NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Zara melangkah masuk, mengabaikan aura permusuhan yang terpancar dari pria itu. Ia meletakkan kotak makan siangnya di atas meja kerja Benedict.

“Ini hari Selasa, tokoku tutup. Aku membuatkanmu makan siang,” ucap Zara. Ia mulai membuka tutup kotak itu.

Benedict menatap makanan itu seolah-olah itu adalah tumpukan sampah yang baru saja diletakkan di atas mejanya.

“Siapa yang mengizikan mu masuk? Dan siapa yang memintamu membawakan ini?”

“Tidak ada. Aku hanya ingin kau makan siang. Aku yakin kau belum makan sejak pagi.”

Benedict melangkah maju. “Bawa ini pergi.”

“Aku akan pergi setelah kau mencicipinya sedikit saja,” pinta Zara, matanya menatap tepat ke manik mata pria itu.

“Kau menuduhku ingin meracuni ku, bukan? Lihat!”

Zara mengambil sebutir anggur hijau dan memakannya, lalu ia mengambil secuil panino caprese dan mengunyahnya di depan Benedict.

“Tidak ada racun. Cobalah, Tuan. Kau tidak bisa terus bekerja dengan perut kosong.”

Benedict terdiam sejenak. Ia melihat keberanian di mata Zara, sesuatu yang selalu membuatnya merasa terusik. Rasa lapar yang ia abaikan sejak pagi mulai berdenyut, terlebih saat melihat makanan di depannya.

Dengan gerakan kasar dan wajah yang masih menunjukkan kekesalan, Benedict duduk di kursi kebesarannya. Ia mengambil potongan panino itu, berniat memakannya dengan cepat hanya agar Zara segera pergi. Namun, saat gigitan pertama mendarat di lidahnya, Benedict terhenti. rasa rotinya begitu renyah di luar namun lembut di dalam.

“Cukup,” ucap Benedict setelah menelan suapannya. “Aku sudah memakannya. Sekarang keluar.”

“Habiskan, Tuan. Semuanya. Termasuk anggur dan biscotti itu,” ujar Zara tenang, tidak terpengaruh oleh pengusiran itu.

Benedict mendengus. “Kau pikir kau siapa mengatur ku? Aku sudah cukup memberikan toleransi dengan memakan satu gigitan.”

“Satu gigitan tidak akan membuat perutmu kenyang. Lihat wajahmu, kau pucat karena bekerja tanpa adanya asupan yang masuk ke dalam perutmu.”

Zara melangkah maju, mendorong kotak makan itu hingga benar-benar berada di bawah dagu Benedict.

“Habiskan, atau aku akan tetap berdiri disini sampai Luca masuk dan melihat bos nya sedang mogok makan seperti anak kecil”

Benedict menatap Zara dengan pandangan tidak percaya. Belum pernah ada orang yang berani mengancamnya dengan cara seperti itu. Namun melihat binar keras kepala di mata Zara, Benedict tahu gadis itu tidak sedang bercanda.

Dengan geram dan gumaman malas tentang betapa menyebalkannya hari ini, Benedict akhirnya menyerah. Ia mulai memakan panino dengan suapan-suapan besar, disusul dengan butiran anggur hijau yang manis.

Benedict melakukannya dengan wajah yang masam, seolah-olah ia sedang di paksa menelan obat pahit. Padahal, lidahnya tidak bisa berbohong bahwa perpaduan mozarella dan basil itu terasa sangat pas di perutnya yang kosong. Terakhir, ia mengunyah biscotti hingga kotak makan di hadapannya benar-benar bersih.

“Puas?,” tanya Benedict sambil menyeka bibirnya dengan tisu.

Zara tidak menjawab, ia melangkah mendekat, dengan tenang membereskan kotak makan kosong itu dan menutupnya rapat-rapat. Setelah semuanya rapi, Zara melalukan sesuatu yang membuat napas Benedict tertahan sesaat.

Dengan gerakan santai, Zara mengulurkan tangannya, lalu mengelus lembut puncak kepala Benedict.

“Good job,” ucap Zara pendek dengan senyum manisnya.

Benedict membeku. Sentuhan itu terasa hangat. Ia terlalu terkejut untuk menangis atau memaki.

