NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Siang itu, matahari Jakarta membakar aspal dengan kejam, namun di dalam mobil mewah yang membawa Aira, udara terasa sejuk berkat AC yang bekerja maksimal.

Aira duduk dengan kaku di kursi belakang, tangannya mendekap erat sebuah tas bekal susun bermotif bunga matahari yang terasa sangat kontras dengan jok kulit mobil Bentley tersebut.

Di dalam tas bekal itu, ada tumis kangkung terasi dan ayam goreng bumbu kuning, masakan yang ia buat sendiri di dapur megah Pradipta pagi tadi, mengabaikan tatapan bingung selusin koki berseragam putih yang merasa pekerjaan mereka direbut.

"Mbak Aira, kita sudah sampai," ucap Pak Bambang, supir pribadi Dewa, dengan nada yang sangat hormat.

Aira menatap keluar jendela. Sebuah gedung pencakar langit dengan dinding kaca biru gelap menjulang tinggi, seolah hendak menusuk awan. Di puncaknya, logo "PRADIPTA GROUP" berkilau angkuh tertimpa cahaya.

"Bapak tunggu di sini saja, ya? Biar saya masuk sendiri. Saya mau kasih kejutan buat Mas Dewa," ucap Aira sambil tersenyum kecil.

"Tapi Tuan Muda berpesan agar saya mendampingi..."

"Tidak apa-apa, Pak. Saya kan mau antar makan siang, bukan mau perang," canda Aira. Pak Bambang akhirnya mengangguk meski ragu.

Aira melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang luasnya mungkin setara dengan sepuluh kontrakan lamanya. Lantainya terbuat dari marmer yang sangat mengkilap, hingga Aira bisa melihat bayangan wajahnya yang tampak gugup.

Ia mengenakan gamis berwarna pastel yang anggun pemberian Ibu mertuanya, namun tetap saja, tas bekal plastik di tangannya seolah menjadi penanda bahwa ia berasal dari dunia yang berbeda.

Ia berjalan menuju meja informasi yang dijaga oleh tiga orang wanita dengan riasan wajah sempurna dan seragam yang sangat ketat.

"Permisi, Mbak. Saya mau tanya, ruangan Mas Dewa di lantai berapa ya?" tanya Aira dengan sopan.

Salah satu staf informasi, wanita dengan nametag 'Santi', menghentikan kegiatannya mengikir kuku. Ia menatap Aira dari ujung jilbab hingga ujung sepatu, lalu pandangannya berhenti pada tas bekal bunga matahari itu.

"Mas Dewa?" Santi mengulangi dengan nada sangsi. "Maksud Anda, Bapak Dewa Arka Pradipta, CEO kami?"

"Iya, Mas Dewa suami saya," jawab Aira jujur.

Seketika, suasana di meja informasi itu berubah. Dua staf lainnya, yang tadi pura-pura sibuk dengan telepon, langsung menoleh. Mereka saling pandang satu sama lain selama beberapa detik, lalu ledakan tawa yang tertahan pun pecah.

"Aduh, Mbak... hari ini sudah ada tiga orang yang datang mengaku sebagai pacarnya Pak Dewa, satu orang mengaku sebagai tunangannya, dan sekarang Mbak datang membawa rantang plastik mengaku sebagai istrinya?" Santi tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan yang jarinya penuh perhiasan.

"Mbak, dengerin ya," timpal staf lainnya dengan nada ketus. "Pak Dewa itu lajang paling diincar di negeri ini. Kalau mau cari sensasi, jangan di sini. Kasihan lho, wajah cantik-cantik tapi depresi sampai halu begitu."

Aira merasakan darahnya mendesir panas. Selama tinggal di gang sempit, ia sudah terbiasa menghadapi mulut tajam Siska atau Papa Surya, tapi dihina secara kolektif di depan umum seperti ini adalah hal baru baginya.

Ia menegakkan punggungnya, menatap Santi dengan mata yang tajam dan tak gentar.

"Saya tidak sedang bercanda, dan saya tidak sedang halusinasi. Saya adalah istri sah Dewa Arka Pradipta. Jika Mbak-mbak sekalian tidak percaya, silakan telepon sekretarisnya atau panggil bagian keamanan untuk mengecek identitas saya," ucap Aira dengan suara yang tenang namun sangat berwibawa.

"Wah, sudah berani mengancam ya? Keamanan! Tolong ini ada orang..."

Ucapan Santi terhenti seketika.

