Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak?
Xavier melepaskan cengkeramannya dari tangan Azura, lalu kembali duduk dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah tadi dia hanya menahan benda jatuh, bukan istrinya sendiri. Namun di sisi lain, hati Azura berdegup kencang bukan karena rasa suka, melainkan karena rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Bagaimana tidak takut, di hadapannya sekarang duduk sosok yang paling dia benci seumur hidupnya.
Lelaki itu tersenyum lebar saat menatap Azura, senyum yang terlihat sopan dan ramah di mata orang lain, namun bagi Azura, senyum itu penuh dengan makna kotor dan ancaman. Senyum yang sama persis seperti saat Wessel menghancurkan hidupnya bertahun-tahun lalu.
"Ah, adikku. Lama tidak bertemu, kamu terlihat semakin cantik dan anggun saja," ucap Wessel dengan nada lembut yang dibuat-buat, matanya menatap Azura dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan yang membuat kulit Azura meremang jijik.
Azura menelan ludah dengan susah payah, berusaha sekuat tenaga untuk tetap memasang topeng dingin dan angkuhnya. Dia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikitpun di depan pria ini. Jika dia sampai terlihat takut, Wessel pasti akan semakin berani bertindak dan mempermainkannya, apalagi sekarang ada Xavier di sini.
"Terima kasih, kakak. Aku juga senang melihatmu di sini," jawab Azura dengan nada tenang dan sopan, meski hatinya berteriak keras. Dia duduk di kursi yang disediakan, tepat di samping Xavier.
Xavier melirik sekilas ke arah Azura dan Wessel bergantian, matanya menyipit penuh selidik. Dia bisa merasakan ketegangan di antara keduanya, ada sesuatu yang tidak beres antara istrinya dan pangeran itu. Tapi dia memilih diam, keduanya adalah kumpulan orang-orang licik di matanya.
"Aku datang ke sini membawa pesan penting dari ayahanda, Raja Kerajaan Utara," kata Wessel sambil menatap Xavier dengan tatapan hormat namun tetap ada kilatan licik di sana.
"Sebentar lagi hari ulang tahunnya, akan ada perayaan yang besar dan meriah di istana kami. Karena anda sekarang adalah menantu kesayangan beliau, ayahanda memerintahkanku untuk datang secara khusus guna mengundang anda dan putri Azura hadir di pesta tersebut."
Jantung Azura berpacu cepat. Benar saja, dugaan dan firasatnya tidak salah. Undangan ini bukan undangan biasa. Dia tahu betul sifat ayahnya dan sepupunya itu. Mereka tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan yang menguntungkan bagi diri mereka sendiri. Ada rencana jahat besar di balik undangan ini, dan dia yakin sasaran utamanya adalah Xavier. Apa mereka akan membunuhnya? Tidak, tidak mungkin mereka berani membunuh pangeran terhormat seperti Xavier di kandang sendiri.
Namun, selama ini kerajaan Utara memang sudah lama mengincar kekuatan dan wilayah yang dikuasai Xavier di perbatasan barat itu. Mereka tahu Xavier adalah orang yang sangat kuat, berpengaruh, dan disegani banyak orang. Alih-alih menjadikannya musuh yang terbuka, mereka lebih memilih cara licik, mendekatinya, mengikatnya dengan pernikahan lewat dirinya, lalu perlahan menjatuhkannya atau menguasainya. Dan pesta ulang tahun raja pasti adalah momen paling tepat untuk melancarkan niat jahat itu. Di sana, di tanah mereka sendiri, mereka bisa melakukan apa saja tanpa takut ketahuan atau diadili.
Azura melirik ke arah Xavier yang duduk tenang di sampingnya. Wajah pria itu terlihat acuh tak acuh, seolah undangan itu tidak ada artinya baginya.
"Baiklah, aku akan hadir."
Azura langsung memberikan tatapan kaget pada Xavier. Padahal dia berharap laki-laki itu akan menolak undangannya mentah-mentah. Padahal dia sudah tahu rencana buruk kerajaan Utara, tapi kenapa ...
"Oh ya, adikku, ayah menitipkan ini untukmu. Katanya ini kado pernikahan putri tersayangnya." Wessel menyodorkan sebuah kotak.
