Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 pelukan di tengah kabut berdarah dan tiga anjing pemburu sekte
Angin malam menderu kencang di atas lautan awan Dunia Tengah, menciptakan suara siulan tajam yang membelah keheningan langit. Jauh di atas sana, di mana udara begitu tipis hingga mampu membekukan paru-paru kultivator biasa, sesosok siluet melesat dengan kecepatan yang melampaui batas nalar.
Lin Chen mengepakkan *Sayap Baja Iblis* di punggungnya. Setiap kepakan sayap logam perak kehitaman itu tidak hanya membelah udara, tetapi juga memanipulasi arus angin melalui sisa energi *Sayap Garuda Emas* yang telah menyatu secara permanen dengan tulang belikatnya. Di pelukannya, Yin Yue memejamkan mata rapat-rapat, membenamkan wajah cantiknya ke ceruk leher Lin Chen. Tangan wanita es itu mencengkeram jubah sutra hitam pemuda tersebut dengan erat, mencari kehangatan dari tubuh perunggu yang memancarkan sisa-sisa api bumi.
Menembus Formasi Langit Awan yang legendaris nyatanya membawa harga yang harus dibayar. Dantian Lin Chen bergejolak. Menjaga keseimbangan antara hawa dingin absolut dan magma yang menyatu di dalam Lengan Logam Abadinya menuntut fokus spiritual yang luar biasa, ditambah beban membawa satu orang lain dalam penerbangan berkecepatan tinggi ini.
Dua jam mengangkasa tanpa henti, Lin Chen mulai merasakan batas toleransi otot fana di punggungnya. Retakan tulang belikat yang dipaksa bermutasi menjadi jangkar sayap baja itu mulai berdenyut nyeri, mengalirkan sensasi ngilu yang merayap hingga ke sumsum tulangnya.
"Kita harus turun," suara Lin Chen bergema rendah, memecah deru angin.
Yin Yue membuka mata safirnya. Ia menatap ke bawah. Hamparan pegunungan hijau yang mereka lewati perlahan telah berubah menjadi lanskap yang mengerikan. Di bawah mereka terbentang sebuah lembah raksasa yang tertutup oleh kabut berwarna merah pekat, menyerupai lautan darah yang menguap. Pohon-pohon kuno dengan ranting hitam tanpa daun menjulang dari balik kabut, seolah ribuan tangan tengkorak yang mencoba menggapai langit.
"Itu Hutan Kabut Berdarah," bisik Yin Yue, nadanya sedikit tegang. "Batas alami yang memisahkan wilayah luar dengan pinggiran zona inti sekte-sekte besar. Kabut di sana dipenuhi racun halusinogen dan miasma purba. Monster yang hidup di dalamnya telah bermutasi. Bahkan kultivator Inti Emas pun enggan terbang melintasinya pada malam hari karena energi Yin di tempat itu bisa menarik roh-roh gentayangan."
"Tempat yang sempurna untuk bersembunyi dari para pengejar yang mengandalkan mata dan kompas," balas Lin Chen tanpa keraguan.
Ia melipat sayap bajanya sedikit, mengubah sudut aerodinamisnya, dan menukik tajam membelah awan. Mereka meluncur bagai komet hitam yang jatuh tepat ke jantung Hutan Kabut Berdarah.
*WUSSSSH!*
Kabut merah yang tebal dan berbau anyir seketika menelan mereka. Visibilitas anjlok hingga kurang dari lima meter. Lin Chen menggunakan radar pasif dari insting membunuhnya untuk mendeteksi rintangan. Ia membuka sayapnya lebar-lebar pada detik terakhir untuk mengerem laju jatuh mereka, menciptakan gelombang angin kejut yang menyapu bersih kabut di sekitar mereka dan menghancurkan beberapa dahan pohon raksasa.
Mereka mendarat dengan ringan di atas tanah yang basah dan tertutup lumut merah.
Begitu kakinya menyentuh tanah, Lin Chen melepaskan pelukannya pada pinggang Yin Yue. Pemuda itu terhuyung satu langkah ke depan. Ia segera menarik niat mentalnya untuk menonaktifkan sayapnya.
*Clank... Sraat!*
Sayap Baja Iblis itu terlipat dengan mekanika yang luar biasa rumit, memadat, dan masuk kembali ke dalam celah di tulang belikatnya. Namun, karena ini adalah penerbangan durasi panjang pertamanya sejak modifikasi, otot dan kulit di punggungnya mengalami robekan sekunder. Darah segar menetes dari punggungnya, menodai jubah hitamnya yang robek.
