Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Dari Kain Sisa
Suara mekanis melengking tajam merobek gendang telinga Sumarni. Kepalanya berdenyut keras bak dihantam palu besi. Pendar biru pucat mendadak meledak, mengaburkan pandangannya sesaat.
[Misi Sampingan Selesai: Mempertahankan martabat pewaris di meja makan.]
[Hadiah: 50 Poin Reputasi.]
Sumarni mengusap keringat lengket yang membanjiri dahinya. Napasnya masih memburu. Telapak tangannya lecet akibat menyeret karung goni basah seberat sepuluh kilogram itu. Angka digital tersebut berkedip terang di udara kosong, perlahan mengusir pening di kepalanya.
Ia menatap tumpukan kain perca berbau apak di atas dipan bambu. Otak bisnisnya memetakan peluang dalam hitungan detik. Ia tidak punya modal uang sepeser pun. Namun, ia punya poin.
"Sistem," panggil Sumarni pelan, menjaga suaranya agar tidak terdengar ke luar. "Buka menu penukaran keahlian."
Layar biru bergeser cepat. Rentetan daftar keahlian menyala satu per satu. Ujung jari Sumarni berhenti pada satu baris teks bercahaya emas.
[Skill Menjahit Tingkat Master: 50 Poin. Tukar sekarang?]
"Tukar."
Sengatan listrik statis menyambar lurus ke ujung-ujung jari Sumarni. Kepalanya berdenyut nyeri lagi. Pengetahuan tentang rasio pola, tarikan benang, dan teknik memotong kain mengalir deras membanjiri saraf ingatannya. Urat-urat di punggung tangannya berkedut, terasa jauh lebih luwes. Ia mengepalkan tangan erat-erat. Kendali absolut atas otot-otot tangannya telah kembali.
Keahlian ini kini menyatu dengan darahnya.
"Mbok Darmi," seru Sumarni lugas. Suaranya memecah lamunan pelayan tua yang masih terpaku di ambang pintu itu. "Di rumah ini ada mesin jahit?"
Mbok Darmi tergagap kaget. "Ada mesin jahit genjot merek Singer di gudang samping, Ndoro. Tapi kondisinya karatan termakan usia. Sabuk kulitnya juga sudah kendor."
"Bawa ke sini. Mintakan sekalian minyak tanah pada penjaga pabrik untuk melumasi engselnya." Sumarni merogoh saku dalam kebayanya. Ia mengeluarkan dua keping koin seratus rupiah bergambar rumah gadang. Harta terakhir miliknya yang terselip di bawah bantal kapuk yang apek. "Tolong belikan jarum mesin dan setik benang jahit warna hitam di warung depan. Cukup?"
Mbok Darmi menatap koin itu, lalu mengangguk ragu. Pelayan itu meraup koin logam tersebut dan bergegas pergi menjalankan perintah.
Siang itu, paviliun kusam tersebut berubah wujud. Bau sengatan minyak pelumas mesin mengalahkan aroma kotoran tikus di udara. Bunyi logam beradu berderik keras, memecah kesunyian rumah belakang.
Kaki telanjang Sumarni menggenjot pedal besi mesin Singer. Tangannya menari lincah, mengarahkan lembaran kain meluncur tepat di bawah ayunan jarum. Ia tidak membutuhkan meteran pita apalagi kapur jahit. Insting dari sistem membimbing setiap sayatan guntingnya dengan presisi mutlak.
Otak modernnya menolak pola kebaya kutubaru ketat yang menyiksa dada. Ia memadukan teknik tambal sulam tingkat tinggi. Potongan kain beludru hitam pekat ia susun menjadi rangka utama untuk membentuk korset yang menopang punggung. Potongan sutra merah marun ia jahit merapat, menutupi dada hingga membalut kedua lengan.
Bagian paling rumit adalah menyatukan perca batik. Potongan batik tulis motif parang rusak itu ia jahit tumpang tindih. Ia menjadikannya aksen asimetris yang jatuh anggun dari pinggang, menjuntai bebas hingga batas mata kaki.
Waktu bergulir cepat. Udara di dalam paviliun semakin panas membakar kulit.
Dimas duduk anteng di lantai teraso yang retak. Bocah itu mengunyah sisa singkong rebus dingin. Mata bulatnya menatap takjub tangan ibunya yang bergerak secepat kilat.
Sumarni melirik anak tirinya sesaat. Ulu hatinya berdenyut nyeri. Ia membasahi kerongkongannya yang mendadak kering kerontang. Ia menekan pedal mesin jahit semakin beringas. Kecepatannya bertambah gila.
