NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokter atau Monster?

Suara pneumatik pintu baja yang tertutup keras, "KSHHHHHH-KLUNK!", memutus hubungan mereka dengan koridor bawah tanah yang berbahaya. Ruang isolasi tekanan negatif itu seperti sebuah kapsul dari dunia lain: putih, steril, sunyi, dan berteknologi tinggi. Lampu LED darurat memancarkan cahaya putih dingin yang konstan, jauh berbeda dengan kerlip merah atau kegelapan yang mereka alami.

Ningning terbaring di tempat tidur rumah sakit pertama, wajahnya masih pucat dan berkeringat dingin, namun napasnya sudah lebih teratur berkat selang oksigen yang dipasang Dokter Kim. Eunseok di tempat tidur sebelahnya, lengan yang terluka telah dibersihkan dan dijahit dengan rapi, matanya terpejam lelah di bawah pengaruh obat pereda nyeri yang kuat.

"Syukur... Tuhan" bisik Stella, air mata kelegaan mengalir deras di pipinya yang kotor. 

stella memandangi rak-rak yang penuh dengan makanan instan militer dalam kemasan hijau, air galon dalam kemasan segel, dan lemari medis yang penuh dengan peralatan steril. "Kita... kita aman."

A-na dan yuha bergegas membantu Dokter Kim, mengambilkan alat-alat, larutan infus, dengan patuh. Untuk pertama kalinya sejak hari mengerikan itu dimulai, mereka merasa ada sosok dewasa yang berwenang, yang tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi Jimin tidak bergerak dari ambang pintu. Dia membiarkan pintu baja itu tertutup di belakangnya, tetapi matanya tidak lepas dari punggung Dokter Kim yang sedang sibuk merawat Ningning. Sesuatu menggelitik nalurinya, sesuatu yang tidak beres.

"Dokter," suara Jimin pecah di keheningan ruangan yang hampir sunyi, kecuali bunyi mesin monitor dan dengungan sirkulasi udara. "Kenapa anda tidak ikut evakuasi sejak awal?"

Dokter Kim tidak langsung menoleh. Tangannya yang bersarung lateks tetap sibuk memeriksa tetesan infus. "Saya tertinggal. Terlambat mendapat informasi. Saat akan menuju helipad, area itu sudah... penuh dengan mereka." Suaranya datar, hampir tanpa emosi.

"Tapi anda menemukan kami dengan sangat mudah di tangga darurat," lanjut Jimin, melangkah lebih dalam ke ruangan. "Seolah-olah anda tahu kami akan lewat sana."

Kali ini, Dokter Kim berhenti. Dia perlahan menoleh. Di bawah topeng bedahnya, hanya matanya yang terlihat—sepasang mata coklat yang lelah, dikelilingi kerutan dalam, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Jimin merinding. Bukan kebencian, tapi... sebuah pengamatan yang terlalu intens.

"Saya mendengar teriakan dan langkah kaki kalian dari dalam ruang radiologi," jawab dokter itu, logis. 

"Saya mengambil kesempatan. Seperti kalian, saya juga ingin bertahan hidup. Dan di sini," tangannya melambai ke sekeliling ruangan, "kita bisa bertahan. Bersama."

"Bersama?" Minjeong, yang dari tadi diam memperhatikan sambil memegangi tangan Chenle, menyela. Suaranya dingin. "Anda tidak kenal kami. Kenapa mau membantu 'bersama'?"

"Karena saya seorang dokter," jawab Dokter Kim, dan untuk pertama kalinya, ada getaran emosi di suaranya—sebuah kebanggaan yang pahit. "Sumpah Hippocrates. Menolong yang sakit dan terluka. Dan lihatlah kalian," matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak lebih lama pada Ningning dan Eunseok, "kalian adalah pasien yang membutuhkan."

Jawabannya sempurna. Terlalu sempurna.

Chenle yang dari tadi diam, tiba-tiba berkata dengan suara kecil, "Dia terus liatin Ningning."

Semua mata tertuju padanya, lalu ke Dokter Kim. Dokter itu membeku sejenak.

"Apa maksudmu, Le?" tanya Jimin.