Lin Chen menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki, terengah-engah. Keringat membanjiri wajahnya di balik topeng besi kelabunya.
Yin Yue terkesiap. Ia segera berlutut di samping pemuda itu, mengabaikan tanah berlumpur yang mengotori gaun *cheongsam* biru malamnya yang mewah.
"Lin Chen! Sayapmu... tubuh fanamu belum sepenuhnya beradaptasi dengan benda itu!" ucap Yin Yue panik. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sesaat, sebelum akhirnya menempelkan telapak tangannya ke punggung pemuda itu untuk menyalurkan energi es penenang.
"Aku baik-baik saja," desis Lin Chen, menahan rasa sakit dengan rahang terkatup rapat. "Cari tempat berlindung. Aroma darahku akan mengundang masalah di hutan ini."
Yin Yue mengangguk cepat. Ia menajamkan mata safirnya, menggunakan teknik penglihatan malam elemen es untuk memindai area sekitar. Beberapa ratus meter dari tempat mereka mendarat, ia melihat celah di akar sebuah pohon raksasa yang cukup besar untuk dimasuki manusia, tertutup oleh sulur-sulur berduri.
"Di sana," tunjuk Yin Yue.
Ia memapah Lin Chen. Meskipun pria itu jauh lebih berat, terutama dengan Lengan Logam Abadinya, kultivasi Pendirian Yayasan milik Yin Yue memberinya kekuatan fisik yang cukup untuk membantu Lin Chen berjalan.
Mereka menyelinap masuk ke dalam rongga akar pohon raksasa tersebut. Yin Yue segera merapal segel tangan, menciptakan lapisan es transparan di mulut rongga untuk memblokir bau darah dan udara beracun dari luar, sekaligus meredam suara mereka.
Di dalam rongga pohon yang gelap dan sempit itu, hanya ada cahaya redup dari es yang diciptakan Yin Yue. Lin Chen duduk bersandar pada dinding kayu purba. Ia melepaskan topeng besinya dengan tangan kiri, melemparkannya ke samping. Wajah tampannya yang keras kini terlihat sangat pucat.
Yin Yue duduk bersimpuh di depannya. Dalam jarak sedekat ini, di ruangan yang tertutup rapat, aroma *musk* dari parfum Yin Yue berpadu kuat dengan bau darah maskulin Lin Chen. Yin Yue menelan ludah. Wajahnya memanas saat ia menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini.
"Buka jubahmu," perintah Yin Yue pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya, seolah takut menghancurkan keheningan. "Aku harus membekukan luka di punggungmu sebelum infeksi miasma masuk ke dalam aliran darahmu."
Lin Chen menatap wanita itu dengan mata hitamnya yang dalam. Tanpa penolakan, ia melepaskan jubah sutra hitamnya, membiarkannya jatuh ke pinggang. Dada perunggunya yang dipenuhi bekas luka dan keringat memantulkan cahaya es. Ia memutar tubuhnya, membelakangi Yin Yue.
Di punggung yang kokoh itu, dua garis luka vertikal menganga, memperlihatkan sedikit kilau logam perak di balik otot yang terkoyak.
Jari-jari Yin Yue yang lentik dan sedingin es menyentuh kulit punggung Lin Chen yang membara. Sentuhan itu membuat tubuh pemuda itu sedikit menegang, namun ia tidak mengeluarkan suara rintihan sekecil apa pun. Yin Yue menggunakan ujung jarinya, mengalirkan energi es murni untuk menutup pembuluh darah yang pecah dan mendinginkan radang di sekitar jangkar sayap baja tersebut.
Jarak mereka nyaris tak bersisa. Napas hangat Yin Yue menerpa bahu Lin Chen. Karena gaun *cheongsam*-nya menempel ketat dan tubuhnya harus mencondong ke depan untuk merawat luka tersebut, dada Yin Yue sesekali bersentuhan dengan punggung Lin Chen. Sensasi kelembutan dan kehangatan tubuh wanita yang sangat memikat itu, dipadukan dengan hawa dingin dari ujung jarinya, menciptakan sebuah paradoks kenikmatan dan rasa sakit yang merangsang saraf.