Sebelum Benedict sempat memulihkan kesadarannya dan mengeluarkan kata-kata pedas, Zara sudah berbalik dan melangkah keluar dari rumahan dengan santai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya, Benedict pulang tidak terlalu larut. Begitu sampai di Mansion, ia tidak langsung menuju kamarnya sendiri. Sebaliknya, ia berjalan lurus menuju pintu kamar Zara.

Tok, tok.

Tanpa menunggu jawaban, Benedict membuka pintu. Ia mendapati Zara sedang duduk di tepi tempat tidur.

“Besok malam, kosongkan jadwalmu,” ucap Benedict tanpa basa-basi.

Ia berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerjanya dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Zara sedikit tersentak, menoleh dengan alis bertaut.

“Besok? Tapi besok aku…..”

“Aku tidak menerima penolakan, Zara,” potong Benedict cepat. “Ada charity gala besok. Seluruh relasi bisnisku dan pers akan ada di sana. Terpaksa aku harus datang bersamamu, aku tidak ingin ada spekulasi liar yang merusak harga saham perusahaan.”

Zara menghela napas, berdiri menghadapi pria itu. “Baiklah, tidak ada pilihan selain menurutimu.”

Benedict melangkah satu langkah masuk ke dalam kamar. “Bersikaplah seolah kau mencintaiku besok. Luca sudah menyiapkan semuanya untukmu besok sore. Jam tujuh malam, kau harus sudah siap.”

Ia menatap Zara sejenak, tatapannya menyapu wajah gadis itu yang tampak lelah. Ada keheningan sesaat di antara mereka.

“Tidurlah. Kau butuh wajah segar untuk kamera besok,” tambahnya dengan nada yang sedikit lebih pelan.

Benedict berbalik dan menutup pintu kamar Zara dengan rapat, meninggalkan Zara yang hanya terpaku menatap pintu yang tertutup rapat.

Malam acara tiba. Benedict sudah menunggu di ruang tengah, tampak sangat intimidatif dalam balutan tuxedo hitam. Ia terus memeriksa jam tangannya. Siap untuk melontarkan komentar pedas jika Zara terlambat sedikitpun.

Namun, saat pintu kamar terbuka, kalimat pedas yang sudah di ujung lidahnya tertelan kembali.

Zara melangkah keluar dengan gaun berwarna hijau Zamrud yang jatuh dengan elegan di tubuhnya. Rambutnya yang biasa hanya diikat asal, kini tertata rapi dalam sanggul yang memperlihatkan leher jenjangnya.

Benedict berdehem, berusaha menyembunyikan keterpakuannya di balik wajah datar.

“Mobil sudah menunggu. Ingat, jangan membuat malu namaku malam ini.”

“Baik, Tuan. Kau bisa mengandalkanku,” balas Zara sambil meraih lengan yang ditawarkan Benedict dengan ragu.

Begitu limosin itu berhenti tepat di depan gedung megah di Fifth Aveneu, suasana seketika menjadi riuh. Lusinan petugas keamanan bersusah payah menahan barisan fotografer dan wartawan yang sudah menunggu sejak sore.

Pintu mobil terbuka, Benedict turun lebih dulu, memberikan tangannya kepada Zara. Begitu kaki Zara menyentuh red carpet, kilatan lampu flash kamera meledak seperti kembang api. Bunyi jepretan kamera yang bertubi-tubi menciptakan kebisingan yang memekakan telinga.

“Mr. Franklin! Di sisi!”

“Mrs. Franklin, tolong lihat ke arah kiri!”

“Berikan satu pose untuk kami!”

Para pers berteriak bersahutan, berebut mendapatkan sudut terbaik dari pasangan yang sedang hangat di bicarakan.

Zara, yang awalnya sempat terkejut dengan serangan cahaya itu, dengan cepat ia mengusai keadaan. Ia memasang senyum paling manis yang ia miliki, sebuah senyum yang tampak sangat tulus di depan kamera.

Zara merapatkan tubuhnya, menggandeng lengan Benedict dengan mesra, ia sedikit menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu. Ia berpose dengan alami, menoleh ke arah kamera di sisi kanan dan kiri dengan anggun.

Justru Benedict lah yang tampak kehilangan kendali. Pria itu berdiri sangat kaku. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang tegang.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!