Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Senin pagi, artinya harus kabur sebelum upacara. Setelah mojok sebentar di warung bersama teman-temannya, Narisa, Kara, dan anak-anak lain akhirnya sadar diri kalau mereka masih pelajar. Karena pagar biasa sudah diincar Pak Kasim, mereka memilih gerbang kecil di belakang sekolah.
Aman, karena satpam yang jaga di sana sudah lelah menghadapi tingkah mereka.
"Masuk sana," kata cowok muda itu sambil mengibaskan tangan malas. "Kalau ketangkep jangan salahin saya."
Rombongan itu langsung nyengir sambil lewat, lalu menyebar ke kelas masing-masing.
Pelajaran berlangsung biasa saja. Yang tidak biasa justru saat jam istirahat.
Tim basket yang bertanding kemarin persis seperti artis sekolah. Kara dan Harum yang cuma datang ke kantin buat beli roti dan es kopi langsung jadi pusat perhatian. Sebagian anak sampai berdiri sambil tepuk tangan.
"KAK KARA KEREN!"
"Kak Harum, aku ngefans!"
"Kak, ajarin masukin bola dong!"
Narisa yang sedang khusyuk makan mie ayam langsung memutar mata malas.
"Norak amat," gerutunya sambil melirik junior-junior yang heboh mengerubungi dua orang itu.
Mereka bahkan berlomba-lomba mentraktir ini itu. Kara terlihat lelah, sementara Harum sudah ngakak dari tadi.
"Duduk sana," kata Kara sambil mengibaskan tangan. "Semangat kalian mending dipake buat belajar."
Bukannya tersinggung, anak-anak itu malah makin heboh.
"Galak banget sih... tapi keren."
"Dimarahin aja aku seneng."
Kara dan Harum akhirnya buru-buru membayar lalu kabur secepat mungkin. Semua itu tidak lepas dari pantauan Narisa yang makin panas sendiri.
"Sok nolak. Padahal bangga banget di kerubungin junior."
"Lo kenapa sih dari tadi?" Putri cekikikan, lalu mendekat sambil berbisik. "Cemburu bininya populer?"
Narisa langsung menoleh tajam.
"Bacot lo kurang sambel kayaknya."
Putra dan Fahri buru-buru menahan tawa. Kalau ikut nimbrung, bisa-bisa mangkuk sambal pindah ke muka mereka.
"Basket cewek top banget sih," Fahri mengacungkan jempol. "Yang cowok juara dua juga masih oke. Mungkin gara gara banyak yang masih sewot sama Cakra,"
"Nah kan? Peak emang," gerutu Narisa. "Yang nyebarin gw ngajak satu sekolah bolos juga temen-temennya dia."
"Nah itu," sambung Putra. "Yang gw gak paham, kenapa masalah itu malah bikin soal Cakra selingkuh ikut nyebar."
"Ya iyalah," Putri melipat tangan. "Orang jadi makin kepo alasan Nanar bisa segila itu. Ujung-ujungnya pada nyari tau sendiri."
"Si Sonya juga sempet dijulidin anak kelasnya," kata Narisa puas.
Putri langsung menoleh. "Kok lo tau?"
"Mata gw ada di mana-mana."
Semua langsung mengangguk malas. Tidak ada yang heran lagi.
Di sekitar mereka, anak-anak masih sibuk membahas pertandingan kemarin. Dan tiap nama Kara disebut, telinga Narisa makin panas sendiri.
Akhirnya dia bangkit sambil meregangkan badan.
"Cabut lah. Berisik."
Yang lain langsung ikut berdiri. Bukan karena rajin masuk kelas, tapi ancaman Bu Rahayu masih menghantui.
Sekali lagi bolos, bisa ditendang dari sekolah.
Bukan Narisa takut dikeluarkan. Tapi kalau itu sampai kejadian... berarti dia tidak bisa memantau Kara lagi kan?
Narisa langsung menggeleng sendiri.
"Najis. Najis. Najis."
Putri menepuk punggungnya heran.
"Lo kesambet apa gimana sih?"
Narisa cuma menghela napas panjang. Dia sendiri heran kenapa makin hari otaknya makin tidak beres.