"Tadi... waktu dia pasang infus, waktu dia periksa, matanya... kayak bukan lagi mata dokter yang ngecek pasien," Chenle menggigil, mendekatkan diri ke Minjeong. 

"Kayak... kayak orang lapar liat makanan. Atau... ilmuwan liat specimen langka."

Suasana di ruangan yang tadinya penuh kelegaan langsung berubah menjadi tegang. A-na dan Sohee mundur selangkah dari tempat tidur. Stella berdiri lebih dekat ke pintu.

Dokter Kim menghela napas panjang, seolah lelah. "Kalian paranoid. Itu wajar, setelah trauma yang kalian alami. Tapi tolong, percayalah. Di sini kita aman. Sistem filtrasi udara memastikan tidak ada patogen luar yang masuk—atau mereka yang bisa mendeteksi kita. Pintunya tahan peluru. Kita punya makanan untuk berminggu-minggu." 

Dia menatap Jimin. "Kamu pemimpinnya, ya? Buatlah keputusan yang bijak untuk orang-orangmu. Istirahat. Sembuhkan luka. Kumpulkan tenaga."

Kata-kata terakhir diucapkan dengan penekanan aneh. Jimin merasakan telapak tangannya berkeringat dingin. Pilihannya: menolak bantuan dan meninggalkan tempat berlindung terbaik yang pernah mereka temui, dengan dua orang dalam kondisi kritis? Atau tinggal, dengan risiko bahwa ketakutan mereka tentang dokter ini mungkin benar?

"Kita butuh informasi," kata Jimin akhirnya, mencoba mengambil kendali. "Tentang mereka. Klepek klepek itu, that things. Apa yang anda ketahui, Dokter?"

Dokter Kim memandanginya lama. Senyum tipis yang tak sampai ke mata muncul di balik topengnya "Hahaha klepek-klepek? Kami menyebut mereka Entitas Fotofobia-X," ulang Dokter Kim, menatap Jimin.

"EF-X. Atau dalam laporan internal, Pemakan Cahaya. Nama panggilan kalian lucu, Mereka... bukan berasal dari sini. Mereka tertarik pada sesuatu pada kita. Sesuatu yang... bersinar. Baik secara harfiah maupun metaforis." 

Dia mendekati sebuah panel komputer di dinding yang tampaknya mati. "Dan saya punya beberapa data di sini. Mungkin bisa kita pelajari... bersama-sama."

Jimin menatap panel komputer itu, lalu ke wajah-wajah temannya yang penuh harap, takut, dan kelelahan. Dia terjebak. Ruang isolasi yang sempurna ini mulai terasa seperti sangkar yang paling mewah. Dan sang penjaga sangkar itu sedang menawarkan mereka buah terlarang dari pengetahuan, dengan harga yang mungkin tidak akan mereka sanggup bayar.

"Dari mana mereka datang?" tanya Chenle, suaranya bergetar.

"Itu yang masih kami pelajari," jawab dokter itu. 

"Yang jelas Bukan dari planet lain, dalam pengertian fiksi ilmiah. Lebih seperti... dari lapisan dimensi yang bersinggungan dengan kita. Mereka selalu ada di sekitar kita, di frekuensi yang tidak terlihat, tidak terdeteksi. Sesuatu—sebuah peristiwa energik besar—membuka 'pintu' itu lebih lebar." Dia memandang mereka satu per satu. 

"Ledakan cahaya aneh di langit pada malam serangan pertama, kalian lihat?, disini, ini satu-satunya tempat di gedung ini yang benar-benar aman dari mereka. Dinding berlapis baja timah. Udara disirkulasi internal. Tidak ada kebocoran suara atau... sinyal biologis keluar." Kata 'sinyal biologis' diucapkan dengan penekanan aneh.

"Sinyal biologis?" Chenle yang duduk di lantai dekat Ningning, menegakkan kepala. "Maksud lo... mereka bisa deteksi kita kayak radar?"

"Lebih dari radar," jawab Dokter Kim, berjalan mendekati panel komputer yang tertanam di dinding. Dia menekan beberapa tombol. Layar yang tadinya gelap menyala, menunjukkan tampilan statis kamar ini dari beberapa sudut. 

"Mereka sensitif terhadap spektrum tertentu. Panas tubuh. Gelombang otak dalam keadaan panik atau sakit. Bahkan... komposisi kimia darah tertentu." 

