NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Tidur Seranjang

Demam itu datang tanpa undangan, tepat di tengah malam, seperti pencuri yang merampas sisa tenaga Naura.

Mungkin karena kelelahan fisik sepanjang minggu, bangun subuh, beradaptasi dengan jadwal kegiatan pesantren dan kehujanan sore tadi karena berusaha menyelamatkan pot bunganya dari terpaan angin. Atau mungkin karena beban pikiran yang menumpuk, oleh kata-kata ibu-ibu pengajian, tatapan santriwati, dan rasa rindu yang aneh pada kenyamanan kamarnya di rumah orang tuanya.

Apapun penyebabnya, hasilnya sama. Naura terbaring kaku di atas kasur, bergigil kedinginan meski selimut tebal sudah menutupi hingga dagunya, dan kepalanya terasa seperti sedang dihantam palu berulang-ulang.

Ia mencoba meraih ponsel di meja nakas untuk melihat jam, tapi tangannya terasa seperti terbuat dari kapas yang berat. Matanya terlalu perih untuk dibuka. Tenggorokannya kering seperti padang pasir.

"Azzam," bisik hatinya secara otomatis. "Aku butuh..."

Ia menelan ludah yang terasa seperti menelan pasir. Pukul dua pagi. Azzam tidur di ruang kerjanya. Mengapa ia harus membangunkan suaminya hanya karena demam? Ia bukan anak kecil. Ia bisa minum air putih dan tidur lagi.

Dengan sisa tenaganya, Naura mencoba meraih gelas air di meja nakas. Jari-jarinya baru saja menyentuh gelas itu ketika tiba-tiba otot lengannya kejang, dan gelas itu terlepas.

PRANG!

Gelas jatuh ke lantai, pecah, dan air tumpah membasahi karpet kecil di bawahnya.

Naura terduduk di tempat tidur, menahan napas. "Sial. Sial. Sial."

Tidak sampai lima detik kemudian, terdengar langkah kaki yang cepat di lorong. Pintu kamar didorong terbuka, dan sosok Azzam muncul di ambang pintu. Ia hanya mengenakan celana hitam dan kaus putih, rambutnya sedikit berantakan, napasnya memburu.

Matanya menyapu ruangan, menemukan Naura yang duduk terdiam di atas kasur dengan wajah pucat pasi, lalu jatuh pada pecahan gelas di lantai.

"Naura!" Azzam melangkah maju, menghindari pecahan kaca dengan gerakan cepat, dan langsung berada di sisi tempat tidur. Tangannya menyentuh dahi Naura, dan Naura mendesis pelan saat telapak tangan yang hangat itu menempel di kulitnya yang dingin.

"Kamu panas," suara Azzam berubah, nada tenangnya menguap, digantikan oleh kecemasan yang tak disembunyikan. "Sangat panas. Kamu sakit?"

"Cuma... cuma pusing sedikit," Naura berbohong, giginya bergemeletuk. "Gelasnya... maaf, aku nggak sengaja..."

"Diam. Jangan pedulikan gelas itu." Azzam menarik selimut lebih tinggi, menutupi bahu Naura. Ia membalikkan tubuhnya, keluar ruangan, dan kembali tidak lama kemudian membawa sapu kecil dan kain lap. Dengan gerakan cepat, ia membersihkan pecahan kaca dan air tumpah tanpa meminta bantuan Naura sama sekali.

Setelah lantai bersih, Azzam kembali ke sisi tempat tidur. Ia duduk di tepi kasur, menatap Naura dengan tatapan yang membuat dada Naura sesak, bukan karena demam, tapi karena kekhawatiran yang begitu jelas di mata hitam itu.

"Kenapa kamu tidak membangunkanku?" tanya Azzam, suaranya rendah, sedikit menegur namun penuh kelembutan.

"Kamu juga butuh istirahat," bisik Naura, merasa bersalah. "Aku cuma mau minum..."

"Tunggu di sini." Azzam berdiri lagi.

Naura mendengar suaranya di dapur, suara pintu kulkas dibuka, ketukan sendok, gemerincing gelas. Beberapa menit kemudian, Azzam kembali membawa nampan kecil berisi secangkir teh, sebotol obat penurun panas, dan kain waskom yang sudah dibasahi air hangat.

