"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Pertukaran Jiwa di Aula Terlarang
"Tidurlah dalam kedamaian yang abadi. Biarkan air ini membersihkan noda yang kau bawa," bisik Han-Gyeol.
Ia mendorong tubuh batu itu ke dalam danau.
BYURR!
Saat tubuh itu tenggelam, permukaan danau yang tenang tiba-tiba bergejolak hebat. Pusaran air raksasa terbentuk secara instan.
Han-Gyeol mundur satu langkah, tangannya siaga di gagang pedang.
Dari dalam pusaran itu, muncul sesosok bayangan raksasa yang transparan—wujud naga dari air murni yang meliuk indah di atas permukaan air.
Naga itu mengeluarkan suara lembut yang menenangkan sebelum akhirnya menyelam kembali ke dasar, membawa serta energi hitam yang tadi mencemari raga sang monster.
Han-Gyeol berdiri di sana dalam waktu lama, menatap riak air yang perlahan menghilang. Ia tahu, ini barulah permulaan. Badai besar sedang menuju Niskala, dan ia adalah satu-satunya benteng yang tersisa.
****
Keesokan paginya, saat fajar baru saja menyingsing dan sisa kabut danau masih menempel di ujung jubahnya, sebuah panggilan mendesak datang dari jantung Niskala.
Han-Gyeol belum sempat mengistirahatkan raganya ketika pintu kediamannya diketuk dengan tergesa.
Di ambang pintu, berdiri Jin-Wu. Wajah pemuda itu pucat, namun matanya memancarkan ketajaman yang tak biasa.
"Ada apa, Jin-Wu? Kenapa kau datang sepagi ini dengan wajah seperti itu?" tanya Han-Gyeol pelan.
Ia tidak mempersilakan muridnya masuk, tubuhnya menghalangi pintu, seolah menyembunyikan sisa energi hitam yang mungkin masih tertinggal di dalam ruangan.
Jin-Wu membungkuk dalam, namun suaranya terdengar lebih menekan dari biasanya. "Maafkan kelancangan hamba, Guru. Hamba diperintahkan langsung oleh Raja untuk menjemput Anda. Beliau meminta Anda segera menghadap. Sepertinya... ini mengenai kejadian di danau semalam."
Han-Gyeol terdiam sejenak. Sorot matanya menajam, mengunci pandangan Jin-Wu. "Bagaimana Raja bisa tahu apa yang terjadi di danau secepat ini? Bukankah kau yang seharusnya menjaga perbatasan semalam, Jin-Wu?"
Jin-Wu menegakkan tubuhnya, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. "Dinding istana punya telinga, Guru. Dan air Danau Cheon-gi tidak pernah bergejolak tanpa alasan. Raja merasa ada kekuatan besar yang bergerak di kegelapan, kekuatan yang seharusnya sudah musnah ratusan tahun lalu."
Han-Gyeol melangkah maju satu tindak, memperkecil jarak di antara mereka. Atmosfer di sekitar mereka mendadak mendingin. "Lalu, apa yang kau katakan pada Beliau? Apakah kau menceritakan tentang monster batu itu, atau kau menceritakan tentang ketakutanmu sendiri?"
"Hamba hanya mengatakan kebenaran bahwa Guru sedang melakukan 'pembersihan'," jawab Jin-Wu tenang, namun ada nada tantangan di sana.
"Namun Raja bertanya-tanya... apakah Guru sedang membersihkan sisa-sisa dosa orang lain, atau sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar? Beliau ingin tahu, apakah sihir pemindahan jiwa benar-benar bisa dikendalikan, ataukah itu hanya bom waktu yang menunggu untuk meledak di tangan kita."
Han-Gyeol menyipitkan mata. Ia bisa merasakan ambisi yang mulai tumbuh di hati muridnya ini.
"Raja, atau dirimu sendiri yang ingin tahu, Jin-Wu?" suara Han-Gyeol merendah, memberi peringatan.