Begitu sampai di kelas, Lesti dan beberapa anak lain sudah duduk melingkar di belakang. Melihat Narisa datang, Lesti langsung melambai heboh.
"Eh, baby, sini."
"Baby pala lo babi," omel Narisa sambil tetap mendekat. "Pada ngapain sih?"
Lesti menunjuk satu anak yang duduk murung di tengah lingkaran, Namanya Ria. Matanya merah seperti habis nangis.
"Lo kenapa?" tanya Putri sambil ikut duduk.
Ria buru-buru menggeleng. "Gapapa kok."
Narisa mengernyit. "kalau ada masalah bilang aja. Gak usah ditelen sendiri."
"Kasus selingkuh lagi," kata Lesti datar sambil menyandarkan dagu ke meja. "Musim apa gimana dah?"
"Cowok labil lagi pada kegatelan berjamaah kali ya," celetuk salah satu anak.
Fahri langsung geleng-geleng kepala.
"Gak gitu dong. Kasian cowok setia kayak gw."
"Setia karena gak ada yang mau," sambar Putri cepat.
"Anjir."
Anak-anak lain langsung ngakak.
"Sebut merk aja," kata Narisa sok gangster. "Biar kita selesain rame-rame. Mau pake cara halus apa grindilan?"
Putra langsung menoleh sambil ngakak. "Grindilan apaan, peak?"
"Kalau gw bilang kasar kan gak enak."
"Buset, kalem dulu, sayang," Lesti menahan bahu Narisa sambil cekikikan, "Pacar gw yang ini lagi sedih nih."
"Tai lo," balas Narisa spontan.
Ria malah jadi ketawa kecil di tengah tangisnya.
"Nah gitu dong," kata Narisa puas. "Lagian cowok itu banyak. Lo gak nemu yang beres, coba pindah gender aja. Kali cocok."
"BANGSAT!" Putra ngakak sambil menoyor kepala Narisa.
Satu lingkaran langsung ribut sendiri.
"Narisa banget emang."
"Mulutnya sesat."
"Orang cakep bebas."
"Pacar gw emang beda," kata Lesti bangga sambil merangkul Narisa.
"Jauh-jauh lo."
Tung.
Tung.
Bel masuk berbunyi. Anak-anak mulai balik ke tempat masing-masing. Tapi suasana kelas telanjur ramai karena semua ikut kepo soal Ria. Ujung-ujungnya, satu kelas jadi ikut campur. Persis seperti waktu Narisa patah hati.
Tapi Ria dengan bijak berkata:
"Makasih ya. Tapi gw mau kelarin sendiri dulu. Kalau ada apa-apa, gw pasti bilang."
Dengan begitu, rapat ditutup sementara.
**
*
Hari berlalu tanpa terasa. Hari ini Sabtu, artinya hari pertama Kara masuk freelance di kafe Skubidu. Katanya sih kafe tongkrongan anak muda.
Tadi Kara latihan dulu sampai jam empat sore. khusus Sabtu Minggu, bosnya minta dia masuk jam lima. Hari biasa baru mulai jam enam.
Kara sedang fokus memakai sepatu saat Narisa muncul di belakang dengan wajah ditekuk.
"Pulang jam berapa lo?" tanyanya jutek.
Kara memutar mata. Belum juga pergi, udah sewot duluan.
"Jam dua belas. "
Narisa langsung mendelik.
"Lama amat."
"Tutupnya jam segitu. Mau gimana lagi."
Setelah sepatunya terpasang rapi, Kara berdiri sambil menyampirkan ransel ke bahu.
"Lo mau dimana sampe gw balik?"
Narisa. berpikir cukup lama.
"Di..."
"Mau gw anter ke rumah bokap lo tiap hari, terus pulangnya jemput lagi?"
Narisa masih mikir.
"Lo lama amat mikir beginian," Kara mulai habis sabar. "Seminggu gw tanya, belum juga kelar."
"Gw kan mikir panjang, santen, Kalau lo anter jemput terus, lo makin capek. Gw belum bisa nyetir mobil. Kalau motor.. " Narisa melirik ke arah garasi. "Ogah gw pake motor lo."
Kara mengusap wajah kasar.
