NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 hukuman langit sang Kaisar dan tumbal darah tanah suci

Langkah kaki Yan Xinghe menapak di atas udara kosong, menciptakan riak spasial yang terlihat jelas di bawah cahaya petir yang menyambar-nyambar. Setiap kali sol sepatunya menyentuh kekosongan, sebuah pijakan berbentuk teratai ungu yang terbuat dari esensi petir padat terbentuk di bawahnya. Ini bukan teknik terbang biasa yang mengandalkan manipulasi elemen angin; ini adalah pembengkokan hukum ruang murni yang lahir dari tiga puluh persen **Niat Pedang Pembelah Langit**.

Di atas tebing kristal yang menjulang tinggi, Tuan Muda Gongsun Zhi dari Tanah Suci Gerbang Langit Abadi berdiri membeku. Wajahnya yang feminin dan selalu memancarkan arogansi absolut kini memucat pasi, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya baru saja dikuras habis. Sepasang matanya yang terbiasa memandang rendah seluruh makhluk di benua pinggiran ini, kini bergetar menatap siluet pemuda berjubah sutra hitam yang sedang berjalan menaiki langit menuju ke arahnya.

"Berjalan di atas kehampaan ruang tanpa menggunakan energi Dantian murni... itu adalah penguasaan domain ruang yang hanya dimiliki oleh para leluhur di **Alam Transformasi Roh** tingkat puncak!" Gongsun Zhi menggumamkan ketakutannya sendiri, napasnya memburu kacau. "Tidak! Ini mustahil! Sebulan yang lalu dia hanyalah semut Penyempurnaan Tubuh. Bagaimana mungkin seekor cacing tanah bisa berevolusi menjadi naga surgawi dalam waktu sesingkat ini?!"

Di bawah tebing, dua tetua pengawal—Tetua Yun dan Tetua Feng—yang sebelumnya terhempas oleh tekanan Niat Pedang Xinghe, berjuang keras untuk bangkit dari kawah reruntuhan. Zirah sutra putih mereka yang bernilai ribuan batu spiritual kini robek dan berlumuran darah. Organ dalam mereka mengalami pendarahan hebat, namun loyalitas fanatik mereka terhadap Tanah Suci memaksa mereka menembus batas rasa sakit.

"Tuan Muda! Lari! Pemuda ini menyembunyikan kultivasi aslinya! Dia adalah monster monster tua yang bereinkarnasi!" raung Tetua Yun, memuntahkan segumpal darah hitam dari mulutnya.

Tetua Feng mengangguk dengan tatapan putus asa yang berubah menjadi kegilaan. "Kita tidak memiliki pilihan lain, Kakak Yun. Jika Tuan Muda mati di sini, kesembilan generasi keluarga kita di Tanah Suci akan dieksekusi! Bakat esensi darah kita! Buka gerbang kematian!"

Kedua master **Alam Melangkah Langit** itu menyilangkan tangan mereka di depan dada secara serempak. Mereka tidak lagi mempedulikan masa depan kultivasi atau sisa umur mereka. Jari-jari mereka menembus dada mereka sendiri, menarik keluar setetes esensi darah jantung yang memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.

**"Seni Terlarang Gerbang Langit: Pengorbanan Darah Pemanggil Dewa Perang!"**

*BOOOM!*

Sebuah pilar cahaya putih keperakan meledak dari tubuh kedua tetua tersebut, menembus awan hitam pekat di atas Pegunungan Jurang Bintang. Tubuh fana mereka mulai mengering dengan kecepatan yang mengerikan, rambut hitam mereka berubah menjadi putih layu dan rontok tertiup badai. Seluruh sisa umur, vitalitas, dan lautan energi Melangkah Langit mereka dibakar habis dalam satu tarikan napas, dikorbankan untuk memanggil proyeksi energi raksasa dari dimensi atas.

Di belakang kedua tetua yang kini tampak seperti mayat hidup, udara terdistorsi hebat. Sesosok hantu raksasa setinggi tiga puluh meter, mengenakan zirah perang keemasan dan memegang sebuah tombak cahaya pemecah gunung, perlahan terbentuk. Proyeksi Dewa Perang itu memancarkan tekanan aura yang seratus kali lipat lebih mematikan daripada serangan mereka sebelumnya, sanggup meratakan seluruh rantai Pegunungan Jurang Bintang menjadi debu.