Jin-Wu kembali membungkuk, kali ini lebih rendah, namun matanya tetap menatap kaki Han-Gyeol. "Hamba hanyalah pelayan setia. Namun jika Guru merasa terbebani dengan rahasia itu sendirian, bukankah lebih baik jika beban itu dibagi? Demi keselamatan Niskala."
"Kabari Yang Mulia bahwa aku akan segera ke sana setelah mengganti pakaianku," Han-Gyeol memotong pembicaraan dengan dingin.
"Dan Jin-Wu... jangan pernah mencoba melangkah lebih jauh dari bayang-bayangku jika kau tidak ingin tersesat di dalam kabut danau."
Jin-Wu terdiam, merasakan aura membunuh yang tipis dari gurunya. "Baik, Guru. Hamba akan menunggu di depan gerbang."
*****
Beberapa saat kemudian, Han-Gyeol melangkah menyusuri koridor istana yang mencekam. Aroma dupa cendana yang berat biasanya menenangkan, namun hari ini aroma itu terasa menyesakkan—seperti wangi bunga di upacara pemakaman.
Di ujung aula singgasana, Sang Penguasa Niskala menunggu di balik tirai sutra yang berkibar pelan oleh angin yang entah datang dari mana.
Han-Gyeol berlutut satu kaki, menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai marmer yang dingin. "Salam, Yang Mulia Raja Go-Yoon. Hamba datang memenuhi panggilan Anda."
Raja Go-Yoon tidak langsung menjawab. Dari balik tirai, terdengar suara batuk yang parah, sebuah bunyi parau yang seolah-olah paru-parunya sedang terkikis.
Tirai terbuka perlahan. Sosok di sana tampak sangat ringkih, jubah emasnya yang berat terlihat seperti beban yang hendak menghancurkan tulang-tulangnya.
"Han-Gyeol... mendekatlah," suara raja gemetar, namun matanya yang cekung menatap tajam.
"Lihatlah raga ini. Tabib berkata waktuku hanya tinggal hitungan minggu. Apakah kau tega melihat takhta Niskala kosong karena kematianku yang menyedihkan?"
Han-Gyeol merasakan firasat buruk. "Hamba akan melakukan segala cara untuk mencari obat, Yang Mulia."
"Aku sudah menemukan obatnya," sela Raja Go-Yoon, ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Dan obat itu ada di tanganmu. Hwanhonsool. Sihir Pemindahan Jiwa."
Han-Gyeol terbelalak. "Hamba mempelajarinya hanya untuk memahami cara menghentikannya, Yang Mulia! Itu adalah sihir terkutuk. Jiwa yang dipindahkan bisa menjadi gila, dan raganya akan mengeras menjadi batu. Risikonya tidak sebanding—"
"Cukup tujuh hari!" bentak Raja Go-Yoon, yang langsung diikuti batuk berdarah yang menyiksa.
"Hanya tujuh hari untukku mengatur urusan kerajaan dengan pikiran jernih tanpa rasa sakit ini."
Han-Gyeol mencoba bernegosiasi dalam keputusasaannya. "Jika Yang Mulia hanya butuh raga yang sehat, hamba bisa mencari prajurit muda yang sukarela atau narapidana yang—"
"TIDAK!" Raja memotong dengan suara yang tiba-tiba menggelegar meski nafasnya pendek. Ia menatap Han-Gyeol dengan tatapan penuh nafsu.
"Aku tidak butuh raga sembarang manusia. Aku telah melihat ribuan pemuda di negeri ini, tapi tak satu pun dari mereka memiliki Giseol (pembuluh energi) sepertimu."
Raja Go-Yoon bangkit dari singgasananya dengan sisa tenaga terakhir, melangkah tertatih mendekati Han-Gyeol. "Kau adalah penyihir terkuat yang pernah dilahirkan Niskala. Hanya tubuhmu yang mampu menampung jiwaku yang agung tanpa langsung hancur. Jika aku berpindah ke tubuh rakyat biasa, aku hanya akan menjadi manusia lemah yang bisa mati kapan saja," bisik Raja tepat di wajah Han-Gyeol.
"Aku menginginkan kekuatanmu, Han-Gyeol. Aku menginginkan otoritasmu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengendalikan energi naga di dalam nadi ini. Hanya kau... hanya tubuhmu yang pantas menjadi wadah bagi seorang Raja."