Dia menoleh, dan kali ini tatapannya tertuju tajam pada Ningning. "Seperti teman kalian yang demam tinggi ini. Dia memancarkan sinyal yang berbeda. Lebih... menarik."

Penjelasan itu seperti petir di siang bolong.

"Jadi... jadi mereka bukan cuma makan daging?" bisik Yuha, pucat pasi.

"Mereka 'menyerap'. Seperti yang kalian saksikan pada satpam-satpam itu. Mereka menyerap energi, panas, dan mungkin... informasi biologis dari korban," jelas Dokter Kim, suaranya semakin datar, ilmiah. "Itu sebabnya korban-korban awal sering ditemukan... mengering, bukan hanya terkoyak."

"Dan Ningning?" Jimin menekan, jantungnya berdebar kencang. "Kenapa dia 'lebih menarik'?"

Dokter Kim mendekati tempat tidur Ningning. "Lihat monitor ini," dia menunjuk layar kecil di samping tempat tidur yang menunjukkan grafik detak jantung dan suhu tubuh. "Suhunya 39.8 derajat. Detak jantungnya tinggi, tidak hanya karena demam, tapi ada aktivitas neurologis yang tidak biasa. Luka yang dideritanya memicu respons imun yang sangat kuat, hampir berlebihan. Dia memancarkan 'sinyal' biolistrik dan termal yang lebih kuat, lebih 'cerah' dalam pandangan mereka. Seperti mercusuar di kegelapan."

"Jadi dia dalam bahaya lebih besar? Bahkan di sini?" teriak Chenle, bangkit.

"Di sini, sinyalnya terblokir oleh lapisan timah dan sistem insulasi ruangan ini," kata Dokter Kim meyakinkan, tapi lalu dia melanjutkan dengan nada lebih rendah. "Tapi itu juga yang membuatnya menjadi... subyek studi yang berharga. Mengapa tubuhnya merespons seperti ini? Apa ada perbedaan genetik, biokimia? Jika kita bisa memahami itu, kita mungkin bisa menemukan cara untuk... menyamarkan sinyal kita. Atau bahkan mengusir mereka."

"Jadi Apa yang harus kami lakukan?" tanya Jimin akhirnya, suaranya lelah.

"Biarkan saya memantau dia," pinta Dokter Kim, kembali ke nada persuasif. "Ambil sampel darah kecil. Pantau aktivitas otaknya. Sementara itu, kalian istirahat. Makan. Kumpulkan tenaga. Jika sinyal mereka bisa dipetakan, mungkin kita bisa membuat... penangkal. Sesuatu yang membuat kita 'tak terlihat' bagi mereka."

"Jadi anda mau jadikan Ningning kelinci percobaan?!" Minjeong meledak, maju mendekat.

"Saya ingin menyelamatkan kita semua!" suara Dokter Kim tiba-tiba meninggi, emosi yang sesungguhnya akhirnya tersingkap—campuran frustrasi dan kegilaan misi. 

"Kalian pikir kalian bisa bertahan selamanya dengan bersembunyi? Mereka akan menemukan kalian! Mereka berkembang biak! Studi pendahuluan menunjukkan mereka bisa beradaptasi!" Dia menarik napas. 

"Kita butuh senjata. Dan senjata terbaik adalah pemahaman. Dia," tangannya menunjuk Ningning, "Dia..adalah kunci potensial untuk pemahaman itu."

"TIDAK." Suara itu datang dari Chenle, yang berdiri dengan tubuh gemetar namun mata berkobar. "Lo gak akan sentuh Ning lagi. Gue gak peduli lo dokter atau malaikat! Lo udah liat lukanya, lo udah kasih infus, itu cukup!"

Minjeong menyokong, berdiri di samping Chenle. "Bener...Dia bukan tikus lab anda."

"Kalian tidak mengerti!" suara Dokter Kim tiba-tiba meninggi, kesabaran tipisnya runtuh. 

"Dia bisa menjadi kunci! Kita bisa menemukan kelemahan mereka! Kita bisa SELAMAT!" Wajahnya yang tadinya kalem mulai memerah, urat di pelipisnya menegang.