Ia meletakkan nampan di meja nakas, lalu duduk kembali. Dengan sangat perlahan, ia membungkuk, memasukkan bantal di belakang punggung Naura agar gadis itu bisa duduk setengah tegak.

"Minum ini," Azzam mengulurkan gelas teh. "Jahe dan madu. Saya tambahkan sedikit sereh."

Naura menerima gelas itu dengan tangan yang masih gemetar. Aroma jahe yang tajam bercampur kemanisan madu langsung memenuhi hidungnya, menyejukkan tenggorokkannya sebelum ia bahkan meminumnya. Ia meneguk perlahan, dan kehangatan itu mengalir ke perutnya, meredakan kedinginan yang menggigilkan tulangnya.

"Enak," bisik Naura jujur.

Azzam tidak menjawab. Ia meraih kain waskom, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di dahi Naura dengan kelembutan yang luar biasa. Jari-jarinya tak sengaja menyentuh pelipis Naura, dan sentuhan itu terasa seperti aliran listrik yang membuat jantung gadis itu berdebar lebih kencang dari demamnya.

Saat Naura selesai minum, Azzam mengambil gelasnya, meletakkannya kembali di nampan, lalu menuangkan sesendok sirup obat penurun panas.

"Satu sendok. Sekarang."

Naura menelan obat itu tanpa protes, sesuatu yang sangat langka. Biasanya ia akan mengeluh soal rasa pahit atau meminta permen sebagai gantinya. Tapi malam ini, dengan Azzam yang duduk di sampingnya, menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran, Naura merasa semua pertahanannya runtuh.

Obat itu terasa manis di lidahnya. Atau mungkin karena pria di depannyalah yang membuat segalanya terasa berbeda.

Saat Azzam hendak berdiri untuk memyimpan nampan, tangan Naura bergerak sendiri. Ia meraih ujung kaus Azzam, menahannya.

Azzam terhenti, menoleh menatap tangan Naura, lalu menatap wajah istrinya. "Ada apa?"

"Jangan... jangan pergi," bisik Naura, suaranya terdengar lebih rapuh dari yang ia inginkan. Malu? Ya, sangat malu. Tapi rasa takut sendirian dalam kedinginan lebih besar dari rasa malunya. "Tidurlah di sini. Di kasur ini besamaku."

Azzam menatap Naura lama-lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat. Ia tahu aturan yang ia buat sendiri, ia tidak akan menyentuh Naura sebelum ia siap. Tapi melihat gadis itu duduk kaku, pucat, dan bergetar di bawah selimut, aturan itu terasa sangat tidak relevan.

"Baik," jawab Azzam pelan.

Ia memindahkan nampan ke meja samping, lalu berjalan ke sisi lain tempat tidur. Ia mengangkat selimut, berbaring di atas seprai di samping Naura, namun menjaga jarak satu bantal di antara mereka. Ia terbaring telentang, menatap langit-langit, mendengar suara napas Naura yang sedikit tersengal karena hidung tersumbat.

Ruangan itu senyap. Hanya ada suara jangkrik dan rintik hujan yang mulai turun di luar.

"Azzam?" panggil Naura pelan di dalam gelap.

"Hmm?"

"Terima kasih... soal tehnya. Dan obatnya."

Azzam menoleh, menatap sisi wajah Naura yang berkilau karena keringat dingin. Perlahan, ia menggeser tubuhnya, mengurangi jarak di antara mereka. Ia mengulurkan lengan kanannya, dan dengan gerakan yang sangat pelan memberi Naura waktu untuk menolak jika ia ingin, ia menarik kepala Naura agar bersandar di bahunya.

Naura menegang sejenak, napasnya tertahan. Tapi bahu Azzam terasa begitu kokoh, begitu hangat, dan aromanya... membuat otot-otot Naura melunak.

Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu suaminya, merasakan debaran jantung Azzam yang stabil di telinganya. Jantung yang berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah pria itu juga sedang berjuang menahan sesuatu.

"Tidurlah," bisik Azzam, dagunya menempel di puncak kepala Naura. Tangannya naik, mengusap rambut Naura yang lembap karena keringat dengan gerakan membelai yang sangat menenangkan. "Saya akan menjagamu."

Naura memejamkan mata. Air mata kebahagiaan yang ia coba sembunyikan akhirnya jatuh juga, membasahi kain kaus Azzam. Ia menangis diam-diam, bukan karena sedih, tapi karena ia baru menyadari betapa lamanya ia merasa sendirian, dan betapa ia merasa aman saat ini.