"Bonar. Coba lo pikir deh," katanya pelan, sabarnya tinggal serpihan rengginang. "Perginya mungkin masih sore. Baliknya gimana? Aman lo sendirian tengah malem?"
Narisa langsung melongo kecil.
"Eh... iya juga."
"Lemot lo kapan ilang sih?"
"Tapi bisa aja lo nyusul kan? Maksud gw iringan itu."
"Kalau gitu mending gw jemput sekalian-"
Kara langsung berhenti sendiri. Dia bahkan belum mulai kerja, tapi urusan beginian sudah bikin kepalanya pening duluan.
"Hari ini terserah lo dah," akhirnya dia menyerah. "Nanti kasih tau aja maunya gimana."
Narisa mengangguk santai. Lalu tanpa sadar, tangannya terangkat merapikan kerah jaket Kara yang sedikit terlipat.
Gerak refleks. Tapi Kara langsung menatapnya aneh.
"Tumben kayak manusia."
Plak.
Narisa langsung memukul lengan Kara.
"Emang lo gak bisa dibaikin ya? Pergi sana."
"Kecup dikit lah. Malah mukul." Kara mengernyit tipis. "Lo bini gw bukan sih?"
"Najis," Narisa mendelik jijik. "Lo jadiin gw latihan buat cewek lain. Pergi lo sana. Jangan sampe gw tendang."
Kara malah terkekeh kecil. " Omongan lo kayak tante-tante."
"Gw doain motor lo bocor."
"Setan." Kara tiba-tiba mengulurkan tangan. "Minimal salim kek."
Narisa mengernyit heran, tapi tetap menyambar tangan itu asal.
"Apaan sih lo-"
Cup.
Kara mengecup punggung tangannya cepat lalu langsung mundur.
Narisa melongo dua detik.
"Lah?!"
Kara sudah ketawa duluan. "Jangan protes."
"Terus gw kudu sujud syukur?" Narisa buru-buru mengelap punggung tangan ke bajunya sendiri, "Cewek jigong lo, anjir!"
Kara malah makin ngakak sambil kabur ke garasi.
"Gw sumpahin lo ditabrak ayam metal."
"Doa lo jelek mulu," Kara menoleh sebal sambil naik motor. "Pas gajian gak gw bagi lo."
"Anjir, ngancem," Narisa melipat tangan, "Nafkah woy. Nafkah."
Kara yang sudah pakai helm menoleh lagi. "Nafkah batin gw gimana?"
Narisa langsung diam.
Kara ikut diam.
"..."
"..."
"Udah, gak usah mikir." Kara menggeleng malas.
"Kasian otak lemot lo."
Bbrrmmm.
Kara langsung tancap gas keluar rumah. Bahkan pagar depan dibiarkan terbuka begitu saja.
Sementara Narisa masih berdiri di teras sambil melipat tangan, menatap motor yang makin jauh dengan wajah datar.
"Nafkah batin?" gumamnya pelan. "kayak pernah denger mama ngobrol sama tante deh. Itu maksudnya jiwa, kan? Berarti hiburan ya?"
Dia berpikir beberapa detik.
"Emang si santen butuh hiburan apaan? Film? Musik? Jalan-jalan?"
Hening sebentar, lalu dia mendecak, kesal sendiri.
"Ngapain juga gw pikirin."
Akhirnya Narisa jalan ke depan menutup pagar. Karena kalau bukan dia, siapa lagi?
Hari pertama kerja, Kara sibuk luar biasa. Malam Minggu membuat kafe Skubidu berubah seperti sarang manusia kurang kasih sayang. Hampir semua meja penuh. Ada yang datang bawa pacar, ada yang nongkrong bergerombol sambil ketawa keras sampai meja sebelah ikut dengar masalah hidup mereka.
Lampu gantung warna kuning temaram memantul di gelas dan botol minuman. Musik indie mengalun pelan bercampur suara blender, mesin kopi, dan teriakan pesanan dari dapur. Baru dua jam ker ja, kepala Kara sudah mulai penuh suara.
Sejak datang tadi, dia bahkan belum sempat menghafal semua nama karyawan.