"IYA, Caranya gak boleh dengan ngerjain temen kami!" teriak Yuha, berani oleh ketakutan yang berubah jadi amarah.

"Kalian anak-anak bodoh dan sentimental!" geram Dokter Kim. Dan kemudian, dengan gerakan cepat yang mengejutkan untuk seorang pria sepantarannya, tangannya merogoh saku jas labnya.

Bukan alat medis yang dia keluarkan.

Tapi sebuah pistol otomatis kecil yang mengilap.

"AAAHH!" Sunkyung dan Yeon menjerit, menyembunyikan wajah mereka.

"Astaga... dia bawa senjata..." gumam Hina, mundur.

Dokter Kim mengarahkan laras pistol itu—bukan ke Jimin, bukan ke Chenle—tapi langsung ke arah Eunseok yang masih terbaring tak berdaya di tempat tidur sebelah Ningning.

"JANGAN!" jerit A-na dan Stella bersamaan.

"Sekarang, kamu akan mendengarkan saya," ujar Dokter Kim dengan suara gemetar namun penuh ancaman. Matanya liar. 

Dokter menunjuk jimin "Kamu, si pemimpin. Suruh mereka kooperatif. Atau temanmu yang satu ini akan kehilangan lebih dari sekedar lengannya. Saya hitung sampai tiga. Satu—"

Kepanikan meledak. Ian berseru, "Jimin, nyerah aja! Kita gak bisa... kita gak mau kehilangan Eunseok juga! Udah cukup Jiwoo, Wonbin aja!!"

Sunkyung menangis histeris, "Iya, Jimin, tolong... jangan..."

Tapi Jimin tidak bergeming. Wajahnya bukan wajah ketakutan, melainka ketenangan yang berbahaya. Matanya, yang biasa penuh dengan kewajaran dan disiplin, kini menyala dengan tekad baja. Dia tidak mundur. Malah, dia melangkah lebih dekat, perlahan, seolah sedang mendekati binatang buas.

"Dua—" Dokter Kim mendorong lebih keras.

"Anda tidak akan menembak," kata Jimin, suaranya tiba-tiba sangat tenang, sangat datar. 

"Anda butuh kami. Anda butuh mereka," jimin menunjuk Ningning dan Eunseok. "Sebagai data. Sebagai specimen. Menembak mereka merusak data. Dan anda... anda adalah seorang ilmuwan yang putus asa, bukan pembunuh dingin."

Dan dalam sepersekian detik keraguan di mata dokter itu, Jimin bergerak.

Gerakannya bukan tendangan spektakuler. Itu efisien, brutal, dan langsung ke sasaran. Sebuah tendangan cepat ke pangkal lengan dokter yang memegang pistol, diikuti dengan cengkeraman tangan seperti besi di pergelangan tangan dokter dan puntiran keras ke arah yang salah.

KRAK! Suara tulang atau sendi yang terpelintir.

"AAAAAGH!" Dokter Kim menjerit, pistol itu terlempar dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan suara klak!.

Sebelum siapa pun bisa bereaksi, Jimin sudah mendaratkan pukulan pendulum dengan sisi tangan yang terkepal ke sisi leher Dokter Kim. Thwump!

Dokter Kim tersedak, matanya membelalak, lalu tubuhnya limbung dan runtuh ke lantai, tak bergerak. Pingsan.

Senjata ada di tangan Jimin sekarang. Dan semua orang di ruangan itu terdiam, terpana. Hanya dengungan AC yang terdengar.

"Dia... dia... pingsan?" bisik Yeon, tidak percaya.

"Jimin... lo... lo beneran..." Chenle ternganga.

Jimin membungkuk, memastikan nadi dokter masih ada, lalu dengan cepat menggeledahnya. Dia menemukan kunci magnetik dan sebuah ponsel tua di saku lain. Dia berdiri, wajahnya berkeringat tetapi mantap.

"Dia pingsan. Kita punya waktu mungkin 10-15 menit sebelum dia siuman," kata Jimin, suaranya kembali memimpin. "Eunseok, lo bisa duduk?"

Dari tempat tidur, Eunseok yang mendengar keributan perlahan membuka matanya. Wajahnya masih pucat, tetapi tatapannya lebih jernih. 