Tangan Azura gemetar saat jari-jarinya menyentuh pinggiran kotak beludru berwarna emas itu. Dengan tangan yang dingin dan berkeringat dingin, dia perlahan membuka penutupnya. Begitu isi kotak itu terekam jelas di kedua bola matanya, napasnya tercekat di tenggorokan, seolah ada tangan besar yang mencekik lehernya dengan kuat.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung melempar kotak itu menjauh seolah benda di dalamnya adalah racun yang siap membakar kulitnya. Kotak itu jatuh ke lantai, isinya terlempar keluar, sepasang baju bayi berwarna hitam dan biru muda, kainnya halus dan bermotif sulaman rumit, namun bagi Azura, benda itu jauh lebih mengerikan daripada senjata tajam.
Wajah Azura menjadi pucat pasi, bibirnya bergetar hebat, matanya menatap baju-baju kecil itu dengan pandangan penuh ketakutan. Tubuhnya gemetar tak terkendali hingga bahunya naik turun tak beraturan. Dia tahu apa maksud ayahnya memberikan hadiah itu.
Xavier yang tadinya duduk santai, ikut kaget melihat reaksi Azura yang begitu ekstrem. Alisnya berkerut dalam, matanya menatap tajam ke arah baju-baju kecil yang tergeletak di lantai, lalu beralih menatap wajah Azura yang terlihat sangat ketakutan. Ada rasa bingung yang bercampur rasa penasaran di benaknya. Hanya sepasang baju anak-anak? Kenapa reaksinya seolah dia baru saja melihat hantu atau ancaman maut?
Di sisi lain, Wessel memasang ekspresi kaget yang dibuat-buat dengan sangat baik. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka seolah dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, di balik topeng terkejut itu, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum kemenangan yang samar. Dia tahu persis kenapa Azura bereaksi seperti itu
"Adikku sayang ... kenapa kau melakukan itu?" tanya Wessel dengan nada suara yang terdengar sedih dan bingung, namun ada nada ejekan halus yang terselip di dalamnya.
"Kau tidak suka hadiahnya? Ayah yang memilih sendiri benda itu, loh. Beliau sangat berharap agar kau dan pangeran Xavier segera dikaruniai keturunan. Baju itu simbol doa agar pernikahan kalian segera diberkahi dengan kehadiran seorang anak, penerus dua kerajaan besar ini.
Azura tidak menjawab, dia hanya menundukkan wajah, tangannya mencengkeram ujung gaunnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak sanggup bicara, rasa takut itu begitu besar hingga membuatnya sulit bernapas.
Baju-baju itu bukan sekadar kado, itu adalah pengingat kejam, sindiran yang menusuk hati, dan ancaman tersirat untuknya.
Xavier menatap lantai itu lagi, menatap sepasang baju bayi yang tergeletak tak berdaya. Dia masih tidak paham mengapa hal sederhana itu membuat Azura begitu hancur.
Namun, mendengar penjelasan Wessel, tawa kecil tiba-tiba meluncur dari bibir Xavier. Tawa itu terdengar dingin, sinis, dan penuh penghinaan, membuat suasana ruangan yang sudah tegang menjadi semakin kaku dan mencekam.
Wessel dan Azura serentak menoleh ke arahnya, bingung mendengar tawa itu.
"Anak?" gumam Xavier pelan, lalu tertawa lebih keras lagi, matanya menyala dengan kilat ejekan yang tajam. Dia menatap lurus ke arah Wessel, lalu melirik sekilas ke arah Azura yang masih gemetar.
"Kalian ini lucu sekali. Berdoa agar kami segera punya anak? Kalian kira semudah itu?"
Dia menggelengkan kepala perlahan, nada bicaranya penuh dengan rasa meremehkan.
"Ah, kalian pasti tidak tahu. Aku ini mandul. Tidak akan pernah ada anak yang lahir dari benihku. Jadi, simpan saja doa dan baju-baju kecil sampah itu untuk diri kalian sendiri. Itu semua tidak akan pernah terwujud."
Wessel terdiam kali ini.
Mandul? Tidak mungkin, karena jelas-jelas ...
"Ah maaf pangeran, aku tidak tahu sama sekali tentang itu." katanya meminta maaf.
Xavier menatap Azura lagi, lalu berbicara dengan nada dingin penuh perintah.
"Kembalilah ke kamar."
Tanpa menunggu lama, Azura berdiri dan segera meninggalkan tempat itu dengan langkah buru-buru.
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...
putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...
putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...
pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...
kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....
tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...
pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