Untung ada satu senior yang lumayan waras buat membimbingnya. Namanya Jamal. Umur dua empat, sudah punya anak satu, tapi gayanya masih seperti anak tongkrongan yang gagal move on dari masa SMA. Rambut dicat pirang, anting satu, dan mulutnya tak pernah berhenti ngoceh.
"Ra, meja satu!" teriak Sofian dari balik bar.
Cowok itu bagian minuman. Katanya bartender. Menurut Kara lebih cocok disebut tukang ngocok mahal. Maksudnya ngocok minuman.
"Oke."
Kara langsung mengambil nampan berisi tiga gelas dan satu kentang goreng jumbo. Langkahnya cepat, gerakannya rapi. Refleks atlet masih kebawa sampai kerja.
Baru beberapa langkah, Jamal nyolek lengannya.
"Senyum dikit, woy. Muka lo lurus amat."
"Gw biasa aja, bang."
"Ya itu masalahnya. Customer bisa takut."
Kara mendecak pelan lalu lanjut jalan. Begitu sampai meja satu, tiga cewek langsung menoleh bersamaan. Salah satunya sampai berhenti scroll ponsel.
"Wah..." bisiknya pelan.
Kara mulai menaruh pesanan satu per satu.
"Es kopi susu, matcha, caramel latte, sama kentang."
"Mas.." salah satu cewek nyengir malu-malu. "Boleh minta tisu?"
Padahal di meja jelas ada kotak tisu. Kara diam dua detik sebelum tetap mengambilkan satu lembar.
"Nih."
"Thanks, mas."
Kara cuma mengangguk datar lalu pergi begitu saja.
Begitu dia menjauh, meja itu langsung ribut sendiri.
"Anjir, ganteng banget."
"Itu cowok apa cewek sih?"
"Kalau cewek juga gw tetep mau."
"Kok bisa ada orang secakep itu nganter kentang?"
Kara yang masih bisa dengar cuma memutar mata malas. Mana dia dipanggil mas.
Emangnya gw ikan, batinnya.
Sementara itu Jamal memperhatikan dengan wajah penuh pencerahan.
"Kara!" panggil salah satu karyawan lain sambil bawa gelas kotor. "Tolong lap meja tiga."
"Oke,"
Kara langsung pergi lagi tanpa banyak omong.
Jamal masih menatap punggungnya beberapa detik sebelum menoleh ke Sofian.
"Eh, Sopi. Itu anak punya potensi gede."
Sofian melirik sekilas ke arah Kara.
"Maksud lo potensi bikin kafe makin rame?"
"Yoi. Aura gantengnya mahal."
Sofian ngakak. "Najis amat cara ngomong lo. Dia cewek, bro."
"Tapi bener gak?"
Sofian terdiam sebentar.
"Ya... bener sih."
"Nah, iri kan lo."
Sofian terkekeh. "Tapi dia bukannya masih SMA ya? Kok bisa lolos?"
"Nah itu." Jamal mendengus. "Minimal kan delapan belas. Tapi si Bos langsung cocok pas liat."
"Buset, mata si bos emang serem."
"Iya kan?"
"JAMAL!" teriak salah satu karyawan cewek dari dekat dapur. "Ngerumpi mulu. Bantu anter pesanan!"
"Anjir. Galak amat."
Meski begitu Jamal tetap jalan juga sambil nyengir. Mulutnya memang berisik, tapi dia dan mbak Dini si kasir termasuk paling senior di sana.
Apalagi supervisor shift sedang izin. Tidak ada yang cukup kuat buat menghentikan ocehan seorang Jamal.
~
Jam sepuluh malam hujan tiba-tiba turun. Bukan rintik-rintik, tapi deras seperti punya dendam pribadi ke dunia. Air menghantam kaca kafe tanpa ampun sampai jalanan depan tampak kabur tertutup tirai hujan.
Kara yang sedang membawa nampan otomatis melirik keluar. Entah kenapa dadanya terasa agak tidak enak sejak tadi. Bukan panik. Lebih ke... gelisah kecil yang terus mengganggu.
Dia merogoh ponsel di saku celana. Tidak ada pesan dari Narisa.
"Di rumah Tante Femi kali ya," gumamnya pelan.