Tahan lapar hari ini, Mas. Besok, Ibu akan memberimu daging sapi kualitas terbaik, janji Sumarni dalam hati.
Menjelang sore, bayangan jingga matahari memanjang di lantai paviliun. Mbok Darmi masuk membawa nampan kayu. Di atasnya teronggok segelas teh tawar dan sepotong tempe goreng sebesar dua jari.
Langkah pelayan tua itu terhenti mendadak di tengah ruangan. Gelas teh di tangannya berguncang hebat. Airnya tumpah membasahi nampan.
"Gusti Pangeran..." Mulut Mbok Darmi terbuka lebar. Matanya nyaris melompat keluar. "I-itu... baju dari kain gombal tadi, Ndoro?"
Sumarni menggigit putus sisa benang hitam di kerah. Ia berdiri perlahan. Tangannya mengibaskan debu benang dari gaun yang baru saja selesai ia kerjakan.
Kain di tangannya bukan lagi sampah. Itu adalah sebuah mahakarya.
Terusan panjang bersiluet tegas itu memeluk lekuk tubuh dengan sempurna. Kerahnya tinggi menonjolkan leher jenjang pemakainya. Perpaduan beludru hitam pekat dan sutra merah memancarkan kemewahan yang menekan mental siapa pun yang melihatnya. Aksen batik parang di bagian bawah menegaskan identitas ningrat Jawa yang kental.
Baju ini megah. Berani. Liar. Baju ini merobek pakem mode tahun 1984.
"Bagaimana, Mbok?" Sumarni meraba tekstur beludru itu. Ia mengangkat gaunnya membiarkan cahaya sore menembus kilau sutra.
"Ayu tenan, Ndoro! Luar biasa cantiknya!" cerocos Mbok Darmi dengan mata berbinar takjub. Tangannya gatal ingin menyentuh, namun ia menahannya. "Padahal besok siang Nyonya Sulastri mau pamer kebaya sutra hijau barunya di pendopo depan. Baju Ndoro ini jauh melampaui cantiknya!"
Gerakan tangan Sumarni terhenti mengusap kain.
Ia menoleh cepat. Matanya menajam menatap Mbok Darmi. "Pamer kebaya di pendopo?"
"Nggih, Ndoro." Mbok Darmi mendekat. Ia memelankan suaranya. "Besok siang ada arisan bulanan ibu-ibu juragan dan saudagar se-kabupaten. Rumah kita yang ketempatan bulan ini. Nyonya Besar pasti pakai perhiasan emasnya yang paling besar besok."
Sudut bibir Sumarni perlahan tertarik ke atas. Sebuah senyum sedingin es yang sarat akan bahaya terbit di wajahnya.
Arisan saudagar adalah arena pertempuran yang paling basah. Uang mengalir deras di sana. Koneksi bisnis diciptakan di antara cangkir teh. Gosip menjadi pisau paling mematikan. Harjono masih sibuk di Kudus. Sumarni bebas bergerak merangsek maju tanpa halangan suaminya.
Ini adalah panggung yang sempurna. Ia akan mencari mangsa pertamanya besok siang.
Malam merayap turun menyelimuti paviliun kusam itu. Udara dingin berhembus masuk. Suara jangkrik terdengar bersahutan di luar jendela.
Sumarni melepas kebaya kutubaru lusuhnya. Ia membiarkan tubuh rampingnya dibalut gaun baru tersebut. Kain beludru tebal langsung memeluk pinggangnya dengan pas, menghalau udara malam.
Ia melangkah mantap tanpa alas kaki ke depan cermin retak di sudut kamar.
Sosok yang terpantul di balik kaca buram itu bukan lagi perempuan desa yang layu, pasrah, dan lemah. Siluet gelap beludru dan merahnya sutra itu mengangkat wibawanya ke titik puncak. Sorot matanya setajam belati yang baru diasah batu. Postur tubuhnya memancarkan dominasi mutlak seorang penguasa.
Dimas bangkit dari lantai dingin. Bocah kurus itu mendekat. Ia memeluk lutut ibunya dengan mata membulat kagum. Pipi kotornya disandarkan penuh rindu ke kain sutra halus yang membalut kaki Sumarni.
Sumarni menunduk. Ia membelai lembut kepala Dimas yang ditumbuhi rambut tipis.
"Besok siang," bisik Sumarni pelan. Ia menatap lurus pantulan matanya sendiri di cermin, mengunci target tanpa ampun. "Kita datangi pendopo itu, Sayang. Ibu akan merampas kembali apa yang seharusnya menjadi hakmu."