"Kenapa kau begitu kejam pada dirimu sendiri?" bisik Yin Yue di tengah keheningan, matanya menatap sedih pada luka-luka masa lalu yang menghiasi punggung pria itu. "Memaksakan logam abadi masuk ke tulangmu... mengorbankan nyawamu untuk menampar wajah ahli Inti Emas. Kau bertarung seolah kau tidak memiliki hari esok."
Lin Chen memejamkan mata, membiarkan energi es itu memulihkan jaringannya.
"Jika aku mengkhawatirkan hari esok, aku akan mati hari ini, Yin Yue," jawab Lin Chen datar. "Di Dunia Tengah, belas kasihan pada diri sendiri adalah racun yang paling mematikan. Aku akan terus menghancurkan batasku sendiri, sebelum dunia ini yang menghancurkanku."
Tangan Yin Yue berhenti bergerak. Ia menatap punggung pria itu, merasakan getaran jiwa yang begitu kuat. Dalam dunia di mana para kultivator sibuk mencari artefak perlindungan dan ramuan umur panjang, pria di depannya ini justru mengundang kematian ke meja makannya sendiri.
Dengan dorongan emosi yang tak mampu ia bendung, Yin Yue mencondongkan tubuhnya lebih jauh. Ia menempelkan bibirnya yang lembut dan dingin ke atas salah satu bekas luka di bahu Lin Chen, mengecupnya dengan sangat pelan.
Lin Chen membuka matanya. Tubuhnya membeku sesaat oleh tindakan impulsif wanita es tersebut.
"Paviliun Hujan Gerimis, kekuasaan, dan rahasia-rahasia kota... semuanya terasa hampa setelah aku melihat bagaimana caramu memandang dunia," bisik Yin Yue, melingkarkan lengannya dari belakang, memeluk pinggang Lin Chen. Ia menyandarkan pipinya di punggung pemuda itu. "Ke mana pun sayap bajamu membawamu setelah ini... izinkan aku menjadi bayangan yang mengikutimu. Bukan sebagai Nona Pengawas, tapi sebagai wanitamu."
Pengakuan itu diucapkan tanpa keraguan, meruntuhkan seluruh dinding es yang selama ini dibangun Yin Yue. Ia telah ditaklukkan, bukan oleh pesona atau kata-kata manis, melainkan oleh kekuatan absolut dan keteguhan tak tergoyahkan dari sang Iblis Satu Tangan.
Lin Chen memutar tubuhnya perlahan, membuat Yin Yue melepaskan pelukannya dan duduk bertatapan dengannya.
Mata hitam pekat pemuda itu menatap lurus ke dalam safir biru Yin Yue. Wajah wanita itu merona merah padam, bibirnya sedikit terbuka menunggu jawaban, napasnya memburu mengangkat dada penuhnya yang tercetak jelas di balik sutra gaunnya.
Lin Chen mengangkat tangan kirinya, menyelipkan seuntai rambut perak Yin Yue ke belakang telinganya. Ibu jari pemuda itu mengusap pipi wanita tersebut.
"Bayanganku dipenuhi oleh mayat dan darah, Yin Yue," ucap Lin Chen dengan suara rendah yang menggetarkan. "Jika kau bersikeras berjalan di sampingku, pastikan hatimu telah membeku sepenuhnya. Aku tidak memiliki waktu untuk melindungi bunga yang rapuh."
Yin Yue tersenyum, sebuah senyuman yang memancarkan tekad sekeras berlian. Ia mencondongkan wajahnya, menyatukan bibirnya dengan bibir Lin Chen dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh penyerahan. Dinginnya bibir Yin Yue berpadu dengan panasnya napas Lin Chen, menciptakan gelombang gairah yang membakar di tengah gua akar yang sempit tersebut.
Tangan Lengan Logam Abadi Lin Chen yang telah dimatikan aura membunuhnya perlahan naik, merengkuh pinggang ramping Yin Yue, menarik tubuh sensual wanita itu merapat ke dadanya. Ciuman itu semakin panas, sebuah luapan emosi setelah lolos dari maut dan pembantaian panjang.
Namun, tepat saat atmosfer di dalam rongga pohon itu mencapai titik didihnya, layar cahaya holografik biru meledak di dalam pikiran Lin Chen dengan bunyi alarm peringatan tingkat tinggi.