"Gue... gue bisa. Lengan masih sakit banget, tapi kepala udah agak ringan." eunseok mencoba mendorong tubuhnya untuk duduk, dan berhasil dengan bantuan A-na.

"Bagus. Kita harus pergi. Sekarang," Jimin memandang mereka semua. 

"Chenle, bantuin gue bopong Eunseok. Dia gak bisa jalan jauh. Minjeong, Yuha, urus Ningning dan kursi rodanya. Yang lain, kosongin semua persediaan di tas-tas kita. Makanan, air, obat-obatan, terutama antibiotik dan perban. CEPAT!"

Perintahnya seperti menyetrum mereka. Mereka bergerak. Chenle dan Jimin dengan hati-hati mengangkat Eunseok, yang mengerang menahan sakit tapi mengangguk berterima kasih. Minjeong dan Yuha dengan lembut memindahkan Ningning yang masih lemas ke kursi roda dokter yang kokoh. Hina dan Koeun seperti tim perampok efisien, mengosongkan rak makanan dan obat ke dalam tas-tas ransel besar.

"Astaga, Jimin... lo tadi... keren banget," Stella berkata sambil memasukkan bungkusan MRE, suaranya penuh kekaguman.

"Gue cuma bela diri, Stel. Dan bela kita semua," jawab Jimin singkat. Dia melihat ke arah Dokter Kim yang pingsan di lantai. "Kita ikat dia. Gak bisa dibiarin bebas nanti nguntit kita."

Ian dan yeon segera menggunakan selang infus dan perban untuk mengikat pergelangan tangan dan kaki Dokter Kim ke kaki tempat tidur besi. Cukup kuat untuk menahannya.

Dalam waktu kurang dari lima menit, mereka sudah siap. Eunseok dipapah di antara Jimin dan Chenle. Ningning di kursi roda didorong oleh Minjeong. Tas-tas berat penuh persediaan dibagi-bagi.

"Kita keluar lewat jalur yang sama kita datang?" tanya A-na.

"Gak. Itu terlalu riskan. Dia mungkin punya jalan lain," Jimin mengangkat kunci magnetik yang dia ambil dari dokter. "Kita coba cari akses ke lantai servis atau langsung ke luar. Pintu ini pasti punya pintu darurat manual dari dalam."

Dia mendekati panel kendali pintu. Berbeda dengan sebelumnya, dia sekarang dengan percaya diri menekan beberapa tombol berdasarkan ingatannya saat dokter mengoperasikannya tadi. Ada bunyi bip yang menolak.

"Butuh sidik jari atau kode," gumam Jisung.

Jimin tidak menyerah. Dia melihat ke sekeliling, lalu matanya tertuju pada tangan Dokter Kim yang pingsan. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berjalan mendekat, mengambil tangan dokter itu, dan menekankan jempolnya ke scanner sidik jari di panel.

Biiip. Kshhhhh...

Pintu baja itu mulai terbuka perlahan.

"Yes!" desis Chenle.

Mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Kelompok Jimin yang kini terdiri dari 13 orang—dengan dua anggota yang masih sangat lemah namun bisa bergerak—melangkah keluar dari ruang isolasi, kembali ke koridor bawah tanah yang berpipa dan berdebu. Mereka meninggalkan Dokter Kim yang terikat dan tidak berdaya di dalam bunker 'aman'nya sendiri.

Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Eunseok menarik napas dalam. "Makasih, Jimin. Gue... gue kira tadi..."

"Udah, jangan dipikirin. Sekarang fokus bertahan," potong Jimin. Dia menoleh ke belakang, memastikan semua ada. "Kita cari jalan keluar. Dan kita cari yang lain. Jaemin, Mark, mereka pasti masih di luar sana."

Mereka berjalan—atau lebih tepatnya, berjalan cepat dengan susah payah—menyusuri koridor yang gelap. Langkah mereka sekarang lebih berat namun lebih bersatu. Mereka bukan lagi sekelompok korban yang putus asa. Mereka adalah sebuah unit yang telah melawan satu jenis monster, dan sekarang siap menghadapi jenis monster lainnya, entah itu Klepek-Klepek di kegelapan, atau ketakutan mereka sendiri. Dan di depan, Jaemin dan kelompoknya mungkin sedang dalam bahaya yang sama besarnya.

....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!