NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09 : Terminal Depok

Mess gelap. Cuma suara kipas angin ngeden di ruang tengah. Sama dengkuran Abel dari kamar sebelah. Pelan. Damai. Karena dia udah lolos.

Naya duduk di lantai. Punggung nempel kasur. Tas ransel udah penuh. Isinya: 2 baju, 1 celana, HP batre 12%, charger, dompet isi KTP + 300 ribu, sama kertas kontrak lecek. Name tag 'Naya_Kasir' nggak ketemu.

Di kepala muter terus suara Sari.

'CEPET PERGI NAYA!!'

Rosa tidur di atas. Napasnya berat. Sejak ngaku semalam, dia nggak ngomong lagi.

Setelah merasa semuanya tidur.

Naya berdiri. Pelan. Ubin dingin. Mangkok di bawah kasur diem. Nggak geser. Nggak ngetok.

Dia ngelirik Rosa. Mata Rosa merem. Bibirnya kebuka dikit. Di pipi masih ada bekas air mata kering semalam.

'Maafin aku, Sa.' Batin Naya, 'Aku juga mau hidup.'

Dia jinjing tas. Nggak berani diseret. Bunyi resleting bisa bangunin setan.

Langkah pertama. Ubin bunyi.

Naya membeku.

Langkah kedua. Sampe pintu. Tangannya megang gagang. Dingin. Basah. Kayak abis dipegang orang.

KLIK!

Pelan banget. Naya membukanya.

Dia nyelinap keluar. Nutup pintu. Nggak sampe rapet. Biar nggak bunyi.

Ruang tengah kosong.

Naya nahan napas. Lewatin ruang tengah kayak jalan di atas kaca.

Sampe pintu depan. Gerendelnya ada dua. Atas bawah, dan karatan.

KREEEKKK

Gerendel bawah kebuka. Suaranya nusuk kuping.

Gerendel atas. Naya jinjit. Tangannya gemetar.

KREK.

Kebuka.

Angin malem nyerbu masuk. Dingin. Bawa bau kemenyan dari arah rumah makan 300 meter di depan. Gentong laper.

Naya buka pintu. Celah cukup buat badannya.

Satu kaki di luar.

BUG!

Naya menoleh. Di kamarnya dan Rosa, lampu nyala.

Rosa langsung duduk di kasur. Nggak tidur. Dari tadi. Matanya natap Naya. Kosong. Tapi nggak kaget. Kayak udah tau. Dia nggak teriak. Nggak ngejar. Cuma ngomong. Pelan. Kedengeran sampe pintu depan.

"Na, mau kabur kemana."

Naya membeku saat Rosa keluar dari kamar.

"Nametag lu udah di gentong," kata Rosa kantuk, Suaranya datar.

Naya yang mendengar itu langsung berlari kencang membuka gerbang mess dan berlari sejauh mungkin.

Rosa menggaruk pelipisnya melihat Naya yang kabur ketakutan, "Gue capek jadi iblis."

Dia ngeluarin sesuatu dari genggaman tangannya nametag Naya.

Tulisannya: NAYA - KASIR.

BUG! BUG! BUG!

Dari arah rumah makan. Kenceng. Lampu rumah makan nyala sendiri. Keliatan dari mess. Kuning. Berkedip.

Teh Intan bangun, "Sa? Ada apa?"

"Naya kabur." Jawab Rosa.

"Loh?!" Teh Intan kaget langsung berlari keluar dan benar saja pintu gerbang sudah terbuka.

_

Sementara itu Naya lari di jalan tanah. Gelap. Cuma dengan senter HP. Arah terminal. Jauh. 3 km.

_

"Enggak bisa di biarin!" Teh Intan merasa marah. Karna tugas Teh Intan harusnya tidak memperbolehkan siapapun untuk kabur dari mess atau dia akan menerima konsekuensinya.

_

Naya makin cepet. Target: Terminal Depok. Dari situ naik bus apa aja. Ke Bekasi, ke Cianjur, ke neraka juga jadi asal bukan di sini.

_

BRAK!!

Rosa, dan Intan langsung berlari ke kamar Rosa. Mereka berjongkok karna mendengar suara pecahan dari kolong tempat tidur kosong. Mangkok di bawah kasur pecah jadi dua. Isinya item, kentel, kayak aspal. Bau kemenyan nyengat.

"Naya... Kabur.." Abel menangis di pintu kamar. Tubuhnya gemetar.

Muka Intan langsung pucat. Dia ngecek HP 03:01.

Intan muter, nyekik lengan Rosa marah, "Lu ngapain aja?! Lu kan mandor! Kalo tumbal lepas, lu yang cari pengganti!"

"Gue tau," Desis Rosa. Dia dorong Intan. "Makanya gue mau nyari, Naya."

Rosa ambil HP. Tangannya memencet kontak, Gian – Mandor Cabang Bintaro

Nada sambung. Satu. Dua.

'Haloo... Rosa..' suara Gian serak, ngantuk.

"Gian, Naya kabur," Ujar Rosa. " Gue tau dia kayaknya ke arah terminal dekat sini. Cegat dia sebelum keluar Depok."

'Ha? Naya siapa? Kasir baru itu?'

"GUE BILANG CEPET!" Rosa bentak.

Abel sama Intan kaget. Rosa nggak pernah semarah itu.

Di seberang, Gian langsung sadar. 'Oke, oke. Ciri-ciri?'

'Baju kaos putih lengan panjang, celana hitam, rambut pendek, dia nggak punya duit. Dia lari tadi.'

