serasa mau patah.
"Ugh! Uhuk! Na-napas saya... siapa ini?!" Paman Mira mengerang dengan suara serak, matanya mendadak melotot lebar.
Di detik yang sama, Agus yang mendengar suara berat pria tepat di depan telinganya langsung membuka mata bulat-bulat.
Kedua pria itu saling bertatapan dalam jarak super dekat. Wajah Agus yang pias beradu langsung dengan wajah Paman Mira yang berkumis tebal. Sadar kalau mereka sedang berpelukan mesra di bawah pohon beringin angker, keduanya membeku selama dua detik.
"Astagfirullahaladzim!!! Setan beringeeen!!!" pekik Agus histeris.
"Kurang ajar! Lu ngapain meluk-meluk saya, Gus?!" teriak Paman Mira tak kalah histeris dengan suara melengking.
Brak!
Saking syok dan jijiknya, mereka saling dorong dengan sekuat tenaga hingga sama-sama terjungkal ke belakang. Agus merangkak panik menjauh sambil sibuk mengusap-usap lengannya yang merinding, sementara Paman Mira langsung meludahi tanah berkali-kali sembari mengusap wajah yang sempat menempel pada wajah Agus.
Ahmad yang menyaksikan pemandangan absurd itu akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Tawa kecilnya pecah di balik telapak tangan yang mencoba menutup mulut.
"Sudah... Sudah tidak usah ribut, mari kita pulang," ujar Ahmad dengan senyum tipis yang tertahan.
"Ta.. ta-tadi ada..." ujar Paman Mira terbata-bata. Namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapan, Agus sudah memotongnya.
"Loh, kok Abang Ahmad ada di sini? Bukannya tadi Abang pergi ke rumah dukun itu...?" tanya Agus bingung, mencoba mencari kejelasan.
"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Yuk kita pulang," sahut Ahmad datar.
Baru beberapa langkah berjalan meninggalkan area beringin, hidung Agus mendadak mengendus udara sekitar. Ia mengernyit curiga. "Lah... ini bau apaan, ya?"
Belum sempat Agus berpikir panjang, Paman Mira langsung memotong ketus. "Sudah, kamu jangan berisik, kita lanjut jalan!"
Hal itu justru membuat Agus semakin curiga. Pandangan Agus turun ke bawah, dan benar saja, permukaan celana bagian tengah Paman Mira tampak basah kuyup. Rupanya pria paruh baya itu mengombol di celana saking ketakutannya tadi.
"Paman.. i-itu..?" tanya Agus dengan nada menahan tawa yang amat sangat.
Sontak dengan gerakan secepat kilat, Paman Mira langsung membekap mulut Agus erat-erat, sambil melemparkan pandangan tajam dan senyum terpaksa sepanjang jalan demi menahan malu.
Sementara itu di kediaman Mira, ketegangan yang sedari tadi mencekam seisi ruangan perlahan mulai mencair. Sang Kiai beserta para santri yang tak henti-hentinya melantunkan ayat suci, juga seluruh keluarga yang terus berjaga dalam kecemasan, akhirnya bisa bernapas lega.
Kondisi kesehatan Mira tampak berangsur-angsur membaik secara drastis. Walaupun energinya belum pulih total, perubahan itu kelihatan jelas dari raut wajahnya. Kulitnya yang tadinya pucat pasi bagai mayat, kini perlahan kembali merona, seiring dengan kembalinya aliran darah dan kesadaran sukmanya yang sempat hilang.
Bersambung
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