Xinghe menghentikan langkah udaranya di ketinggian lima belas meter dari permukaan tanah. Ia melirik sekilas ke arah proyeksi raksasa bercahaya di bawahnya, seutas senyum tirani yang sangat dingin dan penuh penghinaan terukir di bibir pucatnya.

"Memanggil proyeksi sisa kesadaran leluhur dari dimensi fana yang lebih tinggi?" suara Xinghe mengalun tenang, membelah gemuruh badai dengan kejernihan mutlak. "Di masa lalu, bahkan dewa perang yang sesungguhnya harus merangkak seribu mil dengan lutut berdarah hanya untuk memohon izin membersihkan debu di pelataran istanaku. Dan kalian... berani menggunakan ilusi sampah ini untuk menghalangi jalanku?"

Xinghe tidak mencabut pedang beratnya. Ia hanya membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah proyeksi dewa perang keemasan yang sedang mengangkat tombak cahayanya untuk menghancurkan tubuhnya.

Di dalam Dantian Xinghe, butiran **Inti Mistik Tingkat Kedua** yang baru saja memadat dari serapan energi Macan Petir berputar dengan kecepatan cahaya. Energi guntur ungu, api emas, dan esensi naga melebur menjadi satu aliran kekuatan kosmik yang membanjiri lengan kanannya.

Xinghe mengepalkan tangan kanannya, menarik lengan itu ke belakang, dan melepaskan satu pukulan lurus murni ke arah bawah.

**"Seni Tinju Penghancur Bintang: Hantaman Runtuhnya Cakrawala!"**

Ini bukanlah teknik martial art lokal. Ini adalah teknik pembantaian tangan kosong yang digunakan sang Kaisar Pedang untuk menghancurkan planet-planet kecil di kehidupan masa lalunya. Meskipun saat ini hanya digerakkan oleh tenaga Inti Mistik, struktur mekanik dan hukum ruang di balik pukulan itu tetap utuh secara absolut.

*DUUUUAAAAARRRRR!*

Sebuah cetakan tinju raksasa berwarna ungu-emas yang dipenuhi oleh percikan petir destruktif melesat dari kepalan tangan Xinghe. Tinju energi itu membesar hingga menutupi seluruh pandangan langit, menghantam tepat di ujung tombak cahaya milik proyeksi dewa perang tersebut.

Suara benturan yang dihasilkan melampaui batas frekuensi pendengaran manusia. Seluruh udara di Pegunungan Jurang Bintang seolah-olah tersedot ke satu titik vakum, sebelum akhirnya meledak memuntahkan gelombang kejut spasial yang meratakan puncak-puncak tebing kristal di radius lima mil menjadi padang datar dalam sekejap mata.

Proyeksi Dewa Perang keemasan kebanggaan Tanah Suci itu membeku di udara. Tombak cahayanya retak, lalu hancur berantakan menjadi serpihan cahaya mati. Cetakan tinju Xinghe tidak kehilangan momentum sedikit pun; ia terus melaju, menghantam langsung ke dada proyeksi raksasa tersebut, menembus tubuh ilusinya, dan menghantam tanah tempat Tetua Yun dan Tetua Feng berdiri.

"T-Tidak mungkin... Leluhur..." gumam Tetua Yun dengan suara putus asa, matanya mendelik ngeri melihat dewa yang mereka sembah hancur oleh satu pukulan dari seorang pemuda.

*BUMMM!*

Tubuh kering kedua tetua Alam Melangkah Langit itu langsung menguap menjadi abu hitam tanpa sempat menjerit. Kawah raksasa sedalam seratus meter dengan diameter setengah mil tercipta seketika di dasar ngarai, meninggalkan tanah vulkanik yang meleleh menjadi lava mendidih akibat panas dari gesekan energi tersebut.

Dua master transenden dari Tanah Suci telah dihapus eksistensinya dari Tiga Ribu Dunia.

Di atas sisa tebing yang tidak hancur, Gongsun Zhi jatuh berlutut. Kaki pemuda itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk menopang berat tubuhnya. Wajahnya dipenuhi oleh cipratan lumpur dan debu, mahkota gioknya hancur berantakan, membuat rambut hitamnya terurai acak-acakan. Kesombongannya sebagai pewaris faksi raksasa telah diinjak-injak hingga menjadi serpihan kotoran.

