Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Rasa
Ardi menyadari, dirinya semakin jauh dari solusi. Bahkan, Ardi tak berani lagi menatap kedua mata Arumi. Dia benar-benar tak tahu pada siapa dia harus bertanya.
"Masa' iya, gue ikutin saran Dira?" gumam Ardi saat dirinya tengah mandi sepulang kerja.
Ardi pulang jam delapan malam hari ini, satu jam lebih awal dari biasanya. Beberapa hari terakhir dia selalu pulang jam sembilan. Bukan karena pekerjaan. Bukan pula karena selingkuhan. Melainkan mencari pelarian untuk pikirannya yang kacau, tak beraturan. Game online.
Ardi selalu keluar kantor tepat waktu di jam pulang. Tapi, Ardi tidak langsung pulang ke rumah. Dia menuju sebuah cyber cafe dan menghabiskan waktu bermain game online disana. Dia merasa bisa mengendalikan segalanya di dalam game. Namun, saat realita kembali menyapa, dia hanya mampu diam baik nurani maupun lisan.
Ardi keluar dari kamar mandi saat Arumi tengah duduk di meja makan sambil menyeruput secangkir kopi susu hangat.
"Mas mau kopi? Atau teh?" tanya Arumi dengan nada lembut. Ardi jadi sedikit salah tingkah.
"Ehem, teh aja," jawab Ardi. Arumi tersenyum lalu berdiri, menyiapkan secangkir teh untuk Ardi.
"Kok sepi? Kayla udah tidur?" tanya Ardi sambil duduk di ruang makan, mencoba bersikap biasa meski dirinya sangat tidak nyaman saat itu.
"Iya. Akhir-akhir ini, Kayla jarang tidur siang, jadi cepet capek," kata Arumi sambil meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Ardi.
"Makasih," ucap Ardi. Arumi hanya tersenyum.
Hening.
Ardi terlihat selalu menempelkan cangkir teh di mulutnya, seperti enggan membicarakan sesuatu.
"Mas," kata Arumi akhirnya, memecah keheningan yang menyesakkan dadanya.
"Ya?" Ardi meletakkan cangkir tehnya.
"Mmm... akhir-akhir ini banyak lemburan?" tanya Arumi ragu-ragu.
"Hm? Oh, i-iya. Perusahaan lagi ada... mmm... proyek besar... jadi..."
"Tapi, kata Dito kamu selalu keluar kantor di jam pulang?" potong Arumi, tak tahan dengan kebohongan Ardi.
"Hah? Eh? Kamu telepon Dito? Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Ardi dengan nada agak tinggi.
"Bukan nggak percaya, Mas. Aku cemas. Kamu pulang malam..."
"Aku pulang malam karena aku kerja, Rum. Bukan main-main!" ada sesuatu yang berat mengganjal tenggorokan Ardi saat mengatakan kalimatnya yang terakhir.
"Aku khawatir, Mas,"
"Kalo kamu khawatir, kenapa kamu nggak telepon aku? Kamu malah telepon Dito. Itu artinya kamu nggak percaya sama aku, Rum," kata Ardi menyudutkan Arumi.
"Aku kira kamu lembur, Mas. Aku telepon kantor dan kebetulan yang angkat Dito," Arumi mencoba menjelaskan.
"Kenapa kamu telepon kantor? Kamu kan bisa telepon ke hp ku? Emang dasar kamunya aja yang nggak percaya sama aku," Ardi semakin menyudutkan Arumi.
Arumi diam. Arumi tak mengerti mengapa dia disalahkan. Padahal dia hanya ingin mencoba bicara dari hati ke hati. Bukan berdebat.
"Udah. Aku capek," kata Ardi lalu masuk ke kamar.
Arumi hanya mampu menatap pintu kamar yang tertutup dengan perasaan perih di hatinya. Tak terasa airmata mengalir tanpa permisi. Di dalam pelukan malam yang sunyi, berteman secangkir kopi susu yang sudah dingin, Arumi meratapi cintanya yang mungkin sudah mati.
'Dimana rasa yang dulu pernah ada, Mas?'
***
Pagi itu, aura di rumah Arumi terasa semakin dingin. Sisa kemarahan masih tergurat jelas di wajah Ardi. Arumi pun tak ingin mengatakan apapun, bahkan sekedar mengucapkan selamat pagi. Rumah terasa begitu menyesakkan bagi Arumi.
Setelah meletakkan sepiring sarapan untuk Ardi di atas meja makan, Arumi pergi ke kamar Kayla, membangunkannya dan menyiapkannya untuk sekolah. Arumi bahkan tak melihat kapan Ardi memakan sarapannya. Sosoknya tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa pamit.
