NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kecemasan yang berkecamuk di dadaku. Sejak Mas Dika berpamitan untuk berangkat kerja pukul delapan pagi tadi, aku tidak berani menampakkan batang hidungku di luar kamar. Aku tahu, di balik pintu kayu ini, ada Ibu Mertua yang mungkin sedang mengawasi setiap gerak-gerikku dengan tatapan tidak suka.

Aku menghabiskan waktu seharian hanya dengan berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang mewah namun terasa hampa. Sesekali aku mengelus perutku, merasakan gerakan halus janin yang kian aktif. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi Ayah pulang," bisikku lirih, mencoba menghibur diriku sendiri yang merasa seperti tawanan di rumah megah ini.

Suasana rumah terasa sangat sunyi, namun kesunyian itu justru mencekam. Setiap kali mendengar suara langkah kaki di lorong atau suara pintu yang terbuka di lantai bawah, jantungku berdegup kencang. Aku takut jika Ibu Mertua tiba-tiba mengetuk pintu dan melontarkan kalimat pedas lagi saat Mas Dika tidak ada di sampingku. Aku bahkan menahan rasa lapar dan haus karena enggan pergi ke dapur; aku lebih memilih perutku keroncongan daripada harus menghadapi konfrontasi yang menguras mental.

Ponselku bergetar berkali-kali. Ada pesan dari Mas Dika yang masuk setiap satu jam sekali, menanyakan keadaanku, menanyakan apakah aku sudah makan, atau sekadar mengirimkan kata-kata penyemangat. Aku membalasnya sesingkat mungkin agar ia tidak khawatir, meski kenyataannya aku sedang meringkuk ketakutan di sudut ranjang.

Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden perlahan memudar, berganti dengan cahaya temaram sore hari. Hatiku mulai sedikit lega. Setiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju kepulangan Mas Dika. Bagiku, deru mesin motornya nanti adalah satu-satunya suara yang menandakan bahwa aku aman, bahwa pelindungku telah kembali ke rumah yang masih terasa sangat asing ini.

Aku bangkit, merapikan daster dan rambutku yang sedikit berantakan di depan cermin. Aku ingin menyambutnya dengan senyuman, meski seharian ini jiwaku layu karena kesepian dan tekanan batin. Di tengah keheningan kamar, aku terus berdoa agar malam ini tidak ada lagi air mata, dan agar Mas Dika benar-benar menepati janjinya untuk membawaku keluar sejenak untuk mencari udara segar.

Tepat pukul lima sore, suara deru mesin motor yang sangat kukenal terdengar memasuki halaman. Jantungku yang seharian ini berdegup karena cemas, kini melonjak karena lega. Tak butuh waktu lama sampai terdengar langkah kaki tergesa menaiki tangga, dan pintu kamar pun terbuka.

"Ra? Sayang?" Mas Dika muncul dengan wajah yang masih tampak lelah, namun matanya langsung mencari keberadaanku. Begitu melihatku duduk di tepi ranjang, ia segera menghampiri dan memelukku erat. "Maaf ya, Mas pulangnya telat sedikit. Kamu nggak apa-apa, kan? Sudah makan?"

Aku terdiam dalam pelukannya, menghirup aroma tubuhnya yang selalu menenangkan. Aku tidak ingin mengadu bahwa perutku perih karena seharian tidak berani keluar kamar hanya untuk mengambil air minum. "Nggak apa-apa, Mas. Cuma agak lemas saja," jawabku pelan.

Mas Dika melepaskan pelukannya, menatap wajahku lekat-lekat. Ia mengusap pipiku yang mungkin terlihat semakin pucat. "Kamu belum makan ya? Ya Allah, Ra... Mas kan sudah bilang, kalau laper keluar saja ke dapur. Jangan sampai nyiksa diri begini."

"Aku... aku cuma nggak mau ketemu Ibu kalau nggak ada Mas," bisikku jujur.

Mendengar itu, gurat kesedihan muncul di wajah Mas Dika. Ia menghela napas panjang, lalu mencium keningku lama. "Maafin Mas, ya. Harusnya Mas nggak biarin kamu sendirian. Sekarang, kamu ganti baju ya? Pakai jaket yang hangat. Kita keluar cari makan, sekalian beli keperluan yang Mas janjiin tadi pagi. Mas nggak mau kamu stres terus di dalam kamar."

Aku mengangguk patuh. Saat kami melangkah keluar kamar dan melewati ruang tengah, aku melihat Ibu Mertua sedang duduk di depan televisi. Beliau melirik kami dengan tatapan dingin, namun Mas Dika tetap menggandeng tanganku erat dan berpamitan dengan sopan.

"Bu, Dika jalan dulu ya sama Aira. Mau cari makan sekalian belanja perlengkapan bayi," ucap Mas Dika.

Ibu Mertua tidak menyahut, hanya mendengus pelan dan kembali fokus ke layar kaca. Kami terus melangkah keluar, menghirup udara sore yang terasa jauh lebih segar daripada udara di dalam rumah itu. Saat motor mulai melaju membelah jalanan, aku memeluk pinggang Mas Dika seerat mungkin. Di bawah lampu-lampu jalan yang mulai menyala, aku menyadari bahwa meskipun rumah mertua terasa seperti penjara, pria ini adalah kebebasan yang selalu membawaku pulang.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!