Di saat yang sama, pintu lift khusus direksi terbuka. Hans, asisten pribadi Dewa yang dikenal sangat dingin dan tidak pernah tersenyum pada siapa pun kecuali keluarga Pradipta, melangkah keluar dengan cepat sambil membawa beberapa dokumen.

Hans berniat menuju mobil untuk mengambil berkas yang tertinggal, namun langkah kakinya mendadak berhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang sangat familiar berdiri di depan meja informasi.

Santi dan kawan-kawannya langsung berdiri tegak dengan wajah pucat. Mereka mengira Hans akan marah karena ada keributan di lobi.

"Pak Hans! Maaf Pak, ini ada perempuan tidak jelas yang mengaku-ngaku sebagai istri Pak CEO. Kami sedang berusaha mengusirnya..."

Santi belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Hans justru melangkah lebar menghampiri Aira. Hans berhenti tepat di depan Aira, lalu membungkukkan tubuhnya hampir sembilan puluh derajat.

"Selamat siang, Nyonya Muda. Mohon maaf sebesar-besarnya, saya tidak tahu Nyonya akan datang secepat ini. Tuan Muda sedang dalam rapat, tapi beliau sudah berpesan agar Nyonya langsung diantar ke ruangannya," ucap Hans dengan nada yang sangat hormat dan sopan.

Hening.

Lobi yang tadinya bising oleh tawa sinis mendadak senyap seperti kuburan. Santi dan kedua temannya membeku di tempat. Mulut mereka menganga lebar seolah lalat bisa masuk ke sana tanpa hambatan.

Mereka melihat dengan mata kepala sendiri, Hans, orang paling berpengaruh kedua di gedung ini menunduk hormat pada wanita pembawa rantang yang baru saja mereka hina.

Aira melirik Hans, lalu beralih menatap Santi yang wajahnya kini sudah berubah pucat pasi, pucat yang bahkan lebih putih dari bedak tebalnya sendiri.

"Nyonya Muda, mari saya antar ke lift khusus," ucap Hans sambil memberikan isyarat tangan.

Aira tidak langsung beranjak. Ia sengaja diam sebentar, membiarkan rasa malu itu meresap ke dalam pori-pori para staf informasi tersebut.

Sebelum melangkah pergi mengikuti Hans, Aira menolehkan kepalanya ke belakang. Ia memberikan senyum paling manis namun paling mematikan yang pernah ia miliki.

Ia menunjuk tas bekal bunga mataharinya, lalu melirik nametag Santi.

"Masakan saya ini... Mas Dewa bilang rasanya jauh lebih enak daripada restoran bintang lima mana pun. Dan oh ya," Aira menjeda kalimatnya sambil menatap Santi dalam-dalam. "Saya orangnya sangat jujur. Saya pasti akan menceritakan pada suami saya betapa ramahnya sambutan kalian di bagian informasi tadi. Semoga beruntung dengan pekerjaan kalian."

Santi hampir saja jatuh terduduk jika tidak memegang pinggiran meja. Ia baru saja menyadari bahwa ia telah menggali liang kuburnya sendiri.

Di dalam lift emas yang meluncur cepat menuju lantai 50, Hans berulang kali meminta maaf. "Mohon maaf, Nyonya. Saya akan segera memproses pemecatan mereka jika Nyonya menghendaki."

Aira menghela napas. "Sudahlah, Pak Hans. Biar Mas Dewa saja yang memutuskan. Saya ke sini sengaja di undang Mas Dewa, dan juga cuma ingin makan siang bersama."

Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, Aira disambut oleh koridor sunyi dengan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Hans membukakan pintu jati besar bertuliskan "CHIEF EXECUTIVE OFFICER".

Di dalam ruangan yang sangat luas dengan pemandangan seluruh Jakarta itu, Dewa sedang duduk di belakang meja kerja besarnya. Ia tampak sangat berbeda dengan kemeja slim-fit hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan otot tangannya yang kokoh.

Kacamata bertangkai perak bertengger di hidung mancungnya, membuatnya terlihat sangat cerdas dan berwibawa.

Begitu melihat Aira masuk, wajah Dewa yang tadinya tegang karena berkas-berkas mendadak luluh. Ia langsung bangkit berdiri, mengabaikan dokumen di tangannya.

"Aira? Kamu benar-benar datang?" Dewa menghampiri istrinya, langsung menarik Aira ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli ada Hans yang masih berdiri di ambang pintu.

"Mas... malu, ada Pak Hans," bisik Aira sambil mencoba melepaskan diri.