Azzam tidak berkata apa-apa saat ia merasakan kelembapan di kausnya. Ia hanya memperkuat pelukannya, mengusap punggung Naura dengan perlahan, dan mendoakan istrinya dalam diam.

Lama kemudian, obat penurun panas mulai bekerja, dan kehangatan dari pelukan Azzam mengalahkan kedinginan demam. Naura perlahan tenggelam dalam tidur yang tenang, pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di pesantren ini.

Dan Azzam? Pria itu tetap terjaga sepanjang malam. Sesekali ia mengganti kain waskom di dahi Naura, memastikan suhu tubuhnya turun, dan menatap wajah tidur istrinya dengan rasa syukur yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Ia tidak butuh sajadah malam ini untuk merasa dekat dengan Tuhan. Karena pelukan ini, menjaga Istrinya yang Tuhan titipkan padanya, adalah bentuk ibadah yang paling ia syukuri.

.

.

.

Pagi harinya, Naura terbangun dengan tubuh yang terasa lebih ringan. Demamnya telah mereda, meninggalkan hanya sedikit pegal-pegal. Ia merabah sisi tempat tidur di sebelahnya kosong, tapi masih hangat. Bantal itu sedikit cekung, menandakan seseorang telah tidur di sana.

Aroma jahe dan madu masih menguar dari gelas di meja nakas.

Ia duduk, menatap kamar yang kini disinari cahaya pagi, dan mengusap wajahnya. Malam tadi... ia memeluk Azzam. Ia meminta pria itu tidur di sampingnya. Ia menangis di bahunya.

"Oh Tuhan," Naura memperlambatkan napasnya, pipinya memanas. "Aku benar-benar melakukannya."

Terdengar ketukan di pintu, lalu Azzam masuk. Ia sudah bersih, mengenakan koko putih dan sorban, siap untuk mengajar. Di tangannya, ada nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.

"Sudah bangun?" sapa Azzam, suaranya kembali ke nada tenang yang biasa. Tapi ada kilat lembut di matanya saat menatap Naura.

"Iya," jawab Naura serak, menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah.

Azzam meletakkan nampan di pangkuan Naura, lalu duduk di tepi kasur. Ia meraih termometer dari laci meja nakas, menempelkannya ke telinga Naura.

Beep.

"36,8. Demamnya sudah turun," ucap Azzam lega. Ia mengembalikan termometer ke laci. "Hari ini kamu tidak perlu ke masjid. Istirahat di rumah. Ibu Jamilah akan menjagamu."

"Terima kasih, Azzam," bisik Naura, memegang sendok bubur di tangannya, tidak berani menatap suaminya. "Soal semalam... maaf merepotkanmu."

"Kamu istriku, Naura," jawab Azzam sederhana, seolah itu menjelaskan segalanya. "Menjagamu bukan merepotkan. Itu sudah jadi kewajiban saya sebagai Suamimu."

Naura menelan ludah, dadanya sesak kembali. Bagaimana caranya pria ini bisa membuat kalimat sederhana terasa seperti puisi yang paling romantis?

Azzam berdiri, menata ujung selimut Naura, lalu menatap istrinya sekali lagi. "Makan buburnya sampai habis. Saya pergi mengajar dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi saya!."

Ia berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar, ia menoleh.

"Satu hal lagi, Naura."

"Iya?"

Azzam menyeringai tipis senyum yang membuat jantung Naura berdebar tak teratur. "Kamu ngigau waktu tidur semalam."

Naura membeku. "A-apa?! Aku ngigauin apa?!"

Azzam tertawa pelan, suara baritonnya menggema hangat di ruangan. Ia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi amusemen, lalu melangkah keluar meninggalkan Naura yang panik sendirian di atas kasur.

"AZZAM! KEMBALI KESINI! APA YANG KUBILANG?!" teriak Naura, tapi yang ia dengar hanyalah suara tawa Azzam yang semakin menjauh di lorong.

Naura menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mengerang dalam bantal.

Tapi saat ia mengambil sendok bubur, menyendokinya, dan memakannya, Naura menyadari satu hal. bubur ini enak. Pesantren ini mulai terasa nyaman. Dan pria itu... pria itu tidak lagi terasa seperti kulkas berjalan.

Pria itu terasa seperti rumah.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!