Xinghe perlahan melanjutkan langkah udaranya, mendarat dengan anggun tepat dua langkah di hadapan Gongsun Zhi. Hujan badai di sekitar mereka tiba-tiba berhenti, tertekan oleh kedaulatan mutlak yang memancar dari eksistensi Xinghe.

"Sekarang," ucap Xinghe, memandang rendah Gongsun Zhi layaknya dewa menatap seekor semut yang patah kakinya. "Di mana semua arogansi yang kau pamerkan di Kota Awan Mengambang? Di mana perintahmu yang menyuruhku berlutut dan memotong tangan? Keluarkan semuanya, Tuan Muda Gongsun Zhi. Biarkan aku melihat seberapa keras tulang punggung Tanah Sucimu ini."

Gongsun Zhi gemetar hebat, gigi-giginya bergemeretak beradu. Ketakutan yang ia rasakan melampaui batas akal sehatnya. Ia mencoba merangkak mundur, menjauhi Xinghe.

"K-Kau... kau tidak bisa membunuhku! Ayahku adalah Penguasa Tanah Suci Gerbang Langit Abadi! Jika kau menyentuh sehelai rambutku, jutaan praktisi akan memburu sembilan keturunanmu! Kekaisaran Naga Langit akan dikubur dalam lautan darah!" teriak Gongsun Zhi dengan suara melengking, menggunakan ancaman politik sebagai perisai terakhirnya yang rapuh.

Xinghe tertawa pelan. Tawa itu sangat dingin, menyayat hati, dan dipenuhi oleh tirani yang menertawakan kenaifan fana.

"Jutaan praktisi?" Xinghe perlahan meraih gagang **Pedang Berat Tanpa Bilah** di punggungnya dan mencabutnya dengan gerakan lambat yang menyiksa mental lawannya. "Gongsun Zhi, aku pernah menenggelamkan satu benua suci ke dasar samudra ketiadaan hanya karena raja mereka salah mengucapkan namaku. Ancamanmu tentang lautan darah Tanah Sucimu... terdengar seperti undangan pesta yang sangat menyenangkan di telingaku."

Ujung tumpul meteorit hitam seberat lima ribu kati itu diangkat, menunjuk tepat ke arah jantung Gongsun Zhi.

Menyadari bahwa negosiasi atau ancaman tidak memiliki arti di depan iblis berjubah hitam ini, insting bertahan hidup Gongsun Zhi mengambil alih sepenuhnya. Ia menggigit ujung lidahnya dengan keras hingga putus, memuntahkan kabut esensi darah murni ke udara. Tangan kanannya dengan panik merogoh ke dalam jubahnya, menghancurkan sebuah jimat giok kuno yang memancarkan cahaya spasial berwarna perak yang sangat menyilaukan.

**"Jimat Pusaka Pelarian: Pemindah Kosmik Berdarah!"**

Ini adalah jimat nyawa tingkat dewa yang diberikan langsung oleh Penguasa Tanah Suci kepadanya, sanggup memindahkan penggunanya sejauh sepuluh ribu mil ke arah markas utama dalam hitungan milidetik, mengabaikan seluruh segel ruang di dunia fana.

Cahaya perak itu seketika membungkus tubuh Gongsun Zhi, menariknya masuk ke dalam celah dimensi yang tiba-tiba terbuka di belakangnya. Senyum kelegaan yang mengerikan dan penuh dendam mekar di wajah Tuan Muda tersebut.

"Ingatlah wajahku, Yan Xinghe! Saat kita bertemu lagi, aku akan membawa leluhur suci untuk menguliti hidup-hidup ibumu dan adik perempuanmu di depan matamu!" raung Gongsun Zhi tepat sebelum kepalanya tertelan oleh celah ruang.

"Banyak bicara."

Xinghe tidak terkejut dengan kartu as lawannya. Ia mengayunkan pedang berat hitamnya secara diagonal, menyuntikkan tiga puluh persen Niat Pedang ke bilahnya, mengubah logam tumpul itu menjadi pisau bedah dimensi.