Dewa terkekeh, ia mencium kening Aira dengan lama. "Hans sudah biasa melihat aku bucin, Sayang. Hans, kamu boleh pergi sekarang. Jangan biarkan siapa pun masuk, meski ada gempa bumi sekalipun."

"Baik, Tuan Muda," Hans membungkuk dan menutup pintu dengan rapat.

Dewa menuntun Aira menuju sofa kulit yang empuk di sudut ruangan. Begitu melihat tas bekal kuning itu, mata Dewa berbinar. "Kamu masak apa hari ini? Aku sudah lapar sekali."

Aira membuka susunan rantangnya. Aroma tumis kangkung dan terasi langsung memenuhi ruangan kantor yang biasanya hanya berbau parfum mahal dan kertas. Dewa langsung menyambar sendok, menyuap nasi dan kangkung itu dengan lahap.

"Enak?" tanya Aira cemas.

"Luar biasa. Masakan istriku memang paling juara," jawab Dewa sambil terus mengunyah. "Tadi di bawah tidak ada masalah, kan? Aku dengar ada kegaduhan sedikit."

Aira terdiam sejenak, ia melihat wajah Dewa yang sangat tulus mencintainya. Ia tidak ingin merusak suasana romantis ini, tapi ia juga harus memberikan pelajaran bagi mereka yang merendahkan orang lain.

"Hanya kerikil kecil, Mas. Staf informasimu mengira aku orang gila yang halusinasi jadi istrimu," ucap Aira santai sambil menyeka sisa sambal di sudut bibir Dewa dengan jempolnya.

Rahang Dewa mendadak mengeras. "Siapa namanya?"

"Sudahlah, Mas. Makan dulu yang banyak. Urusan itu nanti saja," Aira mencoba menenangkan.

Namun Dewa meraih tangan Aira, mencium punggung tangannya dengan dalam. "Dengarkan aku, Ai. Aku bekerja keras membangun gedung ini bukan untuk membiarkan orang-orang di dalamnya menghina istriku. Kamu adalah ratu di sini. Siapa pun yang menyakitimu, artinya mereka sedang menantangku."

Aira terharu, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Dewa. "Terima kasih, Mas. Aku hanya ingin kamu tahu, aku bangga jadi istrimu, bukan karena hartamu, tapi karena caramu menjagaku."

Sesi makan siang yang romantis itu terinterupsi oleh ketukan pintu yang terburu-buru. Hans masuk dengan wajah yang lebih tegang dari sebelumnya.

"Tuan Muda... Nyonya Besar Widya baru saja menelepon. Beliau bilang... Bianca Mahastra sudah sampai di rumah Pradipta sekarang." lapor Hans.

Dewa meletakkan sendoknya. Aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat dingin. Aira bisa merasakan genggaman tangan Dewa pada tangannya semakin mengencang.

"Bianca?" bisik Aira. "Siapa dia, Mas?"

Dewa menatap Aira dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dia adalah masa lalu yang seharusnya sudah terkubur, Ai. Dia adalah wanita yang dipilih Mamaku sebelum aku bertemu kamu. Dia licik, dan dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia mau."

Dewa berdiri, menarik Aira agar ikut berdiri bersamanya. "Ayo kita pulang. Sudah waktunya kamu menghadapi ular pertama di istana ini. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang dia katakan nanti."

Aira mengangguk, ia merapikan gamisnya dan mempererat pegangannya pada lengan Dewa. Ia tahu, setelah ini, daster sutra dan daster katunnya akan menjadi baju perangnya.

Sesampainya di rumah Pradipta, sebuah mobil Sport merah terparkir gagah di depan pintu utama. Di ruang tamu mewah, seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala dan rambut pirang keemasan sedang duduk sambil menyesap teh dengan anggun di depan Nyonya Widya.

Begitu Dewa masuk bersama Aira, wanita itu bangkit berdiri. Ia menatap Aira dengan tatapan menghina, lalu senyum miring tersungging di bibirnya yang merah.

"Jadi... ini dia pajangan baru kamu, Dewa? Berapa kamu membayarnya untuk pura-pura jadi istri yang tulus?" tanya wanita itu dengan suara nyaring yang menusuk telinga.

Aira merasakan jantungnya berdegup kencang, namun sebelum ia bisa bicara, Dewa justru merangkul pinggang Aira dengan protektif dan berkata,

"Dia bukan pajangan, Bianca. Dia adalah pemilik rumah ini, dan mulai hari ini, kamu dilarang menginjakkan kakimu di sini lagi."

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!