**[Situasi Pengejaran Kritis Terdeteksi.]**
**[Musuh Mendekat: Tiga Tetua Hukuman Sekte Pedang Berkabut (Tahap Pendirian Yayasan Puncak - Setengah Langkah Inti Emas). Jarak: 200 meter di atas pohon ini.]**
**[Kondisi Tambahan: Musuh membawa artefak pelacak panas 'Cermin Mata Iblis' yang menembus kabut dan es.]**
Lin Chen seketika membuka matanya. Ia memutuskan ciuman itu dengan kasar, mendorong bahu Yin Yue perlahan ke belakang.
Yin Yue mengerjap kebingungan, bibirnya masih basah, wajahnya dipenuhi kabut gairah. "L-Lin Chen? Ada apa?"
"Bersiaplah," desis Lin Chen, matanya kembali sedingin maut. Ia meraih topeng besi kelabunya dan memasangnya di wajahnya, kembali berubah menjadi Dewa Kematian Batu Hitam. "Anjing-anjing sekte itu telah menemukan kita."
Sistem kembali memancarkan teks untuk menentukan nasib mereka di tengah malam berdarah ini. Format simulasi acak kembali memberikan tiga skenario pertaruhan nyawa.
**[Silakan tentukan metode penyambutan Anda:]**
**[Pilihan 1: Segera ledakkan dinding es dan lari ke kedalaman Hutan Kabut Berdarah. Manfaatkan monster lokal untuk mengalihkan perhatian musuh.
Hadiah: Anda berhasil meloloskan diri. Risiko: Yin Yue terbunuh oleh monster mutasi level tinggi di dalam hutan. Kehilangan sekutu strategis.]**
**[Pilihan 2: Tetap bersembunyi di dalam akar. Gunakan energi Yin dari Yin Yue untuk menyembunyikan tanda panas Anda secara absolut.
Hadiah: Anda lolos dari deteksi Cermin Mata Iblis. Risiko: Tiga Tetua akan menggunakan formasi pemusnah massal untuk membakar seluruh area hutan ini. Anda berdua mati terpanggang hidup-hidup di dalam rongga pohon.]**
**[Pilihan 3: Gunakan Sayap Baja Iblis sebagai konduktor energi. Hancurkan atap rongga ini dan serang secara vertikal menembus kabut. Tarik ketiganya ke dalam pertarungan udara jarak dekat secara paksa sebelum mereka bisa menggunakan formasi sekte.
Hadiah: Efek kejut maksimal. Mengeliminasi ancaman sekte secara permanen di wilayah ini. Risiko: Benturan fisik dengan tiga ahli Setengah Langkah Inti Emas secara bersamaan dapat menghancurkan tulang rusuk dan sayap Anda. Rasa sakit ekstrem pasca regenerasi.]**
Membaca ketiga opsi itu, Lin Chen bahkan tidak membutuhkan waktu satu detik untuk berpikir. Bersembunyi dan melarikan diri hanya akan menunda kematian dan membahayakan aset berharga yang baru saja bersumpah setia padanya. Ia adalah predator, dan predator sejati menyerang mangsanya tepat di rahang mereka.
"Pilihan ketiga," batin Lin Chen tajam.
Layar biru memudar. Lin Chen berdiri. Tubuh atasnya masih bertelanjang dada, namun Lengan Logam Abadinya kini mendenging keras, memancarkan perpaduan cahaya api bumi merah pijar dan es absolut putih kristal.
"Yin Yue," perintah Lin Chen. "Buka perisai esmu di atas kepala kita. Aku akan menghancurkan mereka di langit."
Yin Yue langsung memahami situasinya. Ia membuang jauh-jauh sisa gairahnya, kembali menjadi praktisi elegan yang mematikan. Ia merapal segel dengan cepat. Es transparan di atas rongga akar pohon itu mulai bergetar.
Di luar sana, melayang di atas lautan kabut berdarah, tiga pria tua berjubah abu-abu dengan lambang pedang bersilang sedang berdiri di atas perahu terbang kecil. Mereka adalah Tiga Tetua Hukuman. Salah satu dari mereka memegang sebuah cermin perunggu yang memancarkan cahaya merah, menyorot ke bawah menembus kabut.
"Titik panas anomali terdeteksi di bawah pohon raksasa itu," ucap tetua pertama, suaranya parau dan kejam. "Itu pasti bajingan yang membunuh Tetua Kuang dan merebut perahu terbang sekte kita. Dantian Tetua Kuang mungkin hancur karena kecerobohannya, tapi kali ini kita menggunakan Formasi Tiga Bintang. Kita ratakan area ini."
