NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI KEBENARAN 2

Sudah tiga hari, Srikandi mencari titik terang. Siapa yang memanah. Ia kini berdiri di pucuk bukit menoreh, gadis itu menghela nafas panjang.

"Aku sepertinya mencari jarum di tumpukan jerami," keluhnya menatap pohon-pohon tinggi.

Ada banyak bekas sabetan pedang dan sebagian pohon mati karena dampak bentrokan ilmu kanuragan.

"Istana Jalapati ada di sisi kanan bukit ...," Srikandi menatap wilayah Jalapati.

Kerajaan dengan luas wilayah mencakup enam desa yang makmur. Terlihat hamparan sawah yang hijau dan beberapa ladang sayur-mayur tumbuh dengan subur.

Kerajaan Jalapati cukup maju, saluran irigasi yang mengalir dari bendungan yang dibangun secara gorong-gorong oleh seluruh masyarakat istana itu.

"Pasti Rajanya sangat adil dan mampu mensejahterakan rakyatnya," gumamnya memuji.

Srikandi menoleh sebelah kiri bukit, di mana kerajaannya berdiri. Sama dengan kerajaan musuhnya, tapi wilayah Kali Ireng jauh lebih besar di banding Kerajaan Jalapati.

Kerajaan Kali Ireng kini sudah makin meluas, terlebih kerajaan selatan telah kalah dan diambil alih kekuasaannya oleh Sri Baginda Laksa Anartepa Ireng.

"Tapi kerajaanku jauh lebih makmur ... walau ... Aku tak yakin dengan keadilan ...," Srikandi berhenti berbicara, ia menatap sesuatu yang menancap di salah satu pohon waru yang sedikit menghitam.

"Apa itu?" gumamnya lalu ia turun dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.

Cukup dua kali lompatan, gadis itu sampai pada pertigaan pucuk bukit menoreh. Menatap pohon tinggi yang batangnya sebagian menghitam tepat di tengah-tengah. Di sana sebuah panah tertancap.

Mata Srikandi awas melihat benda itu. Ia menajamkan penglihatannya, ia yakin jika panah itu masih mengeluarkan asap tipis. Bertanda jika alat tempur itu menggunakan ilmu kanuragan tinggi.

"Serep Sirep!" Srikandi mengerahkan ilmu tenaga dalamnya untuk menarik seluruh energi ilmu yang tersisa. Panah itu tak lagi mengeluarkan asap.

Ia mencabutnya tentu saja menggunakan tenaga dalam.

Srek! Panah tercabut hingga ujungnya.

Grrrrtttt!! Pohon bergetar saat panah tercabut, Srikandi menahan pohon dengan tangannya. Pohon itu berhenti bergetar.

"Maaf pohon. Akarmu masih kuat untuk menopangmu. Tapi di sini ...," Srikandi mengelus lubang bekas panah yang menghitam sampai setengahnya. "Kau sudah mati ...."

Srikandi meletakkan anak panah yang tadi dicabut nya ke dalam wadah anak panah yang ia bawa. Lalu ia mengeluarkan kapak yang ia beri nama Ki Abot.

"Aku akan menebangmu di bagian sini. Lalu kau pasti bisa menumbuhkan pucuk baru!" ujarnya lagi pada pohon itu.

Ia meletakkan busur dan anak panah di tanah. Lalu dengan sekuat tenaga, ia mulai menebang pohon waru yang sudah mau mati itu.

Bugh!

Kapak Ki Abot menghantam batang waru dengan suara berat yang menggema di lereng Bukit Menoreh.

Serpihan kayu beterbangan, sementara daun-daun di atas berguguran perlahan seperti hujan hijau.

Srikandi mengatur napasnya.

Keringat mulai membasahi pelipis, namun ayunan kapaknya tetap stabil.

Buk!

Buk!

Buk!

“Bagian ini sudah mati...," gumamnya pelan sambil terus menebang bagian batang yang menghitam.

Ia sebenarnya bisa saja menghancurkan batang itu dengan tenaga dalam. Namun ayahnya pernah berkata—

“Jangan gunakan tenaga murni pada pohon yang masih hidup. Alam juga punya rasa sakit.”

Karena itulah Srikandi memilih menebangnya perlahan.

Tak lama kemudian—

Krek... krek...!

Batang besar itu mulai retak.

Srikandi segera melompat mundur.

BRAAAKK!!

Separuh batang pohon waru roboh menghantam tanah. Debu dan dedaunan beterbangan memenuhi udara.

Gadis itu mengibaskan tangannya pelan untuk menghalau debu. Tatapannya kemudian tertuju pada bagian dalam batang yang roboh.

Lalu ia mendekati pohon, ada bagian yang masih menghitam. Ia mengikisnya dengan kapak. Lengannya yang halus tampak berotot, keringat membasahi hingga membuatnya berkilat.