Han-Gyeol menunduk, merasakan kengerian yang luar biasa. "Yang Mulia, memindahkan jiwa ke penyihir tingkat tinggi jauh lebih berbahaya. Jika terjadi penolakan energi—"
"Maka itu adalah tugasmu untuk memastikan ritual ini berhasil!" ancam Raja.
"Kau yang menciptakan kunci menuju keabadian ini, maka kau juga yang harus membukakan pintunya untukku. Jika kau menolak, maka besok seluruh keluargamu akan dituduh sebagai pengkhianat negara dan dihukum mati bersamaku!"
Han-Gyeol terpojok. Ia menyadari bahwa Raja Go-Yoon tidak sedang mencari pengobatan, ia sedang mencari peningkatan kekuatan.
Raja tidak hanya ingin hidup; ia ingin hidup sebagai penyihir terhebat di Niskala.
Dilema itu menghimpit dada Han-Gyeol. Kesetiaan adalah napasnya, namun ia tahu ia sedang membuka gerbang neraka.
Dengan berat hati dan jemari yang gemetar karena terpaksa, Han-Gyeol akhirnya mengeluarkan Batu Sang-Hyeol yang merah membara dari saku jubahnya.
Ritual dimulai. Han-Gyeol merapal mantra kuno yang tak pernah terdengar selama berabad-abad.
WUUUSHH!
Uap hitam pekat keluar dari celah lantai, berputar seperti badai yang terperangkap. Udara mendadak menjadi panas dan berat. Tubuh mereka melayang, terikat oleh benang-benang energi merah keemasan.
Dalam detik-detik yang menyiksa itu, Han-Gyeol melihat sesuatu yang mengerikan: Raja Go-Yoon tidak tampak takut.
Di tengah rasa sakit pertukaran jiwa, raja itu justru tersenyum. Sebuah senyum haus kekuasaan yang liar.
BRAKK!
Cahaya meredup. Keduanya terhempas ke lantai.
Han-Gyeol terbangun, namun dunianya berubah. Ia mencoba menarik napas, tapi paru-parunya terasa sempit dan dipenuhi lendir. Ia melihat tangannya—tangannya yang dulu kokoh kini keriput, berbintik penuaan, dan gemetar hebat.
Ia terbatuk, dan noda darah merah pekat membasahi telapak tangannya yang rapuh.
Sementara itu, di hadapannya, raga Han-Gyeol berdiri dengan tegak. Sosok itu—yang kini berisi jiwa Raja Go-Yoon—meregangkan lengannya yang berotot, meraba wajahnya yang tampan dan muda dengan tatapan takjub.
"Luar biasa..." gumam Raja Go-Yoon dengan suara bariton Han-Gyeol yang berwibawa.
"Energi di dalam tubuh ini... begitu meluap-luap."
"Tujuh... hari... Yang Mulia," Han-Gyeol berbisik dari tubuh raja yang sekarat, suaranya parau dan lemah. "Ingat janji... Anda."
Raja Go-Yoon berjalan mendekat, menatap "dirinya sendiri" yang sedang merangkak di lantai dengan tatapan merendahkan. "Ah, soal itu. Ada satu detail kecil yang tidak kukatakan padamu."
Ia berlutut, mencengkeram dagu Han-Gyeol (dalam tubuh raja) dengan kasar. "Istrimu... Seo yoon. Dia wanita tercantik di Niskala, bukan? Aku akan pergi menemuinya malam ini. Sebagai Han-Gyeol, suaminya yang tercinta."
Mata Han-Gyeol membelalak horor.
"Jika dia mengandung anakku," bisik raja dengan nada licik yang memuakkan, "Anak itu akan menjadi putra mahkota yang sempurna. Darah kerajaan mengalir di nadinya, dan bakat penyihirmu mengalir di jiwanya. Terima kasih atas ragamu, Han-Gyeol. Kau bisa mati dengan tenang sebagai raja sekarang."
"TIDAKKK! JANGANN!!"