Ketiga tetua itu mencabut pedang panjang mereka secara serempak. Energi Tahap Pendirian Yayasan Puncak dari tiga orang yang telah berlatih telepati pertempuran selama puluhan tahun menyatu menjadi sebuah jaring pedang Qi raksasa di udara.
Tepat saat mereka hendak melepaskan jaring mematikan itu ke bawah, tanah di bawah mereka meledak.
*BOOOOOOMMMM!*
Akar raksasa pohon kuno itu hancur berantakan. Dari dalam ledakan lumpur dan kabut merah, sesosok siluet melesat ke langit dengan kecepatan peluru yang ditembakkan dari meriam dewa.
Sayap Baja Iblis yang membentang selebar lima meter membelah kabut berdarah. Bulu-bulu logam peraknya memantulkan cahaya dua bulan purnama.
"Apa itu?!" teriak tetua kedua, matanya membelalak ngeri melihat makhluk bersayap logam yang tidak tercatat dalam buku catatan intelijen mana pun.
Lin Chen tidak memberi mereka kesempatan untuk bermanuver. Menggunakan kecepatan manuver udara yang meningkat 300% berkat modifikasi logam abadi, ia berbelok tajam di udara dengan sudut yang mustahil dilakukan oleh teknik terbang mana pun.
Ia muncul tepat di atas Tiga Tetua Hukuman.
"Hancur," geram Lin Chen.
Sayap bajanya ditarik ke depan. Ratusan bulu logam yang terbuat dari esensi logam abadi ditembakkan seperti hujan badai belati perak.
*WUSSH! WUSSH! WUSSH!*
Bulu-bulu logam itu tidak hanya tajam, tetapi masing-masing membawa kompresi energi es dan api. Ketiga tetua itu terpaksa membatalkan serangan mereka dan memutar jaring pedang Qi mereka ke atas untuk menangkis.
*TRANG! CLANG! BOOM!*
Bulu-bulu logam itu berbenturan dengan pedang Qi. Ledakan demi ledakan terjadi di udara. Formasi pertahanan tiga tetua itu retak hebat. Bulu logam abadi yang dipenuhi energi *Telapak Penghancur Bintang* berhasil menembus pertahanan mereka, menancap di lengan dan bahu dua tetua, langsung membekukan meridian mereka.
"Sialan! Formasi Bertahan!" raung tetua pertama, memuntahkan darah akibat benturan tak kasat mata.
Mereka belum selesai mengatur napas ketika bayangan hitam kembali menyergap. Lin Chen menggunakan kemampuan daya tarik magnetik dari sayapnya untuk menarik kembali bulu-bulu logamnya secara instan, merangkai ulang sayapnya utuh kembali.
Ia menukik turun dengan kecepatan penuh. Lengan Logam Abadinya diayunkan.
Tetua ketiga mengangkat pedangnya untuk menangkis.
*KRAAAK!*
Lengan perak kehitaman itu tidak hanya mematahkan pedang spiritual sang tetua menjadi dua, tetapi terus melaju menembus dada orang tua itu. Tangan logam Lin Chen mencengkeram jantung tetua ketiga, lalu mengalirkan magma api bumi.
Seketika, tubuh tetua ketiga meledak dari dalam menjadi abu pembakaran, menyisakan kerangka hangus yang jatuh ke dalam kabut.
Dua tetua yang tersisa membeku dalam teror. Ini bukan pertarungan antara kultivator. Ini adalah pembantaian sepihak. Makhluk di depan mereka memiliki tubuh yang mengabaikan hukum fisika pertahanan Qi.
"Iblis..." gumam tetua kedua dengan bibir bergetar. "Kau benar-benar Iblis Batu Hitam."
"Kalian yang datang mencariku," jawab Lin Chen di udara. Sayap bajanya mengepak pelan, mempertahankan posisinya tanpa membuang tenaga Qi. Mata hitamnya di balik topeng mengunci kedua sisa tetua tersebut.
Tetua pertama menyadari bahwa melarikan diri adalah kemustahilan melawan pemilik kecepatan sayap ini. Ia menggigit lidahnya, membakar esensi hidupnya. "Mati bersama kami, Monster!"
Tetua pertama dan kedua menerjang maju dari dua arah yang berbeda, tubuh mereka membesar akibat pembakaran meridian, berniat melakukan bom bunuh diri spiritual (Self-Detonation) untuk membawa Lin Chen bersama mereka.
Lin Chen tidak mundur. Ia menyilangkan Lengan Logam Abadi dan lengan kirinya di depan dada, lalu membentangkan Sayap Baja Iblisnya untuk membentuk perisai kepompong absolut di sekeliling tubuhnya.