Dua pasang mata menatap kagum bagaimana kekuatan sang gadis menebang pohon hanya dalam hitungan jari.

Selesai membersihkan semuanya, Srikandi mengambil kembali busur dan anak panahnya. Lalu menggerakkan tangan sebentar dan kapak Ki Abot telah tersembunyi di balik lengannya. Dua pasang mata makin membesarkan matanya.

"Adipati ... Ilmu bilik raga ...," bisik Buksa tak percaya.

Adipati Sengko menelan ludah pelan-pelan. Sekian lama ia mendengar ilmu legenda itu. Hanya beberapa pendekar sakti yang memilikinya termasuk dirinya.

"Butuh seumur hidup untuk menguasai ilmu itu. Tapi ... Srikandi baru tujuh belas tahun ...," gumamnya ngeri.

"Adipati ... Sebaiknya kita kembali ke kesatuan. Kita sudah terlalu lama meninggalkan mereka!" ujar Punggawa Buksa mengingatkan.

"Baiklah. Kita kembali dan mengatakan pada Sri Baginda Raja. Sepertinya, Srikandi sudah mulai menemukan titik terang ...," angguk Adipati Sengko setuju.

Lalu keduanya melesat menjauhi Srikandi. Sementara gadis itu tak tau sama sekali jika ada yang mengintip perbuatannya.

Srikandi akhirnya pulang, sampai sana. Ia menghela nafas, bibinya Rukmi kembali ada di depan rumahnya, kali ini ia membawa satu kendi yang ia yakin berisi makanan.

"Kamu udah pulang Nduk?" ada nada khawatir di sana.

Srikandi tak menjawab, ia membuka pintu dan Rukmi langsung menerobos masuk dan duduk di kursi makan. Ia meletakkan kendi yang ia bawa tadi ke atas meja.

Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang, ia tak mau berdebat dengan adik ayahnya itu.

"Bibi akan masakkan untukmu!" ujar Rukmi.

"Aku mau mandi, jangan ubah apapun!" peringat Srikandi tak menanggapi perkataan bibinya.

Srikandi ke kamarnya dan mengambil pakaian. Untuk membersihkan tubuhnya, ia tinggal ambil buah klerek dari pohonnya.

Angin sore menerpa wajah Srikandi saat tubuhnya melesat ringan di udara.

Wuusss!

Kain panjang yang ia kenakan berkibar mengikuti gerakan tubuhnya. Dalam sekali lompatan, gadis itu melewati batu cadas besar dan jurang curam yang memisahkan rumah-rumah penduduk dengan aliran Kali Ireng.

Bruk!

Ia mendarat ringan di atas batu sungai sebesar kerbau.

Air Kali Ireng mengalir deras di hadapannya.

Warnanya sedikit gelap karena dasar sungainya dipenuhi batu hitam dan lumut hijau tua. Dari situlah wilayah itu mendapat nama—Kali Ireng.

Di ujung sana, terdengar suara gemuruh air yang jatuh dari air terjun. Srikandi meletakkan pakaiannya di dahan pohon yang rendah. Melihat sekelilingnya dan menatap pohon klerek.

Ia kembali melompat dengan cepat dan menyambar buah klerek yang menggantung lebay di dahannya.

Sementara di rumah, Rukmi menatap seluruh isi rumah kakaknya. Ia menghela nafas panjang.

"Kangmas ... Kenapa toh hidupmu sangat prihatin dan menyedihkan. Di mana seluruh temanmu seperti Kangmas Buksa dan punggawa lainnya memiliki rumah yang luas. Bahkan Kangmas Buksa punya dayang yang melayaninya selain istrinya, Mbakyu Ninten," gumamnya pelan.

Lalu tiba-tiba di luar, Doko berteriak ketakutan. Rukmi tentu terkejut bukan main. Ia buru-buru keluar dan melihat apa yang terjadi pada putra kesayangannya itu.

Lalu matanya membelalak saat melihat Doko yang nyaris tergelincir dari tebing.

'Doko.... kok kamu bisa di situ!" teriaknya langsung berlari ke arah putranya yang sebelah kakinya sudah terperosok ke sisi jurang yang dalam.

Dengan hati-hati, ia menarik tubuh putranya. Doko menjerit ketakutan, ia takut sekali jatuh ke bawah. Jika itu terjadi maka seumur hidup, mayatnya tak akan pernah ditemukan.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rukmi setelah berhasil menyelamatkan Doko.

"Aku lihat Srikandi ke sana," tunjuk Doko pada kali Ireng berada.

Rukmi menatap arah yang ditunjuk putranya. Kini ia tau apa yang ingin dilakukan sang putra.

'Kau mau mengintip Srikandi mandi?" desisnya marah.

"Aku ...."

"Dasar laki-laki cabul!" Rukmi memukuli putranya tapi tentu pelan.

"Ampun Ibu!" teriak Doko.

Bersambung.

Next?

1
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
Deyuni12
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!