"Terminal Depok. Gue ke Terminal Depok sekarang," kata Gian. Suara motor langsung ngerung di telepon.

Panggilan telepon mati.

"Kalo nanti dia gak ketemu gimana?? Gue enggak mau mati, Rosa!!" Abel menangis meraung-raung.

"Rosa, kalo terjadi apa-apa sama gue. Itu semua salah lu!" Tegas Intan mendorong Rosa yang tidak peduli.

Rosa hanya diam sementara Abel terus meraung menangis di depannya.

_

Jl. Raya Bogor.

Naya berhenti di bawah pohon. Napas putus-putus. Kakinya sakit karna terus berlari tanpa henti.

Sebuah truk besar lewat.

Naya refleks sembunyi ke balik mobil yang parkir. Jantung mau copot.

Motor juga lewat melintas.

Naya keluar. Lanjut lari. Terminal tinggal 1 km.

Naya tahu betul jika akan ada yang mengejarnya saat ini. Entah itu Pak Dermawan, Rosa, atau siapapun itu.

Dia harus berhati-hati karna kapan pun dia bisa saja tertangkap.

_

HP Rosa bunyi. Gian.

Rosa mengangkat telepon itu.

'Sa, gue udah di jalan terminal. Sepi. Lu yakin dia ke sini?'

"Cek angkot. Cek ruko. Dia pasti nggak punya duit, nggak bisa naik bus," Jawab Rosa.

'Kenapa lu ceroboh sih? Enggak kunci dia aja di kamar.' Gian marah.

"Udah. Cari! Kalo lu ketemu, jangan bawa balik. Bawa ke rumah makan. Kunci dia di gudang!" Jawab Rosa.

'Oke.'

Telepon pun mati.

_

Naya pun sampe di Terminal Depok. Gelap. Cuma ada 1 angkot disana. Sopirnya sedang tidur.

Naya ngetok kaca. "Pak, ke Bekasi berapa?"

Sopir kebangun. "15 ribu. Tapi nunggu penuh. Subuh gini mana ada orang."

Naya cek dompet. 300 ribu. Cukup. Tapi kalo dia naik sekarang, pasti akan bahaya

Tiba-tiba pandangan Naya tertuju ke belakang.

Motor gede. Lampu terang.

Gian.

Naya jelas mengingat wajah itu.

Naya muter badan. Lari ke gang kecil samping terminal. Masuk pasar. Gelap. Becek. Bau ikan.

Betul seperti dugaannya jika pasti akan ada yang mengejar dirinya sekarang.

Motor berhenti di depan angkot. Gian turun. Helm nggak dilepas. Mata nyapu terminal.

"Pak, liat cewe baju putih, rambut pendek,"

Sopir angkot geleng ngantuk, "Dari tadi sepi, Mas."

Gian nendang kaleng.

PRANG!!

"ANJ!NG." Gusarnya.

"Nihil di terminal, Sa. Tapi angkot bilang sepi. Dia ngumpet." Gian mengirimkan pesan suara kepada Rosa.

"Udah jam setengah 5, kalo emang gak dapet lu juga tau gue harus apa bukan?" Tanya Rosa yang duduk disofa sembari melirik Abel yang masih mondar mandir takut.

Gian diem. Terus narik gas.

"Gue harus cari di pasar."

Naya jongkok di belakang lapak ayam. Napasnya dia tahan. Dia matiin senter, matanya terpejam sementara aroma tak sedap terus menyerbak. Naya tak peduli, yang dia pikirkan hanya dia lelah.

Suara motor Gian muter-muter. Deket.

BRRMM... BRRMM...

Suara motor Gian muter-muter udah 15 menit. Lampu motor nyapu lapak sayur, lapak ikan, got, sampe kolong meja. Naya di belakang lapak ayam, jongkok, napas ditahan. Bau amis dan darah ikan nyampur keringetnya.

Gian turun. Helm dibuka. Mukanya capek, kesel, basah keringet. Dia nendang ember plastik.

PRANG!

"NAYA!" Teriak Gian. Suaranya gema di pasar kosong. "GUE TAU LU DI SINI! KELUAR DAH! GUE JANJI NGGAK BAKAL KASARIN!"

Naya nutup mulut pake tangan. Air mata netes. Bukan sedih. Takut.

Gian nyalain rokok. Ngecek jam. 03:28.

Dia ngeluarin HP, telpon Rosa.

"Sa," suaranya udah pasrah. "Nihil. Gue udah ubek pasar. Got gue cek. Kolong meja gue senterin. NGGAK ADA."

'Lu yakin?' bisik Rosa. 'Cek lagi.'

Suara Abel sesegukan di belakang di tenangkan oleh Intan.

"Udah Sa. Hujan tadi. Jejaknya ilang," Gian buang rokok. "Udah mau jam 4."

"Gue... datang ke sana, kita seret dia sebelum dia ikutan kabur juga." kata Gian akhirnya. Karna sudah tidak ada pilihan lain lagi selain pilihan itu.

Panggilan itu.

Gian naik motor. Narik gas kenceng.

BRRMMM!!

Ninggalin pasar. asap knalpotnya ngepul, nutupin bau ikan.

Naya masih jongkok. Matanya perlahan terpejam. Denger suara motor ngejauh. Baru 2 menit kemudian. Naya yang lega pun tertidur lelah di tempat kumuh itu.

1
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Mia AR-F: lebih ke jawa sih kk
total 1 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!