*BOOOOOOOOOOMMMMMM!!!*
Dua ahli Setengah Langkah Inti Emas meledakkan diri mereka secara bersamaan di udara. Ledakan energi yang sangat dahsyat menyapu Hutan Kabut Berdarah dalam radius satu kilometer. Awan jamur berwarna emas dan merah membumbung ke langit. Kabut miasma hancur tersapu gelombang kejut, memperlihatkan daratan mati di bawahnya.
Di bawah sana, Yin Yue berdiri berlindung di balik perisai teratai es yang ia ciptakan berlapis-lapis. Ia menatap ke arah pusat ledakan di langit dengan jantung yang nyaris berhenti berdetak.
"Lin Chen..." bisiknya panik. Tidak ada tubuh fana yang bisa selamat dari pusat ledakan ganda seperti itu.
Asap tebal perlahan menipis di langit.
Dari balik sisa-sisa kepulan asap ledakan, sebuah bayangan pelan-pelan terurai.
Sayap Baja Iblis yang tadinya membentuk kepompong pelindung itu perlahan terbuka. Bulu-bulu logam peraknya sedikit hangus dan beberapa di antaranya bengkok, memancarkan asap panas yang mendesis.
Di tengahnya, Lin Chen masih melayang. Tubuh perunggunya dipenuhi luka bakar ringan dan sayatan akibat sisa energi, darah mengalir dari sudut bibirnya di balik topeng. Lengan kirinya gemetar hebat, namun Lengan Logam Abadinya tetap kokoh tanpa goresan berarti.
Ia bertahan. Modifikasi brutal yang ia pilih telah menyelamatkan nyawanya dari ledakan bunuh diri yang bisa meratakan sebuah gunung.
Lin Chen melipat sayapnya. Ia membiarkan gravitasi menarik tubuhnya turun. Ia mendarat dengan dentuman berat di dekat Yin Yue.
Lututnya goyah. Lin Chen jatuh bertumpu pada satu tangan kirinya, terbatuk darah merah kehitaman. Risiko dari Sistem—benturan fisik dengan tiga ahli tingkat tinggi—akhirnya menagih bayarannya. Tulang rusuknya kembali retak, dan rasa sakit menyengat dari pangkal sayapnya membuat pandangannya berputar.
Yin Yue segera menghambur memeluk tubuh pria itu, tidak peduli dengan darah dan kotoran yang menempel. "Kau bodoh! Kenapa kau selalu menempatkan dirimu di pusat ledakan?!" bentaknya, meski matanya mengalirkan air mata kelegaan.
Lin Chen mengangkat kepala. Ia bersandar pada tubuh lembut wanita itu.
"Karena dari pusat ledakan... kita mendapatkan ini," ucap Lin Chen parau.
Ia membuka genggaman tangan kirinya. Di sana, dari sisa abu mayat tetua pertama yang ia cengkeram di detik terakhir sebelum meledak, terdapat sebuah token medali yang terbuat dari giok putih utuh. Di atas medali tersebut, terukir kata: *Ranah Rahasia Langit Runtuh - Kunci Inti*.
Mata Yin Yue melebar melihat benda itu. "Kunci menuju Ranah Rahasia Langit Runtuh? Itu adalah medan pertempuran elit seratus tahunan yang memperebutkan Warisan Kenaikan... Sekte-sekte di wilayah pusat sedang bersiap menujunya!"
Lin Chen tersenyum mengerikan di balik topeng yang sebagian telah retak.
**[Pilihan 3 Diselesaikan secara Maksimal. Tiga Tetua dieksekusi. Ancaman lokal dinetralkan.]**
**[Kunci Takdir diperoleh. Membuka jalur menuju pusat konflik Dunia Tengah.]**
"Mereka mengirimkan anjing pemburu... aku mengambil kunci rumah majikan mereka," bisik Lin Chen, kesadarannya mulai memudar karena rasa sakit. "Bersiaplah, Yin Yue. Begitu aku pulih... kita akan membakar sekte mereka dari dalam."
Dengan sayap baja dan logam purba yang berlumuran darah musuh, Iblis dari Selatan itu menutup matanya di pelukan sang wanita es. Malam di Hutan Kabut Berdarah kembali sunyi, namun badai yang sesungguhnya telah diarahkan lurus ke jantung para dewa di Dunia Tengah.