Ayunan itu tidak memancarkan cahaya, hanya garis hitam tipis yang merobek fondasi ruang. Garis hitam itu melesat lebih cepat dari cahaya, menembus tepat ke dalam celah dimensi perak sesaat sebelum celah itu menutup sempurna.

*ZRAAAASH!*

Sebuah jeritan penderitaan yang luar biasa memilukan terdengar samar dari seberang dimensi, diikuti oleh cipratan darah segar yang menyembur keluar dari celah ruang yang menyusut, membasahi batu kristal di depan Xinghe.

Sebuah lengan kanan utuh yang terpotong rapi dari pangkal bahu, masih mengenakan lengan jubah sutra putih berhias sulaman emas Tanah Suci, jatuh berdebum ke atas tanah.

Jimat itu berhasil menyelamatkan nyawa Gongsun Zhi, tetapi Niat Pedang Xinghe tidak membiarkan buruannya lolos tanpa membayar harga yang setimpal.

Xinghe menatap lengan kanan yang masih berkedut di atas tanah itu dengan ekspresi datar. Ia membalikkan pedang beratnya dan menyarungkannya kembali ke punggung.

"Biarkan anjing cacat itu berlari pulang dan melolong pada majikannya," gumam Xinghe santai. "Turnamen Bintang Kekaisaran akan menjadi panggung yang jauh lebih menghibur jika seluruh petinggi Tanah Suci berkumpul untuk menyambut kedatanganku."

Xinghe membungkuk, meraih cincin penyimpanan berwarna putih giok yang masih melingkar di jari telunjuk lengan yang terpotong tersebut. Ia juga menggunakan Niat Pedangnya untuk menarik dua cincin penyimpanan dari sisa-sisa abu Tetua Yun dan Tetua Feng di kawah bawah.

Tiga cincin penyimpanan dari petinggi Tanah Suci. Kekayaan yang tersimpan di dalamnya pasti jauh melampaui seluruh isi gudang logistik Faksi Naga Perak.

Xinghe menghapus segel mental dari cincin Gongsun Zhi dengan mudah. Di dalamnya, ia menemukan lautan batu spiritual tingkat tinggi, pil-pil penyembuh luka dewa, gulungan teknik bela diri kelas atas, dan yang paling penting... sebuah token perunggu kuno yang memancarkan aura kosmik kuno.

Mata Xinghe berkilat saat ia mengeluarkan token perunggu tersebut. Token itu berukir lambang rasi bintang dan sebuah pedang yang tertancap di bumi. Ini adalah **Plakat Kualifikasi Turnamen Bintang Kekaisaran**, khusus untuk tamu VVIP yang memiliki akses masuk ke area *Makam Pedang Penguasa Bintang*.

"Gongsun Zhi yang malang. Dia tidak hanya meninggalkan lengannya, tetapi juga kunci menuju senjata kosmik yang sedang kucari," senyum Xinghe melebar.

Ia menyimpan seluruh barang jarahan ke dalam sakunya, membiarkan angin malam Pegunungan Jurang Bintang yang kini telah tenang kembali mengeringkan jubah sutra hitamnya yang basah.

Satu bulan lagi menuju Turnamen Bintang Kekaisaran.

Fondasinya di **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Kedua** telah stabil sepenuhnya berkat pembantaian hari ini. Xinghe menatap ke arah selatan, tempat Ibukota Kekaisaran Naga Langit berada, melayang di atas awan dengan segala kemegahan dan intrik kotornya.

"Tunggu aku, Tiga Ribu Dunia. Langkah pertama sang Kaisar akan segera mengguncang pusat takhta fana ini."

Xinghe melangkah pergi, sosok jubah hitamnya perlahan memudar ke dalam kabut malam, meninggalkan Pegunungan Jurang Bintang yang sunyi dan hancur, sebuah monumen bisu dari kebrutalan absolut yang akan segera melahap seluruh Kekaisaran Naga Langit.

1
indrawanto djiwanto
bukannya si gongsun sudah dibantai di chapter 39, kok muncul lagi di chapter 40
Daryus Effendi
membosan isi dikit penjelasan nanyak dan panjang
Joe Maggot Curvanord
cincin perampok ga di ambil thor
Jojo Shua
😄😄
Jojo Shua
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!