Baru mau mengetik sesuatu, seorang cewek menghampiri meja kasir sambil senyum malu-malu. Padahal mbak Diri jelas-jelas berdiri di sana.
"Maaf, kak. Kalau bayar duluan bisa gak?" tanyanya ke Kara.
Kara mengernyit. "Maksudnya?"
"Bayar sekarang, tapi aku masih mau nongkrong bentar."
"Oh.." Kara melirik kasir. "Tanya mbak itu aja."
Cewek itu ikut melirik, lalu langsung salah tingkah sendiri.
"Eh iya ya..."
Kara mengangguk tipis. Baru mau pergi lagi, cewek itu buru-buru buka suara.
"Kak, ada IG gak?"
"Gak punya."
"WhatsApp?"
"Gak hapal nomor sendiri."
"Kalau aku kasih nomor aku gimana?"
Kara diam dua detik. Dalam hati dia mulai curiga. Dia sales yang mau nawarin produk ya?
Sebelum suasana makin aneh, Jamal muncul sambil membawa nampan kosong.
"Ra, meja sepuluh refill."
"Oke, bang."
Kara langsung kabur tanpa rasa bersalah. Cewek tadi cuma bisa melongo sementara Jamal cekikikan kecil.
Setelah mengantar pesanan, pikiran kara tetap balik ke satu hal yang sama.
Hujan.
Kenapa harus malam ini?
~
Di rumah, Narisa yang tadinya sok berani mulai kehilangan harga diri sedikit demi sedikit sejak hujan turun.
Jam delapan tadi dia masih merasa aman. Jam sembilan mulai curiga rumahnya berhantu. Jam sepuluh? Sudah pasrah pada takdir.
Sekarang dia meringkuk di pojok kasur sambil menarik selimut sampai dagu. Tadinya dia sempat menelepon Nuri supaya ada teman ngobrol. Tapi waktu mamanya bilang,
"Ini udah malam. Kara belum pulang? Mama ngomong ke Eka aja kali ya. "
Narisa langsung waspada.
"Udah pulang kok, ma."
"Beneran?"
"Iya. Dia di kamarnya."
Padahal manusia yang dimaksud masih jadi pelayan kafe di luar sana.
Narisa terpaksa bohong karena Kara sudah bilang Jangan sampai orang tua mereka tahu soal kerja freelance itu.
Akhirnya dia bertahan sendirian seperti veteran perang. Matanya liar ke mana-mana. Telinganya awas tiap ada suara.
Air hujan di talang bikin dia curiga. Bayangan gorden bikin dia curiga. Bahkan dispenser bunyi gluduk kecil saja dia hampir teriak tiga kali.
"Kenapa pake hujan sih..." gerutunya pelan.
JEGERRR!
Narisa langsung meloncat.
"Oke. Santai. Santai. Cuma petir. Petir doang."
CETARRR!
"TAI!"
Dia turun dari kasur lalu nyelonong masuk ke kolong ranjang. Napasnya megap-megap sendiri.
"Di sini aman... pasti aman..."
Hening dua detik.
"Tapi kalau ada kaki gimana?"
Narisa langsung merinding brutal.
"Otak tai. Otak biadab. Bisa gak sih jangan bikin cerita sendiri?!"
Di sisi lain kota, Kara masih mondar-mandir mengantar pesanan.
Hujan malah bikin kafe makin penuh karena orang-orang malas pulang. Pesanan datang terus tanpa ampun.
Berkali-kali Kara melirik jam tangannya. Dia akhirnya sempat mengambil ponsel sebentar dan mengirim pesan.
"Bonar, jadi lo nunggu dimana?"
Sepuluh menit belum dibalas. Kara mengirim lagi.
"Lo udah tidur?"
Tidak ada balasan.
Kara menghela napas pelan lalu memasukkan lagi ponselnya. Entah kenapa dia makin tidak tenang. Padahal Narisa itu nyebelin. Berisik. Lemot. Parnoan,
Tapi justru karena itu Kara jadi kepikiran terus. Sampai-sampai di tengah suara blender, hujan, dan orang-orang ketawa, kepalanya malah sibuk sendiri.
Hari pertama kerja langsung hujan gede. Ini pertanda rejeki, atau pertanda dia bakal pulang disambut kejutan tragis?
.