"Mama," panggil Kayla lembut saat Arumi sedang memakaikan seragam sekolah.
"Hm?"
"Papa udah berangkat kerja?" tanya Kayla.
"Ehem... Udah, Sayang,"
Wajah Kayla terlihat sedih.
"Kayla kenapa?"
Kayla menatap kedua mata Arumi tajam.
"Kayla mau bilang sama papa,"
"Bilang apa?"
"Kayla kangen sama papa," kata Kayla dengan mata berkaca-kaca. Arumi memeluk Kayla sambil menahan airmatanya sendiri agar tak keluar.
"Sabar ya, Kay," kata Arumi menenangkan Kayla. Tapi kalimat itu terasa seperti tertuju pada dirinya sendiri.
Arumi melepaskan pelukannya perlahan lalu tersenyum.
"Sekarang kita berangkat sekolah dulu ya?" kata Arumi sambil tersenyum. Kayla terdiam, menunduk.
"Kenapa, Kay?" tanya Arumi lembut. Kayla masih diam.
"Kayla nggak enak badan?" tanya Arumi lagi sambil memeriksa suhu tubuh Kayla dengan telapak tangannya. Kayla menggelengkan kepalanya perlahan.
"Oke," Arumi menggendong Kayla, lalu duduk memangku Kayla di tepi tempat tidur Kayla.
"Kayla boleh cerita apa aja ke mama," kata Arumi.
"Kayla boleh minta apa aja ke mama, tapi..."
"Tapi?"
Arumi tersenyum.
"Tapi, kalo permintaan Kayla terlalu sulit atau membahayakan, mama nggak bisa kasih," kata Arumi.
"Bener?" tanya Kayla perlahan. Arumi mengangguk sambil tersenyum.
"Kayla... pengen ke taman bermain... sama mama... sama papa... boleh?" kata Kayla.
Arumi menahan nafasnya. Sedetik kemudian dia melepaskannya perlahan. Lalu tersenyum.
"Oke. Nanti mama bilang ke papa dulu ya. Kalo papa bisa, besok Sabtu kita ke taman bermain," kata Arumi sambil tersenyum.
"Yay!!!" seru Kayla sambil melompat dari pangkuan Arumi.
Arumi tersenyum melihatnya. Arumi akan membicarakan keinginan Kayla pada Ardi, meskipun dia harus meruntuhkan benteng pertahanan emosinya.
"Ayok, Ma, sekolah! Keburu Kayla terlambat," kata Kayla semangat, menyadarkan Arumi dari lamunannya.
Arumi mengantarkan Kayla ke sekolah. Anak itu semakin ceria saat bertemu dengan teman-temannya. Arumi menatap tawa Kayla dari jauh lalu menghela nafas panjang dan melajukan sepeda motor listrik miliknya perlahan meninggalkan sekolah Kayla.
Entah mengapa, Arumi berbelok, menuju jalan yang biasa dia lewati untuk ke klinik Dokter Arisa, —yang tentunya berlawanan arah dengan jalan ke rumah— padahal hari ini bukan jadwal konsultasinya.
Arumi berhenti sejenak di depan klinik, menatap klinik dengan tatapan kosong dan sedih. Tanpa Arumi sadari, sebuah mobil tengah berhenti di belakang Arumi.
"Bu Arumi," sapa sebuah suara yang Arumi sangat kenali.
"Eh? Dok. Maaf," kata Arumi sambil hendak pergi. Tapi, tangan Dimas memegang stang motornya, menahan Arumi.
Dimas menatap Arumi lekat-lekat. Meski tertutupi oleh make-up tipisnya, Dimas dapat melihat mata Arumi yang merah dan bengkak.
"Kamu... abis nangis?" tanya Dimas tanpa sadar —tanpa menggunakan panggilan sopan seperti biasa— dengan suara lembutnya. Arumi tertegun, menatap Dimas yang juga menatapnya.
Tangan Dimas bergerak, menggenggam tangan Arumi yang mencengkeram stang motornya.
"Ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Dimas lagi. Tatapannya semakin menghujam ke dalam mata Arumi.
Jantung Arumi bergejolak, nafas Arumi memburu. Tatapan Dimas saat itu, Arumi yakin, bukan tatapan dari dokter pada pasien. Tapi, dari pria pada wanita yang dia sayangi.
'Bukan. Pasti bukan. Pasti cuma perasaan ku aja. Ingat, Rum. Kamu sudah bersuami!'
***